ESAI SENIRUPA

Wilayah Ideal, Realitas, dan Candu

24 April 2016 - 00.12 WIB > Dibaca 1228 kali | Komentar
 
Oleh Masteven Romus

I experience a period of frightening clarity in those moments when nature is so beautiful. I am no longer sure of myself, and the paintings appear as in a dream.
(Van Gogh)
Saya mengalami masa kejelasan menakutkan di saat-saat ketika alam begitu indah . Saya tidak lagi yakin pada diri sendiri , dan lukisan-lukisan muncul seperti dalam mimpi .

Ik droom van schilderen en dan schilder ik mijn droom. (Van Gogh)
Aku bermimpi melukis dan kemudian aku melukis impianku.

Ik stopte mijn ziel en zaligheid in mijn werk, en tijdens de voortgang verloor ik mijn verstand. (Van Gogh)
Aku menaruh hati dan jiwa dalam pekerjaan saya dan saya telah kehilangan pikiran dalam prosesnya.

Grote dingen zijn niet gedaan door impuls, maar door een reeks van kleine dingen bij elkaar gebracht. (Van Gogh)
Karya besar tidak dikerjakan oleh dorongan, tapi oleh rangkaian hal-hal kecil yang dibawa bersama-sama.

Painting is a faith, and it imposes the duty to disregard public opinion. (Van Gogh)
Lukisan adalah iman , dan itu membebankan kewajiban untuk mengabaikan opini publik.


Riau, dibelah oleh 4 sungai   besar. Kota-kota tebentuk  seiring berkembangnya  aktivitas manusia. Kelahiran dan kedatangan menambah jumlah penduduk suatu tempat, semakin ramai semakin bermacam ragam aktivitas manusia, kemudian suatu tempat itu melahirkan kampung-kampung yang keterusannya bisa menjadi kota megapolitan. Hal ini dimungkinkan dengan adanya sarana transportasi yang memadai, yang salah satunya sungai besar. Sungai-sungai menjadi nyawa bagi entitas-entitas yang berada di sekelilingnya. Aktivitas-aktivitas manusia pada pinggiran sungai atau wilayah pesisir sungai tersebut, menjadi tradisi, budaya dan peradaban. Banyak peradaban didunia lahir di pesisir sungai ditandai dengan kota-kota besarnya. Begitu juga kota-kota di propinsi Riau, ibukota Propinsi dan seluruh ibukota kabupaten berada pada tepian sungai.

Peradaban 4 Sungai Besar di Riau, telah menjadi tema pameran bersama perupa Riau,yang ditaja oleh Taman Budaya Riau dengan menampilkan 30 karya rupa dari 30 perupa yang berasal dari kota dan kabupaten yang ada di Riau. Pameran ini dipersiapkan dalam rentang waktu yang singkat sehingga kita memaklumi resiko-resiko yang dihadapi sebagai konsekuensinya, tetapi tetap berusaha untuk mengoptimalkan pameran ini sebagai Pameran yang terorganisir dan tertata.

Sebetulnya saya mendapat tugas dari tim kurator untuk membahas visual dan estetika dari karya-karya yg dipamerkan, tentu tugas ini menjadi beban yang tidak mungkin saya selesaikan dalam masa yang singkat, tetapi setelah menyimak dan memahami karya-karya yang ada, untuk membahas visual dan estetik, akhirnya saya menyimpulkan perihal ini menyangkut “proses”. Tulisan ini saya buat cenderung berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya (subjektif) dan bukan untuk menggurui dan menjustifikasi, wajar jika akan terjadi perbedaan yang memungkinkan untuk berbagi dan dialektika (jika dianggap pantas).  Kata-kata Van Gogh yang saya kutip diatas menjadi dasar dan acuan untuk penulisan ini.

Wilayah Ideal

Kata-kata ini hadir dalam diri saya dan saya lupa dari mana datangnya (mohon kemakluman), kata-kata “wilayah ideal” akan saya gunakan untuk pemaknaan suatu alam yang berisi pemikiran-pemikiran dan rasa, yang tersimpul menjadi ideal dan kemudian menjadi sistem nilai dalam diri seseorang. Wilayah ideal ini cendrung berhadapan dengan alam realitas yang menjadi lawan, tetapi saling isi dan mempengaruhi. Ketika kita berada pada alam ideal ini, problem-problem yang dihadapi cendrung terselesaikan, keresahan-keresahan dieliminir, ide-ide mengalir menjadi gairah-gairah untuk melakukan sesuatu. Pada alam realitas kita akan terhakimi oleh keterbatasan-keterbatasan yang sulit dikompromikan.

Agama, bagi sementara orang hanyalah tempat pelarian dari permasalahan hidup.Ketika seseorang mengalami banyak masalah seperti kemiskinan, ketidakberdayaan, kesengsaraan, maka dia akan mencari suatu kekuatan yang dianggapnya dapat menolongnya dari permasalahan hidupnya. Kekuatan tersebut dipercaya dapat membantunya memberikan solusi atas masalah yang dihadapi. Kenapa ini bisa terjadi ? Karena agama adalah wilayah ideal, dengan memasukan diri kedalam wilayah ideal tersebut, fakta-fakta realitas akan dieleminir oleh wawasan dan kehendak, sehingga keterbatasan-keterbatasan dalam realitas hilang sebahagian yang tertinggal hanya fakta-fakta yang dibutuhkan. Problem digiring kedalam lorong-lorong konsep dan diurai sesuai kehendak ideal dengan fakta-fakta yang telah dibatasi.

