SENI TARI

Pelalawan Wakili Riau di Parade Tari Nusantara 2016

28 Mai 2016 - 22.50 WIB > Dibaca 1184 kali | Komentar
 
Pelalawan Wakili Riau di Parade Tari Nusantara 2016
KABUPATEN Pelalawan akan mewakili Riau dalam helat Parade Tari Nusantara 2016 mendatang. Dengan mengusung sebuah tarian berjudul Togak Balok Kumantan Godang, Kabupaten Pelalawan berhasil menyisihkan sepuluh kelompok lainnya di helat Parade Tari 2016 tajaan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Riau.

Helat yang digelar di Anjung Seni Idrus Tintin itu berlangsung pada Jumat malam (27/5). Tak tanggung-tanggung di panggung kompetisi yang sampai saat ini terus bersemarak setiap tahunnya itu, para peserta menampilkan karya-karya tari yang berangkat dari kekuatan lokalitas masing-masing daerah. Hal itu sesuai pula dengan tema yang sudah ditetapkan oleh panitia pelaksana yakni sebuah garapan karya tari kreasi yang ide dan gagasannya bersumber dari legenda tempatan.

Seperti halnya tari yang diusung oleh kabupaten Pelalawan, sebuah tarian yagn berangkat dari upacara pengobatan adat istiadat masyarakat di desa Segati Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan. Upacara itu merupakan acara turun temurun yang dipimpin oleh seorang Kumantan dan dibantu beberapa Pebayu (pendamping).

Dikatakan koreografer Faizal Amril, tarian tersebut sangatlah sakral bagi masyarakat. Biasanya bersentuhan langsung dengan alam gaib. “Tujuannya adalah seseorang telah diangkat sebagai kumantan atau dukun, begitulah yang diyakini oleh masyarakat tempatan,” ujarnya.

Selaku penata geraknya, diakui Faizal tentu saja kesemua hal yang terkait dengan ritual itu tidak diangkat sepenuhnya di atas panggung, melainkan beberapa simbol dan juga penggalan ritual yang bisa dihadirkan dalam bentuk gerak. Selebihnya eksplorasi gerak yang diciptakan berdasarkan keperluan estetika seni tari.

“Beberapa simbol yang dapat dihadirkan itu misalnya, saya coba hadirkan balok kayu, janur yang biasa disebut puan kemudian tiang layar,” jelas Faizal lagi.

Gambaran yang terpenting dalam tarian tersebut, lebih jauh dijelaskan Faizal bahwa di tengah balok yang terdapat tiang layar itu nantinya akan dipanjat oleh Kumantan, tiang layar itu bergun abagi kumantan untuk mengambil hikmah dari sang pencipta bahwa calon kumantan telah berhak menyandang gelar kumantan yang sebenanrnya. Seperti kata pepatah sebelum jadi kumantan jan sidi indak dipoleh. Yang maksudnya jika ingin dijadikan dukun maka terlebih dahulu disahkan menjadi dukun.

Adapun penyaji terbaik II dalam helat tersebut adalah Kabupaten Pelalawan dengan membawakan tarian berjudul Pelang Menangis. Penyaji terbaik III, diperoleh Kabuten Siak Sri Indrapura dengan judul tarian Lancur Darah. Tarian berjudul Batang Salo dari Kabupaten Kuantan Singingi berhasil memperoleh posisi di penyaji terbaik IV, dan tarian Rubah Wajah dari Kampar di posisi penyaji terbaik V.

Salah seorang dewan juri dari TMII Jakarta, Ismunardi mengatakan hampir tiap tahun dia ikut berpartisipasi di acara serupa. Tahun ini, sungguh banyak hal yang menggembirakan terutama perubahan pada pemilihan ide dan gagasan. Di mana semuanya berangkat dari kekuatan lokalitas yang ada di tempatnya masing-masing. Selain itu, muncul juga koregrafer-koregrafer baru yang masih muda-muda.

 “Ini tentu saja perubahan yang menggembirakan. Memang di sisi lainnya ada juga yang perlu diperhatikan misalnya para penari yang masih perlu latihan terus menerus. Sehingga selaku dewan juri, kami hanya menyarankan bagi sesiapa saja yang mewakili Riau nantinya, perlu ada perbaikan agar lebih bagus,” ujarnya.

Senada dengan itu, SPN Iwan Irawan Permadi (Riau) yang juga selaku dewan juri mengatakan upaya dari para koreografer untuk mengangkat kekuatan lokal sangat menggembirakan. Banyak sekali bisa dilihat dari karya-karya yang telah ditampilkan pada parade tari tahun 2016.

Hanya saja, tentu ada juga beberapa catatan yang perlu untuk diketahui dari masing-masing kelompok. Terutama terkait dengan proses, artinya lanjut Iwan, proses persiapan yang seharusnya tidak instan. Karena hal itu sangat terlihat di atas panggung, mana kelompok yang benar-benar berproses dan mana yang prosesnya sangat sebentar.

“Yang paling tampak itu adalah kualitas penari. Karena tekhnis menari sangat tergantung kepada proses, pendek prosesnya pastilah tidak akan maksimal gerakan tari dari para penari pendukung sebuah karya tersebut,” jelas Iwan pula.

Catatan lainnya terkait dengan garpan musik. Disebutkan Iwan bahwa para penggarap musik untuk tari juga perlu diperhatikan bagaimana musik untuk musik dan bagaimana musik untuk pengiring tari sehingga ianya tidak tumpang tindih. Musik dalam garapan tari fungsinya adalah untuk membantu menghidupkan suasana dan mempertegas adegan-adegan gerak dalam tari.

“Nah, ini yang saya kira perlu menjadi catatan bersama sehingga ke depannya karya-karya tari kita dari Riau ini dapat bersaing di tingkat Nasional maupun Internasional,” tutup Iwan.

Adapun dewan juri lainnya yang dipercayakan dalam helat Parade Tari 2016 adalah Syahrel Alex (ISI Padang Panjang), Syafmanefi Alamanda (Riau) dan Rino Dezapaty (Riau). (jefrizal)


KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us