CERPEN KEN HANGGARA

Ada Neraka di Kepala Maria

1 Mai 2016 - 00.41 WIB > Dibaca 1687 kali | Komentar
 

Sudah seharian Maria di gudang. Tidak boleh keluar karena harus  membayar mahal atas kematian Lili. Sungguh bodoh si gila itu, menyelipkan Lili, anak anjing saya, ke roda mobil tetangga dalam keadaan terikat. Anjing itu hanya mengaing-ngaing dan pada saatnya ia berhenti karena mati. Maria berteriak girang dan menari-nari seperti orang baru menangkap maling.

Saya tanya, “Kenapa senang?”

“Lili masuk neraka, Kak! Aku yang bikin neraka. Biar tahu rasa!” kata Maria.
Begitu tubuh gepeng Lili diseret dari bawah mobil, diiringi tatapan jijik dan tidak tahu apa-apa tetangga kami yang sudah tua dan agak tuli, saya menjerit dan bersumpah dalam hati bahwa Maria tidak boleh bernasib lebih baik dari ini.

Maria memang seharusnya tidak pernah bernasib baik. Sejak pertama kali ia datang kemari, ia sudah mencuri kebahagiaan saya. Dunia ini terlalu lebar untuk diisi orang seperti Maria. Saya kesal, tapi Papi bilang, “Itu saudaramu, Nak, bukan setan.” Terus menerus Papi bilang begitu, sekalipun banyak yang bilang, bahwa Maria itu anak setan.

Saya tidak tahu bentuk setan seperti apa, tetapi Maria bodoh dan nakal. Mungkin saja ia memang anak setan seperti yang orang lain bisikkan. Semua teman saya di kelas pun, ketika tahu saudara saya bertingkah aneh, berliur, dan sering berak di celana, menganggapnya anak setan.

“Tidak ada anak manis berak di celana,” kata mereka selalu. Demi Tuhan, saya jadi malu. Maria sangat saya benci karena sejak orang tahu kami bersaudara, saya jadi punya lebih sedikit teman.

Hari-hari di rumah, ketika saya melihat Maria duduk di teras dan memandangi apa pun di jalan depan, sangat membosankan, dan terkadang memuakkan. Maria suka sekali membuat kotoran di lantai, entah berak atau muntahan, atau eksperimen-eksperimennya yang konon lahir dari semacam mimpi.

“Ada neraka di sini, Kak,” katanya suatu hari, menunjuk kepalanya yang bulat dan agak kebesaran, “Tapi bukan Tuhan yang bikin. Ini nerakaku. Aku yang bikin buat menghukum orang berdosa.”

“Kamu gila, ya? Ada Tuhan yang melakukannya kalau sudah kiamat nanti!”

“Pokoknya aku bikin neraka di sini. Nanti ia keluar kok.”

Maria lalu mencampur plastisin merah dan biru di satu wadah, dan menuanginya minyak tanah. Ia terus mengulen dan mengulen seakan membuat kue, dan mulai bicara hal-hal yang menurutnya menyenangkan, selain neraka di kepala. Ia berbisik, jangan bilang siapa-siapa, ya. Ini rahasia. Saya tahu plastisin itu pengalih perhatian. Papi mami tidak boleh tahu, ya, bisiknya lagi.

Saya tidak tahu dosa apa orangtua kami dulu sehingga lahir bocah seperti Maria. Ia tidak pernah absen membuat kekacauan di hari ulang tahun setiap bocah, sehingga saat mereka hafal insiden senada, menolak undangan untuk Maria. Anak itu tidak boleh ke pesta siapa pun.
Saya yang datang ke berbagai pesta, karena masih mendapat undangan teman, kena imbasnya. Undangan untuk saya dirobek Maria dan ia tidak suka saya datang. Tapi, saya datang. Saya dikado si A boneka kesukaan dan inilah giliran saya membalas kebaikan teman. Ia membanting mainannya. Ketika saya dikado si B buku harian bagus dengan sampul tebal, tentunya juga harus saya balas. Ini cara saya agar mendapat banyak teman dan memang sewajarnya begitu. Kepada teman harus saling membahagiakan, bukan?

Maria tidak setuju. Semua orang bukan teman, dan mereka semua pantas masuk ke neraka, katanya. Ia tidak berhenti membanting mainan, lalu beralih ke gelas dan piring di dapur, sampai Papi mendatangi kamar saya dan mengatakan ini secara tegas, “Mulai sekarang, tidak ada lagi pesta!”

Padahal umur saya baru lima belas. Benar-benar setan!

Maria yang lahir dengan kutukan nasib buruk seperti menularkannya kepada saya. Di balik wajah bodoh dan tidak waras itu, tersimpan niat untuk menjegal saya agar kami sama-sama dibenci semua orang. Maria sering tersenyum diam-diam dan saya tidak tahu maksudnya. Ia berhenti begitu melihat saya.

Saya bilang pada Mami, saya beda dan saya bukan saudara Maria. Saya harus tahu itu benar dan jangan lagi menyebut-nyebut anak setan itu saudara saya. Mami menangis lama sekali, dan tidak ada yang tahu kecuali kami berdua.

“Jangan bilang papimu, ya. Jangan bilang.” Itu saja yang ia ucapkan dan saya tidak tahu maksudnya. Besoknya saya terus bertanya pada Mami jangan bilang itu apa? Saya tidak tahu dan harus tahu. Mami menangis lagi, lalu menyeret saya ke belakang dan Maria membuntuti kami.

