BINCANG SASTRA HISKI

Sastra dan Religiusitas

12 Juni 2016 - 01.09 WIB > Dibaca 1222 kali | Komentar
 
Sastra dan Religiusitas
TERDAPAT banyak hal yang dibicarakan dalam diskusi sastra tajaan Himpunan Sarjana Kesusateraan Indonesia (HISKI) Riau, beberapa waktu lalu di Fakultas Ilmu Budaya Unilak. Diskusi yang diberi tajuk Runding Sastra itu mengangkat tema “Sastra dan Religiusitas”.

Menghadirkan sastrawan  Riau, Taufik Ikram Jamil dan Husnu Abadi sebagai pembicara.
Memperbincangkan persoalan religiutas di dalam sastra dalam kesempatan itu, ke dua pembicara banyak mengupas karya-karya Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri. Dari karya-karya beliaulah kemudian para pembicara menegaskan dan memberikan pemahaman kepada peserta yang hadir tentang keberadaan karya sastra dalam kaitannya dengan religiusitas.

Menilai dan mengidentifikasikan pesan religiusitas di dalam karya sastra sejatinya merujuk kepada pertanyaan sederhana, apakah di dalam setiap teks, bait dan larik karya sastra tersebut ditemukan pesan keagungan Tuhan dan menuju kepada Tuhan. Hal itu pula yang coba dibentangkan Husnu Abadi di dalam Runding Sastra tersebut.

 Bagi Husnu Abadi masalah religiusitas adalah sebuah keniscayaan. Yang dapat diartikan, semakin hari dalam proses kepenulisan seorang sastrawan, kematangan karyanya akan semakin terlihat. Hal itu didapat melalui pengembaraanya dalam dunia spritual. “Sadar atau  tidak sadar, mau tidak mau, perjalannya akan menginjak pada aspek yang abstrak, yang hikmah, yang mendasar dan berpusat pada eksistensi manusia yang penuh dimensi ini,” ujarnya. 

Hal itu barangkali dapat pula memperkuat istilah religiusitas itu sendiri. Secara sederhana ianya adalah rasa yang bersifat kodrati dan terluhur yang dimiliki manusia dalam hubungannya dengan ketaatan beragama, yang juga timbul karena setiap insan menghayati masalah agama dan kepercayaan di dalam kehidupannya.

Husnu Abadi kemudian memilih beberapa buah pusi karya Sutardji Calzoum Bachri untuk diuraikan atau ditelaah guna menemukan pesan yang tersembunyi terutama dari aspek religiusitas seperti sajak berjudul Idul Fitri dan Cermin. Namun demikian, di dalam buku kumpulan puisi O Amuk Kapak, disebutkan Husnu Abadi bisa diperhatikan perkembangan kepenyairan Sutardji, bahwa mayoritas dari puisi-puisi Sutardji menunjukkan kedalaman spritual serta kekentalan yang menukik pada aspek religiusitas.

Ditambahkan Budayawan Pilihan Sagang 2015 itu bahwa demikianlah para penulis berekspresi lewat luahan hati dalam melihat sesuatu yang ghaib. Tetapi tetap saja memerlukan bentuk-bentuk tertentu yang dapat memuaskan aspek kejiwaan penulisnya. Memang kata-kata yang disusun oleh penyair, apalagi dalam bait-bait puisi, memerlukan aspek keindahan, keindahan kata dan keindahan suara. Pilihan kata-katanya juga tentulah menginginkan kekhususan dibandingkan penyair-penyair lainnya.

Dalam karya sastra terutama puisi, bila ditelaah lebih jauh, menurut Husnu Abadi, memang tidak ada yang tak pernah menulis menyinggung aspek religius. Tetapi karena medium yang digunakan itu puisi, maka tingkat keberhasilan seorang penyair dalam menggoda hati pembacanya, tentu saja berbeda-beda. Atau disebutkan tingkat religiusitas sebauh puisi, tidaklah bisa disamakan. Kesan yang ditimbulkan boleh jadi akan berbeda-beda antara satu puisi dengan puisi lainnya.

