OLEH DESSY WAHYUNI

Kritik Sastra Riau: Geliat dan Krisis (Bagian 2)

5 Juni 2016 - 00.19 WIB > Dibaca 1796 kali | Komentar
 
Kritik Sastra Riau: Geliat dan Krisis (Bagian 2)
APRESIASI sastra dapat diartikan sebagai langkah untuk mengenal, memahami, dan menghayati karya sastra.  Setelahnya,  diharapkan apresiator dapat menghargai karya sastra yang dinikmati secara sadar. Proses  awal apresiasi sastra itu adalah menggauli karya sastra secara langsung dengan cara membaca, mendengar, dan/atau melihat (pementasan) karya sastra. Menggauli karya sastra dengan sungguh-sungguh  akan memberikan pengertian, pujian, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap karya sastra tersebut. Melalui penggaulan seperti ini, seorang apresiator akan terlibat secara langsung secara emosional, intelektual, maupun imajinatif sehingga mampu menjelajahi medan karya sastra yang diapresiasinya itu.

Apresiasi sastra juga dapat dilakukan dengan menggauli karya sastra melalui pendekatan teori, kritik/esai, dan  sejarah sastra. Teori sastra, misalnya, dapat digunakan untuk membantu pemahaman atas konsep-konsep, kriteria, batasan-batasan, fungsi, dan metode telaah sastra. Kritik dan esai sastra dapat digunakan sebagai penambah wawasan serta pembanding bagaimana cara orang lain memberi pertimbangan baik-buruknya karya sastra. Sementara itu, sejarah sastra dapat dimanfaatkan untuk membantu pemahaman sastra dari sisi yang lain, seperti perkembangan dan konsep-konsep dasar periodisasi, serta aliran sastra.
Sebelum melakukan apresiasi, umumnya seseorang memilih bentuk karya sastra yang disukainya, misalnya prosa, puisi, atau drama. Kesukaan itu akan berlanjut pada upaya seseorang untuk mengetahui dan memahami lebih dalam karya yang dipilihnya. Sebuah karya sastra dapat disukai dan digemari seseorang karena karya tersebut dapat memberi kesan tersendiri dan menimbulkan empati bagi penikmatnya. Lantas, mengapa masih terjadi krisis apresiasi sastra?

Ketidakseimbangan karya sastra dan apresiasi/kritik sastra seperti ini tentu saja memprihatinkan. Kehidupan sastra seakan sepi dan tidak ada pergolakan, bahkan bisa dikatakan berjalan di tempat. Karya sastra hanya menjadi perbincangan para sastrawan yang selesai di ruang itu. Mereka sudah puas dengan apa yang dihasilkan, bahkan tidak jarang pula mereka bertabur sanjung puji. Akibatnya, karya-karya berserakan, tetapi tidak ada karya yang menjadi fenomenal. Karya-karya yang hadir itu terasa hambar tanpa roh.

Tidak dapat dimungkiri, karya dan apresiasi/kritik sastra bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Agar karya-karya yang dihasilkan itu memiliki kualitas yang mumpuni, para pengarang perlu disentak dengan adanya apresiasi dan kritik terhadap karya yang mereka hasilkan. Dengan demikian, perlu adanya apresiator yang kemudian menjadi kritikus membahas dan mengkritisi karya sastra yang berlimpah ruah tersebut. 

Kita lihat saja Chairil Anwar yang muncul sebagai pembawa obor sastra Indonesia yang melahirkan Angkatan 45. Pada saat itu, nama Chairil Anwar tidak pernah terdengar. Lalu, H.B. Jassin membuat pengakuan terhadap sajak-sajak Chairil Anwar, sehingga nama Chairil Anwar melangit.

Apresiator bertugas menilai karya yang bermunculan tersebut. Dalam menilai karya sastra (dengan menunjukkan kelebihan dan kelemahannya) harus objektif: menunjukkan kelebihan dan kelemahannya secara berimbang. Artinya, kritik sastra bukanlah untuk menghakimi sebuah karya, bukan juga untuk mematikan kreativitas pengarang. Dengan adanya penilaian ini, tentu saja para sastrawan akan lebih serius dalam mengasilkan karya, sehingga terlahirlah karya yang memiliki roh (dengan isi yang serius, latar yang jelas, penokohan yang kuat, plot yang dibangun secara matang, dan konflik yang telah diatur sedemikian rupa).

Apresiasi sastra juga mengasah kemampuan pembaca/penikmat karya dalam menganalisis, sehingga apresiator menjadi peka terhadap lingkungan. Dengan menganalisis karya sastra, apresiator akan menemukan nilai-nilai yang terkandung dalam karya itu. Nilai-nilai inilah yang konon dapat membentuk watak dan kepribadian seseorang. Dengan mengapresiasi karya sastra (yang menelaah makna dari tiap kata di dalam karya), seseorang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, spiritual, dan sosial. Karya sastra memiliki pesona tersendiri bila dibaca dengan saksama. Karya sastra dapat membukakan mata pembaca untuk mengetahui realitas sosial, politik, dan budaya dalam bingkai moral dan estetika.

Agar krisis serta kesalahkaprahan kritik (apresiasi) sastra tidak terus-terusan berlangsung, Maman S. Mahayana melalui bukunya yang berjudul Kitab Kritik Sastra (Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015) yang diluncurkan di Kampus FIB, Universitas Indonesia, mengimbau semua penulis untuk tidak ragu-ragu membuat kritik sastra, bagaimanapun bentuknya. Menurutnya, kritik sastra dapat dibedakan dalam dua bentuk, yakni bentuk umum yang biasa dilakukan oleh kritikus yang berbasis pengalaman (seperti yang dilakukan Sutan Takdir Alisyahbana dan A. Teew). Sementara, bentuk kritik sastra yang kedua adalah kritikus akademis yang bertolak dari ilmu sastra.

Maka, mengapa masih ragu menulis?***

Dessy Wahyuni, peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us