ESAI SENI RUPA

Melayu Hendaknya Berfikir Salim (Salam)

28 Mai 2016 - 23.34 WIB > Dibaca 1069 kali | Komentar
 
Oleh Junaidi Syam

A. Siapa Salim?

Berdasarkan tulisan Yusmar Yusuf (kompasiana) disebutkan; “Salim sejatinya yang lahir di Bagan Siapi-api, juga berada di bawah Kerajaan Belanda di Hindia Belanda atau Hindia Timur. Dan Medan menjadi episentrum pantai timur kala itu, maka disebutlah Salim lahir di Medan”. Dalam laman lapresse.ca hanya disebutkan “Né le 3 Septembre 1908 sur l’île de Sumatra”. Sayangnya bang Yusmar tidak memberikan keterangan asal-usul diperolehnya informasi kampung kelahiran Salim dari Bagansiapi-api. Ajip Rosidi dalam bukunya Salim menyebutkan beliau berasal dari Sumatera Timur, kemudian menetap di Medan, pada umur 11 tahun dibawa orang tua angkatnya ke Belanda. Siapapun boleh-boleh saja membuat klaim, semisal dalam Wikipedia disebut bahwa “Salim (lahir di Manado, Sulawesi Utara, Indonesia)”.

Fakta yang tidak sulit ditolak adalah bahwa Salim berasal dari Sumatera Timur, yang pada masa kolonialisme merupakan negara bagian atau keresidenan yang berpusat di Medan. Seharusnya ada seseorang yang benar mengetahui nama kampung kelahiran Salim, namun mungkin saja belum dipublikasikan. Sebagian orang yang pernah bertemu dan mewawancarai beliau seputar sejarah hidupnya masih ada hingga sekarang seperti Ajip Rosidi, Henri Chambert-Loir, keluarga Hatta, keluarga Syahrir, keluarga Hazil Tanzil, dan seniman-seniman lain. Misteri Salim ini rahmat bagi kita bangsa Melayu. Dengan nama besar Salim kita di Sumatera layak meneladani konsep pemikiran beliau.

Informasi terpercaya adalah; Salim lahir di Sumatera Timur, Indonesia, pada 3 September 1908 (1329 H). Ayah beliau Melayu keturunan Persia dan ibundanya Melayu. Pada tahun 1929 (u. 21 th.) Salim berkenalan dengan Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir yang kala itu berkunjung ke Amsterdam. "Bermula dari pertemuan tersebut" maka lahir keyakinannya mendukung kalangan nasionalis di Hindia Belanda (Indonesia) untuk meraih kemerdekaan melalui jalur politik yang menyebabkan dua tahun kemudian (1931) Salim pulang ke Hindia Belanda dan tinggal di rumah keluarga Djoehana Wiradikarta, kakak ipar Sutan Syahrir. Kepulangannya itu atas ajakan Djoehana selepas menyelesaikan studi kedokteran di Belanda. Disebutkan dalam literatur bahwa Salim mengasuh anak Djoehana dan tentu saja ini unik karena lelaki muda belia yang mau dan mampu mengasuh kanak-kanak adalah sebab memiliki karakter lembut dan penyayang. Segera setelah itu Salim bekerja pada perusahaan Java Neon Company di Batavia, terlibat mengurus Partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) pimpinan Hatta dan Syahrir kemudian mengelola majalah partai Daulat Rakyat. Mengacu pada inisial partai "pendidikan" dan nama majalah "daulat rakyat" tentulah (mungkin) tujuan-tujuan mulia terbayang pada nama dan penamaan itu menarik perhatian Salim untuk bergabung, selain soal kedekatannya dengan pendiri. Kisah Salim di Hindia Belanda segera berakhir pada tahun ke-4 saat Hatta dan Syahrir didigulkan (diasingkan) ke Boven Digoel oleh pemerintah Hindia Belanda (1934). Atas berlakunya insiden itu Salim memilih pulang ke Belanda. Setahun kemudian (1935) Salim pindah dari Belanda dan mastautin di Paris lalu menekuni dunia seni rupa (lukis) hingga akhir hayatnya.

