CERPEN SULISTIYO SUPARNO

Merpati Putih

18 Juni 2016 - 23.21 WIB > Dibaca 2171 kali | Komentar
 
Merpati Putih
JANTUNG Mariska serasa berhenti berdetak ketika mendengar Hans berkata bahwa, kekasihnya itu akan menjelma merpati putih bila mati kelak. Mariska merasakan pula perutnya mendadak mual dan ia cepat meminta Hans untuk menghentikan mobil.

“Cepat berhenti, Hans. Berhenti!” pinta Mariska dengan nada tinggi.

Hans mengernyitkan dahi dan sambil memutar kemudi ia berkata, “Ya, sebentar. Jalanan ramai. Aku nggak mungkin begitu saja menghentikan mobil.” Di bawah pohon peneduh jalan dekat tiang listrik, mobil berhenti.

Mariska bergegas membuka sedikit pintu mobil, tetapi ia masih duduk di dalam mobil. Ia memiringkan tubuh ke kiri dan tangan kanannya memegang pintu mobil yang terbuka sedikit. Mariska  menundukkan kepala dan matanya melihat tanah berkerikil. Detik berikutnya, Mariska muntah.

Mariska menutup kembali pintu mobil. Mengatur kembali posisi duduknya dan napasnya tampak memburu. Di sampingnya, Hans menatapnya cemas.

“Kamu sakit?” tanya Hans.

Mariska menoleh dan menggeleng.

“Kalau kamu terus-menerus bicara tentang merpati putih, mungkin aku akan terus-menerus muntah pula, Hans,” jawab Mariska menatap Hans.

“Aku hanya ingin membangun suasana romantis, sayang,” kata Hans berdalih.

“Kamu salah memilih waktu, Hans. Kita baru saja usai makan burung dara goreng, lalu kamu bicara tentang kematian dan merpati putih jelmaan.”

“Maafkan aku,” Hans menggenggam tangan Mariska. “Bisa kita perbaiki keadaan ini, sayang? Katakan, apa yang harus kulakukan?”

“Antar aku pulang, Hans,” kata Mariska lirih.

“Tidak jadi ke pantai?” tanya Hans dengan masih menggenggam tangan Mariska.

Mariska menggeleng. “Aku ingin segera sampai rumah. Istirahat. Kepalaku pusing, Hans.”
“Baiklah,” kata Hans dengan sorot mata masih menyimpan sesal.

Hans memutar kemudi dan mobil kembali merayap di jalanan padat. Malam bertabur cahaya lampu gedung-gedung di sepanjang tepian jalanan kota.  Hans menghela napas dan dengan tatapan lurus ke jalanan di depan, ia menggumamkan sesuatu, —tampaknya ia masih menyesali diri, tetapi tak ada komentar dari Mariska.

“Bodoh sekali aku ini,” Hans bergumam lagi. “Maafkan aku. Ini malam terburuk yang pernah kita jalani. Kamu mau memaafkanku kan, sayang?” tanya Hans menoleh.

Tak ada jawaban. Mariska telah tertidur di kursinya.

Hans tersenyum.

“Aku benar-benar ingin menjelma merpati putih untukmu, sayang,” kata Hans bergumam. Hans yakin Mariska tak mendengarnya.

***

Enam bulan yang lalu Mariska sering mendengar Winda bercerita tentang seorang lelaki muda, tampan, jangkung dan gagah. Duduk di kursi teller sebuah bank swasta, di sela-sela melayani nasabah, cerita tentang lelaki tampan itu meluncur deras bagai air terjun dari mulut Winda.

“Kukira ia memenuhi tipe lelaki impianmu. Jangkung dan bermata teduh,” kata Winda berbisik dan menoleh.

Mariska tak bereaksi. Jari-jari tangannya sibuk memencet keyboard dan matanya menatap layar monitor di depannya. Mariska berdiri dan berseru memanggil nomor urut nasabah berikutnya. Nasabah-nasabah berikutnya bergantian mendekati meja teller dan Mariska melayani mereka dengan senyum ramah. Begitu pula yang dilakukan oleh Winda pada nasabah-nasabah yang mendatangi mejanya.

Saat menunggu nasabah lain datang, Winda kembali bercerita tentang lelaki tampan itu.
“Kamu harus datang malam ini. Ia akan berlaga malam ini,” bisik Winda.

Mariska mendesah dan menatap Winda beberapa saat, lalu berkata, “Aku memang gemar menonton Moto GP di televisi. Tetapi bukan berarti aku senang nonton balap liar.”

