SAJAK

Sajak-sajak Subaidi Pratama

1 Mai 2016 - 00.31 WIB > Dibaca 1338 kali | Komentar
 
Ikut Sunan Bonang

Di dalam tubuhku terentang jalan simpang
Aku bebas berjalan menempuh arah kiri atau kanan

Tetapi jalur kiri dan jalur kanan berpagar bukit keheningan
Aku kayuh diri dengan kencang menerobos rambu terlarang

Di kanan-kiri jalan bahuku PakPolisi memegang buku
Mereka ramah sekali tak pernah menyuruhku berhenti

Kini tubuhku diam dan sendiri
Jalurdemi jalur tak berpenghuni
Aku tersesat sepanjang sunyi
Tak tahu arah mana pulang-arah mana pergi

Di dalam tubuhku terentang jalan simpang
Aku berdiri di antara jalan baik-jalan terlarang
Lalu berlari kencang diajak ikut Sunan Bonang

Malang, 2016


Bercerai dengan Puisi


1/
Kepada siapa hendak kualamatkan ini sepi
Sedangkan aku telah bercerai dengan puisi
Sebagai anak pertama dari janin khayalku
Kata-kata mungkin sudah melempar jauh batin rindu

2/
Dulu pernah kutanam matahari di antara rimba makna
Hingga kelak cinta mampu menyibak rahasia bahasa
Lalu waktu menumbangkan huruf-huruf hujan
Setelah mampu menempuh sumber ejaan

3/
Aku membangun rumah di puncak malam
Berharap puisiku senang tidur di dalam
Lalu diam-diam kami saling bercumbu
Sampai lahirkan anak-anak yang baru

4/
Baru kemarin kami berpisah
Seakan bertahun hati terbelah
Bagai tercipta aksara yang gaduh
Di setiap jejak langkahku yang aduh

5/
Kepada siapa hendak kualamatkan ini sepi
Sedangkan di tepi malam bintang tak bisa
 menari
Dan kesedihanku tak mampu sembunyi
Aku sungguh terlanjur sayang kepada puisi

6/
Aduhai puisi, di cangkir malam kini aku sendiri
Sedangkan kau tak pernah usai menyeduh kopi
Di atas semesta menguapkan peluh kata
Dadaku terbuka tapi kosong tanpa cinta

Malang, 2016


Belajar kepada Tiga Unsur

1/
Aku belajar kepada air
Mengalirkan rasa gembira
Karena di setiap ujung hilir
Napas musti lenyap nuju muara

2/
Aku mengaji kepada udara
Melunakkan batu jiwa
Karena daun hidup mudah gugur
Terlepas dari tangkai umur

3/
Aku belajar kepada api
Cara mudah menghancurkan diri
Bukankah tubuh kini adalah batu
Yang mungkin kelak menjadi kayu

Malang, 2015


Di Malam yang Gemetar

Di malam yang gemetar
Bulan bergantung pada keheningan
Tak ada hujan, hanya rintik rindu
Jatuh ke pangkuan berulang-ulang
Ke mana akan kuarahkan bayang
Dirimu tetap berjejak dalam ingatan

Di ujung gelap
Aku memandang kampung-kampung senyap
Menyerupai sehelai kain dihempas angin
Hingga suatu ketika aku dan engkau tinggal nama

Malang,2015

Subaidi Pratama, lahir di Sumenep, 11 Juni 1992. Puisinya dimuat banyak media. Dan terkumpul dalam antologi Festival Bulan Purnama (2010), Bersepeda Ke Bulan (2014), NUN (2015) dan Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016). Kini bergiat di komunitas sastra Malam Reboan di kota Malang.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us