KERAJINAN RAKYAT

Tenun Bukitbatu Semakin Lengang

18 Juni 2016 - 22.08 WIB > Dibaca 837 kali | Komentar
 
Tenun Bukitbatu Semakin Lengang
“Kalau dulu, satu-satu umahnyo yang tak menenun. Kalau sekarang, tebalik dah. Satu-satu umahnyo yang menenun.’’

Laporan: Jefrizal (Bukitbatu)


KATA-kata itulah yang mengalir dari mulut pengrajin tenun di desa Bukitbatu Laut, Lin (37)  Selasa (14/6) lalu. Gerimis yang mengiringi perjalanan menuju ke desa Bukitbatu Laut hari itu, sebuah desa yang termasuk dalam bagian Kecamatan Bukit Batu Kabupaten Bengkalis. Desa yang tidak begitu luas itu terletak di sebelah timur Desa Bukit Batu. Muara sungainya langsung berhadapan dengan Tanjung Jati-Selat Melaka.

Ketibaan Riau Pos langsung disambut oleh seorang perempuan yang dikenal sehari-hari dengan panggilan Lin. Senyuman dan keramahan yang terpancar dari seorang perempuan yang saat ini bekerja sebagai guru PAUD itu bersebati dengan keramahan suasana di desa tersebut. Asri agaknya kata yang tepat untuk diungkapkan karena masih dapat ditemukan pokok kayu yang masih hijau dan bersigau, berdiri diantara rumah-rumah penduduk yang ke semuanya menggunakan pancang yang dicacakkan di pantai sebagai kaki rumah.

Air laut tampaknya mulai naik pasang pagi itu. Gerimis yang jatuh ke permukaannya kemudian memecah membentuk riak-riak kecil di genangan yang berwarna kecoklatan tersebut. Bentuk-bentuk rumah Melayu sederhana berderet-deret memenuhi sepanjang jambatan panjang yang menjadi akses jalan bagi masyarakat di desa itu. Meskipun ada satu atau dua rumah yang sudah didesain sedikit modern.  

Langkah kami kemudian terhenti ketika mendengar suara keletuk-keletak di sebuah rumah yang berwarna hijau muda, rumah pertama di sebelah kiri di desa yang sekarang bermastautin sekitar 90 lebih KK itu. Sumber suara itu tak lain adalah suara orang yang sedang menenun seperti yang dijelaskan Lin kepada Riau Pos. “Kito singgah di umah ni dulu, kebetulan tuan umahnyo baghu menaikkan kain. Kalau dulu, datang ke kampung kami ni, tiap-tiap umah tedengo bunyi keletuk-keletak, kalau sekarang ni dah lengang dah,” ujar Lin sembari mengucapkan salam.

Seorang perempuan yang sedang mengepit anak laki-laki menyambut kami dengan ramah. Namanya adalah Norma alias Ino (37). Setelah dipersilakan masuk, benar saja, Ino memang sedang menenun kain. Di rumah tenun yang diletakkan di dapur rumahnya itu terbentang kain tenun separuh jadi berwarna merah jambu.

Sembari tetap menenun, Ino banyak bercerita tentang kerajinan menenun yang dulunya hampir seluruh masyarkat di Bukit Batu laut mewarisi keterampilan danTradisi warisan leluhur itu secara turun temurun. Namun sangat disayangkan saat ini, keterampilan itu seolah-oleh mulai dilupakan dikarenakan beberapa faktor.

Faktor utamanya adalah faktor ekonomi. Masyarakat di desa Bukitbatu Laut terutama para wanitanya hari ini lebih memilih untuk memproduksi kerupuk sagu ketimbang kain tenun yang sulit sekali untuk dijual. “Kalau kerupuk sagu tu kan makanan, permintaannyo tak putus-putus. Kalau kain tenun ni, permintaannyo sekarang siket betol, jadi kami menenun apabilo ado order dari orang je, itu pon tak banyak,” jelas Ino sembari tangan dan kakinya terus bersigau melakukan pekerjaan menenun.

Kondisi ini jauh berbeda dari beberapa tahun yang lalu. Permintaan dari pembeli atau “penampung” (isitilah yang mereka gunakan untuk orang yang mengorder dan membeli banyak untuk dipasarkan di beberapa daerah bahkan ke luar negeri) masih sangat banyak ketimbang hari ini. Diakui Ino, terakhir yang ramai itu sekitar tahun 2006 sampai 2007, setelah itu lenganglah secara perlahan-lahan permintaan akan kain tenun Bukitbatu.