“Lupakan balapannya. Kamu harus fokus pada lelaki tampan itu. Kamu harus bertemu dan mengenalnya. Kalau kamu terus mengurung diri di kamar, kapan kamu akan menemukan lelaki impianmu?” sahut Winda.

Mariska mendengus dan berkata tegas, “Baiklah. Aku akan datang malam ini. Hanya malam ini!”

Winda tersenyum lebar. Senyum kemenangan.

***

Malam itu Mariska datang memenuhi janjinya. Mula-mula ia ke rumah Winda, lalu sahabatnya itu mengajak ke jalan tembus dekat rumahnya. Winda bercerita, jalan tembus itu lurus sekitar dua kilometer panjangnya, yang menghubungkan kampung Winda dengan kampung lain. Bila malam, jalan tembus itu ramai oleh pembalap liar. Bila malam Minggu, seperti malam ini, lebih ramai lagi. Ratusan pembalap liar berkumpul.

“Tak ada razia di sini,” kata Winda. “Warga dua kampung sudah sepakat, jalan ini ditutup bila malam Minggu, khusus untuk balap liar.”

Mariska melihat di sepanjang tepian jalan itu ramai oleh anak muda yang siap menonton.

“Aturan balapnya simpel. Dua pembalap mulai start dari sini, lalu memacu motor sampai ujung sana, kemudian balik lagi ke sini, selesai,” kata Winda, kemudian menarik tangan Mariska dan mendekati seorang lelaki jangkung yang duduk di motor sport hijau.

Winda mengenalkan Mariska pada lelaki itu. Ketika bertatapan dengan lelaki itu, dada Mariska berdegup lebih kencang. Ia terpana dan tergagap ketika lelaki itu mengulurkan tangan. Seperti tersetrum ribuan watt listrik, tubuh Mariska gemetar ketika menjabat tangan lelaki itu. Ketika lelaki itu tersenyum, tubuh Mariska limbung sejenak, tetapi ia sigap menguasai keadaan. Mariska menghela napas diam-diam, tersenyum dan berkata, “Senang bisa berkenalan dengan Anda.” Itu benar. Lihatlah semburat merah di pipi Mariska; sebuah kejujuran yang datang dari hati.

***

Mariska dan Winda duduk di table nomor 5 di cafetaria, di pelataran sebuah mall. Cafetaria satu-satunya di kota ini. Orang-orang berjalan, berlalu-lalang, melintasi deretan table dan sesekali –sembari menyedot orange juice dalam gelas tinggi dan ramping—Mariska memperhatikan mereka. Pemandangan yang menyenangkan bagi Mariska; melihat orang-orang berjalan gegas seperti mengejar sesuatu yang harus mereka tuntaskan. Kota ini penuh orang sibuk, pikir Mariska.

Di kursi seberang, Winda sibuk dengan ponsel pintarnya. Jari telunjuk kanannya bergerak-gerak menyentuh layar ponsel dan matanya memancarkan keresahan seraya berkata, “Dunia mendekati kehancuran.”

Mariska menatap layar ponsel Winda yang ia tunjukkan padanya. Sebuah postingan di Facebook: Bom Meledak di Ibu Kota.

“Baru saja terjadi,” kata Winda.

Mariska masih menatap layar ponsel, lalu menatap wajah Winda, dan tanpa sengaja pula ia melihat ada seorang lelaki berjaket biru dan bertopi hitam yang duduk di table di belakang Winda, sedang menatapnya. Mariska jengah dengan tatapan lelaki itu dan gadis itu lalu mengalihkan pandangannya pada gelas orange juice di tangannya.

Mariska meletakkan gelas orange juice. Burger di depannya masih utuh berbungkus kertas putih berlogo kepala sapi merah. Selera makannya mendadak lenyap karena sebuah bom.
“Apa yang harus kita lakukan bila kehancuran semakin mendekat?” tanya Mariska dengan suara ditekan hingga terdengar seperti bisikan.

“Menjauh darinya....dari kehancuran,” sahut Winda.

“Bila tak sempat menjauh?”

“Kita akan mati.”

“Ah, mengapa semua orang gemar bicara kematian? Kemarin lusa Hans dan sekarang kamu.”

“Apa Hans bicara tentang merpati putih?” tanya Winda.

“Bagaimana kamu tahu?” sahut Mariska mengernyitkan dahi.

