CERPEN RISDA NUR WIDIA

Ziarah untuk yang Tak Pernah Mati

12 Juni 2016 - 01.58 WIB > Dibaca 2029 kali | Komentar
 
Ziarah untuk yang Tak Pernah Mati
Kesunyian itu seperti menertawakanku; menyoraki kekalahanku. Kesunyian itu tidak pernah mampus dikoyak waktu; mendekam dalam keabadian yang fana. Bahkan kesunyain itu kini malah menggumpal, menjadi sosok gagah yang menghantamkan seluruh kenangannya kepadaku. Kesunyian yang juga berhasil menyodorkan sebuah daftar pahit dari deretan ingatan pilu di masa lampau; menghidangkannya dalam satu seleberasi penuh kepedihan dalam hidupku.

 Akan tetapi, kesunyian itulah yang terus berusah menyeretku untuk pulang. Dan karena kesunyian itu, aku kembali berhadapan dengan sepetak rumah penuh kenangan ini. Berat hati rasanya melongok ke dalam. Terlalu banyak tawaran pahit. Tawaran-tawaran itu seakan menjelma menjadi realitas yang harus aku telan bulat-bulat; mengulumnya, sampai kenyang atau mambuk dibuat. Namun kedatanganku hari ini memang untuk kesunyian dan kenangan itu; mengingat peristiwa durja belasan tahun lalu; mendatangi sebuah petilasan tua tak berwujud dengan bangkai kenangan yang telah lama terkubur di dalamnya.

Aku masuk ke dalam rumah yang lebih terlihat sebagai sarang hantu daripada tempat untuk tinggal. Aroma pengap mendap di setiap sisinya. Juga masih berhembus aroma anyir darah. Beberapa kali aku juga melihat burung-burung kelelawar yang berterbangan di sana. Aku mengerling ke arah beranda rumah. Di sana masih terdapat dua buah kursi yang tidak kalah tua tertimbun debu. Dengan kondisi tidak kalah muram pula. Namun posisi kursi itu masih sama ketika aku tinggalkan dahulu. Bedanya, kursi itu kini sudah koyak-moyak. Entah karena nasib renta digerogoti waktu, atau ikut menjadi korban pada kekacauan itu.

Ahh, kenangan buruk tiba-tiba kembali menghampiriku. Datang dengan begitu angkuh, dan berdiri di depan benakku tanpa gentar. Berulang-kali aku mencoba untuk menanggalkan kenangan muram itu. Akan tetapi, sulit. Barangkali memang karena manusia hidup dari kenangan; mengekalkan kehidupan yang fana ini dalam satu lintas ingatan yang cepat, dan menjadikannya abadi.

Atau mungkin, kebahagian dan kesedihan juga harus diingat dengan cara seimbang. Pun untuk kenangan. Walau aku sudah ribuah kali menghantamnya dengan godam besar ke arah dinding ingatan, kenang itu akan bangkit lagi dan menyembuhkan dirinya. Seperti hari ini. Aku datang ke rumah ini dengan harapan untuk berdamai dengan kenangan itu. Demikianlah. Kenangan dan kesunyian inilah yang membawaku pulang. Bahkan kenangan serta kesunyian ini seperti memiliki otoritasnya sendiri dalam tubuhku; melakukan sebuah godaan gaib sehingga membuatku duduk sejenak di bangku itu; membiarkan sepasang mataku berkeliaran seperti bocah yang berlarian.

Tiba-tiba, tanpa pernah aku sangaka, kenangan dan kesuyian di dalam tubuhku ini seakan menjalin konspirasi busuknya. Seperti hidup dalam ilusi yang ganjil, aku kembali mendengar tawa kedua anakku yang berlarian di taman, sedangkan suamiku—yang menyukai tanaman—memekik meminta tolong diambilkan gunting kebun untuk merapikan bunga-bunga. Isi kepalaku mendadak ribut karena suara-suara itu. Terdengar begitu hidup. Juga mampu menciptkan visual-visual gerak di dalam persepi benak. Kesedihan dan kesunyian memang kini sedang bermain-main denganku. Hingga kemudian, dadaku terasa sesak. Aku merasakan ada sebuah ruang kosong di dalam diriku; ruang kosong yang lantas disis oleh bayangan pembantai itu...

