OLEH FURWON ELWE

Pesan Simbolik dalam Visualisasi Peradaban Empat Sungai Besar Riau

24 April 2016 - 00.07 WIB > Dibaca 1149 kali | Komentar
 
Secara awam, menikmati   karya rupa adalah menikmati isi (wujud/bentuk) dan ide/tema/pesan yang tersirat dari karya itu. Pada pameran bertajuk “Peradaban Empat Sungai Besar Riau” yang diata Taman Budaya Riau (21-24 April 2016), saya mencoba menangkap unsur-unsur yang membentuk ide/tema/pesan dari perupa yang kemudian bersebati dengan warna, garis, bidang dan tekstur hingga terciptalah karya. Boleh dikatakan dari 30 karya yang dipamerkan, unsur citra dan unsur simbol mendominasi pembentukan ide itu. Hanya satu yang berangkat dari unsur mitos/sejarah (karya Ade Fitra: Mempura).

Unsur simbolik menurut hemat saya terdapat pada karya Debby Nurianto: Parade Ikan dan Perahu Kertas, Harry Wibowo: White Crocodile, Zainuri: Menatap Masa, M. Rasyid: Tafakur di Sungai Indragiri “Laillahaillah”, Subijanto: Sket(sa) Sawit, Khalil Zuhdy: Salai Internasional, Ibnul Mubarak: Kunci Loyang Pasak Melintang, Rahmad Dani: Leluhur Akan Menangis, Eko Faizin: Tetap Selais, Kodri Johan: Terdampar dan Syafrizal: Senandung Tepian Kampar.

Selebihnya adalah karya-karya yang mencitrakan kedamaian, ketenangan (karya Ibrahim: Mandi), M. Nuralfi, Adi Lukis: Jembatan dan Sungai Indragiri, Rusli: Peristirahatan yang Damai, R Dwi Seprianto: Rumah Adat di Tepi Sungai Kampar, Yelmi Nanda: Perahu Baganduang, Rahmad Santoso: Kehidupan di Tepi Sungai Siak, Aca Amarsyah: Menjala Ikan di Sungai Siak, Indra Mayeldi: Menangkap Ikan,dan Rison Idham: Bandar Pekanbaru). Mencitrakan semangat, kerja keras, optimisme (karya Gusti: Duano #7 Hasil Melaut, Rhomi AB: Tukang Tari, Refnaldi: Mengail, Yulianto: Setetes Harapan di Sungai Siak).

Mencitrakan kerisauan, pesimisme, suram (Roni Sarwani: Negeriku, Di Bawah Minyak di Atas Air). Sedangkan karya yang mencitrakan masa lalu-tempo doeloe, nostalgik, terdapat pada karya Metrizal: Siak Doeloe, Zul Amri: Indahnya Bagian Sudut Alam Melayu.

Jika salah satu pengertian simbol secara konseptual adalah sebuah tanda konvensional yang disepakati-disetujui bersama oleh suatu kelompok atau komunitas tertentu pada wilayah tertentu, yang artinya telah dikonstruksi oleh sistem masyarakat di satu wilayah itu, maka berbahagialah para perupa ini. Perbedaan cara fikir dan daya ungkap mereka  menjadikan mereka salah satu pihak yang cakap untuk medekonstruksi simbol-simbol yang ada. Atau, keterbatasan bahasa visual dibanding bahasa verbal, justru menjadikan mereka kreator yang menghasilkan simbol-simbol baru dalam menyampaikan makna.

Cermatilah karya Debby Nurianto: Parade Perahu Kertas. Kontradiktif kehidupan kini tersimbol jelas dari arah perahu kertas yang terpaksa mengikut aliran sungai ke hilir karena tak punya daya kekuatan melawan arus. Sementara ikan-ikan masih terus berjuang bergerak ke hulu.

Tengok juga karya Rahmad Dani: Leluhur Akan Menangis. Saya sambungkan judul itu dengan makna simbolik yang tertangkap dari karya menjadi: Leluhur Akan Menangis melihat kondisi terkini tentang  setiap daerah sepanjang empat aliran sungai besar yang kini asyik saling klaim  tradisi dan budaya. Dengan cepat fikiran kita menginterpretasikan objek-objek tulang ikan yang seolah-seolah terfosilkan secara alamiah adalah leluhur itu.