Hal menarik dari Salim yang boleh jadi sangat terkait dengan perjuangan kemerdekaan adalah keputusannya meninggalkan Belanda kemudian menetap di Prancis. Pilihannya itu mencerminkan ideologi politik soal menentang kolonialisme yang tentu saja mewarnai konsep pemikirannya. Sebab Salim adalah seorang seniman lukis, maka itu harusnya terpapar, terbayang, tergambarkan dalam karya-karyanya. Ungkapan jiwa merdeka yang paling mudah ditemukan dalam lukisan Salim adalah visual bendera merah putih.

Tujuh puluh tiga tahun di Prancis ada lah bilangan yang sangat lama, hingga akhirnya melepaskan ujung untaian nafas terakhir pada petang Senin, 13 Oktober 2008, terhitung berusia 100 tahun 28 hari. Uzur dan kerentaan menyebabkan jantung melemah sehingga mengakibatkan tekanan darah rendah dan kesulitan bernafas, namun bukan penyakit ini yang menyebabkan Salim wafat. Jenazah dimakamkan di Neully-sur-Seine. Sayang, kita tidak memiliki informasi mendalam seputar prosesi pemakaman Salim.

B. Seniman dan Martabat

Sebulan setelah Salim berpulang, Kedutaan Besar Prancis di Jakarta menulis pesan singkat, dipublikasikan pada laman web Perancis di Indonesia dan Timor Leste, dalam rubrik Hubungan Bilateral (arsip berita 2008, dan terbit ulang 04/01/2012), berjudul; Wafatnya Salim, Sang Pelukis Indonesia. Pihak Kedutaan Prancis menyebut almarhum Salim sebagai pelukis Indonesia di Paris. Diksi kata pelukis dalam faham bahasa Melayu, bermakna; orang yang melazimkan aktivitas kesehariannya dengan melukis atau gandrung pada kerja melukis, dan sebutan pelukis sesuai benar dengan fakta seni dan berkesenian Salim. Gelar pelukis Indonesia yang diberi kepada Salim memang sederhana, sebab siapa pun bangsa Indonesia yang melukis dan bergaung kiprahnya di alam seni rupa Indonesia boleh dapat sandangan sebutan itu. Namun pada akhir salah satu paragraf ditekankan bahwa; Salim telah mempererat hubungan Perancis dan Indonesia melalui karyanya. Apabila Prancis menjadikan Salim sebagai sandaran untuk mengucapkan eratnya tali hubungan bilateral antar negara, apa salahnya pula kita tetapkan pula nama Salim bin Solahuddin untuk mempererat keterhubung an kita antar seniman Melayu-Persia-Prancis? Andai sajalah sekumpulan seniman Melayu mampu menggagas satu kali pameran Melayu-Persia-Prancis di Pekanbaru, maka helat ini diyakini mampu menjadi tonggak sejarah bagi kita untuk memulai peradaban SENI RUPA MELAYU BARU.

Bila dititi ulang perjalanan sejarah hidup Salim dan karya-karyanya yang bersebar di Indonesia (lukis dan ilustrasi publikasi) meski tidak banyak, tidak layak kita meminggirkan nama beliau hanya dengan alasan Salim mastautin di Eropa hingga akhir hayatnya. Sebab itu layak kita gelari beliau sebagai "Sang Seniman". Diksi kata sa; esa (satu) + ng (partikel), bermakna; satu-satunya, atau khas sebab ketokohan maupun kemasyhuran istimewa. Diksi kata seni masih dipakai hingga hari ini dalam bahasa Melayu Sungai Rokan, disebut sonik, bermakna; halus, sangat kecil, kehalusan budi, kehalusan rasa, kehalusan kerja, kehalusan karya, kehalusan sifatnya dan lain-lain. Selain itu, diksi kata sonik (seni) juga bermakna; lahir, misal; “lah sonik anak si anu?” (sudah lahir anak si anu?). Orang Kuantan/Inderagiri ada menyebut Suku Muniliong Soni (Suku Muniliang kecil). Merujuk pada beberapa hal tersebut di atas atau hal-hal lainnya maka gelar "Sang Seniman" layak disandangkan pada Salim sebagai anumerta seni berbangsa Melayu. Tidak berlebihan rasanya, sebab diksi kata seni (seniman) asli dari bahasa Melayu. Salim yang dikenal tegar kukuh teguh menjalani takdir hidup bersama karya-karyanya, juga wajar beroleh gelar ‘Sang Seniman Melayu’ bersamaan dengan gelar "Pelukis Indonesia". 