“Hans itu sepupuku, kawan. Kami sering bicara banyak hal. Tentang Hans yang sangat mencintaimu dan ingin segera melamarmu dan juga tentang....merpati putih,” kata Winda.
Mariska menatap Winda lalu melirik sekilas pada lelaki bertopi hitam di belakang Winda. Lelaki itu masih saja menatap Mariska.

Mariska duduk gelisah. Ia menyedot orange juice untuk kali terakhir dan berkata, “Kupikir, sebaiknya kita pergi....pergi dari sini.”

Pada saat Mariska bersiap beranjak dari table nomor 5 itu, ia melihat lelaki bertopi hitam beranjak dari kursinya dan pergi dengan langkah gegas. Mariska melirik ke arah kolong meja yang ditinggalkan lelaki itu. Lelaki itu melupakan ransel coklatnya.

“Mas, ransel kamu ketinggalan!” Mariska berteriak dan melambaikan tangan pada lelaki itu. Lelaki bertopi hitam menoleh sejenak, lalu mempercepat langkahnya, menjauh dari cafetaria di pelataran mall itu.

“Mengapa kamu peduli dengan orang itu? Siapa dia?” tanya Winda. Mariska menjawab pertanyaan itu dengan mengangkat kedua bahunya.

Mariska masih berdiri di dekat meja yang ditinggalkan lelaki itu. Mariska menoleh ke arah Winda dan bertanya, “Mengapa ia meninggalkan ranselnya?”

“Sebaiknya kita panggil satpam,” sahut Winda.

Mariska membungkukkan badan hendak mengambil ransel itu dan ia mendengar Winda berteriak, “Mariska, jangaaannn!”

Detik berikutnya kehancuran benar-benar datang. Kaca-kaca jendela pecah berkeping-keping, kursi meja terpental ke segala arah, jejerit dan rerintih menyanyat hati, darah berceceran.

Beberapa menit kemudian banyak postingan menyebar ke media sosial: Bom Meledak di Cafetaria.

***
Seorang lelaki muda jangkung dan bermata teduh, berjongkok di sebuah makam yang tanahnya masih merah. Matanya yang biasanya teduh, kali ini bersinar redup, merah dan basah.

Tak jauh darinya, seorang perempuan renta menggenggam sapu lidi bergagang bambu, sedang menatap lelaki jangkung itu. Perempuan renta itu mendekat dengan langkah pelan.

“Apakah dia kekasihmu?” tanya perempuan renta itu.

Lelaki jangkung itu menoleh, kemudian berdiri dan menjawab, “Benar, Nek. Saya akan melamarnya bulan depan. Kami saling mencintai dan bila malam Minggu kami selalu makan burung dara goreng di warung tenda dekat alun-alun.”

Perempuan renta itu tersenyum.

“Dia akan menjelma merpati putih,” kata perempuan renta itu.

Lelaki jangkung itu tertegun dan menggeleng.

“Tidak, Nek. Seharusnya saya yang menjelma merpati putih, bukan dia.”

Perempuan tua itu kembali tersenyum.

“Bila kamu izinkan, saya akan menjaga dan merawat makam kekasihmu.”

“Terima kasih, Nek,” sahut lelaki itu meraih dan mencium tangan perempuan renta itu. Lelaki jangkung itu melangkah gontai meninggalkan tempat itu.

Perempuan renta itu menatap kepergian lelaki jangkung itu dengan mata merah dan basah. Bahu perempuan renta itu berguncang dan ia menyeka matanya dengan punggung tangannya. Perempuan renta itu berjalan pelan menjauh dari makam yang tanahnya masih merah itu dan menghilang di balik pohon besar.

Detik berikutnya, dari balik pohon besar itu muncul seekor merpati putih. Merpati putih itu terbang hingga mencapai ketinggian tertentu dan dari ketinggian itu ia mengikuti ke mana lelaki muda jangkung dan bermata teduh itu pergi. Pagi masih awal, saat itu.***

Sulistiyo Suparno; kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Menulis cerpen untuk mengobati meriang. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Cempaka, Radar Surabaya, Metro Riau, Nova, Girls, Suara Merdeka dan media lainnya. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 18:39 wib

Traffic Website SSCN Padat di Siang Hari

Selasa, 25 September 2018 - 17:38 wib

Angkat Potensi Kerang Rohil

Selasa, 25 September 2018 - 17:30 wib

PMI Ajak Generasi Muda Hindari Perilaku Menyimpang

Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Follow Us