OLEH BOY RIZA UTAMA

Puisi: Histeria dalam Sukacita Ilusi

14 Mai 2016 - 23.17 WIB > Dibaca 1217 kali | Komentar
 
“Sejarah tidak ditulis untuk mereka yang kalah dan gampang menyerah…”

Itulah kesan pertama yang hadir dalam benak saya ketika membaca buku puisi May Moon Nasution (MMN) bertajuk Pedang dan Cinta yang Mengasahnya (Ganding Pustaka, 2016). Kesan itu tumbuh begitu saja saat saya –sebagai pembaca- harus berhadapan dengan dua kata yang dipilih-sandingkan MMN sebagai tajuk bagi kumpulan puisi pertamanya ini, yakni pedang dan cinta. Inilah sepasang kata yang berbeda jauh dalam terminologi dan laku keseharian (fungsi), namun bagi, dan di tangan, May Moon agaknya perlu dan ternyata bisa dipadu-padankan.

Membaca buku ini, kita seolah dipaksa untuk menengok dan menguak kembali filosofi serta sejarah pedang dan cinta di masa silam; membayangkan kembali riwayat pertumpahan darah dan air mata, kejujuran dan pengkhianatan, pengusiran dan eksodus, serta segala hal lain yang terkait dengan kejayaan dan juga penderitaan. Akan tetapi, kita tentu juga dituntut untuk membaca keduanya tadi dalam realitas masa kini: bagaimana corak hidup orang lampau memengaruhi hari-hari yang tengah dan akan kita lewati sekarang dan nanti. Singkatnya, perihal kelanjutan peradaban ini.

Maka, meneroka peradaban,  itulah yang sekiranya ingin dikemukakan sang penyair dalam buku ini. Simaklah bagaimana ia memilih untuk menempatkan 33 puisi di dalamnya, yang mengingatkan  kita pada khasanah Islam lewat biij tasbih yang mengambil peran dalam ritual zikir (pembacaan tasbih, tahmid, dan takbir), hingga membaginya ke dalam tiga bab, yakni “Pedang Kesatu”, “Pedang Kedua”, dan “Pedang Ketiga”, dengan pembagian yang merata (11 puisi di setiap bab-nya) –yang sontak mengingatkan kita pada penamaan bab (lewat pilihan untuk menggunakan kata “kesatu” ketimbang “pertama”) yang juga dipilih Nirwan Dewanto lewat buku puisinya yang berjudul Buli-Buli Lima Kaki (GPU, 2010).

Namun, di luar itu semua, begitulah agaknya corak kebudayaan (Islam) yang tengah diinisiasi dan (juga) dipilih MMN, terutama lewat puisi pembuka di buku ini dalam puisi berjudul “Dendang Orang Singkuang”. Puisi pertama itu juga menegaskan tema sentral yang digarap sang penyair di subbab awal ini, yakni perihal dongeng dan fragmen-fragmen masa lalu. Hal itu tercermin dari puisi-puisi selanjutnya di subbab ini, antara lain “Pendongeng” (serangkai cerita dari dan untuk tanah Madura), “Penongkah Duanu” (satu fase perjalanan sejarah dan tradisi orang pesisir), “Jalan Panjang Petalangan” (riwayat seorang pelantun nyanyi Petalangan), “Pelajaran Mencari” (semacam refleksi atas pembacaan masa silam lewat riwayat Raja Ali Haji), hingga satu puisi yang menurut saya paling menarik dalam bab ini, yakni “Hunderbluss Dalam Peti Linguis”.

Bagi saya, puncak dari segala sajak dan/atau bolehlah kita sebut “gugatan” yang banyak berserakan dan berseliweran dalam bab ini terwakilkan lewat puisi di atas. Itulah sebuah puisi yang tidak hanya sedang berusaha menghalau segala bentuk keragu-raguan yang acapkali hadir dalam diri seseorang yang berada di luar lingkungan homologi hingga genesis-nya, melainkan juga menerang-jelaskan satu sikap dan cara pandang MMN dalam menegasi sebuah narasi besar yang diagungkan oleh satu entitas kebudayaan.

***

Berhadapan dengan puisi-puisi yang sarat dan beraroma sejarah senantiasa membuat kita, para pembaca, membayangkan dua hal. Pertama, masih pentingkah puisi-puisi yang (acapkali) terpikat, terpesona, bahkan terjebak dalam histeria berikut nostalgia akan masa silam ini ditulis sementara kehidupan kita pada masa ini selalu menginginkan sesuatu yang serba-pasti alias sesuai dengan realitas kekinian? Barangkali kita, sebagai pembaca yang “tak ingin kalah” dan “belum letih”, akan sepakat menjawab bahwa puisi-puisi seperti ini (kadang) diperlukan bagi kita yang masih butuh sebentuk refleksi.

