BUDAYA

Menyambung Pesan Batimang

21 Mai 2016 - 21.21 WIB > Dibaca 730 kali | Komentar
 
Begitu banyak pesan yang terkandung dalam batimang. Begitu banyak pula yang mengancamnya untuk hilang. Mengolaborasikan dengan yang lain, adalah salah satu jalan untuk membuatnya tetap berkumandang.

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru

SUARA emak mengalun merdu. Mendayu dan terdengar sayup-sayup.  Jauh, nun di tengah ladang. Di bawah rumah sawah yang tinggi, antara hijaunya tanaman padi, suara itu seolah menggema, dibawa angin, menghempas dinding-dinding kaki Bukit Barisan, mengiring gerak tangan-tangan yang tiada henti menanam atau memanen padi.

Sesekali terdengar suara tangis dari bawah rumah sawah itu, dalam buai kain yang tergantung dan terus diayun. Lalu, batimang dikencangkan. Batimang terus dinyanyikan. Ayun  pun semakin kencang. Pesan, segala pesan dikumandangkan.  Segala tuah dicurahkan agar kelak menjadi insan yang lebih baik. Anak kembali terlelap dalam buaian.

‘’E... laa ilallah... copeklah godang, Nak. Bisuok godang jadilah khatib, jadilah khotib, belajarlah mangaji, rajinlah sekolah, tompek baguru dek oghang kampuang, tompek batanyo oghang kampuang (cepatlah besar, Nak. Kelak besar jadilah khatib, belajarlah mengaji, rajinlah sekolah, tempat berguru orang kampung, tempat  bertanya orang kampung).’’

Begitu salah satu pesan dalam batimang (bertimang). Pesan itu diceritakan dalam lantunan sambil mengayun anak dalam buaian agar tertidur lelap dan emak bisa kembali ke kebun atau ke ladang. Pesan tentang musim yang tak bersahabat dengan padi di ladang, tentang ikan yang tak muncul ke permukaan sungai sehingga penghasilan terus berkurang, tentang hujan yang mengguyur sepanjang petang sehingga karet tak bisa diambil getahnya, tentang susahnya orangtua mencari nafkah untuk membesarkan anak-anaknya dan masih banyak lainnya.

Dari cerita duka itu, muncullah harapan-harapan agar sang anak tetap bisa tumbuh dewasa dengan sehat. Tumbuh dengan pendidikan yang layak. Tetap sekolah, pandai mengaji, lihai membawa diri, menjadi orang besar, berguna bagi nusa bangsa dan lebih baik dari orangtuanya. Segala upaya dilakukan untuk bisa mewujudkan impian itu.

Terkadang batimang tidak hanya berisi pesan, tapi juga suka duka yang dirasakan orangtua ketika itu. Cerita-cerita tentang perjalanan hidup dari kecil, muda hingga menjadi orangtua, kadang tersebut dalam batimang itu. Bahkan cerita tentang percintaan juga tersebut di dalamnya. Tergantung kondisi orangtua ketika itu. Tapi, pada umumnya batimang memang berisi pesan dan nasehat orangtua kepada anaknya.

Karena membuai anak dilakukan emak, maka emak atau perempuanlah yang selalu batimang. Hanya sesekali saya ada lelaki atau ayah yang batimang. Itu hal yang sangat spesial. Biasanya dilakukan ayah pada waktu tertentu, karena kasih yang terlalu. Tak heran jika ada juga ayah atau lelaki yang pandai batimang.

Sastra lilsan dalam bentuk nandung (senandung) berupa batimang ini hanya ada di Kabupaten Kampar, khususnya di kalangan masyarakat  Kampar Kiri dan Kampar Kiri Hulu. Sedangkan di Kampar Kanan disebut dengan bagahandu. Antara keduanya ada kemiripan, tapi tidak sama. Ketidaksamaan ini khususnya dalam bentuk irama dan alunan. Sedangkan muatan dalam keduanya tetaplah sama, yakni tentang nasehat, petuah, pesan dan sejenisnya.

