SAJAK

Sajak-sajak Acep Syahril

5 Juni 2016 - 00.22 WIB > Dibaca 1368 kali | Komentar
 
guru yang selamat dari perang

kamu sendiri tidak tau bentuk dahimu guru dahi yang
pernah kau tawarkan pada kami yang
kemarin dipermainkan
angin seperti bau jari-jari tangan kami yang berubah-ubah
walaupun sebenarnya kami pernah tau
tentang tubuhmu
yang kurus kecil itu tapi apakah kamu masih ingat saat
kami memungut harapanmu pagi itu harapan yang kamu
propagandakan melalui perang tentang bagaimana cara
mencintai kami setelah bertahun-tahun guru kami terdahulu
dengan terang-terangan mengencingi alis mata kami alis mata
yang di dalamya menyimpan bunga kangkung genjer dan
kembang bayam yang cantik namun menurut mereka tidak
pantas untuk ditaruh di jambangan

ah sungguh menyakitkan kamu sendiri tidak tau bentuk punggung
telingamu guru tapi sebagai murid yang ingin belajar cara
membersihkan sisa makanan di sela-sela rambut ini
kami akan sabar menunggumu sampai kau bisa memotong
kumismu agar kami tau apakah engkau juga meminum kopi
yang sama seperti kami cepatlah bergegas guru kami sudah
tidak sabar melihat kau bermain cengkeling dengan kuju dari
sepatu para menteri dan sepatu para
legislatif yang bau itu
agar kami tau bagaimana mereka membuat arsiran di petak-petak
politik yang mereka bicarakan saat orang-
orang
membungkus harapan


tidak ada yang aneh dari keyakinan gurumu itu

tidak ada yang aneh dari perubahan ciri
kumis dan jenggot
yang dicukur gurumu itu apa lagi dengan
beberapa tanda
bulatan hitam di keningnya demi
merendahkan satu
keyakinan akan keberadaan tuhan di sebelah kiri urat
leher mereka sejak adam merubah wujudnya dari tanah
hingga kemudian kembali ke tanah sebagai keyakinan yang
tak tergoyahkan namun menjadi kontradktif dan lucu ketika
tuhan mereka bilang mengizinkan
meledakkan diri di jalan

tidak ada yang aneh dari keyakinan dan
keseriusan
gurumu itu demi menghancurkan satu
keyakinan yang
populer dengan menggendong tuhan
kemana-mana untuk
meyakinkan bahwa tuhan dan syurga telah menjadi jihad
dalam hidupnya

tidak ada yang aneh ketika adonan amonium nitrat
nitrogliserin trinitrotoluene black powder dan anfo
itu melilit di tubuh gurumu lalu
meledakkannya diantara
kursi meja ovis boy pedagang bakso tukang ojeg pengantar
bunga atau resepsionis hotel yang lebih
memahami anatomi
tuhan dalam tubuhnya yang terbelah

lalu kaupun bertanya untuk apa guru
menumbuhkan
kumis dan jenggot sebegitu lama kalau hanya untuk jihad
dengan meledakkan tuhan yang ada
digendongannya

kini gurumu itu telah sampai entah dimana di syurga atau
di neraka tapi tidak ada yang aneh dari
perubahan ciri
kumis dan jenggot bekas dicukur itu atau
bulatan hitam
di keningnya sebagai jasad yang dianggap
telah membusukkan
satu keyakinan
padahal mereka tahu tuhan tidak serumit yang gurumu fahami


belajarlah dari urat dan jantung gurumu yang pecah itu

kau harus selalu belajar dari guru-gurumu yang setia ini agar
kesetiaanmu bisa lebih dari mereka
menunggu sampai datangnya
sakratulmaut tanpa harus membuat perjanjian seperti mengirim
petaka melalui kantor pos terdekat dengan
paket khusus yang
tak pernah kau ketahui alamatnya sampai
kemudian kau terbaring
diantara lorong-lorong darah yang ramah dan pusat-pusat kota
yang tak lagi mengalirkan geriap air jiwa

pusat-pusat kota yang sejenak kau lupa sejarah ayah ibunya
ayah ibu yang tidak pernah mengajarkan
kedzoliman di dalamnya
jadi kau harus selalu belajar dari guru-gurumu yang setia ini agar
kau mengerti bagaimana waktu selalu
menghindari kedzoliman
jadi kau tak perlu memaksakan diri untuk meruntuhkan atmosfir
waktu kekuasaan atau peristiwa hidup dan mati yang tidak pernah
kau ketahui bagaimana tuhan menciptakan pusat-pusat kota
dan lorong-lorong darah yang bertolak ke air jiwa

Acep Syahril, lahir di Desa Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, 25 November 1963. Tulisan-tulisannya berupa tinjauan puisi pernah dimuat di sejumlah surat kabar. Puisi-Puisinya selain dibacakan di tempat-tempat umum, juga tergabung dalam sejumlah buku kumpulan puisi penyair Indonesia dan Asia Tenggara, seperti: Mimbar penyair abad 21 (1996), Muaro (Dewan Kesenian Jambi, 1996), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung 1996), Zamrud Khatulistiwa (Yogyakarta 1997), Hitam Putih (Penyair ASEAN,  2013 Sabah), dan lain-lain.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Follow Us