Dengan arti kata problem tidak akan menjadi problem jika tidak dianggap sebagai problem.
Begitu juga dalam dunia senirupa ,sampai pada hari ini banyak perupa yang masih sangat tergantung dengan mitos harapan dalam seni rupa, yaitu mitos “Meledak” atau karya terjual dengan harga yang mahal, hari-hari panjang yang menyakitkan akan lenyap seketika seniman masuk ke wilayah idealnya “suatu saat lukisan ku meledak, semua akan baik-baik”. Kembali pada realita tentunya akan sangat menyakitkan. Peristiwa keluar masuk wilayah ideal dan realitas ini terus berulang-ulang hingga kita berakrab-akrab dengan realitas yang tanpa kompromi.

Wilayah Ideal, Realitas dan Keindahan

Keindahan adalah milik wilayah ideal, sedangkan materinya milik realitas. Keindahan benda-benda, ruang, peristiwa dan lain-lain (realitas dalam keadaan alamiah,bukan karya seni) bersifat absolute, sedangkan penikmatnya bersifat relatif, tergantung daya apresiasi si penikmat. Daya apresiasi adalah wilayah ideal si penikmat yang dibentuk oleh rasa, kepekaan, pengalaman, wawasan, pengetahuan, persepsi, dan berbagai hal lainnya, dan pembentukan ini dipengaruhi kejujuran dan kepolosan. Semakin tenggelam sipenikmat dalam wilayah idealnya karena persentuhan dengan realitas, dengan tidak berprasangka, semakin dapat dirasakan keindahan-keindahan dari objek-objek yang diapresiasi. Keindahan-keindahan akan terus mengalir dari objek-objek realitas. Pada wilayah ideal bentuk atau rupa  realitas dapat didistorsi dengan sempurna, realitas akan terlihat sebagai mimpi yang panjang. Persentuhan wilayah ideal dengan realitas yang tepat cendrung membentuk hubungan Vertikal.

Peristiwa kelahiran keindahan memberikan rasa bahagia, dan diri si penikmat merasakan kebeningan yang cerah. Rasa keindahan akan menuntun si penikmat yang berada direalitas untuk berbagi, walaupun hanya dalam bentuk bercerita, rasa keindahan ini dapat ditransformasikan. Transformasi  yang sukses dapat menjadi gejala publik. Apa-apa yang nikmat bagi manusia akan cendrung akan dilakukan berulang-ulang, candu.

Seni sebagai media transformasi keindahan, yang salah satunya senirupa, sudah tentu akan  menuntut para perupanya sebagai sipencandu keindahan. Oleh para perupa keindahan yang berada pada wilayah ideal itu, dicurahkan (diekspresikan) ke dalam realitas dengan berbagai bentuk karya rupa.  Keterbatasan-keterbatasan dalam realitas mendorong para perupa untuk mencari cara-cara yang pas untuk melakukan pencurahan ini. Pilihan-pilihan cara dalam proses pencurahan sangat menentukan kesuksesan transformasi keindahan, sudah tentu perupa harus memiliki wawasan rupa dan teknik dalam membangun visual karya rupa.

Cara-cara pencurahan sudah sangat berkembang, bahkan hampir-hampir sampai pada tingkat jenuh, sehingga perupa harus betul-betul memilih cara yang tepat untuk pencurahan ini. Keterbatasan teknik perupa dapat dieleminir dengan memilih bentuk penyajian yang sesuai dengan kemampuan tekniknya, akan tetapi pilihan bentuk visual harus benar-benar tepat dan pas (tidak berlebihan atau kurang) karena bentuk-bentuk visual dalam karya adalah tanda, simbol, atau bahasa dalam transformasi keindahan dan kecendrungan manusia mengapresiasi sesuatu bentuk yang logis atau rasional. Kelebihan atau kekurangan (visual-visual yang ekstrim, visual yang sangat kontras) dalam memilih bentuk visual cenderung menggagalkan atau mengganggu proses tranformasi. Persoalan pemilihan bentuk visual ini akan mengarahkan perupa untuk kembali kepada realitas sebagai pemilik materi. Berbagi keindahan adalah kenikmatan yang berulang-ulang, candu.

Beragamnya bentuk, ide, metaphore, citra, penyajian karya dan lainya dari karya rupa tentu membutuhkan pintu-pintu untuk melakukan apresiasi, sehingga audien yang melakukan apresiasi dapat masuk ke dalam karya lebih dalam. Judul, konsep  karya, media yang digunakan, hingga riwayat perupa adalah pintu tersebut. Judul, dengan judul perupa akan mengarahkan dan membatasi tindakan-tindakan apresiasi kepada hal-hal yang diinginkannya, judul dan visual rupa akan mengindikasikan keakraban dan keintiman si perupa dengan objek-objek dan ide-ide dari karya rupanya, judul juga membangun aspek logis atau rasional awal bagi apresiator untuk membaca, yang kelanjutannya masuk kedalam karya rupa tersebut. Konsep karya, berisi pernyataan proses berkarya perupa, jika berisi pernyataan atau pesan yang ingin disampaikan dari karya yang dibuat tentu akan membuat karya tersebut menjadi hambar, bahkan mati dihadapan apresiator. Media yang digunakan memberikan informasi teknik yang digunakan oleh perupa, dan kreaktifitas teknik akan terlihat pada visual karya. Riwayat perupa adalah aspek banding dari keseluruhan karya rupa tersebut. Penyajian “candu” dapat dinikmati secara seksama.

Tulisan ini hanya bagian kecil dari pembicaraan visual dan estetika dari karya rupa, tetapi saya berharap setidaknya dapat menjadi sarana “mengintip” karya-karya rupa dan mohon maaf  tulisan ini tanpa litratur dan refrensi, mudah-mudahan mengapresiasi karya rupa dapat menjadi candu.***


Masteven Romus, Perupa dan Dosen.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us