Oleh Yeni Maulina

Puisi dan Film "AAdC"

15 Mai 2016 - 00.20 WIB > Dibaca 2465 kali | Komentar
 
Puisi dan Film
“Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh. Ada malaikat menyulam jaring laba-laba gelang di tembok keratin putih, kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera. Atau aku harus lari ke hutan belok ke pantai?” (Cinta dalam “Ada Apa dengan Cinta 1”) 

Sejak iklan atau mini drama “Ada Apa dengan Cinta (AAdC) 2” muncul di sosial media pada 2014 yang lalu, “demam” “AAdC” kembali marak. Penggemar “AAdC 1” seolah diingatkan akan film tersebut yang mulai beredar di bioskop-bioskop Indonesia pada Februari 2002. Film “AAdC 1” berkisah tentang dua remaja penyuka puisi, Cinta dan Rangga, yang saling  jatuh hati. Film itu diakhiri dengan kepergian Rangga ke New York. Empat belas tahun setelahnya, film “AAdC 2” melanjutkan kisah roman tersebut.

Film “AAdC 1”  yang ditonton hingga 2,5  juta orang itu tidak hanya bermakna bagi perfilman Indonesia. Film tersebut juga dianggap sebagian orang memiliki andil dalam perwajahan puisi Indonesia. Sebaliknya,  puisi-puisi Chairil Anwar yang ada dalam buku Aku yang ditulis oleh Sjuman Djaya dianggap sangat kuat dan kental membentuk karakter Rangga yang ada di dalam film “AAdC 1” tersebut.

Sejak film “AAdC 1” melejit, muncul euforia di kalangan anak muda, khususnya laki-laki yang berdomisili di ibukota, untuk mencoba bergaya seperti tokoh Rangga yang selalu membawa buku berjudul Aku karya Sjuman Djaya. Artinya, sebuah film remaja yang bagus  ternyata mampu mempromosikan buku yang bagus pula. Hal ini didasari pada struktur dan genrenya serta pengaruh terhadap perwatakan yang saling terkait.

Buku Aku karya Sjuman Djaya yang kerap dibawa Rangga tersebut tidak hanya memuat kumpulan puisi Chairil Anwar. Buku ini juga menceritakan kisah hidup Chairil Anwar. Dialog-dialog di dalamnya berisi puisi-puisi Chairil Anwar yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat menggambarkan latar belakang dan proses penciptaan puisinya. Buku Aku adalah gambaran hati seseorang yang senantiasa gelisah dan resah dalam menjalani hidup di bawah bayang-bayang penjajah. Buku ini adalah biografi; bukan fiksi. Aku adalah semacam catatan perjalanan, bukan drama mengharu-biru,  juga bukan kisah herois yang menggelegar. Aku ini berkisah mengenai seseorang yang ingin hidup merdeka, yang menuntut kebebasan.

Keberhasilan film “AAdC 1” membuat puisi kian digemari. Seolah-olah masyarakat tidak berkeinginan untuk mengetahui lebih lanjut bahwa buku yang di bawa tokoh Rangga di “AAdC 1” sebenarnya bukan buku cerita pendek atau novel, melainkan sebuah skenario yang dikarang seorang sutradara terkenal yaitu, Sjuman Djaya. Penutup cerita dari buku Aku sepertinya menyisakan haru dan pilu. Chairil Anwar tutup usia. Akan tetapi, berkat karya-karyanya, dia benar-benar akan hidup seribu tahun.

Di dalam film “AAdC 2”, seorang penyair muda asal Makasar, M. Aan Mansyur,  didaulat oleh Mira Lesmana sebagai penulis puisi-puisi di dalam film tersebut. Aan Mansyur menyatakan bahwa  “Bagaimana pun, saya merasa AAdC 2 punya sumbangsih besar sekali. Mau diakui atau tidak, AAdC punya peran besar sekali membuat wajah puisi Indonesia sekarang,”  (Liputan6.com).

Di dalam film tersebut, daya magis puisi M. Aan Mansyur kian menguatkan alur cerita film yang mengambil latar di daerah Yogyakarta dan juga kota paling sibuk di dunia, New York.  Jauh sebelum “AAdC 2” tayang pada bulan April 2016, penyair muda ini sudah lebih dikenal sebagai seorang penyair yang mampu meramu kata menjadi puisi yang bombastis. Sampai setakat ini, pengarang ini sudah menerbitkan buku-buku berjudul Hujan Rintih-rintih (2005), Aku Hendak Pindah Rumah (2008), Cinta yang Marah (2009), Tokoh-tokoh yang Melawan Kita dalam Satu Cerita (2012), Kukila (2012), Kepalaku: Kantor paling sibuk di Dunia (2014), Melihat Api Bekerja (2015), dan terakhir 31 judul puisi tentang kisah Cinta dan Rangga dalam film “AAdC 2” terbit dalam judul Tidak Ada New York Hari Ini.

Dengan melihat kondisi ini, seharusnya muncul kesadaran bahwa untuk mengenalkan puisi karya sastrawan terkenal yang mewakili zamannya, banyak jalan yang bisa ditempuh. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melalui film yang bermutu. Sebuah film yang bermutu yang memiliki jumlah penonton yang luar biasa akan memiliki pencapaian yang lebih tinggi, yaitu mampu menembus penonton di luar negeri sebagai upaya mengenalkan Indonesia. Berkenaan dengan ini, McGlynn menyatakan: “Kalau memperkenalkan Indonesia ke luar negeri, ya jalan sastra menjadi sangat penting. Jadi, jangan hanya ada berita yang negatif soal Indonesia, perlu juga ada karya mengenai kebudayaan dan adat-istiadat di Indonesia.”(Stomata, Edisi VII/ Januari 2015).

Melalui film “AAdC 1” dan juga “AAdC 2” terlihat bahwa keterlibatan puisi di dalam film menyakinkan orang bahwa ada kekuatan kata-kata dan  bahasa yang mampu membangun sebuah imajinasi bagi tiap penontonnya. Kata-kata dan bahasa bukan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, melainkan kemampuan seorang penyair menghadirkan suasana dalam puisi-puisi indahnya sebagai suatu yang utuh dan kokoh dalam menyiratkan makna.

Nyatalah bahwa puisi lahir bukan dari rahim kejenuhan atau urusan sentimentil. Puisi mampu mengantarkan sebuah kehidupan dari kehidupan yang lain. Penyair, baik Chairil Anwar dan M. Aan Mansyur mampu menginterpretasikan dimensi diri dalam kegundahgulanaannya yang diungkapkan dalam bentuk puisi-puisi yang menakjubkan. ***

Yeni Maulina, bekerja di Balai Bahasa Provinsi Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us