RESENSI BUKU

Jepang dan G30S 1965

12 Juni 2016 - 01.43 WIB > Dibaca 1724 kali | Komentar
 
Jepang dan G30S 1965
Salah satu babak kelam sejarah Indonesia adalah peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang selalu menjadi kontroversi dalam perjalanan Ibu Pertiwi ini berdiri. G30S 1965 sepertinya menjadi salah satu episode sejarah bangsa ini yang selalu menyita perhatian dari berbagai kalangan yang memiliki kepedulian besar terhadap eksistensi negeri besar ini dan generasi yang akan datang.

Buku-buku yang berbicara mengenai G30S 1965 yang beredar secara bebas sejak zaman reformasi biasanya mengambil sudut pandang terlibatnya negara-negara barat yang diindikasikan secara kuat turut bermain dalam pusaran G30S 1965 seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia yang menyebabkan Bung Karno terjungkal dari singgasana kepresidenannya.

Buku yang ditulis dengan penelitian serius plus jenius oleh Aiko Kurasawa ini mengambil sudut pandang yang berbeda dari buku-buku sejenis yang ada. Aiko mengambil perspektif dari Jepang pada peristiwa G30S 1965. Aiko sendiri dikenal sebagai Indonesianis (ahli Indonesia) asal Jepang yang berbagai judul buku dan artikelnya terkait sejarah Indonesia dapat ditemukan terutama yang berhubungan pada masa kepemimpinan Bung Karno dan kekuasaan Soeharto.

Karya Aiko ini bisa dikatakan memiliki bahasa yang mudah untuk dicerna walaupun menggunakan sumber-sumber yang salah satunya mengambil dari arsip-arsip Kementerian Luar Negeri Jepang yang sudah dapat dipublikasikan kepada publik secara bebas demi kepentingan luas, termasuk kepentingan akademik. Apalagi Aiko juga menggunakan buku dan artikel untuk penelitian serta penulisan buku ini dari sumber Jepang sendiri sehingga tentu saja hal ini semakin memperkaya buku-buku yang sudah ada mengenai peristiwa G30S 1965.

Ada satu hal yang sangat menarik untuk dikutip dari karya Aiko terkait wajah Jepang. Jepang selalu menampilkan wajah ganda (halaman 55): wajah yang pertama adalah sebagai salah satu negara Asia. Wajah yang lain adalah sebagai kolega dan partner dari kekuatan-kekuatan besar Barat. Di sekitar pertengahan 1950-an ketika diundang untuk menghadiri KAA Bandung, Jepang masih menampilkan sosok dirinya sebagai anggota bangsa-bangsa Asia dengan menunjukkan simpati untuk nasionalisme guna memerangi kekuatan-kekuatan imperialis Barat, sekalipun dalam banyak hal lain Jepang secara pasti merupakan pengikut setia Amerika.

Buku yang sangat layak untuk dimiliki oleh para pecinta sejarah terutama yang berkorelasi erat dengan kontroversi G30S 1965 ini memiliki 7 BAB yang satu dengan lainnya memiliki hubungan kuat. Salah satu yang perlu dikaji secara mendalam dan ditelaah secara kritis adalah BAB 5 (hlm. 105-133), “G30S dalam pandangan mata Dewi Soekarno”. Dewi yang bernama asli Naoko Nemoto merupakan istri dari Soekarno yang berasal dari Jepang dan berbagai kesaksian serta pengakuan Dewi tentu menjadi luar biasa penting karena ia berada dalam lingkaran dekat Soekarno ketika G30S 1965 terjadi.

Jumlah foto yang ditampilkan dalam buku ini memang sedikit. Namun, justru dalam jumlah yang minim itulah menampilkan banyak interpretasi sejarah. Salah satunya pada halaman 126. Ketika itu, pasca-Supersemar, Soekarno dan Soeharto diundang dalam resepsi ulang tahun Kaisar Jepang di kediaman dubes Jepang, 29 April 1966. Dalam foto tampak jelas bahwa dubes Jepang menyambut baik Soekarno dan Dewi maupun Soeharto dan Tien dengan penuh keramahan khas negeri Sakura, Jepang.

Penulis sendiri menafsirkan mengenai foto tersebut bahwa pihak Jepang sendiri sepertinya telah mengetahui dengan intuisi politik yang sangat kuat bahwa Bung Karno, usia pemerintahannya tinggal menunggu waktu untuk jatuh (dan dijatuhkan) kemudian digantikan oleh tamu yang turut hadir dalam resepsi ultah Kaisar Jepang tersebut. Siapa lagi kalau bukan Jenderal Soeharto yang kemudian lekat dengan sebutan Bapak Pembangunan.

Kita semua kemudian tahu bahwa saat Soekarno digantikan dengan Soeharto, mazhab ekonomi nasional berubah secara amat drastis. Jika pada era Soekarno, ekonomi ditekankan pada berdikari alias kemandirian, maka pada era Soeharto, ekonomi keterbukaan diperkenalkan secara luas atas nama pembangunan dan itu termasuk modal asing. Salah satunya dari Jepang yang mendapatkan pangsa pasar empuk di Indonesia terutama produk elektronik dan otomotif.

Satu hal yang pasti, bahwa Jepang jelas memandang Indonesia sebagai salah satu negara yang paling penting dalam percaturan global dalam konteks hubungan internasional. Karya Aiko yang patut dimiliki ini sudah terang kiranya memberikan warnanya tersendiri yang lain daripada yang lain demi luasnya cakrawala sejarah anak bangsa Indonesia utamanya kontroversi G30S.***

Jimmy Frismandana Kudo, Guru Sejarah SMA Darma Yudha, Pekanbaru



KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 09:18 wib

Sebar Timbangan Digital di Lima Pasar

Kamis, 20 September 2018 - 09:04 wib

Targetkan Raih Juara Umum

Kamis, 20 September 2018 - 08:49 wib

Mulai Kesulitan Cari Dana Talangan

Kamis, 20 September 2018 - 08:39 wib

Harga Beras Premium Masih Tinggi

Kamis, 20 September 2018 - 08:22 wib

Teliti Baca Syarat Lowongan CPNS

Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Follow Us