OLEH BENI SETIA

Pendokaran Bahasa

12 Juni 2016 - 02.19 WIB > Dibaca 1726 kali | Komentar
 
Pendokaran Bahasa
Khazanah bahasa Jawa mengenal tiga tingkatan tutur: halus, menengah, dan kasar. Dalam aplikasinya, pengastaan itu lebih pada cara menghargai subjek yang dilibatkan dalam komunikasi, yang senantisa mengandaikan ada pihak yang absolut harus dihargai atau diperlakukan terhormat berdasarkan kepatutan etis. Nuansa pekat “tahu diri” itu membuat komunikasi terjabar frontal dalam klasifikasi siapa dan apa (identitas) penutur dan mitra tuturnya.

Pragmatika selalu menempatkan mitra tutur sebagai subjek, sehingga penutur harus paham siapa mitra tuturnya. Tingkat usia, derajat silsilah, serta aura kepangkatan mitra tutur dipertimbangkan agar pas saat memuliakan keutamaannya (sebagai manusia utama) atau menghargainya—sebagai manifestasi kesantunan tadi. Sebaliknya, si manusia utama ini pun harus pula etis memanifestasikan penghargaannya kepada orang biasa (untuk menunjukkan derajat kesantunannya sejalan dengan kedudukan itu). Sementara itu, kaum petani, pedagang, buruh, dan si seterusnya harus tahu diri dengan memuliakan si manusia utama.

Pencanggihan berjenjang bahasa Jawa itu tampaknya merupakan metode yang secara sadar digunakan untuk mengekalkan peta situasional komunikasi. Penjabaran siapa subjek dan siapa objek menjadi hal penting, agar derajat subjek selalu bisa diketahui, diempati, dan diawetkan—dan otomatis selalu dimuliakan.

Banyak orang yang menanyakan adanya hegemoni dalam komunikasi semacam itu. Ada pula yang mengaitkannya dengan keruntuhan hegemoni Mataram Islam oleh kolonialisme Berlanda c.q. VOC. Konon, akibat ketidakberdayaan itu muncul pengalihan hegemoni pada komunikasi, yaitu dengan mengekalkan hierarki yang dipraktikkan dalam komunikasi bahasa berjenjang. Entahlah.
         ***

Dalam “Perbudakan Bahasa” (JP, 12/08/2012), Budi Darma bercerita tentang penutur yang pandai berbahasa Inggris. Mereka memiliki pelafalan yang amat tepat; gramatikanya amat tertib; sehingga lancar berkomunikasi tentang hal-hal remeh-temeh. Namun, karena hanya tahu berbahasa dan hal sepele yang diinformasikan bahasa itu, ia menjadi gagu ketika ikut seminar dan diajak berdiskusi tentang objek yang disampaikan narasumber. Aspek bacaan yang terbatas—dalam bahasa Inggris atau bukan—, membuat ia sama sekali tidak punya pendapat tentang hal yang baru didengarnya. Padahal, semua itu sudah dibaca, kritis dipikirkan dan disipersoalkan oleh penutur lain—meski dengan bahasa Inggris yang payah pelafalan serta gramatikanya. Dengan kata lain, bukan intonasi dan gramatika bahasa Inggris itu (bahasa Inggris lisan) yang terpenting melainkan hal yang bisa dibaca dan senantiasa diusahakan bisa dibaca dalam teks berbahasa Inggris. Fungsi literasi bahasa Inggris itulah yang paling pokok—bukan cecuapan basa-basi internasionalnya.

Pada praseminar Konggres Bahasa Jawa di Surabaya, Ayu Sutarto membilang, dirinya (minimal) menguasai empat bahasa: (1) bahasa Jawa, yang dipakai berkomunikasi dengan keluarga di rumah; (2) bahasa Indonesia, sebagai konsekuensi dari komunikasi formal dalam pekerjaan; (3) bahasa Arab, yang (sedikitnya) dilafalkan lima kali sehari sebagai muslim yang wajib bersalat; dan (4) bahasa Inggris, sesuai dengan tuntutan profesional sebagai pengajar di Fakultas Bahasa dan Sastra Inggris di Unej Jember.

