FILM

Bangkitkan Perfilman di Riau

5 Juni 2016 - 00.01 WIB > Dibaca 638 kali | Komentar
 
BERBAGAI upaya dilakukan untuk terus melakukan kreatifitas dan memajukan seni di Riau. Salah satunya dari Riau Art Cinema. Menjelang bulan Ramadan, komunitas pelaku dan pecinta film yang dipimpin oleh Willy Fwi ini memproduksi sebuah film berjudul Bengak.
Disebutkan Willy, berangkat dari kegelisahan, kemudian bersama-sama muncul sebuah kesepakatan untuk memproduksi film dengan langkah-langkah yang sesuai sebagaimana layaknya sebuah film diproduksi. Oleh karena itu, dalam produksi film ini ditunjuk dan diminta kepada Ica Sutardi untuk menyutradarai, seorang pelaku perfileman yang merupakan alumni dari IKJ tersebut.

“Jadi ini adalah usaha dan upaya untuk memajukan perfilman di Riau. Salah satu upaya juga agar para sinias di Riau ini tidak perlu takut dan ragu untuk memproduksi sebuah film. Artinya, secara fasilitas alat dan tekhnologi, barangkali kita banyak kurangnya. Tetapi dari tataran sumber ide gagasan dan juga kreatifitas, kita belum kalah, ada banyak sumber ide yang bisa kita kebangkan dan kemaskan menjadi cerita yang menarik untuk ditonton,” ujar Willy yang dalam produksi ini sebagai produser.

Film Bengak itu sendiri berangkat dari sebuah naskah drama yang pernah dipentaskan oleh omunitas Riau Beraksi tahun 2012. Willy yang ketika itu selaku sutradara mencoba mengadaptasi sebauh naskah dari Rusia yang berjudul Pakaian dan Kepalsuan. Lalu, di produksi film ini, naskah itu kembali diadaptasi menjadi skenario film.

“Ya, kita jadikan durasinya sekitar setengah jamlah,” terangnya.

Sebagai gambaran, film indie Bengak ini berkisah tentang filosofi cermin. Bagaimana manusia bercermin. Bahwa cermin tidak pernah bohong atau bengak. Di dalam film ini juga mengajak untuk bertanya kepada diri sendiri, apakah kita jujur?

“Sebuah ajakan untuk jangan jadi pembengak. Karena suatu saat nanti, ketika semua anggota tubuh bicara, semua akan terungkap. Kira-kira begitulah gambaran ceritanya. Bahwa dalam proses garapan film indie, kita berpeluang besar untuk mengolah ide-ide cerita yang tidak mengikuti ide mainstream seperti ksiah percintaan dan lain sebagainya. Tetapi, kita bisa memiliki peluang yang lebih dalam mengolah ide-ide lain yang kiranya akan digarap menjadi tontontan yang tak kalah menariknya,” ujar Willy lagi.

Dalam garapan film Bengak itu, lokasi syuting dilakuan sebagian besar di wilayah atau area MTQ Bandar Seni Raja Ali Haji-Pekanbaru. Selebihnya barulah dilakukan di jalanan. Hal itu, mengingat dan menimbang budget dari produksi ini tidaklah besar. Beberapa kebutuhan selama produksi, tentulah tidak sedikit pula. “Kita coba berbuat meski dengan budget yang tersedia apa adanya. Artinya, hal itu tidak sampai membunuh kreatifitas kita, apa yang bisa, tetap kita lakukan,” katanya.

Awalnya, target pengerjaan film Bengak berlangsung dalam seminggu akan tetapi melihat kondisi di lapangan, dijelaskan Willy, bisa berlangsung sekitar tiga minggu. Hal itu disebabkan proses kerja sang sutradara yang begitu detil dalam pengambilan gambar. “Kita ikutis aja, karena juga berguna bagi kualitas hasil film yang diproduksi, sekaligus pembelajaran bagi kita semua. Yang jelas, kita upayakan Agustus sudah dapat dilaunching film ini di ASIT dan dapat diapresiasi bersama masyarakat Riau,” tutupnya. (jef)

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 14:18 wib

1250Orang Antusias Ikuti Rangkaian #Hands4Diabetes

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Follow Us