ESAI SENIRUPA

Respon atas Tulisan Ajip Rosidi Mengenai Salim

5 Juni 2016 - 00.09 WIB > Dibaca 1056 kali | Komentar
 
Oleh Junaidi Syam

Bersempena pameran karya Salim di Jakarta Ajip Rosidi (AR) menulis di Pikiran Rakyat,    13 Desember 2008. Respon atas     tulisan AR ini bukan bertujuan menghakimi seorang AR yang masyhur tetapi untuk melihat sosok Salim yang penting kita ketahui untuk memajukan Seni Rupa Melayu di Riau.

“|01| ... sebagai penghormatan kepada pelukis kita yang seumur hidupnya di Eropa, ...” Kalimat “penghormatan kepada pelukis kita” bermakna penting sebagai upaya mengingat, mengenang, dan membayangkan kembali Salim. AR khilaf menyebut “seumur hidup Salim habis di Eropa”, seolah-olah menafikan bilangan 11 tahun masa kanak-kanak Salim di negerinya sendiri dan 4 tahun bergabung dengan pejuang kemerdekaan di Jakarta.

“|02| ... kematian Salim tidak banyak mendapat tempat dalam pers Indonesia. Sebagai pelukis, dia kurang dikenal di Indonesia, mungkin karena dia hampir seumur hidup tinggal di Eropa. Sejak 1951 dia mengadakan pameran karyanya di tanah air hanya tujuh kali, ... Salim sendiri hanya hadir dalam dua pameran, yaitu pameran tahun 1956 dan 1990.”

Pemilihan kata ‘kematian’ kurang pas untuk format tulisan penghormatan. Orang Melayu hampir tidak pernah menggunakan istilah ‘mati’ untuk manusia, sebab bermakna; tamat untuk seluruh makhluk bernyawa, termasuk flora dan fauna. Dalam paragraf kedua ini ada revisi berbunyi “dia hampir seumur hidup tinggal di Eropa“. Penggunaan diksi kata “hanya tujuh kali” dan “hanya hadir dalam dua pameran” seolah menunjukkan rasa tidak puas.

“|03| Salim saya kenal pertama kali melalui kulit buku Gema Tanah Air susunan H.B. Jassin (1948). Kemudian vinyet atau reproduksi lukisannya (semuanya hitam putih) sering saya lihat dalam majalah Zenith, Siasat, Indonesia, dll. Begitu pula tulisan tentang dia yang ditulis oleh Trisno Sumardjo, Hazil Tanzil, dan Sitor Situmorang dalam majalah-majalah tersebut.”

Fakta ini menunjukkan bahwa Salim yang jauh di Paris memiliki daya tarik kuat di Indonesia! Maka diksi kata “hanya” kurang pas digunakan untuk tujuan “rasa kecewa publik”. Kecewa dalam konteks institusional pribadi tidak masalah. Kita para seniman perupa Melayu khususnya lebih berhak kecewa dibanding AR, disebabkan lalai merujuk potensi dari seorang anak Melayu untuk sosok simbol gerakan seni rupa kita. Untuk pancang khusus kita perlu sosok seniman perupa seumpama Raden Saleh atau Affandi dan Salim adalah orang yang dimaksud. Tokoh-tokoh masyhur sengaja dihadirkan Tuhan dan tidak pula lahir dari setiap wilayah kebudayaan.

Basuki Resobowo merasa perlu menyebut lukisan Salim dalam majalah Mimbar berjudul Indonesia Sudah Melukis (Resobowo, 1949: 23); “Lebih jauh, karena di steleng ini ada lukisan dari Salim, seorang pelukis yang sekarang berada di Paris dan hasil kerjanya masuk dalam lingkungan kesenian yang sehat, kalau dibandingkan, dapat dikatakan, bahwa kita tidak begitu jauh dengan dia. Dari lukisannya kita hanya bisa merasakan perbedaan kelancaran dalam mempergunakan material dan teknik yang dikuasai.”

Seniman yang berpameran saat itu; Zaini, Syahri, Handrio, Affandi, Hendra, Kerton, Solihin, Hadi S, Wakijan, Nasyah, Nashar, Mulya, Dr. Seonarto, D. Wikarta Atmadja, R,M, Suharto, Basamalah, Slamet, dan Wahdi. Pernyataan Resobowo menyiratkan bahwa Salim dihormati saat itu melebihi Affandi. 