***

Tahun 1998. Hanya ada sisa mendung dari hujan sejak siang yang masih menggantung di langit kota. Juga suasan sunyi dari rumah-rumah yang baru saja kami lewati. Waktu itu merupakan hari spesial untuk anakku. Aku dan suamiku baru saja pulang dari sebuah toko roti yang tetap buka saat konflik politik dan kesenjangan sosial terus terjadi di kota. Pedagang itu mungkin kukuh membuka tokonya karena berusaha mencukupi kebutuhan pokok yang melambung. Akan tetapi, hal ini memang kecenderungan yang nekat. Karena beberapa hari terakhir di kota, sering terjadi penjarahan yang dilakukan oleh orang-orang tidak dikenal.

Setiap pagi misalnya, lembar koran dan televisi tidak pernah luput mengawali hari dengan sebuah kisah-kisah yang tak sedap. Media cetak dan elektronik tidak habis-habis menayangkan sebuah kekejian yang dilakukan oleh manusia-manusia yang seakan diutus oleh Lucifer untuk menghancurkan bumi. Kejahatan seolah terus diulang: rumah terbakar, tangisan penuh ratap, pemerkosaan, hingga penjarahan yang berujung dengan pembakaran. Bahkan sempat terselip di dalam benakku: Apakah benar dunia ini diciptakan Tuhan dengan cinta? Semua itu seakan berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi.

 Begitulah. Seolah sama dengan yang aku lihat setiap hari di televisi, atau aku baca di koran-koran pagi; apa yang tersaji di hadapanku kini sama persis. Ketika aku menyusuri jalan: gang-gang terlihat begitu lenggang, setiap tikungan jalan seakan menanti sosok-sosok malaikat pencabut nyawa. Rumah-rumah juga  tertutup rapat. Terkadang aku juga melihat sebilah papan dengan tulisan: ‘Milik Pribumi.’ Hal itu dilakukan untuk menghidari kejadian buruk lainnya yang sering berujung pada perusakan. Aku dan sumiku melakukan hal sama di rumah. Kami menempelkan sebuah pelakat dengan tulisan serupa. Dengan cara itu, kami percaya malapetaka akan menghindar.

Aku dan suamiku berjalan tergesa-gesa. Setiap langkah yang kami ayunkan seakan diintai oleh puluhan mata tidak terlihat dari sela-sela tikungan. Hingga kami sampai di rumah. Setibanya di rumah kami mengadakan sebuah pesta kecil-kecilan, dan kemudian sebilah batu melayang masuk. Disusul juga teriakan gaduh dari luar. Aku benar-benar tidak menyangka pemadangan mengerikan yang hanya ada di televisi akan merenggut juga keluargaku.

Kerihuan orang terdengar di luar. Tidak tertinggal mereka menyebut-nyebut garis keturunan kami yang tak pernah aku mengerti mengapa selalu dipermasalahkan.

“Keluar kau, Cina!”

“Setan keparat!”

“Keluar kau iblis!”

Aku dan kedua anakku ketakukatan mendengar kegaduhan itu. Kami meringkuk di dalam kamar. Kami meninggalkan roti ulang tahun yang belum selesai ditiup oleh anakku. Suamiku mencoba menenangkan dan mengatakan: semua baik-baik saja. Namun sebongkah batu kembali melayang masuk, dan disusul segerombol orang yang menyeret suamiku. Mereka menghajar suamiku. Orang-orang itu juga menerjang anak-anakku. Mereka juga dengan keji membunuh anak-anakku, serta menggorok leher suamiku.

“Dasar penjajah!”

“Cina keparat!”

