ULASAN BUKU "PEREMPUAN BULAN"

Kembali ke Bunyi

12 Juni 2016 - 01.49 WIB > Dibaca 1081 kali | Komentar
 
JIKA coba melacak jejak kepenyairan leluhur kita di pelosok Nusantara  ini, akan sampailah kita pada kenyataan yang sulit terbantahkan: mereka adalah para ‘penyair’ alam. Kedekatan mereka pada jagat raya dan seisinya, mengajari mereka mencipta metafora, personifikasi atau analogi dan perbandingan. Di samping itu, mereka juga menyadari betul kekuatan bunyi. Maka, mereka pun bermain dengan kesamaan bunyi dan repetisi. Tujuannya, menghadirkan kekuatan gaib yang menyertai terjadinya perulangan bunyi yang sama secara konstan dan berirama.

Kadang kala, saking pentingnya kekuatan bunyi, makna pesan tak lagi menjadi pertimbangan, sebab yang coba dihadirkan di sana adalah peristiwa. Lihat saja mantra, jampi-jampi, lagu dolanan anak-anak, bacaan pengasihan, mantra penolak bala, doa pengusir jembalang dan kuntilanak, atau dendang suci untuk mengiringi roh leluhur menuju surga. Ketika kita menyemburkan puisi-puisi sakral itu, tampak segalanya meluncur begitu saja, seolah-olah tanpa makna. Tentu saja keseolah-olahan itu, tidak berarti semuanya hadir tanpa makna. Di dalamnya, ada sesuatu yang hendak disampaikan, ada makna yang sengaja disembunyikan, ada pesan spiritual yang dikemas dalam gema bebunyian yang berulang-ulang itu.

Seperti ekspresi ungkapan onomatope, tidak dapat kita menjelaskan maknanya secara semantis, tetapi kita tahu, untuk apa onomatope itu dihadirkan. Itulah salah satu jenis puisi purba yang sampai sekarang masih hidup yang diperlakukan masyarakat, bukan sebagai puisi, melainkan sebagai doa-doa sakral yang mempunyai kekuatan gaib.

Ketika Sutardji Calzoum Bachri mengangkat mantra dalam beberapa puisinya, banyak pengamat sastra Indonesia yang salah kaprah. Mereka memburu makna puisi-puisi itu dan memaksakan diri mengikuti semangat penafsirannya. Saking sulitnya memahami jenis puisi itu, orang pun banyak yang memasukkannya sebagai puisi gelap. Padahal bukan di situ duduk perkaranya. Penekanannya pada permainan bunyi dan bukan pada makna dan pesannya. Maka, peristiwa bunyi menjadi lebih penting daripada makna pesannya.

***

Apa hubungannya uraian tadi dengan puisi-puisi dalam antologi Perempuan Bulan karya Kunni Masrohanti. Dibandingkan dengan antologi puisi pertamanya, Sunting, yang mengangkat problem aku-subjek dengan dirinya sendiri dan orang-orang di sekelilingnya, dalam Perempuan Bulan, penyair atau aku lirik, coba menempatkan dirinya dalam lingkup jagat raya. Sebuah pilihan tematik yang hampir tak (pernah) disentuh para penyair perempuan.
Meskipun tidak terhindarkan adanya kesan pengaruh-mempengaruhi, setidak-tidaknya langkah Kunni Masrohanti tergolong sebuah terobosan yang berani. Maka, benda-benda alam yang bermunculan dalam antologi puisi itu dapat dimaknai sebagai representasi perkembangan kepenyairannya, atau bisa juga sebagai pencarian untuk mencampakkan posisinya di zona aman. Itulah yang saya maksud sebagai terobosan yang berani.

Bagaimanapun, kebanyakan penyair cenderung bertahan di zona aman. Mempertahankan posisi kepenyairan dengan segala kemapanannya adalah pilihan yang tanpa risiko, tanpa peduli pada capaian. Para penyair dengan sikap kepenyairannya yang seperti itu, biasanya sudah cukup puas sebagai medioker. Ia stagnan dan puisi-puisinya akan menjelma sebatas sebagai produk pabrikan. Gemanya berkisar di lingkungan dirinya sendiri. Kunni rupanya tak hendak berhenti di situ. Ia coba cara lain dan mencampakkan kelaziman yang mengungkungi semangat kebanyakan penyair perempuan. Dalam sebagian besar puisinya, ia lesap ke dalam jagat alam, lalu dari sana ia leluasa menyambangi siapa pun atau apa pun yang hendak disentuhnya.
Perhatikan puisinya yang berjudul “Gelap, Tak Lagi.”

