CERPEN ALEX R NAINGGOLAN

Perempuan yang Menjelma Jadi Hujan

21 Mai 2016 - 22.31 WIB > Dibaca 2198 kali | Komentar
 
Perempuan yang Menjelma Jadi Hujan
- bingkisan bagi seno gumira ajidarma

Selalu ia menjelma jadi hujan. Aku sendiri tak pernah tahu. Tetapi aku kerap menemukan senyumannya di antara rintik air itu. Senyuman yang manis meskipun terlihat beku. Hujan akhir bulan ini memang terasa begitu sering datang, aku bersyukur, bukan mengutukinya. Meskipun demikian, akibat hujan, akhir-akhir ini aku jarang pergi ke kota. Tetapi kota tak lagi menyisakan pertanda yang lain bagiku, selain aku selalu merasakan keasingan yang tumbuh, seperti waktu, seperti usiaku.

Di hujan itu pulalah, segala kesakitan menjelma pula jadi pertanda baru. Seperti kubayangkan hamparan sayap burung yang mengepak, terus tinggi, seringan kapas. Sebab di udara segala rencana akan kembali, menyatukan pelukan diri, bersama genang kecupan dalam hujan. Dan perempuan yang sempat aku kenal menjelma jadi teritis air yang lembab, mengunci kenangan. Meruapkan sepi dalam badan, yang sudah terlampau sering kembali padaku. Apakah cinta merupakan sebuah kenangan? Aku tak pernah tahu. Yang aku ingat hanyalah, bagaimana kecupan bibirnya bisa begitu memabukkan. Membuat aku terus berpusingan, hingga aku sempoyongan sekadar pulang ke rumah. Dan kini ia menjelma menjadi hujan. Mungkin baru sebulan ini, atau beberapa minggu. Sebab aku selalu ketemu juga dengan hujan yang koyak, pilu, menahan getahnya di bibir daun, menanam dinginnya di reranting pohon yang berwarna coklat. Mungkin. Dan aku mengenangnya. Mendadak dirinya merupa pusara, yang buat aku melulu ingin berlayar di tengahnya. Sekadar menghayati waktu yang jauh, yang barangkali masih tersisa. Masa lalu abu-abu yang acapkali membungkus seluruh rongga kepalaku, tentunya dengan getah kesepian yang terus saja beranak, menjadi besar, dan bermain-main di hadapanku. Ketika aku lagi membaca buku, mendengarkan lagu, menonton film biru, atau pergi melewati jalanan yang terlampau sering dilewati.

Sepi yang dilontarkan hujan, lewat genangan airnya, menjadi pertanda bahwa sebenarnya perempuan itu masih peduli padaku. Masih memikirkanku, meskipun kami sudah jarang berhubungan satu dengan lainnya, meskipun pula tempat tinggalnya tidak terlampau jauh dengan rumahku. Hujan yang menyepi itu, selalu saja membuatku tersengat, yang menguakkan seluruh pita-pita kenanganku padanya. Kenangan yang berpijar-pijar, acapkali menggoda, sehingga aku selalu berada di tengah-tengah antara derita dan bahagia.

Apakah aku terlampau kangen padanya? Sehingga selalu melibatkan perasaan saja, katakanlah ketika menatap hujan, aku melulu terpikir dirinya. Bayangan tubuhnya yang justru bersua sepintas-pintas, fragmen demi fragmen, tak pernah utuh dan sempurna. Selalu ada yang terlewati, dan aku mengingatnya. Meskipun kenangan itu pun kerap jadi satu bersama tumpukan koran, di mana berita-berita pulang-pergi. Sebuah kenyataan yang terlampau asing juga untuk didekati. Setiap hari, selalu dilengkapi, menetes satu-satu, seperti hujan yang dingin itu. Seperti bayangan perempuan dengan rambutnya yang selalu tergerai, yang wangi shampo. Dengan bibirnya yang selalu tersipu dan menyiku. Dengan relung telinganya yang menandakan kedalaman suara. Yang selalu diperlihatkan padaku, ketika rambut panjangnya terjatuh dan menutupi cupingnya.

