ESAI SASTRA

Sastra Lisan sebagai Media Pendidikan Keluarga

18 Juni 2016 - 22.59 WIB > Dibaca 1195 kali | Komentar
 
Keluarga merupakan fondasi dasar untuk membina para generasi muda bangsa. Berangkat dari lingkungan keluarga – ayah dan ibu – seorang anak bisa mengenal serta mengetahui banyak hal. Sehingga, peran keluarga dalam memberikan pendampingan dan pendidikan bagi anak-anaknya tidak dapat kita sangsikan. Selebihnya, masyarakat dan sekolah yang menjadi sumber kedua sebagai media anak memperoleh wawasan dan pendidikan serta moral. Dari ketiga dasar tersebut, khususnya di lingkungan keluarga pola hidup seorang anak bisa diciptakan lebih intens.

Peran keluarga dalam memberikan dorongan materil dan moril kepada anak-anaknya sangat berpengaruh besar. Terlebih dalam hal moril dan pergaulan. Peran keluarga tidak boleh disepelekan oleh alasan apa pun. Namun, memasuki abad XXI, peran keluarga sebagai sumber dan dasar pendidikan serta penanaman moral yang baik semakin menyusut. Anak-anak mereka lambat-laun dikenalkan kepada modernisasi. Alat-alat digital menggantikan fungsi seorang ayah atau ibu. Tak dapat dimungkiri, kedekatan antara anak dan orangtua pun semakin menghilang. Apalagi ditambah dengan industri penerbitan-percetakan, sehingga orangtua tidak harus banyak berbagi dengan anak-anaknya. Mereka cukup memberikan buku atau alat digital lainnya untuk dibaca.

Dalam konsteks yang berbeda, Sokrates juga mengkhawatirkan kehadiran industrialisasi dan digitalisasi bagi pengaruh pola pikir. Walter J. Ong (2013:119) mengutip alasan Sokrates dalam tulisan Plato menyatakan bahwa tulisan menghancurkan daya ingat. Orang-orang yang menggunakan tulisan menjadi mudah lupa, mengandalkan sumber luar untuk apa yang tidak mereka miliki dalam sumber internal mereka. Tulisan melemahkan pikiran. Selain itu, kalkulator juga akan melemahkan pikiran.

Sedangkan wawasan versi tulisan dan digital – di lingkungan anak-anak – jika tidak dan pengawasan orangtua, bisa menjadikan mereka bersifat individual dengan mental acuh tak acuh untuk mendengarkan orang lain. Maka dari itu, wawasan versi tulisan terlebih versi digital harus dengan bimbingan orangtua. Sesekali orang tua yang membacakan, sesekali pula biarkan anak-anak membacanya sendiri. Cara tersebut cukup edukatif dan bisa menanamkan kebiasaan mendengarkan nasehat orang lain.

Alat Digital, Karir, dan Kerja

Mungkin kita mengakui bahwa alat digital di abad XXI ini memiliki pengaruh kuat untuk mengubah hidup dan pola pikir manusia. Terlebih anak-anak yang masih berpikiran pendek. Mereka akan mudah terhipnotis. Akibat pengaruh digital, anak-anak zaman sekarang cenderung impulsif, tidak tahu sopan santun, dan sulit untuk memiliki rasa bersalah pada dirinya (Yee-Jin Shin, 2014:16). Mereka secara biologis merupakan anak-anak dewasa, tapi pola pikirnya tidak mencerminkan kedewasaan yang utuh. Hal itu yang dikhawatirkan, akibat peran keluarga dalam mendidik anak-anaknya tidak begitu dekat. Mereka lebih memilihkan alat digital – anggapannya – agar anak-anak mereka kreatif dan mandiri dengan belajar sendiri tanpa harus didampingi dan diajari secara terus-menerus.

Kekhawatiran Socrates kini sudah bisa kita rasakan. Dunia sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Kedekatan orangtua terhadap anak-anaknya melalui media pembelajaran lisan hampir dilupakan. Ketika anak terbiasa dijejali dengan pendidikan berbasis digital tanpa panduan orangtua – yang berasalan sibuk kerja dan karir – saat mereka menemukan masalah, tentu orangtua bukan lagi sandaran utama. Tak heran jika ada banyak anak nakal terjerumus ke dunia gelap: seks, miras, dan narkoba.

