SAJAK

Sajak-sajak Yona Primadesi

14 Mai 2016 - 23.35 WIB > Dibaca 1235 kali | Komentar
 
Menonton Bioskop
:Abinaya Ghina Jamela

Tubuhku seketika disesap malam musim dingin
aroma buih soda, bau jagung karamel memenuhi udara
setelah seorang perempuan menyobek tiket

dari tangan ibuku. Ia tersenyum sekaku Monalisa
di museum Louvre. Kubalas dengan terimakasih.
Aku duduk, layar telah menyala. Aku tatap wajah ibu,

layang-layang raksasa terbuka di tiang-tiang kapal.
Sebaris jendela seperti berpasang mata
sedang menonton, angin bernapas pelan.

Tangan ibu selingkar pashmina biru di bahuku.
Aku terpukau, puluhan paus menyemburkan
bulir-bulir pelangi sebelum para kelasi bersorak.

Tombak melesat, bagai asma memukul dada—
aku terkejut, ngumpet ke balik punggung ibu.
Tubuh paus serupa logam raksasa

berayun ke kedalaman. Para kelasi menanti
serupa wajahku saat kado ulangtahun dibuka,
seekor paus lain pelan mengangkat ekor lebarnya

di udara, dan merobek lambung kapal,
seluruh awak terburai di tengah pasifik.
Ibu genggam jemariku sampai lampu menyala.

2016


Anak Payang

Mereka sekawanan pemuda
badan berlumur laut dan terik
kulit kayu kapal belum diketam
melompat dari geladak, pikul satu-dua

keranjang di pundak. Di tepian anak-anak
bersorak bawa mangkuk plastik-pinggan kanso
perempuan mengumpat, menghalau macam
ayam patuk bada terjemur.

Siang begini, mereka meluncur ke lepau
jepit kretek di bibir, pesan separuh gelas kopi
bagi kartu remi, bersiul ketika lewat gadis
perawan, sesekali bicara kasar seperti

bujang kebanyakan. Tapi saya pikir
semua laki-laki sama, pedagang
supir angkot, tukang sayur, pemilik beruk,
kepala sekolah, bahkan guru mengaji.

Ketika langit tumpahan air kopi
di lantai, laut gerai rambut perempuan
mereka bergegas, melepas tali ikatan,
mendorong sampan, kayuh dayung

atau meringkung dalam sarung di pelanta
hingga uang di uncang tandas, perempuan
komat-kamit rapal umpatan, pemilik lepau
kehabisan kopi dan rokok ketengan.

2016


Kejutan
: BPS

Selalu ada kejutan buat kami.
Ketukan parang di pintu kontrakan
telunjuk untuk papan salib di dinding
muntahan liur di wajah ibu yang lamur
desis tetangga membuat bising telinga.

Mereka bilang, karena kami turunan babiat
bikin bapak masuk-keluar ruang kepala sekolah
bikin ibu menghidang arsik tanpa ikan
bikin abang dihadiahi pentung sipir penjara

bikin kakak selalu mengapit map di ketiak
bikin kami menyulut rokok di hadap nisan
dengan mata merah. Kejutan itu juga
bikin wajahku penuh biru sekepalan

bikin aku berburu layangan sendirian.
Ia  sangat ingin kami berkemas, serupa halaman
buku penuh bercak kuning, perlu disobek
ilalang perlu dibabat biar tak rusak pandangan

bunga es perlu dikikis dari lantai lemari pendingin.
Tapi ibu masih saja mendorong gerobak di jalan menanjak
membersihkan patahan bambu ulah berandal
duduk menyusun leuncingan, menunggu orang yang mampir.

Sebab di sini, kejutan tak lebih hawa panas di bulan Januari.

2016


Petang Keempat Februari

Aku teringat petang keempat Februari.
Aku sama sekali belum pernah melihatmu
kita bertemu di seberang stasiun tua.

Aku menyapa canggung serupa palang pintu rel kereta.
Mestinya udara tak segerah ini, ucapku kaku.
Rambut ikal dari balik topi lusuhmu

seakan menertawai, pertanyaan bodoh!
Tidakkah kau lihat orang-orang berlomba
memperbesar lubang ozon. Macam spekulasi

seramai kendaraan lalu lalang, asap menyekap tubuh.
Kita melewati rumah-rumah penduduk.
Katamu, di kota ini mimpi menjadi makanan rayap.

Seorang perempuan dengan dada setengah terbuka
tersenyum di balik asap rokok yang menari di udara
Seorang gadis kecil rambut kucir kuda berlari

menyongsong jalan datang, bajunya kumal
dengan boneka di pelukan. Ia begitu riang.
Aku terbayang milikku. Sore begini kami duduk

di beranda, menikmati secangkir teh, Maria Kallas,
buku-buku terbaru atau kupu-kupu yang melintas.
Langit mulai tersapu kuas bercat emas, bulan

menggantung pasi di kolam samping rumahmu, sesaat
indah begini sisa hari yang selalu kusimpan rapi.

2016

Yona Primadesi, lahir di Padang, 26 Februari. Kini bekerja sebagai staf pengajar di Universitas Negeri Padang. Menulis puisi, cerpen, dan artikel, tersiar di berbagai media. Berdomisili di Padang, dan Depok, Jawa Barat. Puisinya terangkum dalam antologi Bendera Putih untuk Tuhan (Yayasan Sagang, 2014)


KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 11:32 wib

Lepas Caleg dengan Seremoni Berdiri

Senin, 24 September 2018 - 11:30 wib

Pemprov Sediakan 80 Komputer

Senin, 24 September 2018 - 11:27 wib

Tergoda Suami Orang

Senin, 24 September 2018 - 11:11 wib

5 Hari Perbaiki LDAK

Senin, 24 September 2018 - 10:50 wib

Pencairan TB Dilakukan Bertahap

Senin, 24 September 2018 - 10:42 wib

350 Guru Komite Akan Diangkat Jadi Honor Pemko

Senin, 24 September 2018 - 10:40 wib

Baby Shima Bius Warga Kota Jalur

Senin, 24 September 2018 - 10:39 wib

Pelaku Curas Antar Provinsi Dibekuk

Follow Us