AR merasa penasaran pada Salim dan itu terobati pada tahun 1956 ketika AR bertemu muka dan menikmati langsung karya Salim yang dipamerkan selama beberapa minggu di Balai Budaya Jakarta. Pameran beberapa minggu? tentunya bukan pameran seminggu atau tiga empat hari! Fakta ini menunjukkan apresiasi penghargaan dari pihak BMKN dan penyelenggara pameran beliau.

Di sini aku sisipkan pernyataan Affandi mengenai Salim. “Apa yang saya akan tulis ini pada Sdr. ialah pengalaman saya di Paris di th. 1950. Ini adalah pertama kali saya menginjak Paris. Langsung saya kepingin sekali ketemu Sdr. Salim pelukis Indonesia yang ada di Paris dan belum pernah pulang ke Indonesia. Begitu saya ketemu saya kaget luar dugaan dan merasa bahagia. Apa sebab? Saya kira tadinya, Sdr Salim dalam seninya barat. Betul-betul tidak. Dia tetap timur Indonesia. Dalam garis-garisnya, saya lihat inti-inti batik, yang zoodanis verwerk menjadi khas pribadinya. Linier sekali drawingnya.” (sumber. internet)

“|05| Perkenalan itu memanjang, karena sejak 1972, setiap kali pergi ke Eropa saya selalu menemuinya di Paris. Mula-mula di kantornya di KBRI, karena untuk beberapa lama dia bekerja sebagai staf lokal KBRI. Namun, karena bekerja di kantor itu dirasakan mengurangi kesempatan baginya untuk melukis, kemudian dia berhenti bekerja dan memusatkan perhatian dan tenaganya untuk melukis. Sebelum bekerja di KBRI juga, dia hidup hanya sebagai pelukis. Dan pergulatan untuk bertahan sebagai pelukis di kota yang dianggap sebagai “Mekah”-nya kebudayaan Barat dan menjadi gudang pelukis itu, bukanlah perjuangan yang ringan. Salim sudah mengalaminya sejak masa awal kepelukisannya, ketika dia pada musim dingin harus mengharapkan mendapat semangkuk sup panas dari tetangga yang baik hati.”

Satu hal yang perlu disimak adalah dipekerjakannya Salim di KBRI, menunjukkan hubungan intim dibangun oleh pemerintah ketika itu meski akhirnya Salim meninggalkan kantor KBRI disebabkan pilihan merdeka semerdeka-merdekanya demi melukis. AR ingin menyampaikan pada pembaca bahwa kondisi hidup Salim setelah keluar dari KBRI sangat menyedihkan sehingga harus mengharap semangkuk sup dari tetangganya. Kupikir, pengalaman semisal ini atau bahkan lebih parah lagi hanyalah insiden kecil yang biasa diterima hampir oleh setiap para seniman yang tunak di bidangnya. Sejarah semangkuk sup panas Salim hanyalah fakta sejarah nasib hidup para seniman sejak dahulu hingga sekarang, meski tidak mutlak harus demikian.

“|06| Apalagi karena Salim berkeyakinan bahwa galeri itu tak ada sangkut pautnya dengan kesenian, maka dia menolak untuk menjual lukisan di galeri-galeri. Memang kalau mengadakan pameran, dia memerlukan bahkan menerima peranan galeri. Dan pada kesempatan pameran demikian dia menjual lukisan yang dipamerkan di galeri itu, tetapi dia tidak pernah memajangkan karyanya di galeri untuk dijual. Sikap seperti itu terasa janggal apalagi bagi pelukis yang hidup di kota besar seperti Paris. Galeri dianggap sudah menjadi bagian yang sah dari kehidupan seni rupa. Di Indonesia, pelukis yang juga bersikap demikian terhadap galeri adalah Nashar. Persamaan yang lain antara Nashar dan Salim adalah keduanya sama-sama keras kepala. Mereka tidak hanya tidak peduli atas pendapat orang lain terhadap diri dan karyanya, melainkan juga tidak peduli bahwa akibat sikapnya yang keras kepala itu maka hidupnya sendiri secara relatif menderita.”