Melihat fenomena demikian, peran orangtua terhadap anak-anaknya harus difungsikan kembali untuk membangun kedekatan yang lebih intensif. Alasan kerja dan karir jangan menjadikan penghalang untuk membangun kekeluargaan dengan anak-anaknya. Dari sini – kedekatan orangtua – tetap bisa dan menjadi landasan utama untuk mendidik dan menjadikan generasi muda agar memiliki wawasan luas, moral, dan pendidikan yang bernilai positif bagi diri sendiri, keluarga, nusa, dan bangsa.

Menghidupkan Tradisi Lisan

Dalam karya sastra klasik, kita mengenal istilah cerita dan dongeng. Dua elemen tersebut sangat tepat untuk membangun pendidikan dan karakter anak di lingkungan keluarga. Namun, akibat modernisasi dan digitalisasi yang sudah memberangus kehidupan umat manusia, dua elemen tersebut tersisihkan. Kemudian digantikan oleh alat-alat digital yang menyebabkan manusia menjadi individualistik, tanpa peduli persoalan orang lain.

Memang lumrah dan sah-sah saja, tradisi lisan bergeser ke tradisi tulisan. Tapi, ada sesuatu yang hilang dalam pergeseran tradisi ini. Selain figur pencerita di depan mata dan telinga yang hilang, juga stylized (gaya) tertentu yang tidak ditemukan dalam tradisi tulisan. Misalkan gaya-gaya oral pencerita yang formulaik, skematis, dan mnemonic patterned tidak dapat ditemukan dalam buku cerita (Sugihastuti, 2013:6).

Bukan hanya banyak ciri dan gaya kelisanan yang hilang, namun juga yang lebih terasa adalah kemunculan erosi atau ketiadaan fungsi sosial seperti yang dikandung dalam tradisi lisan. Anak-anak yang getol membaca buku cerita itu tidak lagi berkomunikasi lisan dengan orang lain. Baik dengan sesama audience maupun dengan tukang cerita yang ada di hadapannya, terlebih dengan orangtuanya.

Sekarang, karya tulis sudah memasyarakat di kalangan anak, baik yang berbentuk digital atau cetak. Banyak majalah anak dan remaja menyebar dan dibaca oleh kalangannya. Anak-anak yang sudah asing dengan dongeng lisan kini dapat menikmati cerita dalam bentuk apa pun, baik yang dimuat di majalah, alat digital, maupun yang dibukukan. Itu semua mudah kita temukan dalam kehidupan yang sudah serba modern saat ini. Memang perubahan tersebut harus kita acungi jempol, namun tentu ada hal-hal krusial lain yang tak boleh kita tinggalkan. Seperti halnya bercerita atau mendongeng secara lisan bersama keluarga.

Apalagi, kebijakan penerbit untuk menerbitkan cerita anak dari negara asing ditempuh oleh penerbit dalam negeri. Hal ini juga jangan sampai menggeser peran orangtua untuk bercerita atau berdongeng bagi anak-anaknya. Selain menanam kedekatan, dari cerita atau pun dongeng itu, anak-anak masih bisa mengambil pelajaran yang berharga. Budaya lisan – bercerita dan berdongeng – sebagai bagian dari kekuatan sastra dalam mendidik anak-anak kita jangan sampai dikesampingkan.

Maka dari itu, pendidikan keluarga berbasis sastra lisan (bercerita dan berdongeng) di era digital ini sangat memberikan peluang bagi orangtua untuk mendidik anak-anaknya. Kedekatan anak dan orangtua melalui media bercerita atau berdongeng akan menjadi pengikat ketika anak-anak mereka dilanda kegelisahan atau masalah, mereka tentu akan mengadu dengan model bercerita pula kepada orangtuanya. Peluang anak menyelesaikan masalah di luar rumah – pergaulan bebas, miras, dan narkoba – kemungkinan bisa diminimalisasi. Mari, jaga kedekatan orangtua dan anak-anak di era digitalisasi dengan gaya bercerita yang meneraik tentang kisah-kisah inspiratif untuk mendidik mereka!***



Junaidi Khab, adalah akademisi, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Karya-karyanya terangkum dalam antologi “Novelisme: Pengakuan Pembaca Novel” (2013), kumpulan esai pilihan Riau Pos (2014), kumpulan cerpen “Origami Story” (2016). Ia Juga menulis karya berupa resensi, opini-esai, liputan, cerpen, dan puisi yang dimuat di beberapa media lokal dan nasional.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Minggu, 23 September 2018 - 15:00 wib

2.000 IKM Tak Terdaftar

Minggu, 23 September 2018 - 14:48 wib

Pemotor Kecelakaan Beruntun

Minggu, 23 September 2018 - 14:34 wib

Polisi Gadungan Ditangkap

Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Follow Us