Aku benar-benar tidak mengerti: Apa hubungan antara leluhur kami—seorang Tinghoa—dengan penjajah? Orang-orang itu membawaku ke sebuah tempat. Mereka menginjak-injak. Bahkan, ada 15 orang memerkosaku secara bergiliran. Hanya keajaiban semata yang menolongku; keajaibaan yang juga merupakan kutukan. Karena setelah itu, aku harus hidup seorang diri. Dan kesunyian akhirnya menjadi teman; kawan meratap sembari menunggu keadaan membaik di akhir tahun 1998. Saat rezim kolot Orde Baru benar-benar tumbang.
Angin seketika berdesir. Sepoi lembut itu menggugurkan beberapa helai daun yang menyamak lebat halaman. Tubuhku begidik dibuatnya. Keringat dingin merinai. Tanpa sadar, air mataku terjatuh.

***

Pelan-pelan, aku masuk ke dalam rumah. Masih dapat aku rasakan sebuah kehidupan dalam kesunyian yang menangkupi isi rumah. Dalam gelap, beberapa kali aku melihat kelebat bayang-bayang. Entah apa. Mungkin juga mereka: anak-anak dan sumiku, yang masih hidup di dalam rumah yang telah setangah hancur karena kekacauan itu. Kemudian aku melangkah menuju dapur. Ruangan itu kini menjadi lembab. Ada aroma darah yang masih mengawang tertiup angin. Sejenak, aku duduk di salah satu bangku. Masih terdapat tiga piring yang dahulu rencananya akan kami gunakan untuk makan malam bersama setelah pesta ulang tahun anakku.

“Apakah kalian masih menungguku untuk melanjutkan makan malam yang tertunda itu?” Ucapku lirih. Sembari menekur di antara keremangan sinar rembulan yang menelisik melalui kaca-kaca yang pecah, aku memandangi satu persatu piring di meja. Dahulu anak-anakku sering berebut makanan, sedangkan sumiku akan mengingatkan mereka untuk saling berbagi. Keramaian itu akan bertambah bila ramdhan tiba. Namun semua itu kini sirna. Bahkan, aku tidak punya tempat untuk menziarahi mereka. “Hari ini aku pulang untuk kalian. Kita kembali berkumpul.”

Malam semakin sunyi. Suara serangga mengalun dalam irama yang ganjil. Kunang-kunang mulai bermunculan. Mula-mula hanya satu. Kemudian disusul yang lainnya. Hingga menjadi ratusan. Kunang-kunang itu melingkari tepi meja.

“Kalian datang.”

Sekali lagi aku mendengar pekik tawa anak-anakku. Juga gerutu suara suamiku yang mengingatkan agar anak-anakku tidak saling berebut. Tidak sampai di situ saja. Aku juga mendapati kenyataan kalau sendok dan piring yang semula beku dan tidak bergerak itu kini mulai melayang-layang sendiri. Benda-benda itu seperti digerakan oleh sosok-sosok gaib tidak terlihat. Terdengar juga suara penuh tuntutan dari anak-anakku.

“Buatkan aku nasi goreng!”

“Aku sayur bening saja!”

“Nasi goreng!”

“Sudah! Sudah! Biarkan ibu kalian memutuskan!”

Aku tersenyum melihat sendok dan garpu yang melayang-layang di antara kunang-kunang itu. Aku juga bahagia mendengar kembali suara-suara anak-anak dan sumiku. Mereka benar-benar belum mati. Mereka tetap hidup; walau mungkin kini jazad mereka sudah membusuk dan tinggal tulang-belulang di sebuah tempat tanpa nisan.***

Risda Nur Widia, belajar di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa. Pernah juara dua sayembara menulis sastra mahasiswa se-Indonesia UGM (2013), Nominator Sastra Profetik Kuntowijoyo UHAMKA (2013). Penerima Anugerah Taruna Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa; Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (2015). Buku kumpulan cerpen tunggalnya: Bunga-Bunga Kesunyian (2015). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.  
 

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Follow Us