Salim menolak menjual karyanya ke galeri dengan alasan “galeri tidak ada sangkut pautnya dengan kesenian”. Salim telah mengajarkan soal menitikberatkan pembangunan seni rupa pada aspek jati diri dan karya. Pihak galeri harusnya setuju dengan pendapat Salim ini dan tidak memandangnya sebagai permusuhan. Apalagi jika ada galeri yang mengakomodir tujuan pergerakan kebudayaan yang lebih dari sekedar pameran karya lukisan, mungkin saja Salim akan mendukung. Kesenimanan, konsep-konsep pemikiran, khazanah intlektual, sejarah, penemuan, riset, kertas kerja, dll perlu dipublikasikan di galeri, bahkan jauh lebih berharga dibandingkan sekadar citra visual lukisan di atas kanvas.
 
Meski menolak menjual karya pada galeri, di sisi lain Salim perlu peran galeri untuk akses lebih luas. AR melihat tabiat aneh Salim ketika menolak lukisannya menjadi uang, padahal dengan uang tentu ada kesempatan membalas budi baik para tetangganya dengan bermangkuk-mangkuk sup panas yang boleh dinikmati bersama. AR menemukan Salim bertabiat keras kepala dan suka menafikan pendapat orang lain terhadap diri dan karyanya. Mudah dimahfumi baik Salim ataupun Nashar adalah si kaya-raya karena mensyukuri anugerah nikmat Tuhan, sehingga cerita sedekah sup panas bukan anti klimaks kesejahteraan, namun lebih kepada puncak kesadaran. Nampaknya Salim mirip tokoh tasawuf yang rela ikhlas menerima pendidikan langsung (ladunni) tanpa harus bertanggungjawab pada siapapun atas setiap tindakannya. Orang yang sebegini ini cendrung menjauh dari memohon harap pada makhluk. Justifikasi AR menyebutkan bahwa Salim menderita perlu dipertanyakan dan diselidiki, apakah benar demikian?

Dewanto dalam makalahnya (2015, hal. 01) pada Kongres Kesenian Indonesia (KKI Bandung, 2015) memaparkan bukti kegagalan pembangunan kesenian Indonesia; “... kurang-lebih di medan internasional, kita baru menjadi pemain yang pasif belaka. Kehadiran Indonesia masih terlalu tipis di gelanggang dunia, ini pun berkat “kemurahan hati” pihak pengundang dan bukan usaha pro-aktif para pihak di dalam negeri. Pada dasarnya kita masih menjadi “obyek”, langsung maupun tidak, dari kriteria yang dibangun oleh pihak pengundang. Ejek-ejekan semacam itu tentu mengandung kebenaran sendiri; semua lompatan ke dunia itu sporadis belaka, sebab memang tidak ada fundamen-penopang yang kokoh di dalam negeri. Apa boleh buat, pusat-pusat budaya baru di “dunia ketiga” maupun “dunia pertama”, yang harus membesarkan dan memperbaharui diri seturut kedigdayaan ekonomi dan/atau kekokohan “politik kebudayaan” masing-masing, memerlukan kahazanah-khazanah lain untuk mendukung kiprah-keputusan mereka.” Otonomi daerah di Riau seharusnya berdaya dukung kuat membangun peradaban kesenian Melayu. Seniman perupa Riau bersama pemerintah semestinya mampu mengorganisir alam seni rupa Riau jauh lebih baik dbanding Jakarta bahkan belahan dunia manapun. Kita tidak lagi bicara Singapura hebat karena galerinya menyimpan bergudang-gudang koleksi yang tertata baik, atau Jakarta dengan keangkuhan ala pusatnya, atau Eropa yang membanggakan kehebatannya setelah sejenak melupakan dari mana mereka dapat berdiri sombong seperti itu (kolonialisme?). Ada baiknya kita seolah-olah tidak peduli pada segala apa pun yang dibuat orang di tempat lain semisal binnale, art fair, ArtJog dll sebab Riau akan bernasib sama seperti Indonesia dalam tulisan Dewanto tadi.

Riau lebih kaya potensi dibanding Singapura si anak kecil dan muda belia itu, dan kita tidak patut menjadi pengemis pada orang kecil! Apabila konsep Seni Asia dijadikan kode wilayah dan dianggap nomor avant garde untuk kawasan Timur, lantas apakah kemudian seni Melayu hanya part of Asia? Apabila Tanah Jawa padat berisi seniman perupa sedangkan di Riau tak lepas dibilang dengan dua belah jari tangan, lantas apakah Jawa jadi sembahan? Sungguh kita tidak berkehendak mengukur hebat atau tak hebat. Cukuplah memahami fakta klaim Pak Tino Sidin yang arif mendidik seniman muda Indonesia dengan kata “bagus”. Seniman otodidak bahkan banyak yang lebih baik dibanding sarjana seni. Berapa juta sarjana seni rupa Indonesia yang mau menjadi tentara-tentara seni seperti dilakukan lebah? Apabila tahun 2016 ini seniman Riau hendak menegakkan seni rupa Melayu maka harus ada ratu (baca; bukan orang) yang dipelihara dengan kasih sayang. Kewajiban tertanggung pada setiap pundak para tentara seni Melayu dan segera berbagi tugas kerja masing-masing.

