SAJAK

Sajak-sajak Jamil Massa

24 April 2016 - 00.27 WIB > Dibaca 1250 kali | Komentar
 
Berguru Silat Langga

Aku tak bakal meluluskanmu
sebelum tuntas tujuh kali
upacara pitodu; menetesi matamu
dengan minyak akar pepohonan.
Ramuan makhluk berkepala kabut
yang berdiam di jantung hutan.

Aku tak akan membiarkanmu
menguji kejumawaan jiwa-jiwa
atau kepadatan tanduk lembu
sebelum segenap urat dan sarafmu
berubah jadi angin barubu.
Aku batu api yang menebal dalam tapa.
Kau bekisar yang mencari jalan celaka,
semisal jalan tak beraspal ke Ilomata
yang meliuk laksana kuda-kuda.

Bukan, muridku. Tempurung lutut bukan
titik lemahmu. Tulang sulbi dan tulang
tengkorak barangkali boleh retak, tetapi
pikiran murni harus senantiasa tercagak.

Manakala lawanmu bertanya:
“Kau hendak kemana?”
jawablah dengan bayangan
sambutlah dengan sentakan.
Sebab ketidakleluasaan, muridku,
adalah intisari kesempurnaan.

Gorontalo, 2014



Nipah

Sebab ia tak sudi jadi satu dari seribu istri
Raja Laut yang terlalu banyak makan daging
lanun dan kelasi, ikan bersirip lentik itu bergegas
meninggalkan palung dengan ditopang angin buritan,
sebelum matahari benar-benar terjulur sebagai lidah cakrawala.

Ia berenang menuju pulau terjauh, memacu hati yang rapuh
sembari berkali-kali memaafkan diri. Di belakang, ayah-bunda
tak sempat mendengar pamit, belum bangun dari tidur.
Dari bahaya yang tak disadari.

Sesampai di muara, telah menunggu Raja Sungai dan Raja Rawa
yang berebut memuji sisik-sisiknya yang suasa.

“Aduhai, Nona. Kecantikanmu telah lebih dulu tiba dibawa
bisikan karang. Aduhai, Nona. Matamu yang terang menapis
bulir-bulir seludang yang gugur dari pelepah-pelepah bulan.”

Ikan bersirip lentik itu menangis memohon-mohon
namun airmatanya malah membikin dua raja jadi mabuk
hingga debat dan tikai makin bergelora.

Raja Laut yang mengendus jejak amis ikan pelarian
tiba tak lama kemudian, dengan armada tempur
yang lengkap dan militan.

Maka berperanglah tiga puak dalam air yang bergolak
hingga keesokan hari para nelayan di sepanjang teluk
jadi jijik menyauk ikan, kepiting, dan udang yang
mengambang bak gabus-gabus berinsang dan bercangkang.

Ikan bersirip lentik itu adalah satu yang tersisa dari
sengketa yang sia-sia. Ia bersembunyi di suatu pusaran
lumpur delta yang lambat laun mengubur punggungnya.

Siripnya tumbuh jadi banyak. Menjalar dan menjulang
hingga tersodoklah birahi Raja Angkasa.

Gorontalo, 2014


Sagela

Ikan itu terlahir dari lautan hitam
tersuruk dalam belukar lapar dan
angin buritan yang kesepian.

Kulitnya mengelupas bagai
kota yang terbuat dari kertas.
Dagingnya kering dan mudah
rontok seperti pemberontakan.

Ia ingin berkata: “aku adalah
saksi yang lumpuh dari ombak
yang berpiuh. Lalu aku menggelepar dalam
jala untuk menjadi monumen peringatan
atas kehampaan di permukaan piringmu.”

Apa yang telah menyanderanya?
Bambu berbilah-bilah ataukah
pedih yang bukan rempah?

Kau anggap ia penebar semerbak kopra
atau penawar jenuh jelantah
dan jiwa yang kurang bara.

Tapi dengan nama apa
akan kau sebut kesunyiannya,
sagela, ikan roa, atau
usaha mengawetkan doa?

Gorontalo, 2014

Sagela: Panganan khas Gorontalo
berupa ikan julung-julung yang diawetkan dengan cara diasap.



Payangga

Yang menyembul di danau itu adalah
batas pertikaian dan siripmu.

Dua raja telah berdamai di atas rakit
dan kata-kata dilantik jadi langit.

Jangan kau kejar sepasang cincin itu
biarkan tenggelam dalam perjanjian.

Sebab dendam tak akan lekas pudar
seperti gelinggam di getas tembikar.

Aku ingin mengikuti kau. Sebuah rute
Penyelaman. Merayapi bayangan bulan

meski udara kerap memecah sesudah
berubah jadi buih kecemasan.

Jangan kau kejar sepasang cincin itu
sebab takkan pernah kita pahami tabiat waktu.

Semua bakal punah juga suatu ketika
tapi gurih dagingmu kekal meresap
di delapan penjuru dan lima pohala’a.

Membuat orang portugis menemukan pedis
dan kapal-kapal kehilangan samudra.

Gorontalo, 2014

Payangga: Ikan kecil air tawar endemi di danau Limboto, Gorontalo.

Jamil Massa, lahir di Gorontalo, 14 Maret 1985. Menulis Puisi, Cerita Pendek dan Esai. Buku Puisinya berjudul Sayembara Tebu. Sejumlah karyanya pernah dimuat di beberapa media seperti: Harian Fajar, Tribun Timur, Jurnal Tanggomo, Jurnal Santarang, Jurnal Sastra (The Indonesian Literary Quarterly), Jurnal Sajak, Suara NTB, basabasi.co, Indopos, Riau Pos, Gorontalo Pos, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Kompas. Saat ini bermukim di Gorontalo, bergiat di Komunitas Sastra Tanggomo dan mengasuh rubrik sastra di portal berita degorontalo.com.

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us