RESENSI BUKU

Ketika Anak Terlibat Pidana

23 April 2016 - 23.57 WIB > Dibaca 1398 kali | Komentar
 
Oleh  Muhammad Amin
 
Dunia terus berkembang. Seiring perkembangan dunia, permasalahan yang menyangkut anak pun makin berkembang. Salah satunya menyerempet pada perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak, yang ragamnya pun sudah hampir menyamai pidana yang dilakukan orang dewasa. Kini, tak sulit ditemukan anak-anak yang melakukan tindak pidana.

Banyak analisa yang berkembang, maraknya perbuatan pidana anak ini tak lepas dari perkembangan dunia yang kian global. Sebuah gaya hidup, perilaku, dan kecenderungan yang terjadi di suatu kawasan, dapat dengan mudah ditiru di kawasan lain. Dengan mudahnya akses telekomunikasi dan internet, model pergaulan anak pun berkembang pesat. Tak jarang, apa yang diterima mereka bisa menyerempet tindak pidana dan itu dengan mudah mereka tiru.

Beberapa hal yang kerap “menular” pada anak dan remaja adalah perilaku agresif, bully, kekerasan, yang mereka dapatkan di game, televisi, internet, media sosial dan sebagainya. Pergaulan yang bebas, geng motor, dan budaya permisif menambah daftar panjang penyebab rentannya anak terhadap tindakan kriminalitas. Banyak anak dan remaja yang melakukan kekerasan, pencurian, perampokan, bahkan pembunuhan karena faktor-faktor eksternal itu.

Jika anak melakukan tindak pidana, pendekatan penanganannya tentu akan berbeda. Hal ini disesuaikan juga dengan perkembangan zaman. Anak yang melakukan tindakan kriminal bukan lagi dianggap calon-calon penjahat besar, seperti pernah disinyalir seorang pejabat di Jakarta. Mereka masih berpotensi untuk dibina dan diarahkan agar jangan sampai ketika dewasa justru menjadi penjahat besar.

 Sistem peradilan pidana anak yang dulu diwakili oleh rezim Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak pun dianggap sudah ketinggalan zaman. Sistem ini dianggap tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip dan semangat hukum yang berkembang dalam masyarakat, sehingga digantilah dengan rezim hukum yang baru dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA), maka terjadilah “era baru” perubahan paradigma hukum dalam peradilan pidana anak. Dulu sistem ini bersifat absolut dan masih menggunakan pendekatan paradigma hukum lama. Dalam sistem ini, setiap anak yang melakukan perbuatan (pidana) harus dibalas dengan hukuman yang setimpal. Ini kerap dikenal dengan istilah “hak untuk membalas secara setimpal” (ius talionis).

Pendekatan tersebut tidak jauh berbeda dengan perlakuan terhadap orang dewasa yang melakukan tindak pidana. Dengan konsep baru ini, pendekatan sistem hukum dilakukan lebih humanis dan lebih mengutamakan pendekatan keadilan restoratif (restorative justice). Dalam teori Toni Marshal, keadilan restoratif adalah “suatu proses di mana semua pihak yang terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu, secara bersama-sama memecahkan masalah bagaimana menangani akibat di masa yang akan datang”.

Dalam Undang-Undang SPPA, pendekatan keadilan restoratif (restorative justice) dapat kita lihat dalam Pasal 1 angka (6) yang menyebutkan “keadilan restoratif adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali kepada keadaan semula, dan bukanlah pembalasan.

 Seorang anak (pelaku) yang di usianya yang masih sangat muda tetapi sudah berani melakukan perbuatan yang melanggar hukum (melakukan tindak pidana), pada dasarnya bukanlah seorang anak yang “ jahat”. Dengan demikian, orang dewasa tidak boleh terlalu cepat memberikan label kepada anak tersebut sebagai seorang calon “penjahat” atau label apa saja yang bisa membuat anak tersebut tidak nyaman dalam berinteraksi sosial. Sebab, pada dasarnya anak tersebut adalah korban dari sebuah sistem sosial yang diakibatkan oleh beberapa faktor eksternal di luar dirinya, seperti faktor lingkungan dan sosial yang tidak sehat, terpengaruh dengan budaya konsumerisme, serta tidak adanya panutan yang positif dalam keluarganya (broken home).

Faktor-faktor eksternal tersebutlah yang membuat si anak merasa mulai terkucilkan dan diasingkan oleh lingkungan sosialnya. Mereka akhirnya mengambil jalan pintas untuk eksis dengan melakukan berbagai macam tindak pidana, seperti bergabung dengan teman-temannya yang merasa senasib, membuat suatu komunitas misalnya membentuk geng motor, atau komunitas lain yang cenderung agresif dan berpotensi ke arah tindak pidana.

Dengan adanya UU 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak ini, maka konsep keadilan restoratif dan diversi selalu yang utama. Konsep diversi hakikatnya adalah menjauhkan anak dari proses peradilan. Tujuannya, untuk menjauhkan stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak kembali ke dalam lingkungan sosiak sewajarnya.

Buku ini berisi analisis yuridis dari ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 yang meliputi pengertian, sistem peradilan pidana anak, instrumen internasional tentang perlindungan hukum anak, keadilan restoratif, diversi, hukum acara peradilan anak, ketentuan pidana, dan sanksi. Buku ini memiliki arah dan tujuan yang jelas, yakni memberikan pemahaman tentang UU 11/2012 tentang SPPA. Buku ini baik dibaca aktivis perlindungan anak, akademisi, mahasiswa, termasuk aparat penegak hukum, yang punya kecenderungan menghadapi kasus pidana anak, hampir setiap hari.***

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Rabu, 19 September 2018 - 12:30 wib

Epson Luncurkan Proyektor EB-L510 U dan EB L-610U

Rabu, 19 September 2018 - 12:22 wib

Aura Kasih, Tak Kuat Jauh dari Pacar

Rabu, 19 September 2018 - 12:19 wib

Bingbing, Tersangkut Kasus Pajak dan Ditinggal Fans

Rabu, 19 September 2018 - 12:00 wib

TP PKK Bengkalis Wakili Riau ke Tingkat Nasional

Rabu, 19 September 2018 - 11:50 wib

Pencairan Tunda Bayar Prioritas

Rabu, 19 September 2018 - 11:25 wib

11 Pejabat Kembali Dilantik

Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Follow Us