ESAI SASTRA

Beriringan dalam Sastra Melayu Riau

21 Mai 2016 - 21.55 WIB > Dibaca 1435 kali | Komentar
 
Oleh: Bambang Kariyawan Ys

Santun dalam Masyarakat Indonesia
Santun? Secara definisi dapat berarti halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan; Santun bagi masyarakat Indonesia telah menjadi simbol dan identitas yang akan selalu dikenang sepanjang masa oleh siapa saja dari belahan mana saja yang pernah menyinggahi negeri ini. Santun sebagai salah satu local wisdom (kearifan lokal) negeri ini dapat disejajarkan dengan keramahtamahan dan tulus menyunggingkan senyuman. Dari keramahtamahan itulah berbagai konsep berbau toleransi menerima berbagai perbedaan dikemukakan. Konsep kemajemukan, pluralisme, multikultural, dan lain-lain sebagai istilah teori sosial diusung sebagai bentuk kesantunan bangsa ini yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kesantunan diharapkan menyentuh berbagai aspek nilai dan norma dalam segala aspek. Ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang santun diharapkan menjadi pilar kita bergerak bersama waktu mengisi hari. Namun saat ini kesantunan bangsa kita sedang digoda  oleh “makhluk” yang bernama dendam, kebencian, ketidaksabaran, nekad, perilaku brutal, pemarah dan beragam penyakit hati dan masyarakat yang saat ini menjadi penghias berita kita sehari-hari. Seolah-olah kesantunan yang dibangun dengan susah payah menjadi ambruk dengan mudahnya.  Lantas apa solusinya?

Tidak lain tidak bukan yang diperlukan oleh bangsa ini adalah pendidikan kejiwaan yang berorientasi pada pembentukan karakter bangsa. Kerja keras berbagai pihak terkhusus Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya maksimal untuk menjalankan amanah ini. Salah satu aspek yang diyakini mampu berperan di dalamnya adalah melalui pengoptimalan peran sastra. Hal itu cukup beralasan sebab sastra mengandung nilai etika dan moral yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Sastra tidak hanya berbicara tentang diri sendiri (psikologis), tetapi juga berkaitan dengan Tuhan (religiusitas), alam semesta (romantik), dan juga masyarakat (sosiologis). Sastra mampu mengungkap banyak hal dari berbagai segi. Banyak pilihan genre sastra yang dapat dijadikan sarana atau sumber pembentukan karakter bangsa. Tentunya pilihan genre itu yang memuat kebaikan serta kesantunan dalam tutur dan maknanya.

Santun dalam Bersastra

Santun dalam bersastra? Dengan istilah ini tentunya akan memunculkan polemik karena akan selalu ada dikotomi. Ada sastra yang santun dan ada sastra yang tidak santun. Terlepas itu berkarya melalui sastra akan menghasilkan tulisan-tulisan yang akan dibaca oleh sejumlah pasangan mata yang memiliki pikiran dan persepsi. Dari tulisan yang dibaca akan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku. Segala sesuatunya akan bermakna positif saat tulisan dan bacaan yang telah mengendap di otak bawah sadar seseorang sesuatu yang memuat kebaikan. Demikian pula sebaliknya saat konsumsi otak melalui tulisan dan bacaan berirama kevulgaran, kebengisan, dan aroma kekerasan lainnya maka berbanding lurus dengan terbentuknya pribadi-pribadi yang jauh dari kesantunan.

Disinilah letak pentingnya sastra yang mengandung nilai-nilai kesantunan sehingga mampu membentuk insan berkarakter.  Berkaitan dengan sastra dan karakter, Joko Saryono dalam buku “Dasar Apresiasi Sastra” (2009:52—186) mengemukakan bahwa genre sastra yang dapat dijadikan sarana untuk membentuk karakter bangsa, antara lain, genre sastra yang mengandung nilai atau aspek (1) literer-estetis yang mengandung keindahan, kebagusan dan keterpanaan. (2) humanistis yang menjunjung harkat dan martabat manusia, (3) etis dan moral yang mengacu pada tindakan manusia dalam berbuat kebaikan dan kesalahan, dan (4) religius-sufistis-profetis dengan pengalaman spiritual dan transedental. Sudah saatnya kita menulis dan membaca karya-karya sastra yang bergizi dengan nilai kesantunan demi masa depan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa yang lebih baik.

