CERPEN DESI SOMMALIA GUSTINA

Luh dan Kota yang Menjelma Genangan

15 Mai 2016 - 00.11 WIB > Dibaca 1911 kali | Komentar
 
Luh dan Kota  yang Menjelma Genangan
Memandang kota dengan gedung-gedung  yang berbaris kokoh aku seakan memandang wajah Luh. Wajah Luh yang juga kokoh. Dan, Luh, kokoh pula dengan ucapannya.

“Kau bisa bekerja di kantorku, Luh. Ada sebuah pekerjaan untukmu, sebagai akunting.” Kataku kala itu.

“Aku ingin kembali ke desa. Mengolah kebun.”

“Kau seorang sarjana, Luh. Kau bisa punya karier dan jaminan kehidupan yang lebih baik di sini.”

“Ooo, benarkah?” Luh membelalakkan matanya. Terasa olehku kedua bola mata milik Luh seakan melompat ke tubuhku.

“Hmm….”

“Aku tanyakan sekali lagi padamu, Ris. Apakah kau benar-benar yakin para sarjana di kota punya jaminan untuk kebaikan hidupnya dan kehidupan?”

“Menurutku begitu, Luh. “

“Tidak. Sama sekali tidak, Ris. Kaum terdidik di kota ini hanya mampu menciptakan kebaikan untuk hidupnya. Tapi tidak untuk kehidupan.”

“Maksudmu?”

“Kau bisa lihat saat hujan.”

“Aku tak paham.”

“Sebentar lagi, setiap turun hujan, kota ini akan menjelma genangan. Dan itu diciptakan,” ucap Luh dengan nada yang pelan saja, namun olehku suara Luh terdengar garang.  

Luh mengucapkan itu bertahun lalu. Dan aku selalu mengenangnya setiap turun hujan.

***

“Belum pulang, Ris.” Tegur Mimin, teman kantorku.

“Aku menunggu hujan reda.”

“Hujan tak menjadi masalah, Ris. Kau justru harus berhati-hati terhadap genangan.”
Aku menyerngit.

“Kemarin aku menyaksikan seorang pengendara sepeda motor terjungkang ketika melintasi jalan yang dipenuhi genangan.”

“Lalu, bagaimana nasibnya? Maksudku, nasib si pengendara.”

“Kepalanya terbentur aspal dan nyaris pecah.”

Aku bergidik saat Mimin menambahkan, “Menurutku di kota ini sudah tak terhitung pengendara yang tewas akibat jalan berlobang yang tertutup genangan.”

Aku mendengus.

“Kau harus lebih hati-hati. Terutama jika menjumpai genangan,” ucap Mimin sambil melambaikan tangan bermaksud meninggalkanku. Kalimat terakhir yang diucapkan Mimin membuatku kembali teringat Luh.

***

Pada suatu kesempatan, ketika libur kerja aku mengunjungi Luh. Sebuah bus dengan kaca jendela yang sebahagiannya terlihat retak membawaku ke desa tempat tinggal Luh. Setelah kurang lebih tiga jam perjalanan aku turun di pinggir jalan Lintas Sumatera. Menuju rumah Luh, aku harus melalui jalan setapak yang di kiri kanannya ditumbuhi rumput liar. Tak ada jenis kendaraan apapun dari pinggir jalan Lintas Sumatera, tempat aku turun dari bus, yang bisa mengantarkanku ke rumah Luh yang terletak di tengah-tengah kebun. Satu-satunya cara adalah aku harus menempuhnya dengan berjalan kaki.

 “Luh,” panggilku di depan sebuah rumah berdinding kayu dengan cat berwarna coklat yang mengelupas dibeberapa bagian.

Aku menghela nafas sembari menunggu jawaban dari dalam.

“Luh … Luh… ” ulangku berharap ada langkah kaki berjalan kearah pintu.

Aku mengulang panggilan berkali-kali tapi tetap tak ada yang menyahut.

Setelah menunggu lama, dari balik rerimbunan daun Luh muncul dengan ambung yang tersandang di bahunya. Ambung itu berisi ranting.

“Ranting-ranting ini untuk kayu bakar saat musim hujan,” kata Luh setelah ia terlebih dahulu menayakan kabarku.

“Kau masih seperti dulu Luh, berpikir dengan melompat.”
Luh tak menanggapi.

“Sekarang kemarau, kau sudah berpikir tentang hujan,” kataku terkekeh.

“Musim penghujan akan tiba, Ris.”

“Masih satu bulan kemudian, Luh.”

“Tidak, Ris. Sebentar  lagi,” kata Luh sambil menyeka keringat di keningnya.

Aku diam. Juga Luh.

“Kau masih kukuh tak ingin berumah di kota, Luh?” aku menanyakan hal lain, bermaksud mengalihkan pembicaraan.

“Tidak,” jawab Luh datar.

“Kenapa?”

“Seperti yang pernah kukatakan padamu, Ris. Aku tak ingin menjadi warga kota yang menimba genangan setiap turun hujan.”

“Hanya ada genangan di beberapa ruas jalan yang berlobang, Luh. Dan tak ada yang menimba genangan seperti yang kau ucapkan.”

Luh menarik napasnya.

“Tak ada yang melakukan itu, Luh.”

“Saat ini mungkin tidak, Ris. Tapi tidak untuk waktu yang lain.”

Aku tak menyahut. Hanya meraba-raba makna ucapan Luh.

***

Seperti kata Luh, kali ini pergantian musim terjadi lebih cepat. Kemarau bertukar dengan musim penghujan. Kota ini telah beberapa hari diguyur hujan dengan tingkat kederasan yang tinggi. Jalan-jalan dipenuhi genangan.  Air yang jatuh ke jalan tak tertampung oleh selokan. Air lalu meluap dan melumpuhkan jalanan kota.

Teras pertokoan menjadi tempat orang-orang berteduh.  Beberapa diantara mereka yang berteduh terdengar olehku mengeluarkan umpatan.

“Ini adalah kota dengan drainase yang buruk.”

“Genangan membuat pengendara sepeda motor mudah sekali terjatuh.”

“Terjatuh, lalu mati,” salah seorang menyahut.

“Tak ada yang membenci hujan. Tapi tidak dengan genangan yang membuat mesin mobil tiba-tiba mogok atau rusak.”

Aku mendengar perkataan orang-orang itu dengan seksama tapi tidak untuk menimpali. Aku tak ingin menambah jumlah umpatan.

Esoknya, saat genangan belum juga surut, dari balik kaca jendela kamarku yang terletak di lantai dua, aku melihat orang-orang menimba genangan dari dalam rumah. Lalu, sayup aku mendengar suara-suara umpatan. Umpatan orang-orang itu, dan genangan yang baru saja ditimba dari sebuah rumah bercat merah muda, membuatku teringat pada ucapan Luh, bahwa kota ini pada saatnya akan menjelma genangan. Dan Luh, lihatlah! Soal kota yang menjelma genangan, kau benar, Luh.
    
Desi Sommalia Gustina, menyukai sastra dan mengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau. Dapat dihubungi melalui surat elektronik: desisommaliagustina@yahoo.co.id
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

Maksimalkan Peningkatan Kualitas Pendidikan

Selasa, 18 September 2018 - 17:00 wib

OOTD Jadi Inspirasi Fashion Bagi Banyak Orang

Selasa, 18 September 2018 - 16:44 wib

Australia Diserang Stroberi Berisi Jarum

Selasa, 18 September 2018 - 16:30 wib

Bupati Terima Dua Permendagri

Selasa, 18 September 2018 - 16:00 wib

Truk Laga Kambing, Pengemudi Tewas

Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Follow Us