OLEH ROMI ZARMAN

Pemuisi

21 Mai 2016 - 22.05 WIB > Dibaca 2369 kali | Komentar
 
Pemuisi
IDE tulisan ini bermula dari sebuah pertanyaan: apakah sebutan yang tepat untuk orang yang mencipta puisi: penyair ataukah pemuisi? Para ahli sastra Indonesia sepertinya sepakat menggunakan sebutan penyair ketimbang pemuisi. A. Teeuw dan H.B. Jassin adalah dua orang di antara ahli itu. Sebutan itu kemudian diamini oleh para mahasiswa di tempat Teeuw dan Jassin mengajar baik di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada maupun di Universitas Indonesia. Kelanjutannya pastilah sudah bisa ditebak. Para dosen tersebut melanjutkan informasi itu (penyair) kepada mahasiswa mereka sepulang menuntut ilmu di perguruan tinggi itu.

Keberatan sebagian orang perihal peruntukan sebutan penyair juga bagi orang yang menulis (membaca) puisi itu, tidaklah mengherankan. Mengapa? Dalam dunia mereka, ditemukan dua bentuk karya (yang berbeda) syair dan puisi, sehingga (bagi mereka) diperlukan pula dua nama yang berbeda untuk menyebut penciptanya. Padahal, kalau ditelusuri lagi sejarahnya, ternyata dalam sastra Indonesia, syair lebih dahulu hadir daripada puisi. Wajar saja bila kemudian sebutan penyair pun lebih dulu melekat.

Di samping itu, pemahaman tentang lingkup syair yang sangat luas pada awalnya (puisi dalam pengertian yang luas) telah pula memberi pembenaran bahwa sebutan penyair untuk pencipta puisi  sebagai sebuah kewajaran.

Saat ini, kalau dilihat dari perspektif makna, kata syair dan penyair menuju arah yang berbeda. Kata syair mengalami penyempitan makna, sedangkan derivasinya, penyair, mengalami perluasan makna. Cermati saja yang disimpulkan oleh Liauw Yock Fang (ahli sastra Indonesia klasik) tentang syair menjadi sekadar kesatuan bait yang setiap baitnya terdiri atas empat larik bersajak (akhiran) a-a-a-a. Dalam pemahaman itu, syair dan puisi memiliki hubungan paralel. Wajar saja kiranya dipersoalkan pemakaian sebutan penyair untuk pemuisi.

Sementara itu, kata penyair mencakup sebutan bagi penulis syair dan/atau puisi (untuk dua karya yang saat ini dianggap berbeda). Dengan alasan itu, kata penyair telah digunakan tidak terbatas untuk penyair, tetapi juga untuk pemuisi.

Selain penyair, sesungguhnya bahasa Indonesia juga memiliki kata lain untuk merujuk pada konsep yang sama, yaitu pujangga, bujangga, dan penyajak. Artinya, sinonim kata puisi itu dapat digunakan sebagai pengganti kata penyair. Namun, para pemakai bahasa Indonesia setakat ini lebih akrab dengan kata penyair.

Ketidaksepadanan antara nama karya puisi dan sebutan bagi penciptanya, tidak saja terdapat dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa  Belanda misalnya, puisi disebut poezie, sementara penciptanya disebut dichter. Demikian juga halnya dalam bahasa Jerman, tetapi puisi disebut poesie.

Dalam bahasa Italia, Inggris, dan Arab misalnya, terdapat kesepadanan penamaan puisi dan penciptanya. Dalam bahasa Italia ada kata poesia untuk puisi dan poeta  untuk penciptanya. Poetry merupakan puisi dalam bahasa Inggris dan poet untuk penciptanya. Bahasa Arab pun demikian, syi’ir berarti puisi sementara asy sya’ir adalah penciptanya.

Dalam buku-buku pengajaran sastra di kampus-kampus sastra Indonesia kerap diklaim bahwa istilah puisi berasal dari kata poetry (bahasa Inggris). Benarkah klaim itu? Ada kecurigaan bahwa kata puisi dalam bahasa Indonesia bukan berasal dari bahasa Inggris, tetapi dari dari bahasa Belanda, poezie.

Kecurigaan itu muncul dari aspek historis dan linguistis. Dari sisi sejarah, kontak budaya yang sangat lama terjadi (sekitar 350 tahun) antara Indonesia dan Belanda, walau dalam bentuk kolonialisasi, telah turut meninggalkan jejak kebahasaan, salah satunya adalah kata puisi.

Bila dicermati, sangat mudahlah terjadi perubahan dari poezie (bahasa Belanda) menjadi puisi (bahasa Indonesia) daripada poetry (bahasa Inggris). Unsur oe dalam bahasa Belanda dilafaskan jadi u, sehingga transformasi dari poezie ke puisi sangat dapat dipertanggungjawabkan secara linguistis. Lewat esai kecil ini saya nyatakan bahwa suatu kekeliruan besar ketika kata puisi dalam bahasa Indonesia diklaim bersumber dari poetry (bahasa Ingggris).

Jejak bahasa Belanda dalam bahasa Indonesia tidak terbatas pada kata puisi. Masih banyak lagi kosakata bahasa Indonesia sekarang yang sebenarnya berasal dari bahasa Belanda. Walaupun kita ingin menafikan keberadaan kosakata tersebut—sebagai sikap antikolonialisme—, tetapi fakta tidak dapat dimungkiri.  Kata seperti andil (andeel), beken (bekend), tekor (te kort), wortel (wortel), kamar (kamer), segel (zegel), tante (tante), per-kilo (per kilo)  berasal dari bahasa Belanda (dalam kurung).

Poezie dalam bahasa Belanda itu merupakan media penyampai pesan secara tertulis. Jika di masa lalu syair berperan sebagai media lisan, maka tidak demikian halnya dengan puisi. Benar bahwa puisi juga adalah media, tetapi wujudnya sejak awal adalah tulisan, dicetak baik dalam bentuk buku atau lembaran/koran dan didistribusikan dari pembaca ke pembaca (bukan dari pendengar ke pendengar). Epistemologi antara syair dan puisi tampak berbeda pada level ini. Walaupun begitu, nyatanya, sampai saat ini kita nyaris tidak pernah mendengar istilah pemuisi untuk menyebut orang yang menciptanya. Adilkah?***

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Kamis, 20 September 2018 - 18:30 wib

Polres Gelar Apel Pasukan Operasi Mantap Brata

Kamis, 20 September 2018 - 18:24 wib

Ketua Ombudsman RI Gelar Kuliah Umum di Unri

Kamis, 20 September 2018 - 18:00 wib

Sah, BPI Kerjasama dengan Negeri Istana

Kamis, 20 September 2018 - 17:39 wib

Dimsum, Chinese Food Yg Menggugah Selera

Follow Us