Bangsa Melayu memiliki sebilangan tokoh penasehat yang menyisakan ilmu berfaedah di lisan atau tertulis ke mushaf (manuskrip) agar terbaca oleh anak cucunya hingga ke hari ini dan masa datang. Mereka adalah para tuan syeh, tuan guru, sastrawan semisal raja Ali Haji, Tuan Syeh Zainuddin Tanah Putih, Tuan Syeh Abdul Wahab Rokan, Syeh Arsyad al-Banjari dll. Apabila mereka masih hidup tentu akan menyumbangkan nasihat bagi perupa Melayu kontemporer. Apabila para pelaku seni Melayu sudah faham, mari bekerja dan silahkan pemerintah menjadi promotor utama. Seniman yang masih tekun setia melenceng dari jalur ini? apa boleh buat dan apa hendak dikata lagi.

Bicara mengenai moralitas dan konsep berkesenian tidak perlu memuji teori Friedrich Wilhelm Nietzsche. Tak usah berhiya-hiya (berlebih-lebihan) membahas sepak terjang Suzan Sontag di USA jika hanya untuk menjelaskan cara melawan kezaliman. Kita punya sederetan tokoh pahlawan Melayu bermartabat sehingga bangsa Melayu tidak pernah menorehkan sejarah hitam kudeta rakyat dalam sepanjang sejarahnya. Jangan terlalu serius memaparkan teori generasi X, Y, Z yang akhirnya menggiring pola pikir kita ke jalur teori X, Y, Z, padahal jalur dua kitab kita ada. Bahkan ramalan Schwartz sama dengan cara kerja dukun meski dikatakan dia benar seperti ramalannya.

Silahkan ragu atau merendahkan pendapat ini yang senyatanya dikenal sejak dahulu kala. Keberhasilan acap kali lahir dari gagasan lazim (baca; biasa) yang cenedrung dicap bodoh oleh orang-orang pintar (akademikus) kontemporer. Seniman bersama elemen-elemen lain yang patut-patut perlu terus menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan media-mediasi dan menyikapi persoalan dengan ‘dua panduan’. Menyikapi kekinian lebih mudah dilakukan apabila generasi kini berkait dengan generasi pra-kini dan tentunya mustahil dilakukan oleh generasi mendatang. Jangan remehkan orang-orang muda yang mereka sadar waktu dan jangan semena-mena membandingkannya dengan tokoh-tokoh tua masa dahulu, sebab dua pihak ini bukan objek bandingan namun tiliklah sebagai potensi laras kait kemait dalam kekinian untuk bertindak baik-baik sesuai zaman.

“|07| Salim ketika muda pernah belajar melukis pada pelukis kubistis terkemuka Fernand Leger (1881-1955). Akan tetapi, kalau kita perhatikan lukisan-lukisannya yang sekarang, meskipun masih ada bekas-bekas pengaruh kubisme dalam membentuk citra, berlainan sekali dengan kubisme gurunya itu. Entah karya-karyanya yang awal pada 1930-an, namun dari karya-karyanya yang pernah saya lihat (yaitu karya 1940-an sampai dengan 2000-an) saya tak melihat persamaan dengan karya Leger. Yang menonjol ialah bahwa Salim melukis dengan gaya yang ditemukannya pada suatu saat yang kadang-kadang dipertahankannya untuk beberapa lama, tetapi tidak ada gaya yang secara konstan dipertahankan. ...”