“Kamu harus berhenti, Cindy! Kamu sudah besar dan Maria itu saudaramu! Mami yang melahirkannya, tetapi bapaknya setan!”

Maria bertepuk tangan dan saya mulai menjerit tidak sabar. Mami menyuruh saya berjanji tutup mulut dari Papi dan tidak lagi bicara soal ini. Saya tidak suka Mami ambil gampangnya. Saya tidak mau lagi hidup ini rusak oleh Maria, apalagi anak anjing yang saya dapat dari Papi dalam ulang tahun dua bulan lalu, mulai didekati Maria dengan cara yang sangat mencurigakan.
Maka Mami putuskan, setelah menyuruh Maria pergi ke depan bermain plastisin, saya boleh tidak bicara atau menyapa anak itu di rumah. Saya juga boleh mengerjakan semua hal yang saya sukai, bermain di luar rumah, atau apa pun itu, tanpa mengajak Maria.

Dari dulu saya yang menjaga Maria, sekalipun ada pembantu yang menemani kami. Saya tidak bisa menghindar karena Papi selalu bilang, “Itu saudaramu, Nak!” Oh, kali ini tidak. Mami berjanji menyewa seorang penjaga anak agar si gila itu berkutat dengan dunianya tanpa mengganggu dunia orang lain. Papi tidak mungkin menolak. Papi harus setuju.

Tapi, sebelum penjaga anak itu datang, meski persetujuan Papi sudah kami dapat, Lili lebih dulu mati. Saya menjerit-jerit seorang diri karena tidak ada orang dewasa satu pun, kecuali tetangga yang pemilik mobil itu, yang lantas mengambil inisiatif mengubur Lili di halaman samping rumah.

Papi dan Mami ke luar kota, urusan bisnis sekalian menjenguk kerabat yang baru saja melahirkan. Papi bilang, “Ini tugas terakhir.” Saya membuat catatan apa saja yang bisa kami lakukan (maksudnya, saya dan Lili) setelah Maria jauh dari kami. Sekalipun ia mendekat, saya akan dengan tenang menjauhinya. Anak itu suka sedih dan menangis jika dibenci. Saya tidak sungkan menunjukkan kebencian yang sudah lama ditabung.

Saya juga tidak sungkan mengatakan pada teman-teman di sekolah, “Maria bukan saudaraku kok. Dia diambil dari jalan waktu masih bayi. Karena papi mamiku baik, Maria diangkat anak, walaupun bodoh dan seperti anak setan. Mungkin memang benar ia anak setan.”

Lalu, daftar-daftar lain membuat tidur saya tidak nyenyak malam itu. Sampai saat Papi dan Mami meninggalkan kami besoknya, dan saya ke kamar mandi untuk pipis, saya tidak sadar rencana saya tidak pernah terwujud.

Maria ke depan sambil bernyanyi. Ketika saya keluar, anak itu terdengar memekik, “Nah, keluar juga! Keluar juga! Memang betul kok, di sini ada neraka!” Saya ke depan dan tubuh Lili sudah gepeng.

Tetangga itu memisahkan kami saat saya menggelut Maria dan menjambak rambut anak itu sampai rontok beberapa helai. Rambut itu saya buang ke got dan Maria tidak berhenti menangis satu jam. Beberapa lama kami baru bisa tenang, setelah tetangga ini menelepon Papi untuk menceritakan kejadian aneh pagi tiu.

Pembantu kami bilang, “Sudah, Non, sudah.” Ia bergetar membawa tubuh gepeng Lili sementara anak sulung tetangga kami menggali tanah. Saya jawab Papi dengan ‘ya’ dan ‘tidak’ sesuai yang ia harapkan, padahal di dada muncul neraka sendiri. Sebuah neraka yang khusus saya ciptakan untuk Maria.

***

Sudah seharian Maria ada di gudang. Tidak boleh keluar karena harus membayar mahal atas kematian Lili.

Mulanya saya bersikap baik seperti sewajarnya seorang kakak. Saya pandangi anak itu makan sereal dan susu dengan rakus dan ingus yang terus mengalir. Begitu dia tidur, saya seret tubuhnya ke gudang dan memerintah pembantu agar tidak macam-macam. Di gudang, Maria saya ikat tangan dan kakinya, sehingga ketika siang ia merasa lapar dan pengaruh obat tidur itu hilang, ia meminta saya suapi.

Tidak ada yang tahu kejadian ini, tetapi ketika besoknya Maria sudah bebas, serta Papi Mami sudah pulang, anak itu tidak enak badan. Ia menggigil dan dibawa ke rumah sakit. Ia tidak selamat dan mati. Ia dikubur dan saya merdeka.

Ketika Mami tanya, “Ada apa sih, Nak?”, saya bilang: “Ada neraka di kepala Maria. Jadi, Tuhan menghukumnya. Mami bilang Tuhan itu adil, ‘kan?”

Mami tidak menjawab dan menangis. Papi tidak bicara soal ini, sekalipun ia tahu di gudang ada setumpuk plastisin yang seharusnya tertinggal di kamar Maria. Tidak ada yang pernah sudi menyentuh benda aneh itu, lagi pula Maria juga tidak suka ke gudang. Benda lengket itu kini berantakan dan sempal di hampir semua bagian. Merah dan biru campur aduk. Ada botol minyak tanah juga. Benar-benar tugas akhir yang menyenangkan.***

Gempol, 13 April 2016

Ken Hanggara  lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan esai. Karya-karyanya terbit di berbagai media lokal dan nasional.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us