RESENSI BUKU

Wajah Hukum Indonesia

1 Mai 2016 - 00.01 WIB > Dibaca 1459 kali | Komentar
 
Oleh Moh Romadlon

Di negeri ini, hukum dan keadilan tampak sekali tidak sejalan, dan bahkan saling berjauhan. Padahal, sejatinya hukum dilahirkan bukan saja untuk menciptakan ketertiban sosial, tetapi juga harus memberikan keadilan kepada seluruh masyarakat. Tetapi dalam praktiknya, hingga saat ini aturan normatif tersebut hanya berpihak pada kelas masyarakat atas yang memiliki akses, kekuatan ekonomi, politik-kekuasaan. Sementara masyarakat kelas bawah tetap tertindas. Penegak hukum yang seharusnya memberi keadilan justru memberi ketidakadilan.
 
Melihat kenyataan itu, Emha Ainun Nadjib melihat bahwa yang lebih urgen ditegakkan adalah supremasi keadilan bukan hukum. Menurutnya, alat yang paling canggih untuk menyelenggarakan kejahatan adalah peraturan. Maka, kita harus cepat membuat aturan kita sendiri sebelum dijegal oleh musuh yang akan menjegal kita dengan peraturannya. Dalam kerangka berpikir yang demikian ini yang perlu ditegakkan itu bukanlah supremasi hukum, melainkan supremasi keadilan. Sedangkan supremasi keadilan hanya akan terselenggara dengan hadirnya 3 hal, yaitu hati nurani, akal sehat, dan inspirasi hidup. Kita bahkan rela saling berbenturan dan membunuh hanya karena ingin menuruti aturan yang dibuat orang lain (hal.61).

Selain masalah hukum dan keadilan, masih banyak masalah lain yang disoroti Emha –hakikat hidup, budaya, sosial, politik, agama, ekonomi, pendidikan, yang dirangkum dalam buku Zaman Gendheng. Satu ciri tulisan Cak Nun adalah berani mendobrak pemahaman umum yang cenderung mapan dengan menghadirkan pemahaman baru yang lebih segar, rasional, dan mendasar. Dia berhasil mengkritik tanpa mencaci dan menyakiti, berhasil membenahi tanpa menghakimi. Berhasil membangun “jembatan” dari hati ke hati. Tak heran bila Cak Nun serupa magnet dengan daya tarik luar biasa, yang mampu menarik apa pun dan siapa pun dari kalangan mana pun menjadi sangat dekat, akrab, dan mesra dengannya. Misalnya, beliau berkata bahwa, kesuksesan adalah ketika kita tidak dimarahi Tuhan, bukan ketika mendapatkan atau meraih cita-cita. Pemahaman ini sentral-mendasar dan serta merta mendobrak sekaligus membenahi pemahaman umum tentang kesuksesan yang banyak dipegang orang.

Selain itu, dengan ilmu dan wawasannya, Emha berhasil membuat sesuatu yang yang –bisa jadi di tangan orang lain, sulit dan pelik menjadi mudah, luluh, dan terurai dengan jelas, sehingga bisa dijangkau oleh pemahaman semua orang. Salah satunya mengenai manajemen. Menurut beliau manajemen bukanlah kita punya sayur-sayuran lantas kita memasaknya. Manajemen adalah tidak punya apa-apa, tetapi sanggup menyuguhkan sayur kepada orang yang memerlukan. Manajemen adalah ditiadakan, namun mampu lebih ada dibanding pihak yang meniadakan. Manajemen adalah kaki diborgol, kemudian memenangkan lomba lari melawan orang yang memborgol. Manajemen adalah engkau tidak boleh bicara, tak ditampilkan, tak ditayangkan, tak dianggap ada, namun mampu hadir lebih dalam dan evergreen di dalam kalbu orang banyak dibandingkan mereka yang membunuh eksistensimu atau mereka yang diunggul-unggulkan, dimuat-muat, ditayang-tayang, dibesar-besarkan siang malam oleh penindasmu (hal.83-84).

Sementara tentang hakikat hidup, Emha berujar, hakikat hidup bukanlah apa yang kita ketahui, bukan buku-buku yang kita baca, bukan kata-kata yang kita pidatokan, melainkan apa yang kita kerjakan, apa yang paling mengakar di hati, jiwa, dan inti kehidupan kita (hal.27). Sehingga yang terpenting dalam hidup bukan apakah engkau tukang beca atau direktur perusahaan, petani atau menteri, tentara rendahan atau jenderal, satpam atau presiden, artis atau kuli. Tuhan tidak punya urusan dengan identitas.

Apa pun status dan jabatan seseorang tidak membuatnya menjadi tinggi atau rendah dihadapan-Nya. Yang diurus Tuhan adalah akhlaq hambanya (hal.160-161). Maka, Jangan menuduh-nuduh orang dari identitasnya. Masalahnya cuma satu: kelakuannya baik atau tidak (hal.64). Sehingga, semua kata-kata emas dalam buku ini menyajikan nilai-nilai cinta dan kemanusiaan  tanpa dirasuki kepentikan dan tendensi apa pun, sehingga semua menjadi oase di tengah kegersangan hidup, semua menjadi tempat berteduh, tempat melepas lelah dan dahaga bagi siapa pun tanpa kecuali.***

Moh. Romadlon, pemerhati buku.

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us