Kedua, adalah kita, yang kadang takut akan perihnya membaca hingga meraba masa silam itu, acap kali tergoda untuk menikmati sebuah puisi yang berupaya “menghidupkan” kembali kisah-kisah orang dulu ke dalam teks sebatas sebagai potret, atau fragmen film hitam-putih yang nyaris kehilangan, atau bahkan tanpa, dialog. Kekhawatiran itu semakin memuncak ketika kita, sebagai pembaca yang memburu makna dan gagasan, mencoba menerawang maksud dan tujuan si pengarang dengan sejarah sebagai pijakan dalam berkarya, sering gagal menemukannya. Padahal, jika kita telusuri lebih jauh, karya-karya dengan tema sejarah ini bukanlah persoalan sejauh dan sedalam apa dialog berikut keyakinan sang pengarang akan kebenaran masa silam, melainkan hal ini sejatinya adalah sebuah pertemuan (dan perhitungan?) tak kasat mata yang lahir dari penafsiran dan permenungan sehingga sifatnya boleh disebut mutlak alias “bersendiri”.

Maka, itulah yang saya temukan dalam pembacaan selanjutnya dari buku puisi MMN ini, yakni pada bab “Pedang Kedua”. MMN, yang sudah lebih dulu melakukan penetrasi atas fakta berikut mitos (keluhuran) masa silam di bab awal, pada bab ini boleh kita sebut sudah mulai menggunkakan pedangnya. Sebab di sinilah kita akan melihat bagaimana May Moon Nasution tengah mencoba menjawab dua keresahan pembaca yang saya sebutkan di atas, yang dimulainya dengan semacam romantisisme lewat “Pedang dan Dongeng untuk Datu”.

Pada puisi itu MMN membuka percakapan, yang intim, dengan masa silam, mengusung pedang dan panji-panji perlawanan, hingga mendedahkan pascakolonialitas-nya lewat sebuah ritual mistik yang masih terpelihara hingga hari. Tradisi itu, yang melibatkan seorang tetua alias dukun kampung, dalam pandangan MMN, akan lebih baik bila tak ada lagi, dan jelas mengubah keadaan apabila hal itu diperangi. Namun menariknya, kesantunan sang aku-lirik –sebagai perpanjangan dari lidah MMN- tetap tidak hilang. Tradisi berkias, berumpama dengan sesuatu untuk mengutarakan maksud itu, agaknya masih kuat dijaga oleh sang aku-lirik pada puisi ini. Tradisi adiluhung yang masih dapat kita jumpai di kampung, daerah pedalaman, dan/atau masih dijaga oleh puak yang hidup di lekuk-lekuk jurang ini rupanya ingin dielaborasi oleh sang penyair untuk menciptakan satu efek pengucapan puitis, selain tentu sebagai upaya kembali ke akar-tradisi.

Maka, menjadi lengkap ketika ia meneruskan pertanyaan (sekaligus gempuran) itu dengan puisi-puisi dan pedang yang tentu masih tajam dan berkilat dari ulu hingga ke ujung-nya itu lewat “Pedang dan Dongeng” (tudingan-tudingan bagi mereka yang memaksa para penerus memanggul beban sejarah), “Pedang dari Tanobato” (gugatan dan perlawanan terbuka atas misi kolonialisme yang dialasi semangat 3G, yakni Gold, Glory, Gospel), “Jalan Pedang” (upaya menghindar dari jalur dan pakem para pendahulu atau memintas dari jalan dan corak perlawanan yang telah dibangun), “Bunyi Pedang dan Janggut” (isyarat dan suara perlawanan yang, meski tak dikehendaki, akan terus saja ada), “Pedang dan Perisai Perang” (ikhtiar meniadakan gema kepedihan yang panjang dan kerap menghantui pasca-perang), tetralogi pedang: “Pedang Boraspati”, “Pedang Penari Onggang”, “Pedang Palabras”, “Pedang dalam Tubuhmu” (eksistensi dan identitas yang berkelindan dalam satu “tarikan pedang” [dengan napas yang hampir sama pada keempat puisi ini, yakni kegelisahan perihal idenditas perlawanan itu sendiri]), hingga akhir dari puisi di subbab ini yang menarik untuk disimak, yaitu “Musyawarah Pedang-Pedang”.

***

“Perjalanan ini,” kata Rene Descartes, “hampir seperti berbicara dengan orang-orang dari abad lainnya.”

