MAHRAJAN KINABALU 2016

Dari Sebuah Kampung Ingin Sinari Nusantara

4 Juni 2016 - 23.51 WIB > Dibaca 719 kali | Komentar
 
Oleh Mosthamir Thalib

Ingin menyinari Nusantara
dengan Melayu dan Islam
dari sebuah kampung di bibir pantai
Utara Pulau Berneo (Kalimantan).


ITULAH kesan yang ingin dipancarkan dari persembahan Mahrajan, Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara Ke-5, yang berlangsung tanggal 20-21 Mei 2016, di Kinabalu, Sabah, Malaysia Timur.  Tempat acaranya, mengambil  posisi di Kampung Membakut dan Kota Kinabalu. Pengunjung di Membakut cukup ramai. Melibatkan orang kampung. Datuk-nenek pun ikut meyaksikan.

Dalam acara resmi Mahrajan Ke-5 di Membakut ini, diisi dengan Anugerah Seni Mahrajan, seminar Bahasa dan Sastra Melayu Islam, pembacaan puisi Islami, pameran kaligrafi, lomba penulisan puisi Islami ASEAN sampai dengan persembahan musik Islam lainnya, antaranya pada penutupan menampilkan pencipta lagu dan biduan Melayu yang juga dikenal di Indonesia, Iwan, yang pernah populer dengan lagu “Wulan”-nya.

Kemudian diikuti dengan acara diskusi panel  Mahrajan yang diselenggarakan di Hotel Setia Perkasa serta temu ramah dengan DUN (Dewan Undangan Negeri), yang juga Ketua Menteri Datuk Haji Mohd Arifin Haji Mohd Arif di Wisma MUIS (Majelis Ugama Islam Sabah). Keduanya di tengah Kota Kinabalu. Sedangkan acara tidak resminya, para peserta dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia sendiri sehari berikutnya dibawa mengunjungi beberapa kawasan lainnya di Sabah, antaranya ke kaki Gunung Kinabalu yang terkenal itu.

Anugerah Mahrajan

Sempena Mahrajan ini ada penghargaan yang dianugerahkan kepada tokoh seni Melayu Islam setiap tahunnya. Penghargaan diberikan kepada orang-orang yang tunak dan lasak pada bisang seni budaya Melayu dan Islam, baik sastrawan, seniman msuik, maupun seni Melayu Islam lainnya. Tahun 2016, orang yang beruntung menerima Anugerah Mahrajan tahun 2016 adalah Anie Din, novelis dari Singapura, yang juga aktif menghimpun para penyair negeri serum Melayu dan menyelenggarakan acara pertemuan sastra, antaranya Pertemuan Penyair Serumpun Melayu di Singapura 30 Januari 2016, yang melibat penyair Melayu Serumpun, termasuk dari Vietnam.

Tokoh Indonesia yang pernah menerima anugerah ini, antaranya Tennas Effendy tokoh Melayu dari Riau, karena perhatiannya yang besar terhadap rumpun Melayu (2013). Tokoh lainnya memperoleh penghargaan pada tahun 2013 tersebut tokoh musik gambus Malaysia Jalidar Abdul Rahim dan Pangiran Abdul Rahman Pangiran Ali, juga dari Malaysia (Sabah).
Tahun pertama penyelenggaraan yang memperoleh Anugerah Mahraja, 2012, novelis Indonesia Habiburahman  El-Shirazy dan tokoh pantun Malaysia Rahman Maidin (Sabah). Penyair senior Indonesia Taufik Ismail juga pernah menerima Anugerah Mahrajan pada tahun 2014 bersama Datun Jandim Buyong dari Malaysia, Perhun Orang Kaya Ratna Diraja Datok Seri Utama Dr Ustaz  Hajio Md  Zain Hj Sarudin (Brunei Darussalam), dan Pangiran Ibrahim Nyiru (Sabah). Sedangkan tahun 2015, yang memperoleh anugerah Datuk Hajah Zaiton Haji Ajaibn (Malaysia) dan dan Hajhi Jawawi Haji Ahmad (Brunei Darussalam).
 
