CERPEN ADI ZAMZAM

Bumi

28 Mai 2016 - 23.55 WIB > Dibaca 2094 kali | Komentar
 
Bumi
TERSEBAB kesedihan yang selalu terpancar dari wajah cantik tokoh kita, banyak yang menyangkanya sebagai perempuan yang kewarasannya telah dibawa pergi sang kekasih atau suami, terlindih beban hidup, dan berbagai prasangka lain yang tak pernah terbukti.

“Kau hendak ke mana?” tanya perempuan lain yang hatinya tersentuh empati.

Tokoh kita menjawab dengan sorot mata tajam yang memiliki keajaiban yang tak terjabar. Siapa pun yang masuk ke dalam matanya akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya sendiri.

“Asalmu dari mana? Apa kau tak dicari keluargamu?” tanya perempuan yang tertawan empati itu. Beberapa saat kemudian perempuan ini tiba-tiba saja menitikkan airmata. Ia sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dari kedua mata tokoh kita.

“Tentu saja aku peduli denganmu,” ujar perempuan itu dengan terbata, setelah menyadari sesuatu. “Mari, mampirlah. Akan kutunjukkan sesuatu kepadamu.”

Perempuan itu mengajak tokoh kita mengelilingi pekarangan rumanhya yang rimbun oleh aneka pepohonan. “Memang tak luas. Tapi aku selalu memberi ruang untuk warna hijau agar sejuk di mata. Meski sebagiannya cuma tanaman dalam pot.”

Perempuan itu bernapas lega ketika tokoh kita menampakkan kegembiraan. Ia bahkan memeluknya erat tak hirau pakaian tokoh kita yang lusuh debu.

Udara pun mendadak dipenuhi kesejukan. Kicau beburung berdatangan entah dari mana. Langit terasa cerah. Membuat perempuan itu berubah sumringah.

“Maaf kalau aku belum bisa menolongmu secara maksimal,” ujar perempuan itu sebelum perpisahan.

Sebuah percakapan yang bermuara dari saling pandang dan saling merasakan. Dan kemudian menjadi saling tahu dan saling mengerti.

***

Ada yang menyangka tokoh kita pernah diperkosa entah siapa. Tokoh kita hampir selalu disangka sebagai orang gila meski dia sebenarnya tidak gila. Saat mendapat ledekan anak-anak usil, tokoh kita bahkan menanggapinya dengan bijaksana.

Entah bagaimana kejadiannya tokoh kita bisa dengan mudah mengetahui anak-anak yang kelak jadi sahabat dan yang kelak akan jadi musuh. Bagi anak-anak yang kelak akan jadi sahabat, tokoh kita biasa menghadiahi senyum indah  menyejukkan dada. Mereka takkan pernah diliputi perasaan takut ketika mendekati atau didekati tokoh kita. Bahkan anak-anak ini takkan sungkan menyurukkan kepala ke dalam pelukan tokoh kita, betapa pun orang-orang yang tak mengerti dan tak paham akan berseru-seru melarang.

“Dia ibuku, dia ibu kita semua. Dia akan menyayangiku, menyayangi kita, sebagaimana kita menyayanginya. Jadi, Ayah dan Ibu tak perlu khawatir dengan kedekatanku dengannya,” ujar si Salih kepada ayah ibunya.

Demikian pula dengan Salih-salih yang lainnya. Mereka memiliki cara dan bahasa tersendiri untuk menyatakan kecintaannya dengan tokoh kita. Bahasa yang kadang tak dipahami oleh kebanyakan orang. Jangan bersimpati dengan perempuan gila! Jangan menaruh perhatian dengan sosok kumuh yang penampilannya memprihatinkan! Mengapa mesti peduli dengan seseorang yang bahkan sepertinya tak peduli dengan dirinya sendiri? Demikianlah beberapa larangan dan pertanyaan akibat ketidakmengertian itu. Tapi bagi para orangtua yang mengerti dan mampu melihat siapa sejatinya tokoh kita ini, mereka justru langsung memberikan dukungan.