Klaim”berbahasa Arab” itu perlu dikoreksi karena yang dilafalkan saat bersalat bukan cuma teks bahasa Arab biasa, tapi firman Allah—berujud surah pendek atau beberapa ayat Alquran—, dan sebagian (teks) merupakan kelengkapan utama dari ritual salat—bacaan niat, takbir, dan seterusnya. Saat bersalat orang tidak sedang mempraktikkan kesombongan berbahasa seperti dicemeehkan Budi Darma tadi. Ketika salat orang menghadirkan yang difirmankan Allah, meski itu tersurat dalam media bahasa Arab. Tidaklah mengherankan apabila seseorang yang sedang khusyuk bersalat kuasa meraih yang tersirat dari teks tersurat. Dalam keadaan ini, orang itu merasa beraudisi dengan Allah Zat Maha Tinggi. Ia spontan terisak karena “bertemu”.

Meski konteks dan levelnya berbeda, ihwal aplikasi (operasi) kedalaman berbahasa itu yang sebenarnya sedang digarisbawahi oleh Budi Darma. Seperti terbukti di pesantren, selain mengaji Alquran, para santri pun tetap harus mengambil pelajaran Bahasa Arab (dipaksa pandai berbahasa Arab sebagai alat melafalkan ayat-ayat Alquran secara pas; media mencari rujukan tafsir Alquran; dan seterusnya). Formatnya, bahasa Arab itu hanya alat untuk memahami Alquran, bukan yang terutama hingga Alquran diabaikan. Lucunya, format semacam itu tidak ditemukan pada banyak sekolah umum di Indonesia. Sekolah-sekolah itu ingin terlihat total menginternasional dengan bahasa pengantar bahasa Inggris meski materi ajarnya lokal.

         ***
Ambisi menghasilkan alumni berstandar internasional di sekolah berstandar internasional (SBI) atau RSBI itu membelok dan membias menjadi sekolah yang hanya menjajakan kehebatan bahasa pengantar: bahasa Inggris. Padahal, jurusan yang diutamakan selalu IPA yang terkait dengan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi; anti jurusan IPS, dan mengabaikan jurusan Bahasa. Yang menjadi fokus mereka bukanlah pada materi ajar dengan acuan kurikulum yang berstandar Harvard, misalnya (kondisi ini diperparah oleh kompetensi guru yang tidak bertaraf pendidikan S-2). Alhasil, terjadi upaya pencanggihan dengan mistifikasi intens penguasaan bahasa pengantar—bahasa Inggris.

Prioritas branding itu menyebabkan bahasa Indonesia terpinggirkan dan bahasa daerah lumpuh. Padahal, materi ajar akan lebih gampang diserap kalau disampaikan dalam bahasa pengantar yang dikuasai siswa—yang membuat proses belajar-mengajar tuntas. Saat dipersulit oleh bahasa pengantar terjadilah keterbataan pemahaman. Akibatnya, materi ajar tidak pernah tuntas dikuasai siswa. Lalu, munculnya penilaian bahwa sekolah itu berada di bawah level internasional. Itu barangkali pula akibat perilaku penjenjangan bahasa (bahasa Indonesia lebih rendah daripada bahasa Inggris) seperti yang dilakukan priyayi lewat penjenjangan bahasa (Jawa). Kenapa tidak melakukan pendonkaran bahasa?

Pendokaran bahasa merupakan tindakan menjadikan bahasa sebagai alat angkut. Dalam dunia pendidikan, bahasa dijadikan sebagai pemicu kemampuan siswa dalam mengeksplorasi informasi serta menggugah yang bisa diketahui melalui bahasa. Yang diutamakan adalah muatan—wawasan dan kekritisan—, bukan penguasaan bahasa tanpa isinya.***

Beni Setia adalah sastrawan.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us