OLEH DESSY WAHYUNI

Kritik Sastra Riau: Geliat dan Krisis (Bagian 1)

29 Mai 2016 - 00.08 WIB > Dibaca 2245 kali | Komentar
 
Kritik Sastra Riau: Geliat dan Krisis (Bagian 1)
Riau adalah negeri yang kaya. Sumber daya alamnya berlimpah. Budayanya pun mengagumkan. Dari panggung sejarah, cukup banyak peristiwa dan serpihan kehidupan yang dapat membangkitkan inspirasi. Berbagai wajah kehidupan tradisional puak Melayu Tua, seperti Sakai, Bonai, Talangmamak, Duanu (Orang Laut), maupun Akit terlihat. Selain itu, berbagai persoalan sosial pun terjadi.

Sesungguhnya, beberapa “potret” Riau telah dituangkan ke dalam karya sastra. Sebut saja Bulang Cahaya, sebuah novel yang memanfaatkan bingkai Kerajaan Riau Lingga dengan berbagai intrik kekuasaan pada saat itu, yang ditulis oleh Rida K. Liamsi. Melalui karya sastra pula, Olyrinson, seorang sastrawan kelahiran Payakumbuh, Sumatra Barat tertarik menulis tentang Riau. Dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Sebutir Peluru dalam Buku, Olyrinson berpijak pada kenyataan yang dilihatnya. Dia menyuguhkan “realitas” kehidupan masyarakat secara terperinci di dalam cerpen-cerpennya. Secara lugas, Olyrinson telah memberi keterangan bahwa karya-karyanya tersebut merupakan rekaman realitas pedih yang ia lihat dan rasakan di negeri ini. Ia pun berharap agar kumpulan cerpennya tersebut dapat menyadarkan pembaca atas realitas yang sering terlupakan.

Riau sebagai satu dari tiga puluh empat provinsi di Indonesia saja memiliki begitu banyak kekayaan. Jika pernyataan Maman S. Mahayana dapat dibenarkan bahwa sastra bisa dijadikan media ekspresi kultural dan presentasi semangat etnis, dapatkan Anda bayangkan tak terhingganya kekayaan Indonesia?

Di Indonesia, perkembangan sastra sudah berlangsung sejak lama. Ditemukannya peninggalan berupa tulisan kuno telah menjadi bukti bahwa pada waktu itu manusia telah mengenal bahasa sekaligus sastra. Sejalan dengan perkembangan zaman, tulisan mengenai nasihat keagamaan dan adat-istiadat pun terlihat. Selanjutnya, pada masa orde lama dan orde baru, sastra kerap dijadikan polemik yang memicu kontroversi karena digunakan sebagai media untuk mengkritik berbagai penindasan dan pola pemerintahan. Hingga kini, sastra Indonesia terus berkembang. Karya sastra dijadikan media berimajinasi bagi sastrawan dalam menanggapi perkembangan sosial, politik, spiritual, dan sebagainya dalam menghasilkan sebuah karya yang inovatif dan bernilai.

Menurut U.U. Hamidy, di Riau perkembangan sastra saat ini memperlihatkan luka sejarah, penderitaan panjang puak Melayu, marjinalisasi masyarakatnya, serta tangis masyarakat atas kesewenangan para pendatang-penjajah-penjara.

Namun, bagaimana mungkin masyarakat bisa mengetahui isi dan maksud sebuah karya sastra yang ditulis oleh pengarangnya jika tidak diapresiasi?

Dalam sebuah dialog bersama Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), Maman menyebutkan bahwa pembelajaran mengenai apresiasi sastra bagi anak didik sangat perlu dilakukan. Menurutnya, sastra bisa dijadikan alat demokratisasi. Melalui sastra, mereka belajar demokrasi. Anak didik dibenarkan berbeda pendapat dan saling berargumen dalam mengapresiasi (karya) sastra yang memang multitafsir.

Sastra adalah entitas yang unik, dinamis, dan multitafsir. Sastra kerap bersentuhan dengan ranah batin dan memberikan sesuatu yang tidak kasat mata. Kata-kata yang memiliki nilai seni dan budaya ini merupakan sebuah keindahan dengan makna tertentu. Makna tersebut akan terkuak jika diapresiasi. Melalui proses apresiasi itu, karya sastra akan menghasilkan nilai-nilai kemanusiaan yang mengendap dalam khazanah batin pembaca/penikmat sastra.

