SAJAK

Sajak-sajak Isbedy Stiawan ZS

18 Juni 2016 - 23.10 WIB > Dibaca 1023 kali | Komentar
 
Perempuan dalam Hujan

perempuan itu menyudahi teduh
dari gerimis pagi ini. matahari terlalu
jauh jaraknya dari sini. jalan tetap
berisik. suaramu nyinyir

perempuan itu meninggalkan
tempat teduhnya. gerinis pagi
kemudian membasuhnya, wajah
basah. terasa syahdu

irama lembut. jalan tetap berisik,
suaramu amis. hidungku berdarah

perempuan itu sendu
meninggalkan teduh

23 April 2016


Hurufhuruf Kusimpan di Saku Celana

tak ada buku untukmu
lembarlembarnya layu
hurufhuruf kusimpan
di saku celana

biarlah ia menjelma
sebagai rindu
atau cemas
- biarkan, jadi batu!

tak ada buku untukmu
telah kujadikan
sepotong roti
bukan darimu

katakata jadi mentega
dari bait berganti terigu
di atas tungku, kubakar
rindu - tak ada buku –

kenapa di perpustakaan
aku sendiri. kesepian?

21 April 2016


Gedungmeneng *)

ini tanah menerima datangmu
dari seribu tiyuh berbagai penjuru
lalu berdiam di sini. bangun singgah
dari ngengat matahari dan hujan

ini tanah diam. membiarkan pekarangan
kau singgahi untuk menetap berabad-
abad. dari tanah yang lain, lidah pun
cadang; seperti lupa kali pertama
lamban ditegakkan

ini tanah dulunya diam. tiada orang,
juga halaman. pekarangan dibuka
bagi pendatang. dan menetap, rumah-
rumah dibangun. kebun ditanam,
huma ditunggu

kini riuh. suaramukah?

2016

*) nama kawasan di Bandarlampung, konon mulanya
dihuni mayOritas etnis Lampung asal dari Abung, Lampung Utara.




Di Antara Bangku Panjang  dan Pohon Akasia

di sini, di antara bangku panjang
dan pohon akasia, kita bertemu
sebagai tamu di taman ini, percakapan
hanya bisik. selebihnya saling tatap

malam ikut berteduh. bintang jadi
kembang. wajahmu adalah taman,
aku jadi pohon. di wajahmu aku
aku bertaman

sebagai tamu di taman ini, kita tak
gaduh agar tanaman lain tak terganggu
tapi tangan kita mengolah waktu,
bangku panjang saksi bisu

sebab yang luruh tak dicatat
yang berbunga tanpa pesta

di taman ini kita sebagai tamu

2016


Lindu, dan Anakku Bimbang

lindu baru kurasa. lelampu dan plafon rumah
bergoyang. anakku bimbang. ke mana ia akan lari
ibu bapak bagaikan menari. tanah retak, langitlangit
sangit. mengantar malam ke pulang cekam

anakku gemetar. bukubuku sekolah telingsut
“esok bagaimana aku belajar, jika buku hilang?” tanya dia
 ingin menangis

tas sekolah bergoyang. lindu menendang,
“jangan balikkan seperti kota Luth, aku ingin
jadi gubernur, menteri, atau presiden,” teriak anakku

sambil mencari bukubuku, pinsil, penghapus,
lalu memasukkan ke dalam tas

lindu mengingatkannya pada sebuah kota
di mana Luth bersuara...

Maret-April 2016


Isbedy Stiawan ZS, lahir di Tanjungkarang, Lampung, pada 5 Juni 1958. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Tulisan-tulisannya dimuat di berbagai media massa terbitan Jakarta dan daerah. Bukunya yang sudah terbit di antaranya Menuju Kota Lama, Pagi Lalu Cinta, Jalan Sunyi, Perempuan di Rumah Panggung (kumpulan cerpen), Melipat Petang ke Dalam Kain Ibu, November Musim Dingin, dan Kiita Hanya Pohon—tiga terakhir disebut diterbitkan pada 2016.




KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us