KONSER MUSIK KLASIK AKMR

Yang Klasik, yang Energik

12 Juni 2016 - 01.01 WIB > Dibaca 825 kali | Komentar
 
Yang Klasik, yang Energik
Konser musik klasik yang tak biasa dimainkan secara apik, memukau dan energik. Pekan lalu, gedung Anjung Seni Idrus Tintin (ASIT) menjadi saksi kepiawaian para musisi muda yang lahir dari lumbung Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).

MEMANG bukan konser biasa. Memang baru pertama kalinya. Tak heran jika konser musik klasik yang dipersembahkan 51 mahasiswa jurusan musik Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR), Sabtu malam (4/6) di gedung ASIT itu menjadi tujuan pecinta music klasik. Gedung itu pun penuh. Penonton melimpah. Satu jam menjelang pertunjukan dimulai, penonton berderet mengisi buku tamu di lobi gedung ASIT. Sedangkan kursi-kursi di dalam gedung, sebagiannya sudah terisi.

Panggung masih tertutup rapat. Layar hitam menutup batas pandang penonton yang terus berdatangan. Di belakangnya, kesibukan dan keriuhan sedang berlangsung, seluruh mahasiswa yang terlibat dalam konser tersebut sedang bersiap. Mereka mencoba dan mengulang lagu-lagu yang akan dibawakan dalam gesekan alat-alat musik masing-masing. Ketua Jurusan Musik AKMR, Idawati, juga terlihat sibuk. Mereka bersiap, serius mempersembahkan yang terbaik.

Kunaifi adalah salah seorang penonton yang hadir malam itu. Ia terlihat serius. Sepertinya sudah tak sabar ingin menyaksikan pertunjukan musik klasik yang tidak sering ada di Pekanbaru itu. Benar, begitu konser dimulai, matanya nyaris tidak berkedip. Tapi sesekali menyandarkan kepala ke kursi sambil memejamkan mata. Ia begitu menikmatinya. Ia terpukau. Bahkan mencatat kesan pribadinya secara khusus terhadap konser tersebut dalam Facebook. Sebagian tulisan  antara lain:

‘’Lagu klasik dibawakan dengan apik, ada yang populer dan ada pula yang berat.
Four Seasons-Summer yang ditulis oleh Antonio Vivaldi dibawakan dengan baik sekali, membawa kesan suasana musim panas di Eropah yang kering dan kuning, sehingga terasa menghisap tenaga pendengarnya, membuat badan lemas. Daun-daun kering ‘nampak’ lepas dari dahan lalu melayang perlahan jatuh ke tanah, menyentuh bumi dengan pelan, namun tajam. Vivaldi menulis empat seri karyanya yang paling terkenal itu tahun 1700-an dan dipublikasikan pertama kali di Amsterdam. Mirip dengan karya Vivaldi lain, serial ini juga mengandung nuansa puitis dalam bunyi yang digubahnya.

Piano solo yang dibawakan salah satu pemusik setelah itu, adalah termasuk penampilan yang berat. Polonaise Opus 53 yang juga dikenal dengan Polonaise héroïque dalam bahasa Perancis, menggambarkan kuda-kuda perang yang penuh semangat. Berlari dan melompat, melewati barisan tentara musuh. Gagah. Lagu ciptaan Frédéric Chopin ini ditulis pada zaman klasik, tidak hanya mendemonstrasikan bunyi yang enerjik, kejutan-kejutan, tetapi juga gerakan jari pemain di atas tuts harus lincah, cepat dan keras. Lagu ini bisa membuat cedera jari pemainnya, dan malam ini telah dimainkan dengan apik.

Itulah dua lagu yang bagi saya paling berkesan malam ini (Sabtu malam, red). Lagu lain juga tidak kalah indahnya. Ada juga salawat badar dalam kemasan orkestrra penanda konser yang diadakan dua malam sebelum Ramadhan itu.

Telinga, rasa, dan raga terasa dimanjakan.