Puisi Islam ASEAN

Lomba penulisan puisi ASEAN sempena Mahrajan dan Seni Islam Nusantara ini, pesertanya cukup banyak. Sampai 352 puisi, yang datang dari berbagai negara di ASEAN. Banyak pula, menurut Jasni Matlani, para pengirim puisi itu penyair-penyair ternama. Panitia memilih tiga buah karya terbaik dengan hadiah RM1.500,00. Dan tujuh hadiah penghargaan dengan hadiah RM500,00. Beberpa penyair Indonesia, terpilih sebagai pemenang. Puisi Handoko F Zainsam dari Jakarta berjudul Bayang-bayang Atas Jasat Fana terpilih sebagai pemenang utama, bersama puisi Sesudah Isya karya Nasirudin Hasan dari Sabah, dan puisi Mursyid karya Ahmad Sarju dari Selangor, Malaysia.

Tujuh hadiah penghargaan yang masing-masing menerima hadiah uang tunai RM500,00. Mereka adalah Abizai dari Sarawak dengan puisi Hanya dengan Kebat Senyap Kemudian puisi Aku Belayar dengan Perahu Nuh karya Anwar Putra Bayu dari Palembang, Mahrajan karya Amini Gawis dari Sabah, Ke Tingkat Tujuh puisi Rodiah Said juga Sabah, Maghfirah Mu karya Duliam Suari (Sabah), Sajadah Bumi karya H Bambang Wadiyatmoko (Jakarta), dan Tarikat Penghabisan karya Noor Aisya Buang dari Singpaura.

Membakut

Membakut sendiri, tempat acara puncak diselenggarakan adalah sebuah kampung, seperti desa atau kecamatan kalau di Indonesia. Letaknya di sebuah suak sungai kecil, tidak sampai satu kilometer dari bibir pantai Borneo Utara.  Bangunannya masih sederhana dibanding wilayah pinggiran Kinabalu. Masih banyak rumah panggung, bergaya arsitek Melayu lama. Jarak antara Kinabalu dengan Membakut, arah ke Brunei Darussalam atau Serawak sekitar... atau 2,5 jam perjalanan menggunakan bus.

Para tamu undangan yang menghadiri Mahrjan Ke-5, dari Indonesia, Singapura, Brunei dan Semenanjung Malaysia sendiri ditempatkan di sebuah komplek ressort, di Binsuluk. Jaraknya dengan Membakut, sekitar 5 km, atau sekitar 10 menit dengan menggunakan minibus. Setiap akan diadakan acara, para peserta diantarjemput dari Binsuluk dengan menggunakan minibus, menelusuri jalan beraspal yang  bersih di tepian Laut Cina Selatan, menuju Membakut.

Di Membakut inilah acara Mahrajan; Persuratanan dan Kesenian Islam diselenggarakan oleh dua tokoh penting di Sabah, setiap tahunnya, pada bulai Mei. Datuk Arifin Arif, sebagai dewan undangan negeri Sabah dari wilayah (Dapil) Membakut dan sekitarnya dan Jasni Matlani, sastrawan Malaysia penerima SEA Wright 2015, yang diselenggarakan di Thailand setiap tahunnya.

Mahrajan, Membakut dengan Datuk Arifin Arif seperti tiga satu rangkai nama yang tidak dapat dipisahkan. Mahrajan itu sejenis “kenduri sastra dan kesenian Islam”. Sedangkan Membakut - tempat penyelenggaran setiap tahunnya, juga merupakan kampung halaman kelahiran sekaligus daerah pemilihan (Dapil) Datuk Arifin Arif. Di Membakut inilah – di sebuah kampung yang masih banyak rumah panggung - Mahrajan didirikan, dikembangkan, dengan menghadirkan tokoh-tokoh Melayu penting dari seluruh nusantara.