Meskipun istilah seniman adalah bahasa baru dan tidak dikenali oleh orang-orang Melayu sebelum kemerdekaan, namun makna seni sebagai; halus (indah), kehalusan (mulia), memelihara kehalusan (beradab), melahirkan suatu yang halus (faedah), bahkan sampai kepada makna; orang kecil tiada layak membesar-besarkan diri meski berperan besar (rendah hati). Seorang seniman hendaknya sadar bahwa dirinya seni (kecil) sehingga tiada lagi harap dipuja puji atas pengabdiannya untuk masyarakat ramai.

Diksi kata seni (Mly.) + man (Skr.) menjadi; seniman. Jakob Sumardjo dalam bukunya Filsafat Seni (2000) menyebutkan bahwa diksi kata seni berasal dari bahasa Melayu tinggi. Aku katakan, bukan dari bahasa Melayu tinggi akan tetapi bahasa Melayu sehari-hari. Fakta tahun 1936, Sutan Takdir Ali Syahbana menggunakan diksi kata seni dalam sajaknya Sesudah Dibajak; “Sedih seni mengiris kalbu”. Sebelum itu pada esai tulisan R.D., Pergerakan ‘80, terbitan 10 April 1935 berbunyi; “seni menjadi ‘de aller-individueelete expressie van der individueelste emotie” (kelahiran yang sekhusus-khususnya dari perasaan yang sekhusus-khususnya). (Sumardjo, 41: 200) Dalam Kamus Wilkinson (4381932), lema seni bermakna; fine (tin texture); thin, clear or highpitced (of a voice); gracefull of lighty built (of men and animals).

Salim tidak layak kita setarakan atau dibanding-banding secara arbitrer dengan para pelukis besar sezaman dengannya. Salim bukan sekedar alakadak tukang gambar atau tukang penyeraksapukan kuas bercat di bidang kanvas. Terkait konteks sejarah kemerdekaan Indonesia Salim terlibat dalam berbagai kesempatan bersama tokoh-tokoh pejuang pra kemerdekaan, bahkan berkenan mendukung pameran karya lukis selama Konfrensi Meja Bundar berlangsung di Den Haag. Dalam hal ini adakah kita mahfum melihat Salim sebagai penyandang gelar Seniman Pejuang Melayu? Sulit bagi kita menemukan sosok sedemikian itu. Pastilah sulit, langka, dan bintang-bintangan.

Beberapa contoh teladan yang pernah dilakukan orang-orang tertentu seringkali kita angap sepele, padahal sekecil apapun tindakan mulia didarmakan senantiasa berefek signifikan membangun mentalitas budi pekerti, yang apabila tidak berdampak besar, setidaknya berpengaruh pada beberapa individu tertentu. Jika Salim terabaikan di masa lalu, siapa tahu di masa datang membawa perbedaan signifikan bagi "alam kita". Perlu dicatat bahwa Salim telah menyumbangkan seluruh harta warisan orang tua angkatnya ke panti asuhan yatim piatu. Sungguh seorang Salim memenuhi dirinya dengan martabat yang kita akui saja bahwa kita berat melakukannya. Pembuktian kesenimanan (kehalusan rasa) di diri Salim ini patut kita renungi bersama.

Beberapa tahun belakangan ini, sebagian manusia modern lagi kontemporer di Indonesia mulai mempermasalahkan gelar seniman setelah melihat gejala-gejala aneh dilakukan para pekerja seni atau artis-artis pop yang mengaku-ngaku dirinya "seniman". Ada semacam ketidakfahaman makna bahasa sehingga bermasalah saat penggunaan. Sebutan seniman bukan berarti harus seperti nabi, rishi, pandita, tuan guru dan lain-lain, namun maknanya merujuk pada suatu yang baru lahir, suatu yang kecil dan tidak terbilang, sesuatu yang kecil dan lazim diabaikan, ibarat matahari yang bersinar terang dimulai dari titik cahaya seni di ufuk timur.