“Yakinlah bahwa jika hari ini kau menanam kebaikan maka kelak kau akan memanen kebaikan. Kebaikanmu pasti akan kembali kepada dirimu sendiri,” demikian nasihat yang dilontarkan para orangtua bijak.

Kebalikannya. Bagi anak-anak yang kelak akan menjadi musuh tokoh kita, mereka akan mendapatkan sebuah pemandangan buruk yang membuat mereka jeri berdekat-dekatan atau ketika didekati tokoh kita.

“Aku melihat api dan asap di dalam kedua mata perempuan gila itu, Mak! Api itu membakar hutan-hutan dan semua hewan yang berada di dalamnya. Semakin lama semakin membesar, membakar mata perempuan itu sendiri. Sementara mata yang satunya lagi dipenuhi dengan asap bergulung. Mengerikan sekali!” salah seorang anak mengadukan kengerian yang ia lihat setelah mengusili tokoh kita.

“Jangan mengada-ada, heh bocah nakal,” si ibu yang sudah hafal dengan tabiat anaknya, tak percaya begitu saja.

“Kalau Emak tak percaya, coba sekarang buktikan sendiri!” tantang si anak.

Lantaran terdera penasaran, si ibu pun segera beranjak ke arah tokoh kita. Ternyata dugaan si ibu benar. Ia tak menemukan apa-apa seperti yang diceritakan anaknya. Sepasang mata keruh tokoh kita hanya menampakkan kesedihan biasa seperti yang dialami kebanyakan perempuan ketika bersedih.

Si ibu pun lantas berbaik-baik dengan tokoh kita sebagai perwujudan empati. Tokoh kita diperlakukannya seperti anaknya sendiri, sebagai pengganti kata maaf atas kelakuan nakal anaknya tadi.

“Apa kau tak punya rumah?” tanya si ibu perihatin.

Tokoh kita menggeleng sayu.

“Kau boleh saja tinggal di sini sejenak, sampai kau ingat di mana letak rumahmu,” ujar si ibu, yang menduga bahwa tokoh kita telah mengalami trauma ingatan.

Tentu saja tokoh kita menggeleng.

***

Dan begitulah. Apakah kau sudah mulai paham dengan siapa sosok yang aku ceritakan ini? Cerita pendek yang aku kisahkan kepada kalian ini sebenarnya juga atas persetujuan tokoh kita. Dia yang semula ingin merahasiakan identitas dan hanya akan memberi pengertian terhadap orang-orang tertentu, lantas memberiku izin untuk mengisahkan kisah ini setelah tahu duka apa yang aku terima dari orang-orang jahil. Kuharap kalian akan mengerti, mesti berbuat bagaimana jika bertemu dengannya nanti. Maka izinkan kuselipkan sedikit kisahku dalam cerita pendek ini.

Namaku tidak penting. Kalian mungkin sudah pernah dengar kisah ajaibku dari berbagai sumber berita yang menyapa sewaktu-waktu. Aku juga sebatang kara seperti tokoh kita. Keluargaku habis ketika sebuah tsunami menyapu kampung halaman kami tanpa belas kasihan. Aku sendiri terselamatkan oleh sebatang pohon beringin tua yang menahan tubuhku ketika hanyut oleh gelombang tsunami. Aku masih seorang balita kala itu. Lantaran peristiwa itulah aku berjanji dalam hati, di mana pun keberadaanku, akan kutanam pohon sebanyak dan sebisa mungkin demi memenuhi utang nyawa di masa lalu.

Sayangnya, perlakuan yang kuperoleh hampir sama persis dengan perlakuan yang pernah diterima tokoh kita. Aku pernah dianggap gila lantaran menanam bibit bakau di beberapa garis pantai Sumatra dan Jawa (ketika akhirnya aku memilih hijrah ke Jawa dengan alasan cari pekerjaan yang lebih mapan). Kurang kerjaan. Dan itu teramat sering, sehingga tak lagi menyakitkan ketika mendengarnya. Naluriku akan selalu menuntun ke lahan-lahan kritis yang membutuhkan para penghuni berkepala hijau. Kalian mungkin akan sedikit kesulitan membayangkannya, dan lantas mengira bahwa aku hanya membual dalam cerita pendek ini. Terserah.