;kepada kita perempuan
tumpahkan galau
engkau, perempuan penyukat risau
pedang itu masih terangkat tinggi di tangannya
yang menggigil dalam geram ingin yang tak pernah hilang
kapan kita merdeka
bisik batinnya yang basah oleh rindu untuk lepas dari penjara waktu
mimpi besar terlukis di matanya
beratus tahun sudah ia hidupkan kita yang kalah terbunuh  oleh ketidkbiasaan zaman
dalam gelap yang teramat gelap
melawan kebodohan yang mengepung kampung kita
mengusung takut, resah, ingin, lalu menuangkan dalam suratsurat kepada sahabat
bahkan membiarkan diri menjadi ke sekian untuk nyala yang lebih
dan jalan itu terbuka membentag lebar di depannya
mimpi besar itu ada di mata kita
harusnya kita yang berteriak
kita telah merdeka
bebas dari penjara waktu yang pernah mengungkung dan membunuh
lari dari kerisauan, bergantanggantang, berzamanzaman
menebarkan semangat, membakar bebal setiap lorong kecil di jalanjalan raya
ke seberang sungai, hutan, rimba, jalanjalan setapak, ke ladang, ke sawah, ke cerukceruk kampung, ke rumah tak bernyawa, ke istana negara bahkan ke jalanjalan sunyi dalam batin kita
kita telah merdeka
ia berbisik tersenyum dengan tangan yang tak lagi menggigil
dalam gelap yang tak lagi gelap
dan kita akan tetap berdiri dengan api menyala
bermimpi besar
bebas memilih menjadi apa saja
tanpa lupa menjaga batin dunia


Pesan puisi itu diisyaratkan oleh keterangan sebagaimana yang tertera di bawah judul itu: kepada kita, perempuan. Semangatnya adalah melakukan gerakan pembebasan (bagi kaum perempuan). Jika begitu, pesan puisi ini tak beda dengan suara perempuan lain yang coba melepaskan belenggu yang mengungkungnya. Apakah dengan begitu, Kunni terjebak pada keumuman semangat kaum perempuan?

Sampai di batas itu, jawabannya: ya! Tetapi, ia tidak berbicara dalam lingkup domestik. Ia tak mengurusi perkaranya sendiri. Maka, disapalah ceruk kampung, sungai, sawah, dan rimba raya, sebagai ekspresi kesadaran, bahwa dunia perempuan bukan cuma di kota dan perkantoran, tetapi juga berada di wilayah-wilayah yang kerap tak terjamah. Jadi, Kunni tak hanya menggugat hidup ‘kita’ yang jadi persoalan global. Di pojok desa dan ceruk hutan yang gelap, masih banyak teriakan yang tak terdengar, suara yang terbenam, dan peristiwa yang tak terungkapkan. Alam tak bisa bersuara lantaran dilindas kisah-kisah besar perempuan kota.
Puisi-puisi lainnya yang menyentuh jagat alam, seperti “Umban Jembalang,” “Sekarat Bumi,” “Risau Rasau” dan seterusnya, adalah usaha Kunni untuk coba mengembalikan kekuatan puisi pada bunyi. Pesan bukan tak penting, tetapi ia lebih menekankan peristiwa dalam puisi, maka permainan bunyi, pola repetisi, dan persajakan dalam larik, menjadi peristiwa puisi. Maka, kata-kata mesti bisa tampil lentur, luwes, dan kenyal; melompat-lompat secara lincah, seperti sebuah tontonan akrobatik.

Lihat saja puisinya yang berjudul ‘’Dan Adalah,”

dan adalah ada//adalah tiada
adalah langit berkawan dengan hujan
adalah malam berkawin dengan angin
adalah aku berdiri tegak segak lasak setengah berteriak
dan adalah bukan ketika ingin sebatas angan
dan adalah tidak ketika hendak tak berjejak
adalah aku
aku adalah i adalah d adalah r adalah u adalah s adalah t adalah i adalah n adalah t adalah i adalah n
mati lagi lagilagi mati
mati berkalikali
akankah mati dan mati//benarbenar mati berdiri sebab tak peduli
kepada kalian orangorang sekampung
tak tahu diuntung tak tahu disanjung tak pandai bertarung
rambut putih ini adalah perih mendidih tertindih terpilih
oi burung waktu//bawalah pesan angin malam yang berkawin dengan angin
dari dan adalah berdiri tegak segak lagak lasak
....mmmaaakkk!!!! ,

“Di Pucuk Mahang,”

habislah pagi siang beraja
musnahlah siang senja bertahta
cuk cuk pucuk pucuk pucuk mahang//terhunyukhunyuk
sesaat ketika senja yang sebelum pergi mencium kening malam
dan cemburulah pucuk mahang yang lama lengang
aum aum mengaum jauh
terlacak jejak tak terbayang belang//sepagi sesiang sepatang semalam
sebilah senja di pucuk daun
tetap seperti sepasang enggang terbang seiring serentak
sayang mengepak
begitu akan berulang
ada tetap nyalang bimbang tak hilanghilang
luka yang panjang di pucuk mahang
semalam atau bermalammalam silam
kicau burung di rerimbun bambu tawarkan keriangan
siang pulang malam berlenggang
gelap pasti hilang dan esok berganti terang,


