Gema Setara

Berbagilah

29 Mai 2016 - 09.53 WIB > Dibaca 6002 kali | Komentar
 
Berbagilah
Gema Setara
Setiap kasus kemayian gajah di Riau dipastikan hanya meninggalkan bangkai yang membusuk. Beragam sebab kematian gajah itu, mulai ditembak dengan senjata api oleh para pelaku hingga di racun oleh para manusia yang tak bertangging jawab.

Sementara kematian gajah secara alami, apakah karena sudah tua atau sakit atau karena sebab lain tanpa ada campur tangan manusia bisa dikatakan tidak ada sama sekali. Hal ini pun diakui Kepala Bidang Teknis Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau Fifin.

Dan ironisnya, ketika gajah mati tak ada lagi sebutan 'gajah mati meninggalkan gading'. Sekarang, gajah mati hanya meninggalkan bangkai dan perasaan geram dari pelaku dan pelindung hewan yang dilindungi ini.

Sudah banyak kasus kematian gajah yang tak lagi meninggalkan gading. Namun pengungkapan siapa pelaku pembunuhnya jarang terdengar. Mungkin ini akan menjadi pekerjaan berat bagi aparat yang kebetulan diamanahkan untuk mengungkapnya. Memang tidak mudah, namun teruslah berusaha, sebab jika pekerjaan baik yang kita lakukan pasti akan berbuah manis.

Mungkin bagi sebagian manusia menganggap gajah sebagai hama yang merusak tanaman perkebunan mereka.

Tetapi sebenarnya manusialah hama sebenarnya, mengapa, karena sesuai hakikat dan kodratnya gajah-gajah itu akan selalu mengitari ring atau wilayah yang selama ini dilaluinya.

Kadang, sebagai manusia kita terlalu rakus. Rumah gajah kita jadikan kebun. Siapapun kita, ketika rumah dan tempat tinggal kita dirusak tentu akan marah.

Kita manusia tidak pernah mau mengalah, sudahlah merusak habitat tempat tinggal hewan-hewan itu, manusia tanpa rasa bersalah melakukan berbagai upaya untuk menghalau bahkan sampai membunuhnya.

Kalau kita manusia yang diberi kelebihan oleh Allah SWT untuk sedikit mengalah dan berbagi ruang hidup dengan apapun bentuk hewan tentulah kehidupan dunia ini akan tentram.

Rantai makanan pastilah akan senantiasa terurai, bukan seperti sekarang rantai makanan itu sudah terburai berceceran entah kemana.

Mungkin, berbagi ruang hidup inilah yang harus mrnjadi perhatian semua pihak. Ketika kawasan itu memang menjadi habitat hewan apakah gajah, harimau dan sebagainya janganlah diganggu, janganlah kawasan itu dijadikan kebun atau ladang. Selama ini, itulah yang terjadi.

Manusia tidak lagi peduli, semua kawasan hutan yang ada habis dibinasakan, kawasan hutan yang hanya tinggal sejompot di punah-ranahkan untuk kepentingan sesaat. Itulah sifat kita manusia, hanya mau mencari untung tanpa mau memandang dan berbagi dengan makhluk lain.

Nah, ketika hewan itu tidak lagi memiliki ruang hidup dan tempat mencari makan haruskah mereka (hewan, red) karena memamah dan memakan semua yang kita tanam.

Sekali lagi, kita manusia yang dikatakan sebagai khalifah dimuka bumi ini marilah berbagi dengan makhluk hidup lainnya.

Rasanya, tidaklah kita berdosa membagi sebagian tempat dan ruang kepada mereka.

Isilah hidup ini dengan segala makna, tidak saja sesama manusia tetapi sesama makhluk lain di muka bumi ini. Ingat, kita hanyalah penumpang di alam fana ini.****

Gema Setara
(Redaktur Pelaksana Harian Riau Pos)

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Follow Us