PEMENTASAN TEATER

Penyakit Masyarakat dalam Teater Monolog

28 Mai 2016 - 23.17 WIB > Dibaca 1029 kali | Komentar
 
Penyakit Masyarakat dalam Teater Monolog
KARYA seni menjadi corong penyampai pesan atas realita yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Berbagai persoalan demi persoalan yang terjadi adakalanya lewat seketika dan kemudian lesap serupa angin. Ada pula persoalan yang tak henti-hentinya menghantui kehidupan itu sendiri. Kadang tanpa disadari, persoalan itu menjadi “penyakit” di tengah-tengah masyarakat.

Dua pentas teater monolog yang dipentaskan di helat Pasar Seni Taman Budaya Provinsi Riau, pada Senin malam (23/5) memperlihatkan berbagai penyakit masyarakat itu. Penyakit yang adakalanya disadari atau pun meresap diam-diam dalam denyut nadi kehidupan itu sendiri. Tampil malam itu kelompok dari Komunitas Pomponk dari Batam, membawakan sebuah naskah monolog berjudul Sosmed Celake, dan UKM Batra Unri, membawakan sebuah naskah monolog bertajuk Wanci.

Kedua-dua pentas monolog tersebut mengisahkan lmbar demi lembar persoalan penyakit masyarakat terutama yang tengah dihadapi di era globalisasi. Dalam pentas yang sejatinya dimainkan oleh seorang aktor itu membentangkan potret-potret kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan. Sediah, bahagia, suka duka, bencana dan juga krminilitas berbaur menjadi suguhan kisah yang tergambar lewat dialog serta adegan yang diperankan aktor-aktor muda tersebut.

Persoalan sosial media yang hari ini bergejolak menimbulkan gelombang-gelombang permasalahan serius baik di kota maupun sampai ke ceruk kampung. Dapat ditemukan da;am pentas monolog berjudul Sosmed Celaka bahwa betapa masih banyaknya masyarakat yang gagap dalam memanfaatkan kecanggihan tekhnologi. Laman-laman kemudahan yang tersedia digunakan untuk sesuatu yang justru tidak memberikan keungtungan bahkan mendatangkan bala atau celaka.

Sang sutradara, Toni Blesto mengatakan bagaimanapun fenomena sosmed hari ini menghancurkan bangunan rasa sosial antara sesama, kepedulian semakin berkurang. Bahkan tak jarang pula, dikarenakan sosmed, berbagai tindak kriminal terjadi.

 “Yang paling menyedihkan misalnya kita bisa temukan sebuah keadaan di rumah, ketika berkumpul semua, ada orang tua dan anak-anak, masing-masing sibuk memandang layar kecil dan jari sibuk menari di atas tut-tut layar handphone. Sudah tidak ada lagi suasana layaknya sbeuah keluarga,” ujarnya.

Aktor yang bernama Bento berperan sebagai Jiwana dalam pentas monolog itu harus menerima kenyataan yang buruk akibat sosmed. Dia harus menyelamatkan diri dari kejaran wargayang ingin membunuhnya, bersembunyi di tempat-tempat sampah, menjadi gelandangan. Karena akibat sosmed, cintanya kandas, dia membunuh orang dan lain-lainnya. Sehingga akhirnya dalam pentas itu, si tokoh lelah sendiri dan ingin melaporkan serta menyerahkan diri kepada pihak yang berwajib.

Sedangkan pentas monolog yang tampil menyusul setelahnya adalah Wanci. Sebuah naskah karya Imas Sobariah (Teater Satu Lampung). Pentas itu sendiri mengangkat kisah seorang perempuan bernama Icih. Ia lahir dan dibesarkan di daerah lokalisasi sebagai pekerja seks komersial. Sang tokoh selalu berjuang sendirian seumur hidupnya. Ia berupaya keras untuk memutus lingkaran kemiskinan dan kebodohan yang seakan dirasakan oleh tokoh di dalam cerita sebagai penyakit turunan.

Masalah yang datang bagai air bah dalam kisah itu sebenarnya akibat dari keangkuhan manusia dalam menjalani kehidupan. Lupa hakikat dan tugas sebagai hamba di dunia ini. Lingkaran portitusi yang melanda tokoh di dalam cerita mulai dari orang tuanya, dirinya bahkan sampai ke anak-anaknya seperti lingkaran yang tak dapat diputuskan. Sehingga jelas, dalam lakon monolog tersebut tercermin bahwa tak ada sesauatu yang terjadi tanpa ada sebab dan musababnya.

Disebutkan sutradara, Pay Lembang bahwa karya Wanci ini telah pernah dipentaskan di UKM Batra UR beberapa waktu lalu. Dalam karyanya itu, Pay sengaja memilih aktor lelaki Yudha Gustiarno berperan sebagai Icih yang merupakan wanita pekerja seks komersial.

“Selain kebutuhan seni pertunjukan juga dalam rangka lebih memperkaya kemampuan akting para aktor,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Museum dan Taman Budaya, Sri Mekka yang hadir menyampaikan apresiasinya atas karya-karya yang telah dipentaskan. Katanya, Taman Budaya dalam hal ini selalu terbuka bagi para pelaku seni untuk mempertunjukkan karya-karya kreatifnya.

 “Malam ini kita dapat saksikan dua pementasan teater yaitu monolog. Kedua-duanya tentu merupakan ekspresi hasil dari pengamatan dan penghayatan serta kerja kreatif dari seniman-senimannya. Suatu kebanggan pula bagi kita di Riau, dapat berbagi apresiasi pertunjukan dengan kawan-kawan dari Batam,” ujarnya. (jefrizal)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us