OLEH LATIF FIANTO

Cerita Seputar Rumah Tanpa Tangga

5 Juni 2016 - 00.25 WIB > Dibaca 2215 kali | Komentar
 
Cerita Seputar Rumah Tanpa Tangga
Lelaki itu tidak bisa tidur. Di dalam ruang yang pengap, udara menggigil. Dua ekor tikus saling kejar, lantas hilang di kelokan. Malam yang menggetirkan. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Itu adalah waktu yang panjang, panjang, sungguh sangat panjang...

Pagi tadi, ia berdiri memandangi teras rumahnya yang nyaris roboh. Teras rumahnya itu telah renta ditelan usia. Seperti juga dirinya yang mulai memasuki usia senja. Kulit-kulit di tubuhnya mulai mengerut. Ia membayangkan, kelak ketika berkubur di dalam tanah, takkan ada yang tersisa dari tubuhnya. Seperti rayap, ulat akan berpesta menelan daging tuanya.

Ia berdiri di halaman rumah yang luasnya tidak seberapa. Langit masih biru. Kosong.
Istrinya duduk di sebuah kursi lapuk di samping muka pintu, menegurnya lemah.

“Kapan teras rumah ini akan diperbaiki? Rumah ini harta satu-satunya yang kita miliki.”

Ia diam. Tak ada kata-kata untuk menjawab pertanyaan istrinya. Kerongkongannya mendadak kering.

Setiap tanya mestinya harus berakhir dengan jawaban. Masalahnya, satu pertanyaan terkadang tidak cukup hanya dengan satu jawaban. Karena itu, ia tidak begitu berminat menjawab pertanyaan istrinya. Di dunia ini, setiap orang selalu mudah melontarkan tanya dan sedikit sekali yang berusaha mencari jawaban.  

Angin berdesir. Awan bergerak, tipis sekali, lantas langit kosong kembali.

“Tetangga kita sudah empat kali memperbaiki rumahnya, sementara kita, dari pertama kali membangun hingga rumah ini menunggu ajal, tetap saja kita tidak mampu memperbaikinya.”
Perempuan bermata kelinci itu melirik rumah mentereng yang terletak tujuh kaki di sebelah rumah tuanya. Perempuan itu terus berbicara, kali ini dengan dirinya sendiri.

Lelaki itu menyeret langkahnya ke luar dari halaman. Sebetulnya tidak tepat untuk dikatakan keluar, karena halaman rumah itu tidak berpagar, tidak memiliki pintu gerbang mirip istana orang-orang terpandang. Ia berpikir, untuk disebut halaman, tidak perlu berupa halaman luas, berpagar beton, berpintu dan dijaga oleh dua orang satpam, yang bergantian siang dan malam. 

Ia berjalan. Tangan kanannya dimasukkan ke dalam saku, memeriksa apakah empat lembar uang ratusan ribu itu masih di sana. Dengan uang itu, ia berharap beberapa papan kayu mampu dibelinya. Ia masih berjalan saat seorang remaja berseragam putih dongker melintas dengan sepeda motor yang suara knalpotnya mirip kaleng seng berisi uang logam yang diayunkan. Begitu keras sampai gendang telinganya serasa mau pecah. Remaja itu begitu tergesa sampai lupa membunyikan klakson.

Langkah lelaki itu terhenti. Tubuhnya berguncang menahan batuk yang menggerogoti dadanya. Sederet pohon bambu di seberang jalan yang dipisah oleh aliran sungai kecil berderit. Angin menggesek, mendesis, menggoyang pepohonan. Daun-daunnya melayang jatuh menabrak wajahnya yang muram. Lantas terkulai lemah di atas tanah. 

Ia melanjutkan langkah. Seorang lelaki penjual arum melintas. Terdengar bunyi dari sebuah alat yang dipanggulnya. Digesek. Sulit untuk dikatakan sebagai nada yang bernotasi. Setiap hari tidak ada yang baru. Nada itu begitu-begitu saja dari waktu ke waktu.

Bunyi alat itu membuatnya meloncat ke masa lalu, pada wajah kedua anaknya yang cerlang begitu mendengar bunyi itu.

“Pak, aku mau beli itu.”

“Aku juga, Pak, yang banyak.”

“Aku dua, Pak.”

“Aku juga.”

Demi mengingat kembali kerenyahan tawa anak-anaknya, ia memanggil lelaki penjual arum itu. Ia meminta lelaki si penjual arum menggesek alat yang serupa biola di tangannya. Dengan begitu, ia bisa meraba wajah anak-anaknya. Tapi si penjual arum menolak karena lelaki yang memintanya enggan untuk membayar. Lelaki si penjual arum pergi.