Sepinya permintaan juga disebabkan para penampung yang dulu itu sudah tidak membeli lagi disebabkan sudah tua atau malah sudah meninggal dunia. Faktor lainnya, banyak pengrajin dari luar yang belajar di Bukitbatu ini kemudian setelah paham, mereka mengembangkannya ke daerah masing-masing.

Maka tak heran, banyak rumah tentun yang tergeletak bisu dan lapuk di rumah-rumah warga di desa Bukitbatu Laut ini. “Ado tu adolah beberapo yang masih menenun tapi itu tadilah, tinggal beberapo orang sajo. Tapi kalau pas ado pesanan banyak, barulah agak bising sedikit di tiap-tiap rumah di kampung kami ni,” terang Ino.

Ino salah satu yang masih aktif menenun meskipun setakat mengambil upah dan dia terkenal dikampungnya perempuan yang sangat cepat dalam menenun. Dalam satu hari, dia bisa menenun lima sampai tujuh kain kalau memang fokus dikerjakan. Tetapi hal itu tidaklah mengherankan karena sejak tamat SD, tak ada pekerjaan lain yang digelutinya selain dari menenun. Keterampilannya itu didapat atau dipelajari dari emak dan neneknya.

Dan memang, dahulu semacam wajib bagi anak gadis di desa Bukitbatu Laut untuk pandai menenun. Apalagi anak gadis yang tidak mau melanjutkan sekolahnya. Pastilah mereka akan belajar menenun dari orang tuanya atau dengan mak cik mereka. Kewajiban itu sendiri tidaklah datang dari doktrin atau paksaan dari pihak orang tua atau orang lain akan tetapi bisa saja dari panggilan hati atau memang karena begitu semaraknya orang menenun ketika itu sehingga menjadi aib pula jikalau merasa lahir di desa ini tetapi tidak pandai menenun.

Lin sendiri misalnya, mengakui hal itu. Meskipun orang tuanya (emak) tidak asli dari desa ini, sehingga tidak pandai dalam keterampilan menenun, tetapi oleh karena dia tumbuh besar di desa Bukitbatu Laut, dia belajar menenun dari mak ciknya. Hanya saja oleh karena faktor yang tidak mendukung saat inilah, Lin sudah lama tidak menenun, dia pun memilih mengajar di PAUD untuk membantu memenuhi keperluan keluarga. Dan dia saat ini juga memilih untuk memberi orderan kepada kawan-kawannya yang masih aktif menenun. Setiap kali ada orderan kepadanya, akan dibagikan kepada sesiapa saja yang mau menenun.

“Banyak yang sayo lemparkan ke Ino sebab dio lincah dan cepat kalau menenun. Sebab kalau pon sayo menenun, banyak tak adonyo. Modal untuk menenun ni bukanlah murah sekarang, bahan-bahannyo mahal, makonyo kalau ado langganan atau kenalan yang order ke sayo, langsung sayo bagilah kepado orang-orang ni,” jelas Lin sembari menunjuk ke arah Ino.

Begitu pesatnya kegiatan menenun ini di desa Bukitbatu Laut dahulunya, dibuktikan pula dengan keberadaan sebuah bangunan yang dijadikan sebagai Rumah Tenun. Bangunan ini dulu dibangun untuk keperluan masyarakat setempat dalam mengembangkan kerajianan tenun itu sendiri. Di dalamnya terdapat beberapa buah rumah tenun yang sebagiannya merupakan bantuan dari pemerintah.

Bangunan itu diberi nama Rumah Tenun Cik Siti Lewat. Nama itu sendiri diambil dari cerita rakyat setempat tentang seroang perempuan yang kononnya semasa hidupnya cukup mengharumkan nama perempuan di desa Bukitbatu Laut. Letak bangunan itu tak jauh dari rumah Ino. Sebuah bangunan yang tak lagi menunjukkan serinya, yang tidak lagi bermaya. Dinding papan yang kian rapuh dan lusuh, atap seng berkarat, pelafon yang terbongkasdi sana-sini,  berpadu pula dengan lengang yang terasa di dalam gedung itu. Di satu sudut ruangan, terlihat beberapa rumah tenun yang tergeletak lapuk tak pernah lagi digunakan.
 
