BUDAYA

Memupuk Nilai Islami Dengan Seni Pertunjukan

12 Juni 2016 - 01.40 WIB > Dibaca 1190 kali | Komentar
 
Memupuk Nilai Islami Dengan Seni Pertunjukan
KEBUDAYAAN Melayu yang bersinggungan dengan Islam tentu saja menghasilkan akulturasi budaya yang baru, yang diubahsuaikan dengan kreatiftas masyarakat tempatan. Beberapa tradisi yang dilakukan di tanah Arab, tidak jarang juga merupakan bagian dari tradisi masyarakat Melayu.

Seperti halnya di tanah Melayu Riau, ada banyak sekali seni-seni Islami yang hari ini masih tumbuh dan berkembang. Meskipun keberadaannya selalu tampak berjalan di tempat atau kurangnya peminat sehingga kadangkala keberadaan seni tersebut nyaris hilang. Dalam bidang musik misalnya ada seni ghazal, nasyid, rebana dan kompang.

Dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan musik Islami di Provinsi Riau itulah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Riau melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum dan Taman Budaya  mengelar Festival Seni Islami 2016, Jumat (27/5) malam di Gedung Olah Seni Taman Budaya.

Di antara beberapa seni Islami yang digelar dalam kemasan festival itu adalah pertama Ghazal. Sebuah kesenian yang berasal dari semenanjung Arab yang berkembang dan dipengaruhi kesenian dari India. Hal itu tampak misalnya gambaran dari perpaduan budaya, seperti tabla yang berasal dari India, gambus dan marakaz dari Arab serta dipadu dengan biola dan gitar dari barat.

Di alam Melayu, musik ghazal ini dapat juga ditemui di beberapa daerah.  Biasanya, lagu yang dimainkan dalam ghazal kerap berisikan pantun mengisahkan percintaan, riwayat hidup orang Melayu yang sering dipertunjukkan pada tari persembahan, tari zapin, pesta pernikahan serta hiburan bagi raja-raja Melayu tempo dulu.

‘’Rasanya, tidak berlebihan pula kalau seni musik ini harus dipertahankan sebagai salah satu warisan turun temurun. Karena kita juga menyayangkan, generasi ghazal sudah mulai hilang di tanahnya sendiri,’’ tutur Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Riau, Sri Mekka.

Selanjutnya, lomba rebana yaitu sejenis alat musik pukul yang terbuat dari kulit dan kayu. Rebana di Riau ini umumnya berbentuk bulat pipih. Ukuran besar kecilnya beragam, ada yang kecil, sedang, dan ada yang besar. Seni Islami Rebana di Riau terutama berkembang Di kalangan ibu-ibu. Biasanya pertunjukannya berupa nyanyian lagu-lagu berirama padang pasir seperti qasidah, hadroh dan lain-lain. Tak heran kemudian, kemasan tampilan peserta dalam festival tersebut terlihat para ibu-ibu mempergelarkan nyanyian-nyanyian Islami dengan format grup.

Sedangkan seni Islam lainnya yang diperlombakan antara kabupaten yang ada di Riau itu, adalah nasyid. Sebuah seni lagu yang  berasal dari bahasa Arab yang berarti senandung. Seni lagu yang bernafaskan Islam.  Nasyid juga dikenal di tanah Melayu Riau, di mana seni ini merupakan salah satu seni Islam dalam bidang seni suara. Biasanya merupakan nyanyian yang bercorak Islam dan mengandungi kata-kata nasihat, kisah para nabi, memuji Allah, dan yang sejenisnya.

Yang tak kalah menariknya adalah festival Kompang.  Sejenis alat muzik tradisional yang paling popular bagi masyarakat Melayu. Alat musik ini tergolong dalam kumpulan alat muzik gendang. 

Seperti mana diketahui, alat muzik ini berasal dari dunia Arab dan dipercayai dibawa masuk ke tanah Melayu sama ada ketika zaman kesultanan Melaka oleh pedagang India Muslim, atau melalui Jawa pada abad ke-13 oleh pedagang Arab. Di tanah Melayu Riau, musik ini mengalami perkembangan dalam penampilannya, di beberapa daerah, kompang tidak lagi hanya digunakan untuk pelengkap dalam sebuah prosesi di dalam arak-arakkan pernikahan, khitanan dan lain-lain. Tetapi kompang telah dijadikan sebuah seni pertunjukan yang biasa disebut atrakasi kompang.

Disebutkan Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Sri Mekka masyarakat Melayu di Provinsi Riau sangat identik dengan lslam. Melalui festival seni Islami ini nantinya diharapkan akan bisa tertanam nilai nilai keIslaman di tengah masyarakat. Karena diyakini bahwa seni-seni Islami yang hidup dan berkembang di masyarakat, sesungguhnya memiliki nilai-nilai tersendiri.  Kegitan ini juga sebagai upaya penyokong terwujudnya Visi Riau 2020 sebagai Pusat Perekonomian dan Kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir dan batin.

“Saya harapkan kegiatan ini akan menjadi tonggak kejayaan kemelayuan dan memperkokoh karakter Melayu tetapi yang jelas, sepanjang helat yang digelar, saya sangat terharu melihat semangat dan kemasan yang dibawa oleh peserta dari berbagai kabupaten yang ikut tahun ini. Mereka tampil maksimal dan berrsemagat sekali, saya berpikir, bagaimana misalnya seni Islam  yang kita punya, dapat lebih dikembangkan, terutama di daerah-daerah karena puncak kebudayaan itu selalunya berada di daerah-daerah,” kata Sri Mekka.

Sementara itu, ketua panitia festival seni Islami Efie Indriana, festival seni Islami nantinya diharapkan juda akan melahirkan ide berkesenian yang bernuansa Islami. Sebagaimana tujuan dari festival ini guna mengembangankan musik seni Islami di Riau yang saat ini mulai ditinggalkan.”Kita juga sepakat, seni-seni Islami yang ada di Riau, memiliki nilai-nilai dan filosofis yang sangat Islami, sehingga kita juga berharap, nilai-nilai itu dapat dipupuk melalui kegiatan serupa ini,” kata kasi Taman Budaya tersebut. (jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us