Sebelas puisi pada bab terakhir ini mencoba menerangkan hal itu. Dibuka dengan “Delapan Bait Engkau” (semacam kidung dan litani dengan aksentuasi pada rima yang kuat), dan dipungkasi dengan “Memburu Ganjang” (sejenis pertarungan dan antitesis dari sebuah ritual yang dibangun dengan kekuatan mantra), puisi-puisi dalam bab ini adalah mozaik masa silam yang tak sekadar dipertontonkan atau dipamerkan begitu saja kepada kita (yang berdiri di luar sejarah MMN). Namun, inilah kiranya parade entitas hingga ritus yang coba dibangkitkan kembali oleh sang penyair dan, untuk selanjutnya, akan dibantah, ditentang, atau bahkan jika perlu disudahi. Sebagaimana tampak dalam puisi bertajuk “Menggenggam Pedang Sana Lenggam”.

Seperti tak ingin diam dan membiarkan sejarah “mengatur” perjananannya sendiri, MMN di bab akhir ini tak membiarkan sejarah, yang berkelindan dalam puisi-puisinya, untuk menjelaskan sesuatu yang tak terjangkau oleh mereka yang di sana, yakni kita, di masa depan ini. Maka, kita pun akan menemukan ode yang dipulun bersama kenangan akan masa silam itu (“Cinta Abad Lampau”), ironi-ironi yang berkalang interupsi, bersama satire namun humor terasa getir di setiap pembabakannya (“Datu, Hatiku Jatuh pada Anak Gadismu”), atau simbolisme yang terukur dengan memadukan unsur-unsur filosofis antara alam dengan bentuk rumah (“Arsitektur Rindu”).

Meski apa yang telah ditilaskan di buku ini sudah sedemikian cemerlang, kiranya perlu menjadi perhatian di bab akhir ini bahwa MMN terkesan memaksakan kegemilangan bab sebelumnya di sini. Itu terlihat dari beberapa puisi yang menurut saya sebaiknya kurang padu bila dimasukkan ke dalam subbab ini, yakni “Pedang Penari Hoda-hoda” dan “Sepasang Pedang”. Sebab, bila ditilik dari sistematika dan maksud sang pengarang, kedua puisi ini masih memiliki korelasi dengan tetralogi pedang di subbab sebelumnya. Kendati begitu, puisi-puisi ini sejatinya tetap tak kehilangan pesona dan daya pikatnya sebagai karya-karya yang dibangun dari, dan sebagai, sebuah refleksi, seperti halnya puisi berjudul “Begu dalam Kepalamu”.

Menakwilkan puisi-puisi MMN di bab ini dan juga bab sebelumnya membuat kita harus merakan satu kesimpulan yang paling mungkin untuk dipetik: MMN telah mengikuti apa yang paling mungkin itu, yakni terus melawan dan menggugat. Mungkin akan terdengar seperti histeria, luapan emosi yang tak terkendali itu. Namun agaknya itulah respons yang paling tepat di tengah terang-kaburnya satu hal yang akan terus menjadi perdebatan (sejarah), yakni kebenaran.

Mengakhiri pembacaan atas buku puisi ini, sekali lagi, kata-kata Descartes yang lain sontak memenuhi telinga dan pikiran saya: “Sukacita ilusi sering lebih bernilai dari kesedihan asli.” Meski pada akhirnya, sebagai bagian dari puak-nya, kesedihan sang penyair yang menitis dalam puisi-puisinya itu terlalu naïf untuk tak disebut kesedihan asli. Akan tetapi, sekali lagi, sejarah itu kiranya memang tak membiarkan MMN untuk bersedih di sana, bersama orang-orang yang (dianggap) “kalah”, yang gampang menyerah. Namun, sejarah itu membiarkannya menyusun perlawanan, gugatan, dan teriakannya sendiri, meski orang-orang di zaman ini, di tengah medan yang riuh ini, mungkin (hanya) akan menganggapnya sebagai sukacita ilusi.***


Boy Riza Utama, lahir di Bukittinggi, 4 Mei 1993. Mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Riau, Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf, Pekanbaru.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 11:00 wib

JPO Makan Korban Jiwa

Rabu, 19 September 2018 - 10:50 wib

Isi Berkurang, Minta Ganti ke Pangkalan

Rabu, 19 September 2018 - 10:40 wib

Jalur Truk CPO Lumpuh

Rabu, 19 September 2018 - 10:30 wib

Simpan di Saku Celana, Pengedar Narkoba Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 10:19 wib

Sarankan Pengurangan Gaji

Rabu, 19 September 2018 - 10:16 wib

X.O Cuisine & Dim Sum Sajikan Menu yang Berbeda

Rabu, 19 September 2018 - 10:13 wib

Hotel Labersa Tawarkan Promo September Fun

Rabu, 19 September 2018 - 10:11 wib

Ramai, Pembuatan Kartu Pencaker Selesai Satu Hari

Follow Us