Awal dibangun, kata Lin, banyak rumah tenun di dalamnya. Rumah tenun itulah yang digunakan bagi masyarakat untuk menenun dan juga belajar menenun. Tetapi kemudian, tak berapa lama setelahnya, rumah tenun itu dibawa pulang oleh beberapa orang karena terlalu terikat waktu kalau menenun di bangunan atau balai tersebut.  Kalau dibawa ke rumah masing-masing, kerja menenun dapat dilakukan sambilan menyelesaikan pekerjaan rumah.

“Tapi itu tadilah, program ini terhenti karena orang yang membeli semakin tidak ado. Banyak pun yang pandai, kalau yang membeli tak ado, tak jugo ado gunonyo, malah rugi yang dapat. Makonyo banyak yang lari sekarang ni, membuat kerupuk sagu,” jelas Lin lagi.

Tak Semudah yang Dibayangkan


Germis tampaknya semakin gemar dan akrab pula menemani perjalanan di desa Bukitbatu Laut hari itu. Dalam gerimis itu pula, Riau Pos yang terus didampingi Lin tetap bercerita sembari menuju ke beberapa rumah penduduk pengrajin tenun lainnya guna mengetahui keberadaan tenun Bukitbatu Laut lebih jauh lagi.

Tersebut seorang yang legend dalam hal menenun, warga setempat memanggilnya Ainun (50). Rumahnya terletak agak jauh ke dalam, ke arah muara sungai. Kenapa Legend karena beliau sangat mahir dalam pekerjaan satu ini. Kemahirannya tidak hanya pada proses menenun saja tetapi mulai dari proses awal sampailah ke akhir jadinya sebuah kain tenun.

Dari penjelasan Ainun, ternyata proses menenun tidaklah semudah yang dibayangkan. Karena ada beberapa proses yang mesti dilakukan sebelum benang naik ke rumah tenun. Stelah benang dibeli, pertama pengrajin tenun terlebih dahulu hendaknya menerau. Proses ini adalah sebuah pekerjaan menggulung benang pada buluh kecil. Lalu kemudian dilanjutkan dengan proses yang disebut mengani, sebuah proses menggulung benang pada papan gulung. Proses ini sangat penting karena diproses inilah ditentukan “nyawo” dari tenunan yang dihasilkan. Apabila pada proses mengani ini bermasalah, akan bermasalah pada proses selanjutnya. Pada proses ini juga membagi mana benang yang dijadikan sebagai perentang dan mana benang yang dijadikan sebagai pelantak.

Kemudian, barulah benang dinaikkan ke rumah tenun. Tetapi sebelum aktifitas menenun, terlebih dahulu benang dimasukkan dan diatur satu persatu ke dalam kaghap dan terakhir dimasukkan ke sisei. Setelah itu, barulah benang dapat ditenun menjadi kain tenun.

Cara diatas adalah cara tradisional seperti halnya yang dijelaskan oleh Ainun. Dan cara itu masih dipakai di masyarakat pengrajin tenun di Bukitbatu Laut. Hari ini, katanya sudah banyak alat-alat modern yang disediakan namun bagi Ainun, cara tradisional justru akan lebih menghasilkan kain tenun yang asli dan lebih rapi serta detil.

Diakuinya juga, dia sudah lama tidak menenun. Hal itu juga disebabkan persoalan yang sama dengan penenun yang lainnya. Namun demikian, dikarenakan banyak keahliannya yang lain dalam proses menghasilkan kain tenun, Ainun lebih memilih mengambil upah mengani. Karena tidak banyak yang paham dan berani mengambil upah itu. Kerjanya agak sulit dan harus teghatim atau teliti.

Dan Ainun didampingi suaminya, Idris (62) tidak hanya menjelaskan kesulitan dari proses mengani tetapi dalam kesempatan itu, mereka berdua sekaligus mempraktekkan bagaimana proses kerja mengani dari awal sampailah selesai. “Sayo bukanlah satu-satunyo yang pandai, ado jugo beberapo yang lain tetapi mereka tak berani ambil upah sebab kalau tesalah dalam proses ini, misalnyo teputos atau kusut, benang yang dah dikejokan ini, tak dapat digunokan lagi,” jelas Ainun yang segera mendapat anggukan dari suaminya tanda setuju.

Rintik gerimis di luar rumah telah berubah menjadi hujan deras beserta petir dan angin ribut. Sementara itu, Ainun dan Idris tampaknya semakin bersemangat pula bercerita tentang tenun dan hal-hal yang terkiat degan itu. Perbincangan yang berlangsung sekaligus menjadi momen bernostalgia bagi ke dua orang tua tersebut. Menenun dulu, kenang Ainun memang begitu semarak. Tak kira umur, dari anak dara kecil sampailah orang tua. Sampai-sampai diistilahkan atau digambarkan bahwa orang dulu menenun sampai tua bungkuk, sehingga campak kalungnya ke kain tenun tetapi masih tetap menenun.