Seniman bagaikan fajar yang seni (seberkas titik cahaya) yang senantiasa tetap menjadi manusia baru, melahirkan karya baru, tempat orang ramai berharap darinya akan terbit cahaya faedah dan manfaat, bukan sebaliknya! Sebab itulah kanak-kanak dalam bahasa Melayu Sungai Rokan disebut paja sonik (fajar halus). Seniman selayaknya berperilaku bagai kanak-kanak cahaya mata ayah bunda dan selalu menyenangkan saat dipandang oleh orang-orang berakal berbudi. Dulu pernah kuucapkan (2008); orang Melayu pengumbar laku amoral di muka publik, itu sebab dia tiada beremak bapak, tiada lagi mempertimbangkan harga diri emak bapaknya. Apakah pelaku seni rupa Melayu sadar makna ini? Jika tidak, maka belajarlah pada orang-orang kampung sederhana yang beradab budi pekerti, meski mereka tak pernah kenal makan bangku kuliah es-satu atau es-tiga, juga tak mungkin kumpul berbagi diskusi bersama para cendikia terpelajar sebab etik dan emik dianggap berseberangan. Ternyata, fak tanya mereka yang dicap kampung itu berkebolehan menyebar faedah dan manfaat di lingkungannya, dengan cara-cara sederhana tanpa teori-teori berat.

Pekanbaru adalah kota besar di Riau, dan kewajiban kota besar ini harusnya bukan lagi untuk dirinya (kotanya) sendiri, namun ada baik lengah-lengahkan jua menilik kampung-kampung sunyi untuk berbagi kemanisan. Ini tugas kita para seniman perupa Melayu hari ini.
Jangan pernah ragu menjadi seniman yang memperjuangkan harkat martabat Melayu, atau jangan malu jadi seniman muslim yang baik, sebab pelaku seni yang begini ini musti tetap selalu ada untuk mengimbangi posisi seniman yang bermalam di kekelaman gelap gelam. Untuk tuntuan pumpuan saudara saudari ketahui, dalam ruang komisi Seni Rupa Kongres Kesenian Indonesia, ada beberapa orang menggunakan kata "kalian" (membedakan golongan) dengan nada pelecehan dan gestur hinaan menyebut “SENI BERSYARIAT”, lalu beberapa pendukungnya tertawa mengejek bangga atas hasil olah fikirnya itu. Padahal, dia, aku dulu kenal sebagai senior (kakak kelas) di ISI Yogyakarta dan tentunya masuk dalam bilangan terpelajar dan memahami konsep kebudayaan. Apabila Islam sudah menjadi lawan dan dianggap musuh bagi kreativitas seni dan berkesenian, maka kaidah apa lagi yang hendak kita junjung di bumi persada pertiwi ini!!! (tiga tanda seru, cukup).

Apabila ada tokoh tentu pasti ada pengikut, dan pernyataan sedemikian itu wajib kita tentang dengan membuktikan bahwa seniman Melayu mampu menghidangkan karya bermartabat ke seluruh pelosok penjuru dunia. Atau, mungkin seniman Melayu perlu melihat kehadiran kolektor mukmin kaya-raya untuk mendukung perjuangan ini? Saya rasa tidak perlu. Otonomi daerah di Riau seharus nya mampu menggerakkan perjuangan ini. Pemerintah Riau di Tanah Melayu layak mendukung kesenian yang bersih demi harkat martabat bangsa Melayu Nusantara.

Masih dari ruang komisi Seni Rupa Kongres Kesenian Indonesia (KKI Bandung,  2015), ada pelaku seni yang menghina muatan mata pelajaran agama di sekolah, lalu dengan angkuhnya memuji representasi kreatif seni yang kebablasan. Jika ditanya pendapatku tentang orang-orang sedemikian, jawabnya; biarkan saja, sebab saudara kita itu hanyalah malam yang hiruk pikuk, sedang kita adalah juga malam namun sunyi. Jelas sudah bahwa saudara kita itu bukan siang, sedangkan kita senantiasa terus menerus berharap masih dinaungi siangnya cahaya Melayu.

