OLEH SOHIBUL UMAM JR

Imperialisme Budaya

14 Mai 2016 - 23.28 WIB > Dibaca 1087 kali | Komentar
 
Sebagai orang Madura, tentu saya tahu betapa tanah kelahiran itu menyimpan kekayaan budaya yang demikian eksotis. Memperlihatkan betapa ragam budaya benar-benar lahir dari nilai-nilai positif masyarakat Madura. Tapi sayang, hari ini, saya merasa asing berdiri di tanahku sendiri. Merasa ada yang hilang dan tak tergantikan.

Pada tahun 1997 hingga awal tahun 2000-an masih lekat dalam ingatanku, betapa ramai halamanku terutama di sore hari. Teman-teman seumuranku hingga kakak-kakakku yang telah menikmati masa remajanya, masih pula menikmati permainan Enggrang, Sloduren, dan permainan Krincing atau Ceppleng, semacam permainan adu tangkas mempertahankan tutup botol Sprite di tangan. Sekarang aku hanya menemukan semua itu di kepalaku.

Anak-anak di desaku sekarang bahkan tidak ada yang mengenal Sloduren. Mereka menganggap jenis bermain seperti itu rentan cedera, karena harus berlarian menghindari tangkapan teman yang lain. Mereka lebih mahir bermain Criminal Case yang ada di gadget mereka. Jenis permainan yang menyuguhkan adegan-adegan pembunuhan, dan kesemrautan dalam mengungkap pembunuhan, membuat anak-anak merasa berdiri sebagai ditektif untuk mengungkap pembunuhan. Atau bahkan sebaliknya, orientasi permainan jenis itu hanya untuk menyuguhkan trik membunuh yang baik bagi anak-anak?

Anak-anak di desaku, bukan lagi berdebat tentang persoalan alat mainannya yang dipinjam temannya yang lain, tapi perdebatan mereka bergeser pada persoalan merek gadget apa yang mereka pegang. Tak jarang, orang tua mereka menjanjikan jenis teknologi yang paling baru, ketika anaknya mendesak karena teman yang lainnya memiliki jenis teknologi yang lebih canggih. Seperti mereka (anak-anak) benar-benar mengerti apa kelebihan dari teknologi yang mereka pegang. Padahal mereka hanya sekedar mengamini asumsi teman-temannya yang tidak jelas juga refrensinya bahwa, merek gadget yang ini lebih bagus dari gadget yang itu.

Terasa tidak ada yang mampu untuk mencegah tercerabutnya budaya kita. Alih-alih untuk berbicara mengenai hilangnya dimensi budaya kita, dan anak-anak yang tengah terancam ruang-raung kemanusiaannya, karena desakan-desakan budaya mutakhir yang tidak di sadari dengan kritis, anak-anak makin disuguhi dengan mental orang tua yang demikian modernis. Eksistensi teknologi, membuat mereka terasa berada di belahan dunia yang lain, mereka tidak lagi saling bertemu ketika ada satu hal yang mesti dibicarakan, semua dijawantah dengan teknologi. Wajar jika mereka kehilangan kerekatan emosionalnya, dan pudarnya solidaritas yang adalah karakter masyarakat Madura.

Seperti yang dikisahkan oleh Herbert Marcus bahwa kita telah sampai pada gerbang one dimensional society. Masyarakat dengan kesadaran satu dimensi merupakan istilah yang digunakan Marcuse guna merepresentasikan “masyarakat yang lumpuh daya kristisnya”. Respon terhadap pesona globalisasi dimaknai dengan interpretasi yang salah. Sifat konsumtif menjadi semacam refleksi atas pemahaman mereka terhadap globalisasi dan modernisme, sebab mereka percaya dengan gadget di tangan, atau dengan shooping mereka memahami diri mereka modernis.

Sungguh betapa sulitnya mengingat budaya kita. ada demikian banyak desakan-desakan hegemoni untuk melucuti budaya kita sebagai identitas yang mesti dipertahankan. Jika kita lihat bagaimana hegemoni menancapkan taringnya, ia tidak lebih bekerja seperti yang diasumsikan oleh Gramsci bahwa, hegemoni terjadi manakala satu kelompok atas kelompok-kelompok lainnya-dalam pengertian Gramscian-bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Hegemoni diraih secara politis dan melalui upaya-upaya kultural dan intelektual untuk menciptakan uniformitas pandangan dalam sebuah masyarakat.

Sementara pada sisi yang lain, kapitalisme lanjut dengan sihirnya yang membunuh tanpa harus melukai, merias dirinya dengan dandanan yang demikian cantik dan eksotis. Kita sadari bahwa, logika kapitalisme pun telah berubah, ia tidak lagi berpikir bagaimana memproduksi barang dengan biaya semurah mungkin, melainkan memproduksi berbagai kebutuhan dengan penciptaan image pencitraan melalui iklan-iklan. Aura sihir kapitalisme lanjut itu adalah, nilai guna suatu komoditas tereduksi sedemikian rupa, suatu barang tidaklah menjadi popular dikarenakan kegunaanya, melainkan terkait bagaimana komoditas tersebut diinterpretasikan.

Ya, interpretasi itulah yang membuat halaman kita di Madura tidak lagi ramai, dengan permainan-permainan tradisional yang lahir dari etos masyarakat Madura. Anak-anak yang semestinya mendalami perannya sebagai anak-anak, mengalami lompatan ruang yang demikian jauh dari yang semestinya. Aplikasi-aplikasi teknologi yang tidak relevan bagi anak-anak, menjadi yang demikian ideal bagi mereka. Bahkan tidak jarang ada banyak anak-anak yang berani berbicara persoalan asmara, dan itu di luar sikap polosnya, tidak seperti laiknya perbincangan-perbincangan konyol sewaktu saya anak-anak dulu.

Lalu bagaimana kita menanamkan dan mengingat budaya kita? sementara gemuruh bergesernya orientasi konsumsi yang semula ditujukan bagi “kebutuhan hidup” menjadi “gaya hidup” hampir tak tertandingi, setidaknya hingga sampai saat ini. Iya, seperti inilah budaya kita sekarang, tidak habis membaca persoalan budaya, dan tak habis untuk berpikir bagaimana merubah sesuatu hal yang besar, tapi tidak ada yang berpikir bagaimana merubah diri sendiri.***

Shohebul Umam JR, peneliti di Social Walfare Institute UIN-SUKA Yogyakarta. Fungsionalis Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY).

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us