Ia terus berjalan. Ia berjalan menuju ujung yang tidak diketahui. Jauh di dalam hatinya, ia menginginkan kabar dari kedua anaknya, yang sudah lima tahun tidak pernah berkunjung ke rumahnya kembali. Kedua anaknya merantau ke luar kota sejak usia 19 tahun, selepas lulus SMA. Anaknya yang pertama berjanji akan mengejar mimpinya di kota rantau. Bersekolah yang tinggi, lalu saat waktunya tiba, akan mempersembahkan keberhasilan. Anaknya yang kedua lebih memilih untuk bekerja, juga di kota rantau. Aku akan mempersembahkan rumah untuk ibu dan ayah, katanya saat pamit pergi. 

Alih-alih mempersembahkan keberhasilan, mereka terlebih dahulu telah mengabarkan kecelakaan percintaan. Anaknya yang pertama telah menikah sebelum mengenakan toga tersebab telah menghamili seorang gadis sebelum waktunya. Anaknya yang kedua kepincut anak seorang penjual tahu lontong, yang selalu digodanya saat makan malam selepas pulang kerja. Janjinya untuk membelikan rumah tidak terbayar, bahkan mempersembahkan cucu yang setiap lebaran merengek minta uang jajan.

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang lelaki tua seperti dirinya? Di usianya yang sudah senja, ia hanya menginginkan satu hal, memperbaiki rumahnya. Benar kata istrinya, rumah itu adalah harta satu-satunya, yang ia bangun dari keringatnya sendiri, sebagai syarat mempersunting perempuan yang telah mencium bau tubuhnya selama 35 tahun itu. Siapa tahu, esok lusa, atau kelak pada waktu yang tidak diketahui, kedua anaknya berkenan kembali ke rumah itu.

Sejatinya, hidup berawal dari ketiadaan dan kembali pada ketiadaan. Daun yang berguguran, dihempas angin, jatuh terjerembab di atas tanah, mengering, lantas lenyap ditelan tanah. Lenyap selenyap-lenyapnya. Di reranting, di mana daunnya telah gugur, akan tumbuh daun lain yang baru. Lalu esok akan mengalami hal serupa, melayang ditiup angin sebelum akhirnya jatuh di atas bumi, entah di sudut yang mana.

“Marjo, kulihat kamu melamun saja dari tadi,” suara berat seorang lelaki terdengar menegur dirinya.

Ia menoleh. Ia baru sadar kalau ternyata dari tadi sedang melamun.

“Mampir ke sini sambil menikmati kopi pagi!”

Hatinya tergerak untuk memenuhi lambaian tangan lelaki yang menegurnya. Ia masih belum tahu ke mana hendak membeli kayu sampai tetangganya itu menegur dan menawarinya segelas kopi. Ia berbelok arah. Sepertinya, segelas kopi hangat di awal pagi cukup nikmat untuk menyambut matahari.

Ia duduk di teras rumah tetangganya itu. Dilihatnya tumpukan kayu berlapis-lapis di samping halaman. Lelaki berkumis tebal yang memanggilnya tadi menggeluti bisnis kayu. Ada berbagai macam kayu yang dijual. Mulai dari kayu jati, kayu meranti, kayu cendana, kayu mahoni, kayu ulin, kayu sengon, kayu merbau dan beberapa jenis kayu lokal lainnya.

“Kamu kenapa? wajahmu seperti baju yang baru selesai dibilas,” ujar lelaki itu dengan suara menggelegar.

Ia menoleh. Lantas berujar pelan seusai menicipi kopi yang ada di atas meja.

“Sudah beberapa tahun ini kedua anakku tidak tertarik lagi berkunjung ke rumah.”

“Kenapa?”

Ia menggeleng pelan. “Mungkin karena rumahku yang tidak menjanjikan keindahan, apalagi terasnya sudah nyaris roboh, hanya menunggu waktu untuk melihat atapnya menyentuh tanah.”
Lelaki di sampingnya itu terkekeh.

“Itu kan masalah gampang.”

“Gampang bagi yang berduit, tapi tidak bagi yang kere.”

Kalau sudah menyangkut masalah uang, ia memang selalu sensitif. Uang selalu bisa berbicara banyak, bahkan untuk hal-hal yang tidak mungkin. Penetapan peraturan selalu lancar bila diberi pelicin dengan uang. Pejabat korup selalu bisa jalan-jalan keluar negeri bila penegak hukumnya sudah ditimpuk dengan uang. Orang-orang di balik jerusi besi masih bisa berpesta obat-obat terlarang lantaran mata petugasnya dibuat biru dengan uang. Selembar uang sudah cukup untuk membuat mata setiap orang biru sebiru-birunya. Seolah tidak ada lagi yang lebih biru dari paling birunya uang.