Akhir-akhir ini, perkembangan karya sastra di Indonesia sangat pesat, bahkan tidak terbendung. Penulis karya sastra bermunculan dari berbagai penjuru, baik yang tua (senior) maupun yang muda (pemula). Hal itu bisa dilihat di banyak media massa (tiap Sabtu dan/atau Minggu) yang biasanya menampilkan satu atau dua cerpen, serta beberapa puisi setiap minggunya. Novel-novel terbit.  Antologi cerpen dan puisi marak. Hal ini menggambarkan seakan sastra telah menjadi idola tersendiri di negeri ini. Tentu saja hal ini merupakan kabar baik bagi perkembangan kesastraan Indonesia. Akan tetapi, apakah masih kabar baik namanya jika perkembangan ini tidak diikuti oleh apresiator/kritikus sastra?

Hal ini rupanya juga menggelisahkan Rizal Muhammad Qasim (penyiar TVRI)  yang terlihat di akun Facebook­-nya mengenai “Apresiasi Sastra”. Pada 19 April 2016, ia mengirimkan hasil wawancaranya dengan Agus Sri Danardana dan Hary B. Kori’un dalam Dialog Khusus di TVRI mengenai apresiasi sastra di media sosial tersebut. Menurutnya, apresiasi masyarakat Riau terhadap sastra (lisan) di Riau sudah sangat baik. Jika ada pagelaran (sastra), masyarakat pun berduyun-duyun menyaksikannya. Bahkan pantun, syair, dsb. masih kerap dipakai dalam berbagai acara dan digunakan sebagai sarana tunjuk ajar. Namun, ia baru menyadari bahwa apresiasi sastra itu tidak semata dalam hal menyaksikan, memberi dukungan, dan memberi tepuk tangan saja. Ada hal lain yang harus dilakukan dalam mengapresiasi (karya) sastra, yaitu mengkritiknya. 

 Memang, di Riau khususnya, begitu banyak kegiatan yang memperlihatkan bentuk apresiasi (komunitas tertentu) terhadap karya sastra. Malam Puisi, misalnya, merupakan sebuah ruang untuk membaca puisi yang diadakan pertama kali pada Maret 2013 di Kedai Kopi Kultur, Bali. Malam Puisi yang diadakan setiap sebulan sekali ini bertujuan untuk menyediakan ruang bagi pecinta puisi. Para pecinta puisi yang biasanya berinteraksi di media sosial ini bertemu untuk saling memperdengarkan pembacaan puisi bagi siapa saja dengan mengangkat tema berbeda setiap bulannya. Warga Pekanbaru pun terinspirasi untuk turut serta sehingga lahirlah “Malam Puisi Pekanbaru”.

Selain itu, ada pula “Madah Poedjangga”. “Madah Poedjangga” adalah tembok batu dengan warna merah di atasnya dan di bagian bawah terpampang prasasti puisi para penyair Riau. Rida K. Liamsi sebagai penggagas mengatakan taman ini akan menjadi tempat berkumpulnya para penyair, seniman, dan budayawan untuk berdiskusi serta tempat puisi dibacakan. Agus Sri Danardana, saat menjadi Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, pernah menjadi narasumber pada diskusi di taman itu dengan tema “Peran Balai Bahasa Provinsi Riau dalam Menyuburkan Tradisi Sastra di Riau”. Pada kesempatan itu, Agus Sri Danardana mengatakan bahwa selama ini Balai Bahasa Provinsi Riau berusaha untuk ikut memeriahkan dunia sastra di Riau, misalnya dengan mengadakan bengkel sastra, gerakan Indonesia membaca dan menulis, penyuluhan bahasa dan sastra, dll. Menurutnya, kesusastraan di Riau sesungguhnya sudah menggeliat selama ini melalui komunitas yang sudah terbentuk maupun dari sastrawan itu sendiri.
Lalu, bagaimana dengan kritik (karya) sastra yang digelisahkan Rizal Muhammad Qasim?***
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 15:30 wib

Puskesmas Kampar Bersiap Hadapi Akreditasi

Selasa, 18 September 2018 - 15:00 wib

Pasar Desa Kasikan Terbakar

Selasa, 18 September 2018 - 14:56 wib

Hotel Dafam Tawarkan Kenikmatan Kopi Ple-Tok

Selasa, 18 September 2018 - 14:46 wib

Topan Mangkhut Tewaskan 59 Orang

Selasa, 18 September 2018 - 14:43 wib

OJK Diharapkan Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 18 September 2018 - 14:42 wib

Pekanperkasa Gelar LCV Party dan LCV Gathering

Selasa, 18 September 2018 - 14:30 wib

Bingung Ferrari Menghilang

Selasa, 18 September 2018 - 14:06 wib

ACE Hadirkan Program Smart Lighting Smart Living

Follow Us