Irama atau alunan nandung dalam sastra lisan di Kabupaten Kampar atau bahkan di tempat lainnya dipengaruhi banyak hal. Di antaranya oleh kondisi alam dan penghasilan masyarakatnya. Tidak hanya Kabupaten Kampar dengan kabupaten lainnya, sama-sama daerah di Kabupaten Kampar saja tidak sama. Irama dan cengkok batimang antara Kampar Kiri dan Kampar Kiri hulu juga tidak sama. Irama batimang di Kampar Kiri Hulu lebih mandayu dan terkesan sedih. Sedangkan di Kampar Kanan terdengar lebih riang dan penuh nostalgia.

‘’Lain desa, lain cengkok batimang. Isi batimang tidak hanya pesan atau nasehat, tapi tergantung keadaan dan suasana ketika itu,’’ jelas Tokoh masyarakat Padang Sawah, Darnius bergelar Datuk Satik.

Desa-desa di Kampar Kiri dikepung Bukit Barisan. Sungai Subayang membelah di tengahnya. Air sungai yang deras antara bebatuan, mengalir dan berliku-liku. Pulau-pulau kecil banyak tumbuh di tengahnya. Hamparan rumput hijau juga menghias di sisi kanan dan kirinya. Begitu pula pasir yang membentuk pantai di bibirnya.  Alam yang lahir dengan romantis, manja dan syahdu. Maysrakat Kampar Kiri Hulu tinggal di sepanjang tepian sungai tersebut.  Kondisi ini menjadi salah satu sebab mengapa batimang di kawasan ini disenandungkan dengan lebih sendu.

Ada sembilan  desa yang mengisi tepian Sungai Subayang di Kampar Kiri Hulu tersebut selain Desa Gema. Desa-desa itu yakni Desa Tanjung Belit, Muara Bui. Batu Songgan, Tanjung Beringin, Gajah Batalut, Aur Kuning, Tarusan, Salo dan Pangkalan Serai. Sebagian kecil masyarakat di desa-desa ini masih mengenal dan pandai melantunkan batimang.

Berbeda dengan masyarakat di kawasan Kampar Kiri, khususnya di Desa Padang Sawah. Meski bentangan alamnya sama, bukit, hutan dan sungai, tapi masyarakatnya tinggal di darat, antara bukit yang menjulang tinggi. Mereka berjalan kaki naik turun. Berkendaraan melalui lembah nan curam. Batimang pun lahir lebih ceria di tanah mereka. Sedangkan masyarakat Kampar Kiri Hulu hanya melalui sungai, bersampan sepanjang jalan. Tapi, dari belasan desa yang ada di Kampar Kiri, batimang hanya terkenal dan tersisa di Desa Padang Sawah.

Sebagai sastra lisan, batimang hampir hilang. Hanya beberapa orang saja yang kini bisa menyenandungkannya. Itupun orang-orang tua.  Pasangan orangtua muda, tak lagi bisa. Mereka lebih sering menidurkan anak dengan lagu zaman kini. Bahkan hanya dengan memutar HP dengan lagu-lagu hit masa kini seperti lagu Cita Citata, Ayu Ting Ting atau lainnya.
Bukan hanya kerana persoalan ke-jadul-an atau ke-kini-an, semakin hilangnya batimang juga dipengaruhi perkembangan zaman dan kecanggihan teknologi masa kini. Hal ini membuat pasangan orangtua muda menganggap ‘kecil’ batimang dan jauh dari ketinggalan zaman. Padahal, itu adalah bagian dari masa lalu mereka dan nenek moyang mereka.

Perlu pelestarian agar batimang tidak hilang. Mendekatkan dengan mudah dan cara yang bisa diterima, seperti mengolaborasikan dengan seni yang lain, dinilai bisa menjaga kelestarian batimang tersebut. Inilah yang dilakukan sekelompok kecil masyarakat Kampar Kiri. Beberapa waktu lalu, mereka menggelar festimal Batimang yang sudah dikolaborasikan dengan gendang dan gong. Festival itu disebut Festival Gondang Oguong Batimang.

