M AMIN

Menunggu Monumen Tradisi

24 April 2016 - 13.06 WIB > Dibaca 5090 kali | Komentar
 
Menunggu Monumen Tradisi

Perubahan zaman adalah keniscayaan. Semuanya pasti berubah. Yang tak berubah adalah perubahan itu sendiri. Adagium ini jamak berlaku di segala hal, termasuk dalam tradisi atau kebiasaan lokal.

Banyak tradisi lama yang kini kehilangan sentuhan orisinalitasnya. Dulu, saat membuka lahan, bertanam padi, berkebun, hingga panen, para tetua kita selalu menggunakan tradisi lokal yang dipelihara terus hingga ke anak cucu.

Mereka berusaha menyatu dengan alam. Mereka menjadikan alam sebagai rumah dan sumber kehidupan, sehingga alam harus dipelihara untuk kelangsungan anak cucu. Tradisi-tradisi itu pelan-pelan berubah.

Modernisasi tak hanya mengubah peralatan modern dalam mengeruk keuntungan dari alam, tapi ikut mengubah cara berpikir masyarakat kita tentang alam. Alam tak lagi untuk dijadikan sahabat dalam kehidupan--yang harus dirawat, dipelihara, diajak bersenda gurau dan dilayani kebutuhan-kebutuhannya--tapi telah berubah menjadi sarana eksploitasi. Alam digasak dan dibinasakan demi keserakahan.

Catatan pengiring dari eksploitasi alam ini sebenarnya sangat luas, mencakup tak hanya perubahan cara pikir generasi mendatang tentang alam, tapi juga tentang tradisi yang mengiringinya. Dulu, memotong pohon tertentu di alam bisa terkena kutukan, juga disanksi adat. Di Kalimantan, memotong pohon durian sama artinya dengan membunuh kepala suku. Di tanah Melayu ini, memotong atau merusak pohon tempat bersarang lebah atau dikenal sebagai pohon sialang akan kena sanksi adat. Sanksi yang sangat keras.

Kearifan lokal yang dipelihara di sebagian tempat memang masih ada. Masih ada masyarakat yang menumbai atau mengambil madu dengan cara tradisional, lengkap dengan mantra, pantun dan nyanyiannya.

Masih ada masyarakat yang mencari kerang dengan sambil berseluncur atau menongkah, dengan diiringi tradisi lantunan syairnya yang khas. Masih ada juga berbagai lagu atau musik tradisional yang dimainkan dengan syair lama, berkoba, berzanji, juga memainkan gendang dan gambus dalam zapin api.

Tapi jumlahnya tak seberapa. Jumlahnya kian berkurang. Hanya orang-orang tua yang menguasai zapin api, atau mampu memainkan beberapa alat musik tradisional yang makin lama makin langka. Makin sedikit orang yang mampu meniup dan memainkan nafiri, atau hapal syair-syair koba. Makin sedikit juga peralatan tradisional pendukungnya. Tak ada juga yang memproduksi alat musik itu, membuatnya lagi atau bahkan memperbaruinya.

Di Jawa, orang masih menonton wayang, ketoprak, juga mendengar sinden. Bahkan sinden masuk ke pertunjukan di hotel-hotel berbintang. Di Sumbar, masih banyak yang setia mendendang dengan saluang.

Pendengar dan penggemarnya juga masih terpelihara. Mereka memberikan sokongan yang luar biasa. Di Riau? Semuanya kian langka. Jika ini tak disikapi, mungkin zapin api akan musnah. Tak ada lagi koba. Tak ada juga peniup nafiri. Mungkin kita tak akan menemukan lagi alat musik tradisional yang dulu mengiringi permainan saat membuka lahan atau panen raya, atau saat kenduri.

Para pemainnya terus menua dan satu per satu berpulang. Alat musiknya pun mulai rusak, dimakan rayap, dan tak diproduksi lagi. Kini, berbagai perayaan di kampung-kampung, kendati pun dulu dilakukan dengan tradisi-- telah berubah dengan dihiasi orgen tunggal. Langgamnya pun bukan orkes Melayu, musik zapin, tapi beralih ke dangdut, bahkan yang oplosan dan cenderung mengundang syahwat.

Kita sedang menunggu berbagai tradisi itu masuk ke museum dan anak cucu kita hanya bisa mendengarkan cerita saja. Tradisi-tradisi itu bersiap menjadi monumen yang diceritakan dan dikagumi, tapi tidak dapat lagi disaksikan seutuhnya. Ironi.***

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us