WORKSHOP TARI DAN MUSIK DI ISI YOGYAKARTA

Kekuatan Lokal yang Mengglobal

28 Mai 2016 - 22.39 WIB > Dibaca 650 kali | Komentar
 
Kekuatan Lokal yang Mengglobal
Karya seni yang unggul tidak lahir secara instan. Karya para seniman lahir dari proses panjang yang terus menerus. Tanpa henti. Seniman nyaris tak bisa diam. Ia senantiasa berpikir, menelaah gagasan dasar menjadi sesuatu yang mencerahkan. Bagi mereka, tanpa seni, kehidupan terasa hambar dan menjemukan.

Laporan Fedli Azis (Yogyakarta)

PARA seniman dikenal sebagai manusia yang berpikir kreatif, terutama untuk mencipta karya sesuai dengan seni yang digelutinya. Lalu, karya itu di-azam-kan untuk mencerahkan siapa saja, terutama dirinya sendiri. Karya yang disuguhkan kreator (seniman) senantiasa mengajak para apresiator (penonton/penikmat) berpikir dan merasakan secara bersama-sama, apa yang dinginkan atau dimaksudkan sang kreator.

Sesuai dengan fungsinya, karya seni mustilah menawarkan unsur edukasi, hiburan, dan kontrol sosial. Sebagai bagian dari masyarakat, maka seniman bisa pula melakukan beberapa pendekatan dalam proses kreatifnya seperti tradisi, reinterpretasi, dan kontemporer. Paling tidak, seni memiliki kekuatan yang menggugah. Apalagi karya seni yang dicipta berangkat dari spirit lokal yang bersifat otonom. Paling tidak, spirit budaya tradisional takkan pernah terbunuh. Ia tumbuh dalam suatu proses budaya yang terus-menerus.

“Hari ini, karya seni dengan spirit lokal atau budaya tradisional tempatan kian mendapat tempat di mata dunia. Bahkan semakin kita menggali dan mengespresikan kelokalan, maka semakin global-lah karya tersebut,” ungkap dosen ISI Yogyakarta Memet Chairul Slamet yang menjadi nara sumber dalam perhelatan Pembinaan Instruktur Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya, 17-21 Mei lalu di kampus ISI Yogyakarta.

Workshop tari dan musik yang ditaja Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Riau langsung di Kampus ISI Yogyakarta tersebut tentu saja berbeda dari sebelumnya. Pada helat ini, tidak menghadirkan para ahlinya di Riau, namun mendatangi para pakar seni tari dan musik salah satu kampus seni terbaik di Indonesia.

Tiga orang pakar tersebut, selain dikenal sebagai seniman yang menghasilkan karya-karya, juga tercatat sebagai dosen seperti Memet Chairul Slamet (musik), Untung Mulyono (tari dan musik), serta Drs Raja Alfiravindra.

“Para peserta workshop yang dihadirkan ke sini bukan para pemula. Mereka anak-anak muda kreatif yang telah lama berkesenian. Mereka sudah memahami seni tari maupun seni musik Melayu. Mereka juga cukup terampil dalam memainkan alat-alat musik Melayu, juga melakukan gerakan tari Melayu seperti zapin, mak inang, dan lainnya,” ungkap Raja Evi, sapaan akrab Drs Raja Alfiravindra.

Ditegaskannya, para peserta yang diboyong Disparekraf Riau ke ISI Yogyakarta cukup beruntung. Selain dapat melakukan proses dialog dengan para pakar seni selama beberapa hari, mereka juga berkenalan dengan banyak para mahasiswa seni, dan seniman di Kota Pelajar tersebut.

“Sebenarnya, kami hanya membuka pikiran dan wawasan para peserta dalam melakukan upaya penciptaan karya seni sesuai dengan kemampuan masing-masing. Sebagai pengkarya, mereka harus berpikiran terbuka dan memiliki wawasan yang luas sehingga karya yang lahir benar-benar bernas,” papar Raja Evi meyakinkan.

Kasi Ekonomi Kreatif Berbasis Seni Budaya Disparekraf Riau Dandun Wibawa yang mengawal jalannya workshop hingga selesai menyebutkan, semangat para peserta perlu diacungi jempol. Kekompakan dan keuletan berlatih selama beberapa hari di kampus ISI Yogyakarta telah menghasilkan satu karya bersama yang cukup menyentak penonton yang hadir pada malam pertunjukan yang ditaja, Sabtu (21/5) di gedung pertunjukan tari ISI Yogyakarta.
 
Alhamdulillah, anak-anak muda yang mewakili kabupaten/kota-nya masing-masing itu telah mendapatkan ilmu, menambah wawasan, dan berproses bersama, lalu mencipta karya pula bersama-sama. Diharapkan, mereka juga akan menularkan ilmu yang didapat di daerahnya masing-masing, sehingga geliat seni tari dan musik lebih berwarna,” kata Dandun.

Ditambahkannya, tujuan memboyong para seniman muda Riau ke ISI Yogyakarta, selain menggali ilmu para pakar seni, juga untuk merasakan pula berproses di kota tersebut. Bonusnya, para seniman tentulah dapat berliburan dan menyenangkan diri disela-sela waktu latihan.

 “Jika tahun ini kami memboyong para seniman tari dan musik, mudah-mudahan ke depan kami mengajak pelaku seni dari percabangan lainnya,” ujarnya.(fedli azis/kun)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us