ESAI SASTRA

Menjadi Lentera Pustaka

21 Mai 2016 - 22.00 WIB > Dibaca 1047 kali | Komentar
 
Oleh: Al Mahfud

SETELAH pada tanggal 23 April bulan kemarin, sebagai warga dunia kita sama-sama memeringati Hari Buku Sedunia (World Book Day), maka pada tanggal 17 Mei kemarin, sebagai bangsa Indonesia kita memeringati Hari Buku Nasional. Menilik sejarahnya, peringatan Hari Buku Nasional bermula dari pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) pada tanggal 17 Mei 1980 di Jakarta. Kita tahu, peringatan Hari Buku Nasional bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan minat baca masyarakat atau kecintaan kepada buku.

Setiap kali diperingati, Hari Buku Nasional selalu membuat pikiran kita menerawang kondisi minat baca masyarakat kita. Seringkali, yang terjadi kemudian kita melihat data-data yang dimiliki lembaga-lembaga nasional maupun internasional yang berkepentingan terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Sayangnya, data-data tentang minat baca masyarakat Indonesia seringkali memberi kabar tak begitu menyenangkan, bahkan cenderung memprihatinkan.

Jika kita melihat data, di wilayah Asia sekalipun, negara kita masih berada di bawah rata-rata dalam urusan minat baca. UNESCO mengabarkan presentase minat baca orang Indonesia sebesar 0,01 persen. Artinya, hanya 1 dari 10.000 anak bangsa yang memiliki minat baca tinggi. Dan rata-rata secara nasional, tak sampai satu judul buku yang dibaca per orang setiap tahunnya (Kompas, 25/5/2015). Data-data memang sering membuat kita merasa sedih, prihatin, dan merasa jauh tertinggal dari bangsa lain. Angka-angka sering membuat kita berkecil hati. Kita seperti dihadapkan pada kenyataan yang sangat menyedihkan. Namun apakah kita akan membiarkan data-data tersebut membuat kita pesimis?

 Tanpa mengesampingkan manfaat data sebagai gambaran umum, kita mesti melihat bahwa jumlah penduduk di negara kita sangat besar dan terpencar di berbagai wilayah yang luas dengan latar sosial, ekonomi, serta sarana yang berbeda. Di samping data, kita perlu melihat bahwa masih ada kabar-kabar baik yang terdengar tentang minat baca di Indonesia. Kabar tersebut datang dari orang, kelompok, atau organisasi yang berjuang menumbuhkan dan meningkatkan minat baca masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa persoalan rendahnya minat baca masyarakat butuh kesadaran masing-masing individu untuk memulai dari diri sendiri.

Kita tentu masih menyimpan ingatan tentang pemberitaan orang-orang berdedikasi dan kreatif yang berjuang menumbuhkan minat baca masyarakat di berbagai daerah. Tentang Ridwan Sururi di Purbalingga dengan “Kuda Pustaka”-nya, tentang Alimudin dan teman-temannya di Makassar yang membuat “Perahu Pustaka”, atau Muhammad Fauzi penjual jamu tradisional di Sidoarjo yang menyediakan buku bacaan saat menjajakan jamunya. Nama-nama tersebut sekadar contoh, tentu masih banyak individu maupun kelompok lain yang berjuang dengan cara masing-masing. Baik dengan mendirikan taman baca masyarakat, membuka perpustakaan pribadi untuk lingkungan sekitar, menggelar iven-iven literasi, dan cara-cara lainnya.

Apa yang hendak penulis ungkapkan adalah adanya harapan. Keberadaan mereka adalah bukti masih adanya kerlap-kerlip “lentera pustaka” yang menerangi kegelapan kondisi minat baca masyarakat kita. Mereka ibarat cahaya harapan yang muncul dari bawah, dari kesadaran pribadi untuk turut berjuang memberikan akses bacaan pada masyarakat di daerah-daerah yang umumnya sulit untuk sekadar melihat dan membaca buku. Mereka memilih menjadi lentera pustaka yang menerangi kegelapan di sekelilingnya dengan cahaya-cahaya ilmu pengetahuan, lewat akses bacaan.

Seperti kata seorang negarawan perempuan, Elanor Roosevelt (1884-1962), “Lebih baik menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan,” mereka tak memilih menghabiskan waktu dengan hanya mengeluhkan keadaan dan menyalahkan pemerintah, namun memilih memulai sendiri, bergerak melakukan sesuatu. Mereka melihat ada sesuatu yang harus diperbuat untuk paling tidak memperbaiki keadaan, dan mereka melakukannya, bukan sekadar mengeluhkannya. Di titik inilah, kita menemukan adanya pendar cahaya yang mampu membesarkan kembali hati kita, setelah sebelumnya dibuat redup oleh kabar-kabar pilu yang muncul saat melihat data-data tentang minat baca masyarakat kita. 

Kisah-kisah dari para pembawa lentera pustaka tersebut bisa dijadikan refleksi kita bersama. Dengan segala keterbatasan, mereka menunjukkan komitmen untuk berkontribusi dalam peningkatan minat baca masyarakat—yang dengan sendirinya berarti mencerdaskan masyarakat. Kita disadarkan, setiap orang bisa berbuat dengan cara masing-masing dalam upaya ini. Setiap orang memiliki tanggungjawab, minimal terhadap dirinya sendiri, untuk mendukung peningkatan minat baca masyarakat.  

Sebab kita menyadari bahwa persoalan minat baca yang rendah butuh kesadaran dan gerakan dari semua pihak, baik pemerintah maupun semua elemen masyarakat. Kita perlu komitmen pemerintah melalui regulasi, program-program peningkatan minat baca serta dukungan sarana prasarananya. Di saat bersamaan, kita juga perlu menumbuhkan spirit membaca di lingkungan masing-masing. Dengan sinergi keduanya, budaya membaca dalam masyakat akan mulai terbentuk. Dan kelak, kita tak lagi sedih kala melihat data-data tentang minat baca masyarakat kita.
Di unit lingkungan sosial pertama, di kelurga, orang tua mesti membiasakan anak membaca buku sejak dini. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan pembiasaan-pembiasan yang membentuk persepsi anak dalam memandang aktivitas membaca sebagai kebutuhan. Tentu, pertama-tama orang tua mesti memberi contoh. Misalnya, dengan menjadwalkan membaca secara rutin setiap hari, berlangganan surat kabar atau majalah, membiasakan membeli buku setiap bulan, dan lain sebagainya.

Akhirnya, Hari Buku Nasional sebagai momentum membangun budaya membaca tak cukup sekadar diisi kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial belaka. Jauh lebih penting adalah tentang kesadaran masing-masing diri kita untuk mulai bergerak melakukan hal-hal bermanfaat dalam peningkatan minat baca masyarakat. Ya, kita mesti menjadi lentera pustaka yang menyala di lingkungan masing-masing.***

Al Mahfud, penikmat buku, bergiat di Paradigma Institute Kudus, Selain menulis artikel atau esai, juga menulis fiksi, feature, dan ulasan buku di pelbagai media massa, baik lokal maupun nasional.  

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us