SAJAK

Sajak-sajak Mahdi Idris

21 Mai 2016 - 22.28 WIB > Dibaca 999 kali | Komentar
 
Pada Duri

Kau boleh rebah ditampar angin
mengerang dalam remang pagi
tapi angin meniup duri
menusuk dalam lembah daging;
lukamu nanah menambah garam
di langitmu ayam berkokok
sampai pagi.

Bahkan dalam daging
segalanya diam
mengeram mimpi
mengusir dengus sendiri;
duri membusuk jelma dendam.

Kau bakar  dendam
dalam kepala;
siapa yang datang
menjenguk lupa
alamat pulang.

(Pondok Kates, 08/01/2016)


Rapai

Ceritakanlah pada musim itu Rapai ditabuhkan
merias malam demi malam dalam gempita
menghubungkan mimpi dengan mimpi
dalam gelap darah penari debus.

Maka, saat itu kau tabuh Rapai makin keras
teriris gendang telinga penonton;
sorak-sorai kian membahana
ikuti irama yang kau tabuhkan.

Maka, akhir cerita yang kau kabarkan
kau tinggal sendiri di arena
bersama ilalang saling berpandangan;
airmata bercucuran sampai pagi.

Aku terkekeh mendengarnya
penderitaan hanya mimpi
bagi penabuh Rapai,
namun kelak, kau tak ingin lagi di arena
mendekam hasrat sunyi.

(Pondok Kates, 16/01/2016)


Katamu, Tapi Kau Tak Tahu

Katamu, di sebuah negeri ada penari mabuk Tuhan
mereka sering berkunjung bertemu dengan-Nya
saling menyapa, bercanda, sesekali merengek-rengek
meminta diri cepat mati.

Tapi kau tak tahu, di negerimu sendiri
banyak penari mabuk angin
perut busung kurang makan
dimana-mana kelaparan
mereka enggan mati pada usia dini.

Setiap orang di kotamu ingin diri kekal
tak ingin mati mesti  penyakit menggeroti
mereka cinta pada dunia ini,
meski dunia  membenci.

Katamu, di sebuah negeri kekurangan air
orang-orang kehausan, tiap hari ada yang mati
sepuluh sampai dua puluh empat orang
terkapar di jalanan, orang-orang mulai bosan
melihat mayat korban kehausan
tapi kau tak tahu, di negerimu sendiri
setiap tahun dilanda banjir
orang-orang mati tenggelam.

(Pondok Kates, 02/02/2016)


Pelajaran Memetik Bunga

Kau lentikkan jemarimu
segemulai awan mendung
antara tegak dan lindap
seperti sayap merpati hinggap di daun enau.
Maka petiklah bunga kesukaanmu
dengan jemari yang kau siapkan
sesekali kau gunakan telunjuk dan ibu jari
mengakhiri riwayat bunga-bunga;
dengan kelembutan ia tak mati sia-sia.

(Pondok Kates, 29/02/2016)


Amarah I

Gerhana lagi ingatanku
matahari kaupadam
menancap di kepala;
bagai rupa rubah dalam hujan.

Alangkah, katamu, matahari
berjalan perlahan singgah di dadaku
melampiaskan hasrat kemarau
menikam jantung basah.
Tapi dadaku bukan langit
terhampar ditaburi planet
yang menjemur diri
sesekali luput dari ingatan.

Aku tak pernah menyusupi matahari
dalam liang tubuhku
mengeram geram di dada
melepas hasrat panah
menembus bianglala.

(Pondok Kates, 02/03/2016)

Mahdi Idris, lahir di Desa Keureutoe, Aceh Utara, 3 Mei 1979. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai dimuat beberapa media lokal dan nasional, antara lain Serambi Indonesia, Rakyat Aceh, Majalah Potret, Waspada, Medan Bisnis, Majalah Sagang, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Sarbi, dan Riau Pos. Buku puisinya yang telah terbit Lagu di Persimpangan Jalan (2014) dan Kidung Setangkai Sunyi (2016). Sekarang bermukim di Tanah Luas, Aceh Utara.


KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us