SAJAK

Sajak-sajak Eko Ragil Ar-Rahman

15 Mai 2016 - 00.47 WIB > Dibaca 1298 kali | Komentar
 
Song of Rose and Ivy

Kemudian fajar membuncah
seperti rekah apel merah,
dan larutlah sendu
dalam keruh cokelat teh
yang siap seduh dan diberi madu.

Hanya sedikit lagu yang kutangkap
banyak yang hinggap lalu lenyap:
Sedikit dengung lebah pagi,
lengking kereta mesin,
cengkerama gadis-gadis muda,
riak air yang membasahi mawar,
rintihan helaian Ivy yang ranggas
tuntas dipangkas waktu.

Aku rasa, setiap pagi adalah versi
lain sebuah miniseri.
Kita hanya membisu:
Diam termangu menunggu
apa tindakan selanjutnya.
Tanpa sadar usia sudah bergandengan,
berlari di depan kita.

Sisakan kertas dan pena untuk kita.
Mengingat awal mula sebuah cerita
Pertemuan hening yang begitu asing.

Adakah alur tak terduga di ufuk sana,
seperti Hmye Mawar dan Ivy
Sebagai fajar sebuah puisi?

Galeri G, 2016


Pulang

Bulan bundar kuning mentega saat dia menggulir cahaya
Melintasi kornea kita, mengukir suasana yang asing:
Apa kita saling bergeming atau berlomba mengumpulkan hening.
Rona itu masih bisa kubaca di antara langit Hitam Opal.
Dan kau masih memandangku dangkal.

Mari kita pulang, kita susuri jalan seperti ketam petapa membawa
Rumahnya, hening dan tabah. Sepanjang pesisir paling desir,
keluar dan masuk, menatap mata-mata yang memburuku buta.
Namanya sepi: elang perkasa dan kurus jauh di sana.

Aku pungut sejumlah doa ke dalam cangkang.
Menyusuri liku risau yang tak bisa kurenggang.
Lalu aku kembali ke laut. Menjaga kerut doaku
Tak hanyut dan surut.

Bulan sudah lengkung putih susu saat aku di laut.
“kita tahu, ada yang lebih halus dari arus,
Selain doa dan sua yang tergerus.”

Riau, 2016


Hibernasi Bumi

Konon, bebatuan punya telinga untuk mendengar doa di pemukiman ini. Menyimpan harap kepada pohon yang tengkurap, pengap menunggu hari basah paling tabah.

Konon, bumi sedang hibernasi dari wujud gergasi. Nanti saat kota kehilangan hati, dia akan bangun dan menangis. Mengiba doa pada bengis laut dan langit: yang percaya dengan apa yang niscaya, tenggelam dalam ragu akan apa tujuan dia ada.

Dari telinga batu, sekali lagi dia dengar bunyi seribu sunyi, seribu getir, seribu tangis yang lupa dengan batu, pohon dan hijau yang dulu ada, mematri dan menjadi hati bagi  ironi hidup mereka.

Konon, burung-burung yang membangunkan bumi. Bernyanyi lagu iblis, berdoa agar bumi menangis. Konon, burung-burung itu kita.

Riau, 2016


Kecubung

Hari ini ada yang asing di lehermu.
Sejumlah kata ungu berebut cahaya tua
Beberapa saling tindih, merintih tapi saling tepi.
Iya, sedang hari asyik merangkak menjauhi diri
memanggil sepi menjadikan kita seperti berita usang
dalam koran tempo hari.

Kita masih berlomba menyulam ingat sejak surya
Sedemikian sengat. Kilap kecubung menyulap kita
dekap demi dekap, meluapkan waktu, menguapkan kita.
: Aku rasa, aku adalah serpih Kecubung dari ingatan
yang kau kubur selama tidur.

Pada persimpangan lengang dan bimbang.
Tambang tua ini tetap kurenggang
dengan pandangmu.

2016


Lagu Anggur Putih

Kita harus pulang dari kesendirian
dalam pesta ini yang semuanya tersibak
riak bercak masa lalu.

Sebab menenggak kata adalah keharusan
sekaligus pantangan untuk kita.
Sebelum kita mabuk dalam noktah kata kita sendiri.

Malam ini, ada dengung dalam gelas
Gelas perjamuan yang belum tuntas
Jika kita memaksanya lepas.

Galeri G, 2016

Eko Ragil Ar-Rahman, kelahiran Pekanbaru, 22 Juni 1995. Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Riau ini bergiat di Community Pena Terbang (COMPETER). Beberapa tulisannya pernah dimuat di media cetak dan elektronik, baik puisi dan cerpen seperti Xpresi Riau Pos, Harian Medan Bisnis, Koran Dinamika News, Koran Rakyat Sultra dan Detakpekanbaru.com . dan juga pernah tergabung dalam beberapa antologi puisi dan cerpen.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us