SAJAK

Sajak-sajak Kiki Sulistyo

12 Juni 2016 - 02.06 WIB > Dibaca 1162 kali | Komentar
 
leluhur orang bakarti

kepala mereka besi biru, bundar sempurna bagai bola bandul
bergantungan di pohon manakala musim basah sampai di tanah
    
dulu ada pembantaian pertama atas nama permata di tiara datu
mereka sebut itu tulah manuh, azab bagi yang tidak beradab

kini orang sering dengar bunyi siren seperti silet mengiris tulang
mereka mengerti itu polisi tapi di dalam polisi ada daging mati

perampok yang luka waktu tiba di kalangan ini mengira kalangan ini
memang kosong saja, kecuali desis angin amis, tanda bahwa ada

yang pernah menangis

memang, orang baik datang, orang baik pergi, orang tidak baik
dikenang dalam percakapan perintang waktu makan

tapi keluarlah dari rumah pada jam ketika semua penghuni terpejam
kalian akan dengar mereka turun dari pohon-pohon

bagi tamu hendaklah mengucap puji, bukan janji
janji hanya untuk penghuni yang sudah bersumpah darah

jadi pemberontak untuk orang-orang kota, meski mereka cuma bisa
berputar-putar seperti piring terbang tersesat

di lingkar tata surya

(bakarti, 2016)


ramalan orang bakarti

kami akan menunggang bintang luncur, menanggung nasib yang hancur
wahana semua anumerta yang tak pernah disebut namanya
dari arah kota beterbangan bulu-bulu cahaya, menyebabkan malam buta
anak-anak kami akan menjinjing kepala sendiri hanya untuk percaya
bahwa tanah ini bagian dari lempeng surga  

(bakarti, 2016)


haji di bakarti

haji tua harus disapa apabila berpapas jumpa
haji muda harus ditiru caranya berbicara
agar berkah dan kelak bisa berkunjung ke Mekah

haji tua pastilah kaya, haji muda bisa memilih siapa saja
untuk jadi istrinya
serahkan pada mereka bila kalian kesulitan memberi nama
pada bayi-bayi yang lahir di puskesmas desa
nanti nama itu akan diselip di dinding-dinding masjid
itu jalan utama agar kelak bila dewasa
pada mereka diwariskan kunci surga

(bakarti, 2016)


pasung bakarti

hidup kami buruk. kematian kami akan lebih buruk
kami pengidap alzheimer berkenang sonder ingatan
di pantai-pantai ramai kami hitamkan
matahari
di penginapan-penginapan murah kami nyalakan kembali
cahaya asilum, pendulum untuk album keluarga dan rencana-rencana kejahatan
kami telanjang bagai binatang, saling menghisap darah dari luka yang lama
digaramkan kebahagiaan

kebahagiaan adalah musuh, dan kami selalu ingin membunuhnya
ia seperti parasit bagi tubuh kami yang makin sakit, tubuh yang mengalami
semua kesalahan dunia, menampung semua dosa manusia
kami gusar karenanya, kami bakar iman kami pada iman kami
hingga kami tak tersentuh bahkan oleh pikiran kami sendiri  

betapa kami kesepian di tengah kebajikan, betapa segala yang baik
tak pernah bisa menarik kami dari pelik pasung ini

(bakarti, 2015)


layar tancap, ampenan, 1987

tak ada pagi yang lebih pantas dari pagi dengan siaran
keliling kota: suara dari toa baterai tiga
menggema di
tembok-tembok tua.

saksikan malam ini; barry prima, advent bangun,
pendekar bukit tengkorak, panas, full action!

ada toko orang cina persis di seberang bioskop Ramayana
tempat paman bekerja —bapak suka berlama-lama di sana
menawar harga meski di kantongnya tak ada apa-apa

pemilik toko itu tahu, Ampenan tak pernah bisa menyembunyikan
kesedihan, ia rasakan mata bapak di matanya, hampa dan tak berdaya

betapa langit begitu cepat menyerap cahaya
senja dan paman berangkat bersama, saat bapak pulang
mereka bertemu di simpang, bersinggungan, tanpa saling menyapa.

tak ada malam yang lebih lamban dari malam tanpa keinginan
manakala kami dengar para pendekar bersilat di layar tancap
napas bapak yang sesak menanjak ke puncak,
seperti ingin beranjak
dari dada yang sekian lama terinjak
kaki-kaki kota                                   
                                                                 
(bakarti, 2015)

Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Buku-buku puisinya adalah Hikayat Lintah (2014), Rencana Berciuman (2015), dan Penangkar Bekisar (2015). Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 10:55 wib

Oplet Mulai Ditinggal

Kamis, 15 November 2018 - 10:30 wib

Pencatut Nama Kapolda Riau Ditangkap

Kamis, 15 November 2018 - 10:16 wib

Puluhan Pasangan Terjaring Razia

Kamis, 15 November 2018 - 10:00 wib

Anggaran Makan SMAN Plus Dihentikan

Kamis, 15 November 2018 - 09:55 wib

GTT Digaji Rp1,5 Juta Sebulan

Kamis, 15 November 2018 - 09:38 wib

Kerusakan Jalan Datuk Laksamana Semakin Parah

Kamis, 15 November 2018 - 09:36 wib

Geger, Harimau Terjebak di Antara Ruko

Kamis, 15 November 2018 - 09:00 wib

BPK Temukan Kelebihan Bayar Rp239 Juta

Follow Us