ESAI SASTRA

Sastra sebagai Kebutuhan Manusia

18 Juni 2016 - 23.02 WIB > Dibaca 972 kali | Komentar
 
TIDAK hanya soal politik dan hukum Islam, Yusril juga mengembangkan pemikirannya mengenai sastra Islam. Dalam tulisan berjudul “Sastra Islam: Sastra karena Allah untuk manusia”, Yusril mengungkapkan: Sastra adalah ciptaan manusia, sedangkan Islam adalah ciptaan Allah yang bersifat transenden. Dengan demikian, apakah akan ada sastra Islam yang merupakan hasil paduan antara ciptaan manusia yang bersifat nisbi dengan ciptaan Allah yang bersifat mutlak?

Seni dan sastra adalah bagian dari kebudayaan. Apapun makna yang diberikan orang kepada perkataan yang terakhir ini, tetapi satu hal agaknya telah jelas bahwa kebudayaan merupakan produk akal dan intuisi manusia dalam segala lapangan kehidupannya. Ia adalah refleksi sadar manusia terhadap segala realitas yang dihadapi, berdasarkan sifat naluriah manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Ringkasnya dapatlah dikatakan bahwa kebudayaan adalah cara kehidupan.

Sebagai cara hidup, kebudayaan bagi Yusril akan mengikuti lingkungan yang mengitari kehidupan masyarakat. Dengan demikian, maka jelaslah kiranya mengapa tiap-tiap masyarakat itu mempunyai kebudayaan sendiri-sendiri, di samping adanya unsur persamaan, memperlihatkan pula unsur-unsur perbedaannya, sehingga dengan demikian akan dijumpai adanya keragaman dalam budaya masyarakat. Mengigat luasnya ruang lingkup kebudayaan itu maka segala hal yang diperbuat oleh manusia itu adalah kubudayaan.

Dalam keyakinan setiap Muslim, hanya ada satu hal yang tidak dapat dipandang sebagai kebudayaan, yakni Islam. Oleh karena itu bukan merupakan produk akal dan intuisi manusia, melainkan ia adalah ciptaan Allah untuk dijadikan sebagai pedoman hidup manusia pembeda antara yang haq dan batil, akan mengantarkan manusia dari suasana kegelapan kepada suasana terang benderang.

Menurut Yusril, pada hakikatnya ada dua golongan paham manusia berkenaan dengan soal seni dan sastra. Pihak pertama memandang seni dan sastra adalah semata-mata untuk seni itu sendiri. Seni dan sastra dipandang sebagai bidang kegiatan manusia yang netral dan bebas nilai, ia lepas dari kontrol intuisi yang ada di dalam batinnya, termasuk pula intuisi agama dan etika yang menjadi pegangan hidup masyarakat. Satu-satunya ukuranyang dipakai dalam mencipta adalah selera sang seniman atau sang sastrawan sendiri. “Dengan kebebasan kita mencipta” demikianlah semboyan yang ada pada mereka.

Seni dan sastra bagi paham golongan kedua adalah bukanlah seni untuk seni, melainkan seni itu sesuatu, bisa untuk diri sendiri, untuk kesenangan masyarakat, ataupun untuk berkhidmat kepada ideologi atau isme tertentu. Kedua golongan paham seni dan sastra  yang disebutkan di atas ilhamnya bertumpu kepada kenisbian akal manusia. Seni untuk seni berpangkal tolak dari kesenangan sang seniman sendiri, sekalipun hasil karyanya itu akan membuat orang lain terheran-heran, mentertawakannya ataupun mencemoohkannya karena adanya unsur-unsur yang berlawanan dengan rasa etika dan keagamaan masyarakat. Tetapi sang seniman tetap tak peduli kepada semua itu. Ia merasa dirinya bebas dan merdeka, karena yang terpokok dalam pandangannya ialah, dahaga batinnya telah terpenuhi dengan selesainya karya seni yang diciptakannya.

Dalam pandangan Islam berseni dan bersastra bukanlah sesuatu aktivitas yang bebas nilai. Sejalan dengan konsepsi tauhid, Islam mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia itu adalah untuk mengabdikan diri semata-mata kepada Allah. Maka aktivitas seni dan sastra merupakan suatu ibadah. Di sini ibadah diartikan dalam makna seluas-luasnya, seperti dikatakan oleh Prof. Osman Raliby, bahwa segala amal perbuatan manusia itu, baik secara fisik maupun ruhaniah semuanya adalah ibadah, jika motivasi  orang mengerjakan adalah semata-mata untuk mencari keridhaan Allah. Dengan demikian, maka seni dan sastra Islam itu adalah seni dan sastra yang dilandasi oleh keimanan, etika keagamaan dan keikhlasan hati dari orang yang melakukannya.

Dengan berpangkal tolak dari paham tauhid pulalah, Yusril menyimpulkan bahwa seni dan sastra di dalam Islam wajiblah dijalankan dengan semata-mata karena Allah, bukan karena yang lain selain Dia. Akan tetapi, sama keadaannya dengan peribadatan khusus manusia kepada Allah seperti shalat, puasa, zikir dan sebagainya, yang semuanya dilakukan dengan niat Lillaahi Ta’ala, tetapi  manfaat yang dapat dipetik daripadanya bukanlah untuk Allah. Karena Allah itu Maha Esa, Dia sama sekali tidak berhajat kepada karya seni dan sastra  ciptaan manusia sendiri. Manfaat seni dan sastra itu adalah untuk manusia sendiri. Dengan demikian, makna sastra Islam adalah sastra karena Allah, untuk manusia.

Maka tampaklah bahwa sastra Islam akan memantulkan jiwa tauhid dalam memenuhi hajat manusia dalam memuaskan dahaga batinnya kepada cita rasa keindahan. Ia pun akan memberikan arah yang jelas untuk mencapai pertumbuhan sastra yang sehat guna meningkatkan akhlak masyarakat, sehingga terasalah Islam itu sebagai rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh isi alam semesta.***


Edi Sarjani, bermastautin di Kota Bertuah asal Sei Upih Penyalai.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us