Perjuangan moraliteit bukan hanya diusung baru-baru ini saja. Sindudarsono Sudjojono, kelahiran Kisaran, Sumatera Utara, Bapak Seni Lukis Indonesia Baru, pernah menyatakan kritik yang ditulis dalam Laporan Lengkap Seminar Ilmu dan Kebudajaan Sidang II, Selasa 26 Juni 1956, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta;

“Latar belakang ini ialah kemarin. Dan kemarin ini berpengaruh pada yang akan datang. Kalau Saudara Soemardjo mengatakan bahwa latar belakangnya adalah kerohanian dan kebatinan saya setuju. ... Jadi buat pikiran saya mana yang baik janganlah kita ingkari. ... Ada lagi yang penghabisan saya minta perhatian-perhatian saudara saudara dan ketua yang terhormat, yaitu dipakainya seni gambar dan seni lukis untuk menggambarkan majalah-majalah cabul, majalah-majalah macam Mesra majalah macam Cermin. Itu kalau nggambar perempuan, yang diaksentuasikan cuma pucuk-pucuk di atas kendit saja. Kalau nggambar reklame gosok gigi yang diaksentuasikan itu bibir yang merah sekali. Hal ini buat pikiran saya berbahaya sekali buat kita semua. Juga dengan demikian sebenarnya saya cocok dengan pandangan Saudara Maria Ulfah, tentang filim-filim yang kalau tidak betul-betul streng sensornya, 70% jelek sekali. Dan saudara-saudara, jangan kita cuma ikut-ikutan bilang krisis akhlak sebab yang membuat krisis akhlak adalah orang-orang atau siapa saja yang mendesak ke belakang kesenian kita yang bagus. Terbukti di tahun 1945 sampai tahun 1949 tidak ada macam gituan. Jadi sesudah KMB, terus, ooah, terus mambo-mamboan terus. Anak saya baru berumur 19 bulan, itu di dalam box masih, belum bisa jalan dia, tahu-tahu panggil saya, Eeee, eee, saya noleh .... Mmmmmmbo. (Hadirin tertawa). Dan saudara-saudara semua, ini adalah suatu kesenian yang kejam sekali, tetapi memang betul gampang sekali mendapatkan uang karenanya. Kalau saudara Mr. Takdir Alisjahbana mau merombak majalah pujangga baru dengan majalah macam itu, terang dia tidak sulit menyebarkannya. Sebab apa? Buat pikiran saya binatang punya meeting time, tetapi manusia tidak mempunyai meeting time. Jadi krisis akhlak bukan yang muda-muda saja tetapi malah yang menyalurkan kesenian mambooo ini. Demikian terimakasih.”

Pernyataan S Sudjojono sempat ditanggapi oleh Koesnadi (pemateri);
“Tentang majalah cabul yang disinggung oleh saudara Sudjojono, menurut paham kami maka pelukis-pelukis yang terbaik tidak ada satupun yang membantu majalah macam itu. Dan ini adalah gejala yang baik. Kalau kita melihat eksposisi seni rupa yang baik, maka masalah cabul, itu tidak terdapat. Jadi kesimpulannya, masalah menggambar cabul hanya terdapat di kalangan tukang-tukang gambar semata-mata. Mungkin tadinya berkeinginan masuk dalam dunia lukis, tapi gagal, dan terus menjadi ilustrator cabul. Dan sekarang waktunya itu.
Pendahulu kita tidak pernah mengajarkan pucuk-pucuk kendit mamboo, dan untuk menyampaikan hal ini tidak perlu harus menjadi bang ustad. Bangsa Melayu seharusnya pandai berpikir tujuh kali untuk takluk melakukan hal yang disindir oleh Bapak Seni Lukis Indonesia itu. Artinya, yang mamboo (Jawa: bau busuk) itu tidak berbapak pada pengazas Seni Lukis Indonesia. Pertanyaan penting yang harus kita jawab; apakah kita sudah kering kreatifitas untuk melahirkan karya seni lukis yang bermartabat? Apa persoalannya?”

Seperti kata Hasan Junus (alm.); Cube ngkau jawab, jangan kau jawab dengan lidahmu! jawab dengan hatimu.***



KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Senin, 19 November 2018 - 14:30 wib

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Senin, 19 November 2018 - 14:22 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK

Senin, 19 November 2018 - 14:00 wib

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Senin, 19 November 2018 - 13:50 wib

Bupati Ajak Putra Terbaik Kampar Bersinergi Bangun Negeri

Follow Us