Cukup dimaklumi bahwa murid tidak harus sama seperti gurunya. Salim sebaiknya tidak harus menjadi Fernand Leger. Siapapun dia akan terdidik dan dididik sebab menuai pengaruh di sepanjang perjalanan hidupnya, secara langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tiada disengaja. Seorang pelukis tidak perlu tunak diam di satu pondok atau istana kreatifitas selama hidupnya atau kemudian mengagung-agungkan singsana ciri khasnya yang sejati. Dari Salim kita belajar faham kebebasan berkarya tanpa harus terus merangkak-rangkak pada satu patron mapan. Sikap bebas itu mencerah bagai alunan api pelita nan tak kunjung padam, bukan ibarat cahaya listrik yang masif cahayanya.

Dalam paragraf ke-8, AR masih mencari “visualitas citra gadis-gadis cantik” dalam model surealisme karya Salim, sehingga muncul justifikasi AR “tidak ada yang benar-benar abstrak!”. Menanggapi ini maka ada rasa setujuku pada Hasan Junus (alm.) dalam ceramah tertutup dan intim kami bersama beliau di pagi Selasa 24 Juni 2008 sejak pukul 09 hingga pukul 11 malam. Hasan Junus bercerita tentang si F; “Jadi dia punya tokoh, a.. anu Jon, tokoh kawan ne Jon, tokoh F ini cube awak perhatikan, buktikan cite pendek die dari awal sampai yang akhir, saya baca, itu mustilah prempuan muda yang cantik. Sekarang saye mau tanye die. “F duduk kau kat sini! Ada suatu perempuan muda yang cantiknya sempurna 100 persen di pagi bulan April yang cemerlang, yang satu lagi ada prempuan..., tadi umurnya 17 taun. Sekarang, ade prempuan tue! yang tidak cantik, umur tuju puluh satu taun, ya! a... a, di satu pagi bulan April yang sama cerahnya. Siapa yang punya banyak cerita? Perempuan tua tujupuluh satu taun atau prempuan mude tujubelas taun yang punye menyimpan cerita. Cube ngkau jwab, jangan kau jawab dengan lidahmu! jwab dengan hatimu.” Jadi, kalau seluruh cerite hadir dengan tokoh, dengan tokoh prempuan muda... dan prempuan cantik, kau tak tidak masuk ke dunia sastra, sebab Marghret (Margareth) dimulai dari cerita, Marghret isnot biutiful. Marghret tidak canti...k!”

Mulailah kini memahami cantik tak cantik, soal cerita atau ilusi, soal fakta atau fake, soal realita atau kebohongan, yang semua ini juga ada dalam karya-karya lukis. HJ hendak menyampaikan bahwa cantik tidak selamanya, muda pasti berganti tua, cantik dan tidak cantik relatif, tidak ada orang cantik 100 % sebab ada yang cantik matanya atau bibir dan atau pada anggota tubuh lain, atau hatinya. Tentulah wanita tua yang patut berbagi cerita pada yang muda. Ucapan HJ ini mustahak dijadikan bekal seniman Melayu.

“|10| Salim juga banyak membuat lukisan yang berdasarkan Cerita Seribu Satu Malam. Dia memang pencinta sastra, terutama puisi. Pada masa Perang Dunia II, dia banyak membuat hiasan untuk berbagai buku karya sastrawan terkemuka Prancis dan dunia seperti Guy de Maupassant, Henri de Montherlant, Arthur Rimbaud, Guillaume Apollinaire, Paul Verlaine, Andre Gide, John Steinbeck, dan Baba Tahir, yang hasil penjualan bukunya digunakan untuk membiayai perlawanan terhadap pendudukan Nazi Jerman. Untuk membaca puisi dalam bahasa aslinya, Salim mempelajari bahasa yang bersangkutan. Maka selain dari bahasa Prancis, Belanda, Inggris, Jerman, Spanyol, dia juga menguasai bahasa Katalan, dan lain-lain. Pada tahun-tahun akhir hayatnya dia sedang belajar bahasa Arab. Pada lukisan-lukisan yang dibuat setelah tahun 2000 ia sering menandainya dengan huruf Arab, Sin, Lam, Mim. Hanya ketika menulis titimangsa dia mengira dalam bahasa Arab angka tahun disusun dari kanan ke kiri juga!”. Cerita Seribu Satu Malam menjadi inspirasi Salim terkait nasab abahnya keturunan Persia. Kecintaan pada sastra sebab darah emaknya Melayu. Kekariban Salim dengan sejumlah tokoh pergerakan di Eropa menjadi fakta sepak terjang sang Melayu keras kepala ini di negeri asing untuk lepas bebas dari mempelajari bahasa-bahasa asing menunjukkan sisi intlektualnya.