“Luka Penawar,”

jika perih adalah penawar biarlah malam menyimpan luka
luka langit luka awan luka bulan//luka tanah luka gunung luka laut
luka air luka angin luka luka
luka terlukai
luka melukai
luka dilukai
luka kita,
“Belah,”
dibelah
mana yang belah
terbelah tak terpisah
tak berara
manamanabelah
belah tengah
sampai tak berarah
salah belah
parah
terbelah sudah
mana yang membelah
mrah
berdarahdarah
tega kau belah
hatinya
praaakkkk
terbelah
tak terpisah,

atau “Lancang Tuah,”

merahmu menjadi hitam
kuningmu menjadi legam
hijaumu menjadi kusam
siapa mencarimu
siapa mencurimu
siapa menggalimu
sumpah tuah
siapa penguasa
siapa jadi manngsa
kita mereka
ataukah indonesia yang tak pernah menjadi ibunya
berdiri busungkan dada
pasungkan lancang
pancungkan lantang
tuah pantang melancang
dalam lantang pancang yang bertuah,


dan seterusnya, kata-kata dibiarkan bermain dengan segala kelenturan dan kelincahannya. Meski bagi penyair Melayu—Riau, cara itu bukanlah hal yang baru, sebagaimana diperlihatkan Ibrahim Sattah, Sutardji Calzou Bachri atau Abdulkadir Ibrahim—sekadar menyebut beberapa—bagi penyair perempuan di negeri ini, bolehlah dikatakan sebagai sebuah keistimewaan. Kunni Masrohanti coba bermain dengan kultur moyangnya yang bagi penyair perempuan segenerasinya, mungkin sudah terkubur, dan tergadaikan oleh semangat feminisme.
Tentu saja yang dilakukan Kunni bukan ‘memindahkan’ kultur moyangnya secara artifisial, melainkan menerjemahkan ruh yang mendekam di sana untuk kepentingan penyikapan dirinya dalam konteks semangat zaman. Dan puisi adalah salurannya. Maka, puisinya yang berjudul “Kami bukan Babu,” “Lancang Tuah,” “Orang-Orang Minyak,”

atau “Kupilih menjadi Batu”  dan seterusnya adalah penyikapan Kunni sebagai representasi komunitasnya dalam berhadapan dengan problem yang melanda masyarakatnya. Ia tegaskan identitasnya (sebagai Melayu) yang ke belakang, ada puak yang menyediakan kekayaan kultural dan ke depan, ada harapan yang harus diperjuangkan. Dengan begitu, penyikapannya kini adalah titik berangkat perjuangannya sebagai perempuan Melayu.

Di tengah keriuhan para penyair (perempuan) Facebook yang mabuk tanda jempol atau penyair kamar mandi yang tiba-tiba merilis album barunya, Kunni Masrohanti memilih jalannya sendiri. Ia tak perlu dihebohkan perkawanan atau komentar penyenang hati. Ia melenggang memberi penyadaran, betapa penting bunyi menjadi kekuatan puisi. Maka, biarkanlah kata-kata menari-nari dalam puisi. Biarkanlah kata-kata—dengan atau tanpa beban makna, menunjukkan kelincahannya bermain akrobat yang menghadirkan bebunyian yang saling menerkam. Perempuan Bulan coba menegaskan kembali peristiwa bunyi dalam puisi sebagai bagian dari penyikapan penyair pada kultur leluhur. ***

Maman S. Mahayana, adalah kritikus dan peneliti sastra. Dosen Fakultas Ilmu Budaya dan Pascasarjana UI ini adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006).
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 15:00 wib

Narkoba Adalah Tiket ke Neraka

Selasa, 25 September 2018 - 14:50 wib

Diduga Pelaku Pencuri Sepeda Motor Kantor Gubri Ditangkap

Selasa, 25 September 2018 - 14:40 wib

34 Pegawai Terima Satya Lencana

Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib

Schneider Electric Garap Pasar Rumah Sakit Indonesia

Selasa, 25 September 2018 - 14:33 wib

Semarakkan HPI, Penyair Riau Hadir di Pasaman Sumatera Barat

Selasa, 25 September 2018 - 14:30 wib

Waspadai Penipuan Seleksi CPNS

Selasa, 25 September 2018 - 14:26 wib

Komunitas BR-V Meriahkan Showroom Event Honda Soekarno Hatta

Selasa, 25 September 2018 - 14:15 wib

Daihatsu Hadir di GIIAS Surabaya Auto Show 2018

Follow Us