“Kita kan tetangga, orang pertama yang akan membantu kalau tetangganya terkena musibah,” bisik lelaki itu dengan suara tanpa beban.

“Jadi?”

“Kalau butuh kayu untuk memperbaiki rumahmu, aku bisa membantu. Aku punya beberapa papan kayu yang baru didatangkan dari luar kota.”

Ia sedikit terperangah, sekaligus bingung bercampur curiga. Ia tidak menduga, saat ini masih ada tetangga yang begitu baik, yang dengan mudahnya mau membantu tetangganya yang dilanda susah. Walaupun hidup di kampung, ia tetap berada di pinggiran kota. Tepatnya, kampung di pinggiran kota. Ia tahu sendiri kehidupan orang-orang di sekelilingnya, satu sama lain harus saling menyikut demi bertahan hidup. Sesama tetangga, bukanlah alasan untuk tidak saling menikam.

“Ya bukan memberikan secara cuma-cuma, tapi menjualnya dengan harga murah, hanya kepadamu. Ya walaupun sesama tetangga, kalau membantu kan harus sesuai kemampuan.”
Ia masih diam. Beruntung tadi ia tidak langsung memasang wajah bahagia.

“Aku bisa memberimu harga lima ratus ribu untuk sepuluh papan kayu pohon jati, itu sudah harga murah, apalagi kita tetangga.”

Ia masih saja diam. Jujur saja, uang di sakunya tidak cukup. Belum lagi belanja semen, pasir, batu dan tetek bengek lainnya.  

“Bagaimana?”

“Masih terlalu mahal, uangku tidak cukup.”

“Adanya berapa?”

“Empat ratus ribu, bagaimana?”

Ia merogoh uang di saku, dan meletakkannya di atas meja.

Lelaki di sampingnya itu memilin kumis hitamnya.

“Sebetulnya itu terlalu murah. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai tetangga harus saling membantu, bukan?”

Ia diam. Tangannya yang berwarna gelap meraih dinding gelas. 

“Nanti sore biar anak buahku yang mengantar kayu-kayu itu ke rumahmu.”

Ia mengangguk. Di bibirnya mengembang senyum kecil. Sedikit menunjukkan raut kebahagiaan. Lelaki di sampingnya itu mengambil uang di atas meja, lantas memasukkannya ke dalam saku.

Selesai menikmati segelas kopi hitam itu, ia pulang. Di halaman, ia menatap teras rumahnya sebentar, lantas masuk ke dalam rumah. Bercerita kepada istrinya, lantas tumbuh harapan indah di dada keduanya.

Sore hari, selepas adzan Ashar berkumandang, sepuluh papan kayu sudah berada di teras rumah, di dekat dinding.

Sebelum matahari surup, ia telah mempersiapkan segala peralatan untuk memperbaiki teras rumahnya, saat tanpa disadarinya, tiga orang bertubuh tegap mengenakan seragam abu-abu gelap berdiri di sampingnya.

Ia berdiri. Terkejut. Mukanya pucat seperti kapas. “Ada yang bisa dibantu, Pak?”

“Maaf, atas dugaan sebagai penadah kayu jati ilegal, bapak Marjo kami tangkap.” seorang pria berbadan tegap yang mungkin sebagai pimpinan atas penangkapan tersebut berujar mantap.

Lelaki itu, lidahnya mendadak kelu saat dua pria lainnya telah memegang tangan dan memborgolnya, tanpa surat perintah penangkapan, penyidikan atau surat pemanggilan. Ia digelandang masuk ke dalam sebuah mobil berwarna gelap dan diputuskan meringkuk di balik jeruji besi sepuluh tahun lamanya. Sebagai bukti, mereka membawa serta sepuluh papan kayu jati itu.

Istrinya yang mula-mula begitu bahagia, muncul di depan pintu rumah. Berteriak-teriak memanggil suaminya, lantas jatuh terduduk meneteskan air mata. Di dalam mobil yang membawanya pergi, lelaki itu menyadari, ia tidak akan pernah bisa memperbaiki teras rumahnya.***
 

Latif Fianto, lahir di Sumenep, tulisan cerpen dan esainya dimuat di beberapa media massa, saat ini tinggal di Malang, bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan.

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us