Tentu saja tak sedikit pengorbanan yang aku keluarkan. Tak cuma sekadar uang dan tenaga, tapi juga pikiran. Sampai-sampai di umur yang hampir menginjak kepala empat ini aku belum sempat berpikir serius tentang jodoh. Bagiku, ini akan setimpal sebagai balas budiku dengan masa lalu. Aku berutang nyawa terhadap pohon dan bumi.

Baiklah, cerpen ini sebaiknya aku singkat sedikit, melompat ke peristiwa penting, yakni pertemuan pertamaku dengan tokoh yang aku ceritakan di depan.

Ketika itu aku tengah dihajar lelah setelah menanami bibit bakau di sepanjang pantai Mbayuran di ujung Utara Jepara. Seperti biasa, warga sekitar sempat mengataiku kurang kerjaan. Bagaimana dadaku tak tergores kesedihan? Penambangan liar pasir besi telah membuat pantai nan indah berubah menjadi teluk buatan yang begitu terik kala siang. Meski persawahan penduduk yang berdekatan dengan lokasi kemudian tercemari air asin, tapi mereka tetap lebih terpikat mengeruk berton-ton pasir besi yang amat diinginkan Singapura.

“Lantaran mata mereka tertutup nafsu. Nafsu bisa membuat buta siapa pun, jika tak dikendalikan dengan baik,” ujar tokoh kita ketika bertemu denganku. Yang kemudian berlanjut dengan obrolan seputar kerusakan alam yang pernah kutemukan di sepanjang perjalanan. Ia begitu khusyuk mendengarkan semua ceritaku, sambil sesekali memberi nasihat dan dukungan. Ia membuatku serasa memiliki ibu lagi.

Tapi kalian mungkin akan merasa aneh dengan ceritaku ini. Bagaimana bisa dengan mudahnya aku berbicara dengan perempuan itu, sementara beberapa tokoh dalam cerita ini hanya mendapati bahasa isyarat melalui tatap mata?

“Bagaimana bisa?” tanyaku, yang semula juga tak mengerti.

“Suruh saja mereka melakukan apa-apa yang pernah kau lakukan. Peduli lingkungan sekitar, peduli atas kerusakan alam, peduli terhadapku… aku jamin bahwa mereka kan bisa berbicara denganku nanti, bahkan dari jarak ribuan mil, seperti halnya ketika kau merasa lelah seperti tadi. Aku mendengar panggilanmu.”

“Benarkah? Bukankah kita baru pertama kali bertemu?”

“Kau sebenarnya sudah mengenalku, bahkan sejak nyawamu terselamatkan dari tsunami,” entah dari mana ia tahu cerita kelam itu.

“Kau…??” keabsurdan macam apa ini?

Perempuan itu menggeleng sambil tersenyum, seolah sudah mengerti apa yang sedang berkecamuk dalam pikiranku. Ia justru menjawab dengan sebuah cerita memprihatinkan tetapi lucu.

Suatu malam ada seorang lelaki hidung belang yang berniat menjahilinya. Tokoh kita hanya diam saja ketika dirinya digelandang paksa ke sebuah rongsokan gerbong kosong di sudut kegelapan. Apa yang terjadi kemudian?

Ketika si lelaki preman sudah mencopoti bajunya, ia justru melolong-lolong minta ampun kemudian.

“Ia hendak memerkosaku. Tapi yang ia dapati adalah banjir bandang, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, tsunami, hingga penyakit-penyakit…,” tutur tokoh kita dengan raut prihatin.

Sejak saat itulah aku mulai mengerti dari mana asalnya kesedihan yang kerap menghiasi wajahnya itu.***

Kalinyamatan – Jepara, 2016

Adi Zamzam lahir di  Jepara 1 Jnauari 1982. Cerpenya tersebar di berbagai medfia  nasional dan internasional. Cerpen-derpennya masuk dalam beberapa antologi seperti  Sebuah Kata Rahasia (2010), Membunuh Impian (2011), Tahun-tahun Penjara (2012), Seribu Tanda Cinta (2012), Negeri Asap (2014) dan antalogi cerpen tunggal berjudul Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya (2016).
KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us