Awalnya enggan untuk hadir karena badan tidak fit. Tetapi rugi untuk dilewatkan. Bukan saja karena pernah menjadi dosen di AKMR, tetapi juga karena konser musik klasik tidak sering di Pekanbaru. Saya tidak memainkan satu pun alat musik. Namun saat di Jogja dulu bergaul dengan musisi. Beberapa kali menginisiasi dan mengadakan konser sejenis, memfasilitasi para pianis kota Pelajar dan sesama penikmat musik klasik, juga sekaligus sebagai cara asik menonton gratis hehe. Saat bermukim di Australia juga sering menyambung waktu kuliah, pindah ke ruang sebelah di kampus, di mana secara berkala diadakan konser musik klasik.’’
Catatan Kunaifi ini seolah ingin mengabarkan tentang kerinduan terhadap konser musik klasik yang memang jarang ada di Pekanbaru. Atas alas an ini jugalah, AKMR melalui dosen pimpinan terutama Ketua Jurusan Musik, menggelar konser tersebut. Bahkan direncanakan sudah sejak lama sebagai aplikasi atas ilmu yang dipelajari di bangku kuliah.

Para musisi yang tampil malam itu adalah sekelompok musisi muda yang sedang menimba ilmu di bangku kuliah. Mereka memainkan musik instrumental. Sebuah garapan musik yang terdiri dari banyak instrumen yang terdiri dari seksi gesek, seksi tiup dan seksi pukul. Secara bersama-sama mereka memainkan nada-nada dengan membaca sebuah partitur atau naskah lagu yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Dalam penampilan itu, lazimnya sebuah konser musik orkes, dipimpin langsung oleh seorang konduktor sebagai seorang pemimpin lagu.
Setidaknya ada 16 lagu yang mereka bawakan malam itu. Lagu-lagu beserta makna dan sejarahnya tertulis dalam selembar brosur yang juga dibagikan kepada setiap penonton yang hadir. Lagu-lagu tersebut yakni, "Overture, Czardas. Habanera" (Geroge Bizet), "Eine Kleine Nachtmusik" (w.a Mozard), "Sweet Child Mine" (Gun’s Roses), "Sepohon Kayu" (Jefri Albukhori), "Shalawat Badar" (Opick), Trio, O Mio Babbino Caro, Furelise (Ludwing Van Beethoven), Witches Dance & Minue in G, "Cintaku Jauh di Pulau", Libertango & Por Una Cabeza, Doraemon, Summer dan "Sayang Bengkalis".

Disebutkan Ketua Jurusan Musik AKMR, Idawati, acara yang digelar malam itu sungguh di luar dugaan karena ternyata animo masyarakat terhadap konser musik klasik luar biasa sehingga, banyak  diantara penonton yang tidak kebagian tempat duduk.”Kami awalnya hanyalah menyediakan sebuah ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmunya di bangku kuliah, lalu dapat diaplikasikan di hadapan khalayak dalam kemasan seni pertunjukan. Dan alhamdulillah, dengan budget yang sangat seadanya, konser ini berlangsung sukses dan mendapat sambutan yang baik dari para penonton,” ujar biduanita Riau itu.

Diakui, Idawati, sebenarnya konser ini sudah lama direncanakan namun oleh karena berbagai kendala, barulah bisa terwujud menjelang Ramadan tahun ini tetapi dipastikannya helat ini akan menjadi agenda tahunan bagi HMJ Musik AKMR. Karena menurutnya kegiatan seperti ini setidaknya mampu mewarkan seni pertunjukan yang agak idialis atau serius. “Sebuah pertunjukan musik yang tidak hanya berfungsi menghibur masyarakat tetapi ada pembelajaran di dalamnya, momen itu yang menurut saya penting terutama bagi mahasiswa-mahasiswi jurusan musik AKMR,” ujarnya.

Senada dengan itu, Direktur AKMR, Armansyah, menjelaskan, bahwa konser-konser seperti ini tentu saja sangat bermanfaat bagi mahasiswa terutama karena dengan helat serupa inilah mereka dapat mengaplikasikan segala ilmu pengetahuan yang diapat dibangku kuliah.

Di dalam memainkan musik klasik, lanjutnya, pemusik dituntut banyak hal terutama untuk bisa memainkan alat musik, sambil membaca sebuah komposisi musik atau partitur musik atau naskah musik yang telah tertulis untuk sebuah alat musik. Denagn demikian, diperlukan tingkat kedisiplinan dan kesungguhan yang tinggi dan waktu belajar yang tinggi pula untuk menghasilan player yang tangguh. “Nah, salah satu aliran musik yang memerlukan tingkat kedisiplinan dan keseriusan yang tinggi adalah musik orkestra,” ujarnya. (jefrizal/kun)

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us