SAJAK

Sajak-sajak Kamil Dayasawa

5 Juni 2016 - 00.36 WIB > Dibaca 1343 kali | Komentar
 
Langngo

Busur fajar lesatkan merah mimpi ari-ari
Langit bernyanyi bangunkan burung
di tangkai mahoni
Secangkir kopi panas hangati sengak napas
Leburkan cemas dalam pekat hitam ampas

Ke halaman pandang mataku tertuju
Kerikil kecil dalam dekapan tanah pasir
Di tangan lapang nasib burukku berseru
Kucurkan air meski tak punya tanah lahir

Daun-daun kering lepas dari ranting
Gembala menggambar pagi di mata sapi
Petaka dan bala semoga susut di siur angin
Jadi kata sakti bergema di jantung hari

Aku lelaki jangan larang menembang pagi
Sebab bila esok kau dengar
kokok ayam lantunkan nyeri
Itu berarti telah tiba saat menabur

Aku menghambur ke hamparan tanah gembur
Kau bergegas nyalakan api dalam dapur
Jiwaku-jiwamu satu rangka dan pintu
Tertutup dari segala luka dan pilu

Pucuk-pucuk daun mangga mengelus lembut buah pepaya
Di bawahnya keruyuk ayam jantan memanggil betina
Sambut-menyambut suara kita antara tungku dan beranda
Bagai sepasang gema dari dua bukit purba

Batang-Batang, 2016



Aku Berhasrat Hanyut dalam Lautmu

Aku berhasrat hanyut dalam lautmu
Mendayung cemas nasib nelayan
Larungkan perahu batin ke pusar gelombang
Hingga riap sirip ikan meriak darah Batang-Batang

Berdepa-depa pantai putih bumikan tangis kasih
Anak-anak pasir mengejar angin sampai jauh
Bermuka-muka kau dan aku memadu perih
Berselempang badai seberangi samudra teduh

Kibar layar pada tiang sampaikan salam pasang
Aduh suaramu bergema pilu di lambung sampan

Bulan karam jadi jangkar
O, keriuhan bandar!

Masih adakah pancang untuk tambatkan tambang
bagi pelaut yang diburu rasa takut
Sedang di atas laut jiwanya terus bergelut?

Batang-Batang, 2016


Tenung Lamaran

Tetaplah dekat biar cemasku lindap
Berapa hari sudah mataku memandang dinding kusam
Mencari bentuk wajah yang semakin buram
Musim penghujan datang membawa segumpal kabut
membuat cahaya mata kian redup
Seperti lampu minyak di tiang penyangga
ditiup udara malam tua, bayang-bayang sirna

Aku terperangkap jauh di puisi pulau
sendiri dikepung suara desau
Menunjuk satu bintang, bulan menghadang
Ombak pantai menakutiku lewat deru tak
berhulu

Sedang dermaga lengang jiwa penyair
Melarangku bersentuhan dengan air

“Laut ini dalam, tajam karang di dasar
Serupa tangan bajak laut,
merenggut setiap yang takut,” katanya.

Sucia, pernahkah kau dengar cerita moyang
ihwal tenung dan penantian?
Kadang aku merasa semua hanya dongeng dusta
untuk membuat kecut hati para bocah
Bahkan aku menolak percaya pada semua tanda
bahwa bintang neggala jangkar semesta

Meski ternyata ada yang lupa kubaca dari riwayat
tentang Musa dan tongkat
Fir’aun penguasa padang pasir
yang bersukutu dengan sihir

Maka tetaplah dekat, Sucia
biar bisa kubenturkan duka
ke tubuh pejalmu. Kutenggalmkan dalam
ciuman panjang di bawah sinar temaram
Karena sungguh kau pelabuhan
Bagiku—pelayar sunyi bersampan puisi.

Piyungan, 2016


Kamil Dayasawa, lahir di Sumenep, 05 Juni 1991. Alumni TMI. AL-AMIEN PRENDUAN, Sumenep. Kini mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya-UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Puisi-puisinya dipublikasikan di media cetak lokal dan nasional.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 08:49 wib

Mulai Kesulitan Cari Dana Talangan

Kamis, 20 September 2018 - 08:39 wib

Harga Beras Premium Masih Tinggi

Kamis, 20 September 2018 - 08:22 wib

Teliti Baca Syarat Lowongan CPNS

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Follow Us