Dengan adanya Mahrajan, Membakut otomatis pula pamornya terbangkitkan. Kalau sebelumnya hanya merupakan kampung biasa, seperti kampung kebanyakan. Setelah adanya Mahrajan jadi semakin diperhatikan. Berbagai sarana untuk kepentingan masyarakat setempat dibangun. Antaranya di sini sedang didirikan Wisma MUIS, yang juga untuk digunakan kepentingan kegiatan Mahrajan setahun sekali. Boleh dikatakan, Datuk Arifin Arif betul-betul memanfaatkan dana aspirasinya untuk membangun masyarakat pemilihnya di Membakut secara terus-menerus. Sehingga tidak heran, beliau sudah berkali-kali terp;iliuh sebagai wakil rakyat dari kawasan ini.

Peran Jasni Matlani, tentu juga cukup besar. Presiden Bahasa dan Sabah inilah bersama teman-temannya, seperti Hasyuda Abadi, Jasni Yakub, dan Juri Durabi, penggerak utama Mahrajan ini.  Jasni Matlani yang merupakan sastrawan paling lasak dari Sabah ini, selain banyak karya berupa prosa, puisi, dan esei, juga menyelenggarakan berbagai kegiatan sastra dan seni Islam di Sabah. Selain itu, dia juga rajin mengikuti berbagai pertemuan sastra, baik di Malaysia maupun di luar negaranya.

Bahasa dan Sastrawan

Datuk Zainal Abidin Borhan, ketua Gapena (Gabungan Penulis Nasional) Malaysia yang baru terpilih, yang juga ketua Yayasan Karyawan, sebuah lembaga yang menaungi penulis-penulis kreatif di negara jiran, pada acara seminar siang harinya tampil bersama H Jaledar Ibrahim membahas Posisi Bahasa Melayu dan Ancamannya di Malaysia.

Sedangkan penyair-penyair yang hadir dalam acara yang dibuka Speaker Dewan Undangan Negeri Sabah Datuk Syed Abbas Syed ini, antaranya dari Indonesia ada H Bambang Wadiyatmoko Jakarta, Jodhi Yudhono, Handoko (Jakarta). Khusus Riau yang datang Husnu Abadi, Fakrunnas MA Jabbar, Kazzaini Ks dan Mosthamir Thalib. Anwar Putrabayu dari Palembang. Singapura diwakili Bunda Anie Din dan Herman. Dari Brunei Darussalam Haji  Jawawi. Pandeka dari Minangkabau.  Sementara dari Semenanjung Malaysia antaranya Chairul Anuar, selain banyak dari Sabah sendiri.

Dalam seminar, Datuk Zainal Abidin Borhan memapar kegeramannya terhadap apa yang berlaku terhadap bahasa Melayu di Malaysia. “Bahasa Melayu berada di posisi terancam keterusannya,” katanya. “Karena kerajaan mewajibkan semua bidang studi atau  mata pelajaran eksak di perguruan tinggi dan sekolah mesti menggunakan bahasa Inggris, yang dianggap bahasa Ilmu.”

Menurutnya, apa yang terjadi ini menunjukkan pihak kerajaan (pemerintah) Malaysia seperti gagal memahami pengalaman. Kenyataan, pelajar atau mahasiswa Malaysia tidak pernah samasekali memenangi olympiade science atau eksak lainnya di tingkat ASEAN dan dunia disebabkan materi pelajaran diberikan dengan bahasa kedua. Anak-anak kota saja sulit memahami, apatah siswa-siswa yang datang dari sekolah di daerah. Bahasa Inggris mereka masih lemah. “Berbeda dengan Indonesia yang mengajarkan ilmu science dan eksak lainnya dengan bahasa utama,” tambahnya.

Inilah, kata Zainal Abidin Borhan, dia dan kawan-kawannya berjuang mempertahan Bahasa Melayu tetap sebagai bahasa utama dalam dua pen didikan di Malaysia. Untuk memperjuangkan ini Zainal Abidin dan kawan-kawan para ilmuan dan pakar bahasa sudah melakukan berbagai upaya agar pemerintahan Malaysia tidak menepikan peran bahasa Melayu dalam dunia pendidikan.