Tetapi masalahnya, menggunakan unsur simbol-simbol pada karya kadang juga beresiko. Pada “White Crocodile”, sang perupa yang memvisualkan dirinya sebagai Holla si Panda mengangkat seekor buaya putih, dapat kita maknai sebuah upaya dari dunia seni (rupa) mengangkat legenda Buaya Putih di Sungai Siak. Sampai di sini pemaknaan itu aman-aman saja. Tetapi objek mahkota (Kerajaan Siak?) yang berposisi di bawah, bisa bermakna  bias dan bisa jadi tak diterima oleh sebagian orang ketika karya dinikmati secara utuh.

Agak mengejutkan bagi saya pada karya “Selais Internasional”. Bukan pada pemaknaan simbolik yang kita tangkap (sajian makanan zahir tradisional (ikan selais) dan “makanan” bathin (informasi) dari plesetan kata Indah Vision yang dihidang pada piringan parabola).  Tetapi pada proses kreatif perupanya yang sepengetahuan saya terkenal sebagai salah satu pelukis-kaligrafer terbaik di rantau ini. Khalil seperti “menyeberang” ke ruang lain dalam rumah besar seni rupa.

Ranting pepohonan merunduk, daun-daun berguguran mengikut arah angin pada “Lailahaillah” karya M. Rasyid, berhasil menyuguhkan kita pada tenang damainya makna bersyukur dan tafakur. Sedangkan pada  “Menatap Masa” karya Zainuri bisa dimaknai menatap kondisi Sungai Siak yang kontras dulu dan kini. Si penatap berposisi antara dulu yang asri (langit biru bersih berawan putih) dan kini yang kumuh tercemar industrialisasi.

Makna simbolis kentara juga bisa dilihat pada karya Subijanto: Sket(sa)Sawit. Seperti tertulis dalam konsep karyanya, sawit menjadi simbol kemakmuran dalam angka. Kemakmuran itu menjadi sangat ironi dengan rusaknya ekosistem: hutan yang hilang dan sungai yang mengering dan tercemar. Begitu pula pada karya Kodri Johan, “Terdampar”.  Air (sungai) seolah memisah dan mendamparkan biduk (ketertinggalan) dari  kota (gedung-gedung) nan modern dan kekinian. Yang satu jauh di seberang meninggalkan yang satunya terdampar di tepi yang lain. Juga pada “Hikayat Pohon”-nya Juanda. Latar hitam seolah menyiratkan kondisi alam suatu daerah yang hutannya luluhlantak didera kejahatan lingkungan. Dipertegas lagi dengan simbolisasi pohon berwarna putih (bermakna bersih, habis).  Daerah manakah ini? Tentu saja Riau, setidaknya itu pemaknaan yang ditangkap dari kata Hikayat Pohon yang ditulis dengan huruf jawi/Arab Melayu.

Seperti di awal tulisan ini, simbol merupakan tanda konvensional yang dikonstruksi pada masyarakat dan wilayah tertentu. Ini menyebabkan simbol juga bisa berbeda makna  satu daerah dengan daerah lainnya. Pada karya “Kunci Loyang Pasak Melintang “ karya Ibnul Mubarak mungkin kita akan kesulitan memaknai objek-objek simbol pada karya tersebut, karena ternyata kunci dan pasak itu simbolisasi dari suatu wilayah bernama Desa Petai di Rantau Kuantan. Apa boleh buat, pemaknaan yang tepat tentulah ada pada konsep karya sang perupa yang tertulis di katalogus pameran.

Pilihan penggunaan simbol-simbol yang sudah ada atau pun penciptaan simbol-simbol baru  sebagai unsur pembentuk ide pada karya kadang juga menjadi beban yang tak terhindarkan pada pencapaiannya, yaitu sampai-tidaknya pesan pada penikmat. Tetapi pencapaian-pencapaian itu tetaplah merupakan kejelian rasa dan ungkapan seni menangkap fenomena, landskap, potret, fakta, realita, mitos, mistisisme, mitologi, adat dll. yang terkait dengan peradaban aliran empat sungai tersebut, sebagaimana yang telah disampaikan pada pengantar tema pameran. Dan itu layak dinikmati.***

Furqon Elwe, kartunis.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us