Santun di Negeri Lancang Kuning


Di bumi Lancang Kuning ini, negeri pengawal kata-kata tetap selalu menjunjung bertutur santun sebagai sebuah identitas. Bertutur dengan santun disampaikan lewat merangkai kata. Sehingga di negeri ini mengenal tradisi berpantun, bersyair dan bergurindam untuk menyampaikan sebuah pesan agar terkesan indah dan beretika. Hal ini deperkuat dengan:

Jika hendak mengenal orang
berbangsa,
lihat kepada budi dan bahasa.

(Gurindam 12 pasal 5)

Gurindam Dua Belas, karya monumental dari sejarawan, budayawan, dan pahlawan nasional Raja Ali Haji di Pulau Penyengat Indra Sakti. Gurindam yang berisi dua belas pasal ini tak terpungkiri betapa banyak nilai moral sosial yang kita dapatkan di dalamnya. Nilai yang dikandungnya berisikan nasihat tentang agama, budi pekerti, pendidikan, moral, dan tingkah laku. Bait demi bait syairnya selain dibacakan juga sering disenandungkan dengan irama bersyair yang menyentuh. Dalam salah satu syair Gurindam Dua Belas kita diajarkan untuk santun dalam berbahasa. Dengan santun dalam berbahasa kita dapat menunjukkan kalau kita termasuk orang yang berbudi. Bahasa yang lembut nan sopan, memiliki dampak besar dalam segala aspek kehidupan, menyatukan yang bermasalah, menyemangati yang frustasi, meluruskan yang berbelok, dan masih banyak lagi.

Lewat bahasa kita dapat menunjukkan identitas diri sebagai bangsa yang beradab. Berbahasa yang santun perlu dijadikan pembiasaan. Gurindam Dua Belas serta nilai-nilai tunjuk ajar budaya Melayu banyak mengajarkan dan menunjukkan pentingnya santun dalam berbahasa. Bukan saja karya-karya fenomenal tersebut yang dapat dijadikan referensi dan sebuah identitas, masih banyak karya-karya budayawan dan sastrawan Riau yang selalu mengusung tema “kesantunan” sebagai bangsa berbudaya dalam ragam genre karya sastranya.  Puisi-puisi yang menyuarakan desakan dengan tutur yang rapi, cerpen yang mengungkapkan kearifan-kearifan lokal, novel yang membongkar detil keprihatinan sekaligus kekayaan yang tetap disampaikan dengan keindahan dan kebermaknaan serta esai yang dirangkai dengan tajam namun beretika menyampaikan sebuah maksud sekaligus kritikan.

Komunitas sastra yang bergeliat di Riau pun tak kalah pentingnya menyuarakan berbagai kearifan lokal dalam tutur yang santun. Komunitas sastra yang akan selalu menuliskan karya-karya dengan kombinasi estetika dan kebermaknaan. Salah satu diantara komunitas itu adalah Forum Lingkar Pena yang keberadaannya di Riau sebagai penjaga tradisi cerpen dengan hadirnya karya-karya yang begitu kuat mengangkat kearifan lokal masyarakat Riau.
Sudah sepantasnya marwah bangsa kembali kita hadirkan sebagai bangsa yang bermartabat. Bermula dari pembiasaan-pembiasaan  kecil berupa membudayakan santun dalam bertutur bahasa, kita yakin dapat membangun identitas  bangsa yang berbudaya.

Budak Melayu pandai berpantun
Sebagai tanda terjaganya tradisi
Tutur bicara haruslah santun
Sebagai tanda manusia berbudi


Bambang Kariyawan Ys,
Guru Sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen “Numbai” dan beberapa buku kumpulan puisi, novel, dan pendidikan. Peserta undangan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) Kemdiknas, Penerima Anugerah Sagang, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival.




KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 10:11 wib

UAS Jadi Perhatian Peneliti

Jumat, 21 September 2018 - 10:05 wib

Curi Besi Alat Berat, Dua Sekawan Dibekuk Polisi

Jumat, 21 September 2018 - 09:55 wib

Polisi Wajib Ikuti Tes Dapatkan SIM

Jumat, 21 September 2018 - 09:51 wib

Pemasok Sabu ke Oknum Satpol PP Ditangkap

Jumat, 21 September 2018 - 09:28 wib

Banyak WP Menunggak Pajak

Jumat, 21 September 2018 - 09:26 wib

Unri Teliti Laju Sedimentasi Kolam Patin

Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Follow Us