Mahrajan ke Depan

Banyak yang diharapkan pada Mahrajan ke depan. Ini terpapar pada diskusi panel yang berlangsung 20 Mei 2015 malam di Hotel Setia Perkasa dan di Wisma MUIS dalam temu ramah dengan Daruk Arifin Arif.

Pada diskusi panel yang dimoderatori Hasan Sapirin salah seorang tokoh teater Sabah, mengundang Handoko F Zainsam (Jakarta), H Jawawi (Brunei Darussalam), Hasyuda Abadi (Sabah) Kazzaini Ks (Riau), Prof Dr Siti Zainon (Kuala Lumpur), Anie Din (Singapura) dan Nim Yorza (Sabah), memang lebih banyak mengevaluasi Mahrajan dari tahun ke tahun.
Akan tetapi pada temu ramah di Wisma MUIS, lebih banyak harapan yang ingin diwujudkan pada mahrajan-mahrajan berikutnya. Baik soal waktu pelaksanaan yang dipanjang, kegiatan lebih dibanyak, dan peserta akan lebih diperluaskan. Kalau biasanya hanya melibatkan Malaysia, Bruneis, Indonesia dan Singapura, ke depan akan mengundang Timor Leste, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Laos.

“Mungkin nanti ada juga pameran macam-macam makanan khas Sabah dipamerkan,” kata Datuk Arifin, seraya menyebutkan sejumlah aset seni Melayu Islam lainnya yang ada di Sabah.
Husnu Abadi dari Riau dan Anwar Putrabayu dari Palembang mengusulkan ke depan pelaksanaan Mahrajan melibatkan sekolah. Misalnya penyair mengunjungi sekolah, baca puisi dan mengenalkan karya-karya mereka. Kemudian para siswa dilibatkan dalam lomba seni Islam kreatif, antaranya drama pendek.

Jasni Matlani mengatakan, dia menyambut baik masukan dari para peserta Mahrajan. “Sangat menarik. Tahun depan Insya Allah, Mahrajan dilangsungkan selama tiga bulan, dengan banyak kegiatan. Sampai pada acara puncaknya, menjelang bulan Mei,” katanya.

Kinabalu, selalu menarik. Bukan saja gunungnya yang terkenal. Tetapi negerinya yang luas, menghadap laut lepas. Panggung mini Laman Seni di samping Wisma Budaya di kota ini juga menarik. Siang dipenuhi aktivitas seri rupa. Berhimpunnya para pelukis. Malam hari diisi dengan musik dan baca puisi seraya ditemani kopi dan makanan ringan lainnya. Pengelola Laman Seni ini seorang pelukis. Siang dia melukis, Malam harinya berjualan dan menghidangkan kopi.

Setelah mengundang tim kesenian Islam dari Aceh Mahrajan tahun lalu, pada tahun depan panitia merencanakan akan mengundang Tim Kesenian Islam dari Riau.

Bersiaplah, setahun lagi.***

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 20:40 wib

Cuti Bersama Idulfitri Tahun Depan Lebih Pendek

Rabu, 14 November 2018 - 19:30 wib

Reaksi Brexit dan Dampak Ekonomi Cina Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 14 November 2018 - 19:28 wib

Kebut Pertumbuhan, RI Perbaiki SDM

Rabu, 14 November 2018 - 16:15 wib

Bonus Demografi Diharapkan Sampai ke Masyarakat

Rabu, 14 November 2018 - 16:00 wib

APBD Kampar Diperkirakan Rp2,4 T

Rabu, 14 November 2018 - 15:45 wib

Pencakar Langit Riau Pertama di Luar Pekanbaru

Rabu, 14 November 2018 - 15:33 wib

Lelang Sepeda Motor Dinas Pemko 22 November

Rabu, 14 November 2018 - 14:43 wib

Pengungsi Rohingya Hindari Repatriasi

Follow Us