Hal itu yang sangat bertolak belakang dengan keadaan hari ini. Perempuan hari ini, terutama generasi muda tak ada yang tahu menenun bahkan mereka tidak sudi belajar menenun. Kalau orang tua mereka menenun, kata mereka bisinglah. Mereka lebih asik menonton televisi atau bermain Hp. Bahkan yang menyedihkan, lebih banyak pula orang luar yang mau belajar ketimbang warga tempatan. “Tak sado dio, yang membesokan dio dari hasil bertenun nilah,” ujar Ainun lagi.

Padahal kalau dilihat dari rumah tenunnya, jauh lebih mudah pengerjaan dengan rumah tenun sekarang ini yang dikenal dengan sebutan TBM (Tenun Bukan Mesin). Awal-awal dulu orang menenun dengan menggunakan rumah tenun Ghedouk. Masih kecil ukurannya sehingga pengerjaan kain tenun disambung-sambung dan sulit sekali untuk menghasilkan kain tenun yang rapi keculai dikerjakan dengan bersungguh-sungguh. Setelah itu barulah ada rumah tenun berikutnya yaitu rumah tenun tampon. Dan dari tampon inilah baru dikembangkan menjadi rumah tenun TBM seperti sekarang ini.

Tetapi kemudian, diakuinya, permintaan akan kain tenun hari ini jauh merosot. Kalau dulu, kain tenun masih dikerjakan sudah ada yang menanggam atau memesan. Atau paling meleset, begitu kain siap, langsung habis dibeli oleh panampung. Kalau sekarang, kondisinya sangatlah sulit. Semuanya menunggu pesanan dari orang, itupun tak banyak. Kadang berebut-rebut sehingga antara sesama penenun pun bergaduh pula jadinya.

Tenun Sebagai Identitas Melayu


Tenun atau disebut juga songket merupakan kain hasil kerajinan tangan orang-orang Melayu yang dilakukan dengan melalui proses menenun benang yang diselingi dengan tenunan benang emas atau benang perak dengan ragam motif dan corak tenunan tertentu.

Kain tenunan memiliki keunikan dan kaya akan nilai keindahan dan estetika sebagai gabungan unsur-unsur budaya yang melambangkan corak, pandangan dan pemikiran masyarakat Melayu. Setiap ragam motif atau corak sangat erat hubungannya antara manusia dengan alam baik hewan maupun tumbuhan. Ragam ini juga mencerminkan cara dan pandangan hidup orang-orang Melayu.

Hal diatas dijelaskan oleh salah seorang tokoh masyarakat di desa Bukitbatu Laut, Abdul Hamid Ba’asir (86). Orang tua ini, ditemui Riaupos di kediamannya pada sebelah petang sesudah sholat Asar.

Sebagai orang yang dituakan, Hamid sangat menguasi perkembangan dari kerajinan tenun di desanya itu. Katanya, kerajinan yang didapat secara turun temurun ini seharusnya tetap harus dijaga karena disamping berbagai nilai-nilai filosofi yang terkandung di setiap motif dan corak yang ada, tenun juga menjadi identitas orang-orang Melayu dalam tatacara berpakaian.

Memang kondisi di Bukitbatu Laut, hari ini tidaklah seramai dahulu dalam kerja menenun. Zaman telah berubah, hari ini diperlukan kebijakan yang lain pula terutama peran pemerintah sangat diharapkan untuk perkembangan kerajinan yang masih terjaga sejak zaman-berzaman ini. Sewaktu beliau masih sehat dan bugar, Hamid adalah salah seorang yang turut memperjuangkan berdirinya bangunan atau balai Rumah Tenun Cik Siti Lewat.

“Tapi begitulah kondisinyo. Penenun di desa ini tak punyo kemampuan untuk memasarkan produk yang dihasilkan. Kalau dulu, penampung berebut-rebut datang kemari untuk membeli, kalau sekarang memang sepi. Tambahlak pembeli yang dulu itu sudah tua, tidak sanggup lagi menjalankan usahanya,” ungkap Hamid terbata-bata menjelaskan dalam kerentaannya.***

Editor: Kunni Masrohati

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us