Lebih jauh disampaikan Husnu, keterpanggilan seorang penulis untuk menulis, mestilah dipengaruhi cara pandang penulis terhadap lingkungannya. Reaksi itu yang membuahkan berbagai corak penulisan dan ragam pesan. Sementara itu, religiusitas merupakan bagian yang tak terhindarkan dari proses penulisan seseorang. “Boleh jadi sejak awal, seseorang berusaha untuk mengambil posisi dalam menulis aspek-aspek spritual, kemanusiaan, dan nilai-nilai universal manusia. Namun banyak pula  kematangan seseorang datang di kemudian,” tutupnya.
 
Pembicara lainnya, Taufik Ikram Jamil dalam diskusi perdana tajaan HISKI Riau itu membentangkan sebuah makalah yang mengupas tentang sajak-sajak Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Ke semua yang diuraikannya itu merupakan salah satu bagian dari buku bertajuk Ihwal Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri, Tunggu Aku Indonesia, Mewariskan Kepada Dunia, yang sedang dalam proses penerbitan.

Ditegaskan budayawan asal Riau itu bahwa Sajak-sajak SCB senantiasa berhubungan penyatuan dirinya dengan kekuatan Yang Maha Tinggi. Seperti dalam puisi atau sajak “Amuk” ditelaah oleh Taufik Ikram bahwa SCB tidak dapat menahan kerinduannya kepada kekuatan Yang Maha Tinggi itu. SCB, lanjut Taufik  mencakar, membabat apa saja yang ada di sekitarnya. Dia mengobrak-abrik setiap hal yang dilihatnya, setiap hal yang dipegangnya. Dia tidak perduli lagi. Dia ingin kekuatan Yang Maha Tinggi, Tuhan, Allah walaupun hanya sedikit saja memenuhi kerinduannya dalam pengembaraan itu. Kemudian, SCB mengamuk.

Beberapa sajak lainnya dari SCB, dikupas Taufik Ikram di dalam helat Runding Sastra itu dengan pendekatan-pendekatan dan landasan  religius. Sehingga teranglah bahwa keberadaan sajak-sajak SCB, merupakan sajak yang memiliki kekentalan dari aspek religiusitas. Seperti halnya yang disampaikan Taufik Ikram bahwa rangkaian-rangkaian misteri dalam usaha menyatukan diri dengan Yang Maha Tinggi pada sajak-sajak SCB, sangat terasa. SCB merasa tergantung pada kekuatan Yang Maha Tinggi, menyatukan diri dengan-Nya, menyadari asalnya dan menerima apa yang ada sebagai takdir, tetapi hasrat menyatukan diri dengan Yang Maha Tinggi tidak pernah luntur. Dia terus berusaha menyatukan diri dengan-Nya, dan lain-lain.

Sehingga dengan demikian, dapatlah dikatakan masalah religiusitas merupakan masalah yang sangat esensial bagi kehidupan manusia. Karena bila disadari dan dipahami dengan baik. Sebab dengan mendalami dan menghayati masalah religi manusia melalui karya sastra akan dapat menemukan hakekat dirinya sebagai manusia, hubungan dengan manusia lain, serta hubungan dengan Tuhan dan segala yang ada di dunia (Alam) dalam kaitannya manusia sebagai khilifah di bumi.(jefrizal)
KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 21 November 2018 - 15:54 wib

Prabowo Pasti Tepati Janji Tuntaskan Masalah Honorer K2

Rabu, 21 November 2018 - 15:50 wib

Tim Kampanye Jokowi Manfaatkan Popularitas Djarot

Rabu, 21 November 2018 - 15:45 wib

Dewan Rekomendasikan Cabut Izin PT MAS

Rabu, 21 November 2018 - 15:30 wib

Gunakan Sampan, Kapolres Jangkau Lokasi Banjir Temui Warga

Rabu, 21 November 2018 - 15:00 wib

APBD 2019 Rp1,47 T

Rabu, 21 November 2018 - 14:45 wib

Fokus Siapkan PK, Nuril Minta Perlindungan LPSK

Rabu, 21 November 2018 - 14:42 wib

141 Kades Tersangka Korupsi

Rabu, 21 November 2018 - 14:39 wib

Jadwal Pemeriksaan Kesehatan JCH Sesuai Konfirmasi Diskes

Follow Us