Adalah satu hal yang aneh ketika Ar menyebut Salim dhoif soal menulis standar angka tahun Arab. Metode penulisan angka tahun pada karya lukis tidak perlu ketaatan pada standar penulisan. Leonardo Da Vinci menulis menggunakan teori efek cermin. Mengapa Da Vinci boleh melenggang bebas dipuja-puja sedangkan Salim harus menyandang gelar dhoif? 

|11| ... ada beberapa hal yang tak mau diketahui oleh umum. Yang pertama nama orang yang mengangkatnya sebagai anak ...” |12| Tampaknya terjadi pertengkaran antara Salim dan orang tua angkatnya ketika dia tidak lulus ujian keluar Gymnasium. ... Dia pergi ke Paris untuk belajar melukis. Ketika orang tua angkatnya meninggal, warisannya jatuh kepada Salim ... tetapi oleh Salim seluruhnya diserahkan kepada rumah yatim piatu, padahal ketika itu hidupnya sebagai pelukis masih senen-kemis.”  |13| ... Dia pernah menceritakan hal itu ketika diinterviu Henri Chambert-Loir untuk buku Rantau dan Renungan I, tetapi setelah interviu itu ditulis oleh Henri, dan diperlihatkan kepada Salim, dia minta kepada Henri agar bagian itu dibuang. Juga rekaman interviu itu harus dihapus. |14| Kepada saya juga dia pada mulanya selalu menyembunyikan Helene, ... Setiap kali saya datang berkunjung, Salim hanya sendirian. ... saya menerima surat dari Salim yang menerangkan bahwa selama ini dia tidak mau mempertemukan Helene dengan saya karena pernah ketika sedang berjalan-jalan dengan Helene bertemu dengan tiga diplomat Indonesia yang memberikan komentar bahwa “istri Pak Salim kulitnya seperti kulit babi”. ..

 Sejak itu dia “menyembunyikan” istrinya terhadap orang Indonesia.” Sejarah Salim perlu ditelusuri ulang lebih mendalam dan (buku) AR cukup representatif dijadikan rujukan utama. Catatan-catatan dalam katalog pamerannya atau tulisan orang tentang Salim di dalam negeri maupun di Eropa perlu dibaca ulang.

|15|... Ketika pada 1931 dia pulang sebentar (sampai 1935) ke Indonesia untuk membantu Sutan Sjahrir dan Moh. Hatta dalam kegiatan partai Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru), waktu liburan dia pergi ke Sumatra Barat menemui keluarga Tanzil (orang tua Djohan Sjahrusjah dan Hazil Tanzil yang aktif dalam PNI Baru). ... Sebagai pelukis di Paris, Salim tidak termasuk pelukis besar. Dia sendiri membagi pelukis yang hidup di Paris yang jumlahnya puluhan ribu orang itu ke dalam kelompok pelukis besar (grands maitres ...), pelukis penting (maitres, ...), pelukis dikenal (petit maitres) dan pelukis hampir dikenal yang jumlahnya beberapa ratus orang. Salim sendiri menempatkan dirinya dalam kelompok itu. ... Salim jelas lebih tua daripada Affandi, Hendra Gunawan, S. Sudjojono, dan angkatan Persagi, tetapi karena dia selalu hidup di Paris, dan jarang sekali mengadakan pameran di tanah air, namanya kurang diketahui para kolektor. Meskipun sebagian karyanya ada yang dikoleksi orang di Indonesia, kebanyakan berada di Eropa. Bagi mereka yang hendak menyusun sejarah seni rupa Indonesia, untuk menulis tentang Salim lebih teliti, perlu menelusuri lukisan-lukisannya yang tersimpan di tangan kolektor di Belanda, Prancis, Belgia, dan negara-negara Eropa lain. Niscaya hal itu bukan pekerjaan yang mudah.”

Kesimpulannya, bangsa Melayu perlu mengangkat nama dan kearifan Salim untuk pondasi membangun peradaban seni rupa dan berkesenian di tanah Melayu. Bila Salim menyebut dia hanya masuk bilangan petit maitres, kita masukkan dia ke kelas Akuan Melayu. Salah satu upaya yang sebaiknya dilakukan adalah menulis ulang sejarah Salim dan mendeteksi keunggulan karya-karya beliau untuk memulai langkah baru kita yang sedang menggeliat untuk bangkit. Salam Seni Rupa.**


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Follow Us