***

Perempuan itu terus saja menjelma hujan, menjelma jadi rintik air yang menelantarkanku. Sehingga aku sering menatapnya berlama-lama, sehingga aku begitu mengakrabinya, katakanlah untuk membasuh kedua telapak tanganku dengan kucurannya. Katakanlah, dengan menyipratkan rintiknya ke rambutku yang ikal dan legam. Sehingga aku merasa aku dan dirinya telah bertemu, saling memahami, dan menjadi satu. Tetapi apakah hujan bisa menyimpannya semua? Agar tak seorangpun tahu, supaya cerita ini tak perlu lagi dibesar-besarkan. Namun hujan selalu saja menceritakan pada orang-orang, mengabarkannya lewat getir dingin, geriak air, langit mendung, kilat yang menyekat angkasa, atau suara gemuruh yang bersimfoni mengatasi kekakuan udara. Hujan selalu membisikkan cerita, bahwa ada seorang perempuan yang ditunggu oleh laki-laki, berwaktu-waktu. Padahal dua orang itu tinggal berdekatan, tetapi perempuan itu memilih untuk menjadi sebuah hujan, agar lelaki itu bisa mengenangnya.

Hujan yang kerapkali mendongakkan misteri dengan lambaian gigilnya, hujan yang seakan menganak sungai, membasahi kenangan-kenangan. Mungkin hanya aku yang merasakannya, sebab perempuan itu pun tahu, jika ia menungguku untuk sekadar membalas rindunya. Tetapi bagaimana aku dapat membalas rindunya? Jika dirinya sendiri telah menjelma jadi hujan, yang membasahi seluruh sudut kota, yang menyekatkan gemuruh paling purba, yang membuatku malas keluar rumah. Di genang hujan yang datang itu, ia juga meninggalkan rinainya, yang membersitkan sebuah peristiwa. Bahwa dari kelambanan diriku menafsir cinta, ia mampu menjelaskan bahwa di rintik air itu ada suatu tanda yang menyekat, terasa begitu larat. Apakah aku masih terus mengharapkannya yang tak kunjung tiba? Nyatanya perempuan itu tak pernah lagi bertemu denganku, berwaktu-waktu, membuatku ditusuk sembilu. Membuatku ngilu, lebih pedih dan bertahan dalam genang sedih yang lama terserpih.

Hujan selalu saja membanjiriku. Meski aku tahu, aku berlindung dari teritis airnya, meski aku paham, bahwa tubuhku tidak dijilat oleh guyurannya. Dan aku pun mengerti, jika sebenarnya ia telah lama menjelma jadi hujan. Terkadang memang terasa begitu menjengkelkan ketika ia datang menghampiriku dengan tiba-tiba. Acapkali terasa bosan pula, ketika ia datang setiap hari. Namun selalu aku tersentak, untuk sekadar merenung, memahaminya selalu ada bekas peta yang tertinggal di lembab udara, di getah air, di getar dingin, di cemeti sunyi yang gemerisik. Selalu ada selisik senyap yang membekap, menahan pengap, bersatu di tengah lembab tanah. Harum tanah yang memantul-mantul menekan perasaan laratku, dan selalu aku kembali untuk terkenang pada perempuan itu.

Ah, betapa cerita cinta selalu dipenuhi dengan kecengengan. Meski tangis yang tercurah selalu saja bermakna bahagia. Walaupun tangis yang jatuh di pelupuk mata, memasuki parit-parit kesedihan, tak selamanya berakhir dengan kata-kata: hidup berbahagia selama-lamanya. Tetapi perempuan itu begitu setia, dan aku merasakannya. Setiap kali hujan turun di pucuk-pucuk atap rumah, hampir di akhir bulan, aku merasakan kehadirannya. Kehadirannya yang mematuki kesepianku. Sepi yang selalu mengasingkanku, dan kembali berubah jadi lingkaran, yang membuatku was-was: betulkah cintanya padaku begitu syahdu dan tidak menipu? Aku tak pernah tahu. Sebagaimana juga, aku tak bisa menerka watak waktu.
Bahkan ketika aku coba tidur, suatu malam, ketika hujan tak henti-hentinya mengucur. Ia selalu saja menegur, dan lagi-lagi—aku keluar, memandangi rintiknya. Barangkali, cintanya tetap menjelma jadi sebuah hujan!***

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Follow Us