OLEH MARLINA

Cerita Rakyat sebagai Pembentuk Karakter Anak

1 Mai 2016 - 00.24 WIB > Dibaca 2583 kali | Komentar
 
Cerita Rakyat sebagai Pembentuk Karakter Anak
Bukan hal baru bahwa sebagian besar anak-anak Indonesia lebih suka menonton film kartun (asing) daripada menonton, mendengar, apalagi membaca cerita rakyat (Indonesia). Alur cerita, penokohan, dan visualisasinya yang menarik membuat anak-anak betah berlama-lama menonton film kartun tersebut. Berbeda dengan buku cerita rakyat yang terkadang kurang memperhatikan “penampilan” buku tersebut, seperti bentuk huruf atau ilustrasi gambar sehingga terkesan menjemukan bagi sebagian besar anak-anak. Akibatnya, cerita rakyat semakin jauh dari kehidupan masyarakat, terutama anak-anak.

Cerita rakyat merupakan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat. Selain berfungsi sebagai hiburan, cerita rakyat juga berfungsi menyampaikan pesan-pesan moral kepada pendengarnya. Di dalamnya, terkandung nilai-nilai luhur bangsa yang mengajarkan budi pekerti yang baik dan dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi anak-anak. Oleh karena itu, cerita rakyat dapat dijadikan pembentuk karakter anak dengan menjadikan cerita rakyat tersebut sebagai bahan ajar di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  sudah menjadikan cerita rakyat sebagai bahan bacaan dalam Gerakan Literasi Sekolah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pun sudah bergerak untuk menerbitkan buku-buku cerita rakyat yang layak untuk anak-anak.

Di Riau sudah cukup banyak cerita rakyat yang dibukukan. Cerita “Batang Tuaka” yang berasal dari Indragiri Hilir merupakan cerita yang bertema anak durhaka. Cerita ini telah diangkat ke layar televisi dengan judul yang sama. Seperti cerita anak durhaka lainnya, pelajaran yang dapat dipetik dari cerita rakyat ini  bahwa seorang anak tidak boleh bersikap durhaka kepada orang tuanya. Sikap durhaka Tuaka telah membuat ia mendapatkan hukuman yang sangat buruk. Rasa iba hati ibunya atas sikap durhaka Tuaka telah menyebabkan Tuaka dikutuk menjadi seekor elang.

Dari daerah Dumai ada cerita “Putri Tujuh”. Cerita ini mengisahkan asal mula nama Kota Dumai. Dikisahkan, Cik Sima memiliki tujuh orang putri yang cantik jelita. Putri bungsu Cik Sima, Mayang Sari membuat seorang pangeran bernama Empang Kuala tertarik dan ingin meminangnya. Akan tetapi, Cik Sima menolaknya sehingga terjadilah peperangan antara kedua belah pihak. Peperangan ini menyebabkan banyak korban jiwa, termasuk ketujuh putri Cik Sima yang berada di tempat persembunyian. Mereka mati kelaparan. Pelajaran yang dapat diambil dari cerita ini adalah bahwa permusuhan dan pertikaian hanya mendatangkan kesengsaraan. Permusuhan dan pertikaian hanya akan mendatangkan bencana. Oleh karena itu, selalulah ciptakan persahabatan dan persaudaraan agar hidup ini tenteram dan damai.

Selain itu, tersohor juga cerita “Putri Kaca Mayang”. Cerita ini mengisahkan tentang Kerajaan Gasib yang berada di pinggir Sungai Siak. Raja Gasib memiliki seorang putri yang cantik jelita bernama Putri Kaca Mayang. Kerajaan ini sangat terkenal karena memiliki panglima yang gagah perkasa bernama Panglima Gimpam. Panglima Gimpam ini sangat setia kepada raja. Suatu ketika kerajaan Gasib mengalami kekalahan karena diserang oleh Raja Aceh. Raja Aceh berhasil membawa pergi Putri Kaca Mayang. Akan tetapi, Panglima Gimpam bisa membawa Putri Kaca Mayang kembali ke Gasib. Namun, di tengah perjalanan sang Putri menghembuskan nafas terakhirnya. Raja sangat bersedih. Raja pun pergi meninggalkan istana dan menyerahkan Kerajaan Gasib kepada sang Panglima. Hanya beberapa waktu sang Panglima memimpin Kerajaan Gasib. Panglima Gimpam merasa tidak pantas bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Panglima tidak sanggup bergembira dengan jabatannya sebagai raja, sementara raja sesungguhnya sedang bersedih dan berduka. Cerita “Putri Kaca Mayang” ini mengajarkan mengenai perjuangan, kesetiaan, dan mawas diri.

Cerita “Putri Pinang Masak” yang berasal dari Indragiri Hulu mengisahkan kehidupan sepasang suami istri yang memiliki tujuh pasang anak kembar: tujuh laki-laki dan tujuh perempuan. Putri tercantiknya adalah Putri Pinang Masak yang merupakan anak tertua. Sementara itu, putranya yang paling gagah berani adalah Roger, yakni putra bungsunya. Inti ceritanya adalah keberanian sang adik, Roger, dalam membela dan melindungi kakak perempuannya, Putri Pinang Masak yang diculik oleh Raja Dewa Sikaraba Daik, raja di Jambi. Roger dengan segala daya dan upaya akhirnya bisa menyelamatkan Putri Pinang Masak dan membawanya pulang kembali ke Indragiri Hulu. Nilai pendidikan yang dapat diambil dari cerita rakyat ini adalah bahwa dalam bersaudara kita harus selalu kompak dan bersedia tolong-menolong apabila salah satu mengalami masalah.

Masih banyak lagi cerita rakyat yang ada di Riau ini. Akan tetapi, tidak semua cerita rakyat yang ada mengandung nilai-nilai pendidikan yang cocok untuk anak-anak. Ada juga beberapa cerita rakyat itu yang bisa menimbulkan nilai negatif bila diceritakan begitu saja kepada anak-anak. Oleh karena itu, seperti yang pernah diungkapkan oleh Yulita Fitriana di dalam tulisannya “Modifikasi Cerita Rakyat dan Nilai-Nilai Moral,”  orang tua dan guru harus jeli dalam memberikan cerita rakyat kepada anak-anak mereka. Hal ini disebabkan karena ada beberapa dari cerita rakyat itu yang bisa memberikan penafsiran yang berbeda pada anak. Dicontohkan di dalam tulisan tersebut adalah “Batu Belah Batu Bertangkup”. Sang ibu rela meninggalkan anaknya dengan meminta batu belah menelannya hanya karena kesalahan anaknya yang tidak seberapa. Hal seperti ini menurut Yulita Fitriana mungkin bisa dimodifikasi. Sang ibu yang merasa sangat sedih karena anaknya tidak mendengarkan apa yang telah dipesankannya, secara tidak sengaja tergelincir ke dekat batu belah dan kemudian ditelan oleh batu belah tersebut.

Di dalam Undang-Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Bab II Pasal 3 disebutkan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab”. Seyogianya, cerita rakyat dapat menjadi bagian penting dalam penyuksesan fungsi pendidikan nasional tersebut.***

Marlina adalah peneliti sastra di Balai Bahasa Provinsi Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us