Gondang oguong dan batimang adalah dua hal yang berbeda. Batimang murni sastra lisan. Sedangkan gondang oguong adalah musik. Gondang berarti gendang. Oguong berarti gong. Gendang dan gong dipukul dan batimang dilantunkan. Menarik. Lebih hidup. Iapun menjadi karya seni yang baru. Batimang tidak lagi hanya disenandungkan dengan anak yang terbuai dalam ayunan, dan gendang gong tidak lagi sunyi tanpa lantunan. Keduanya lahir menjadi seni pertunjukan. Asyik dan layak dinikmati di atas panggung. Sementara, keduanya yang merupakan musik dan sastra klasik, tetap hidup dan didengar banyak orang.

Gendang dan gong tidak sempurna jika tidak diisi suara canang. Canang adalah alat musik yang dipukul di dalam Calempong; alat musik tradisi di Kabupaten Kampar. Calempong juga banyak dimainkan di Kabupaten lain, bahkan di Sumatera Barat yang dikenal dengan Talempong. Bedanya, Calempong memiliki lima anak cananng sedangkan Talempong enam anak canang.

Irama dalam batimang bukan irama biasa. Begitu juga dengan calempong. Klentang-klentung suara lima anak canang pada calempong tidak menghasilkan not. Tidak ada tangga nada. Bebas lepas. Tapi ketika dipukul dengan penggugua (alat pemukul canang pada calempong), bunyinya terdengar unik. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memainkannya. Panggugua juga tidak dibuat sembarangan. Panggugua canang dibuat dari kayu celempung, kayu yang sangat lunak. Sementara, panggugua calempong terbuat dari bagian tengah pelepah kelapa yang masih muda.

Calempong juga tidak dimainkan sembarangan. Ia hanya dibunyikan pada ritual tertentu. Misalnya pada acara besar kesukuan dan kenagarian. Itupun harus seizin datu-datuk di desa tersebut. Berbeda dengan batimang. Ia boleh dilantunkan kapan saja meski batimang muncul sebagai sastra lisan atau nandung saat menidurkan anak dalam buaian.

Dalam Gondang Oguong Batimang, biasanya alat musik lengkap terdiri dari dua gong, dua gendang dan satu set calempong yang terdiri dari lima anak canang. Dua gong bisa dimainkan oleh satu orang. Sedangkan dua gendang atau tatawak dimainkan oleh dua orang dan calempong dimainkan oleh satu orang. Perpaduan antara batimang dan gondang oguong, menghasilkan karya seni yang unik, terkini tanpa melupakan tradisi leluhur.

Batimang dan calempong mulai diajarkan kepada anak-anak muda. Apalagi sejak dilaksanakan festival yang dilaksanakan Benngkel Seni Rantau Kampar Kiri baru-baru ini. Itupun masih jauh dari harapan. Dari sembilan desa selain Desa Gema di sepanjang Sungai Subayang, hanya tiga desa yang mengikuti festival tersebut, yakni Desa Gema, Tanjung Beringin dan Pangkalan Serai.

‘’Sangat sayang jika tradisi, seni budaya masa lalu yang kita miliki harus hilang. Perlu cara baru agar tradisi lama itu tetap bisa diterima dan dikenal generasi masa kini. Batimang harus kembali diperkenalkan. Mengolaborasikan dengan seni yang lain, bisa menjadi salah satu jalan tanpa lupa meneceritakan  sejarah awalnya,’’ jelas Dodi Rasyid Amin, tokoh pemuda Kampar Kiri yang juga Pembina Sanggar Bengkel Seni Rantau Kampar Kiri.(gem)
 


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

Harga Emas Kembali Stabil

Selasa, 18 September 2018 - 13:30 wib

SMA Santa Maria Unggulkan Tim Putra

Selasa, 18 September 2018 - 13:20 wib

Subsidi Energi Membengkak

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Bersihkan Sisa Banjir, Belajar Ditunda

Selasa, 18 September 2018 - 13:00 wib

Syamsuar, Gubernur Riau Terpilih Siap Dukung APPSI

Selasa, 18 September 2018 - 12:50 wib

Ulama di Ranah Minang Tolak Aturan Pengeras Suara Masjid

Selasa, 18 September 2018 - 12:42 wib

Kakek 11 Cicit dan 31 Cucu Nikah Isbat

Selasa, 18 September 2018 - 12:30 wib

Mahasiswa Tuntut Stabilitas Rupiah dan Pengelolaan Blok Rokan

Follow Us