OLEH FATMAWATI ADNAN

Besesombau

19 Juni 2016 - 00.19 WIB > Dibaca 1977 kali | Komentar
 
Besesombau
Bighiok-bighiok di dalam somak
Tobang malampau di ate padi
Sojak di niniok tughun ke mamak
Itu nan sampai ke kito kini

        
Pantun tua masyarakat Melayu Tapung ini biasanya dimunculkan dalam teks tradisi lisan besesombau. Pantun ini menunjukkan bahwa secara historis besesombau merupakan sebuah tradisi yang diwarisi dari nenek moyang.

Besesombau berasal dari kata sesombau  "sesembahan". Kata “sembah” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) didefinisikan sebagai (1) pernyataan hormat dan khidmat; (2) kata atau perkataan yang ditujukan kepada orang yang dimuliakan. Sesuai dengan definisi tersebut, kata-kata yang digunakan dalam besesombau merupakan kata-kata terpilih yang disampaikan dengan penuh hormat atau santun.

Dalam praktiknya besesombau merupakan seni bertutur berupa pidato adat dalam suatu perundingan atau musyawarah. Besesombau disajikan dalam rangkaian upacara adat, pertemuan-pertemuan penting, atau aktivitas budaya lainnya. Besesombau digunakan sebagai media untuk menyampaikan pendapat, keinginan, maksud, gagasan, pemikiran, dan perasaan dengan menggunakan bahasa yang santun, berseni, dan “bersayap”.

Bahasa yang santun maksudnya adalah bahasa yang mempertimbangkan etika melalui kata-kata yang digunakan dan cara penyampaiannya. Penggunaan bahasa yang santun sangat dipentingkan dalam besesombau. Hal ini sesuai dengan prinsip hidup orang Melayu yang sangat mengutamakan budi bahasa untuk menunjukkan kesantunan dan peradaban yang tinggi. Keutamaan budi bahasa ini tercermin dalam peribahasa Melayu hidup dalam pekerti, mati dalam budi dan usul menunjukkan asal, bahasa menunjukkan bangsa.

Bahasa yang berseni maksudnya adalah kata-kata yang digunakan mengandung unsur estetika atau keindahan yang terlihat dari rima, pilihan kata yang arkais, dan ungkapan-ungkapan lama yang puitis dan filosofis. Bahasa estetis tersebut dikemas dalam seni bertutur dan retorika yang menambah “nilai” besesombau sebagai pertunjukan (istilah yang digunakan dalam tradisi lisan: performansi) yang “tidak biasa”.

Penggunaan kata-kata “bersayap” dapat dimaknai sebagai penyampaian maksud yang mengandung makna kiasan. Penyampaian makna kiasan dalam kehidupan orang Melayu didukung oleh keahlian mereka dalam merangkai kata dan menyembunyikan maksud sebenarnya melalui gaya bahasa atau majas.

Besesombau Melayu Tapung dapat dikatakan memiliki kesamaan dengan pidato adat persembahan yang ada di daerah lain, seperti Melayu Deli, Melayu Riau Pesisir, dan Minangkabau. Masyarakat Melayu Deli dan Melayu Pesisir menyebutnya sesembahan, pasambahan (Minangkabau), dan basiocuong (Bangkinang).

Tradisi lisan pasambahan di Minangkabau (Media Sastra Kasih, 1994) dan basiocuong di Bangkinang (Zulfa, 2012) memiliki kesamaan yang cukup signifikan dengan besesombau dari segi bahasa, isi yang disampaikan, dan kegunaan. Akan tetapi, masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri sesuai dengan “warna” dan “karakter” sosial budaya masyarakat setempat.

Sebagai seni bertutur klasik yang menggunakan bahasa dan cara penyampaian yang “khusus”, besesombau merupakan wujud karakter orang Melayu yang bersifat simbolis dan menjunjung tinggi kesantunan. Selain itu, besesombau memiliki muatan normatif berupa aturan adat dan ketentuan-ketentuan lainnya yang diberlakukan orang Tapung untuk menata kehidupan sosial budaya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi ini memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilaku sosial sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dan berbudaya.  
Konon, di masa lalu besesombau pernah menjadi suatu “keharusan” untuk dilaksanakan sebelum pengambilan keputusan atau kebijakan bagi kepentingan bersama.  Tradisi lisan besesombau berawal dari karakter orang Tapung yang memiliki rasa kebersamaan yang tinggi dan menerapkan konsep saling menghormati dalam hidup bermasyarakat.

Rasa kebersamaan yang tinggi diwujudkan dengan menjadikan permasalahan ataupun kepentingan tertentu sebagai tanggung jawab bersama. Untuk itu diperlukan perundingan atau musyawarah yang dilakukan secara terbuka sehingga keputusan yang diambil merupakan kesepakatan masyarakat dengan mengutamakan kepentingan bersama. Penerapan konsep saling menghormati diwujudkan dengan sikap menghargai pendapat orang lain, tidak bersikap arogan, dan mengedepankan kesantunan.

Dengan demikian, dibutuhkan suatu aturan berunding menggunakan tata cara, bahasa, dan aturan-aturan tertentu. Hal inilah yang mendasari lahirnya tradisi lisan besesombau. Watak, pengetahuan, cara berpikir, dan konvensi sosial yang berlaku dalam kehidupan mereka memengaruhi “wujud” dan “warna” tradisi lisan ini.

Sebagai aktivitas sosial budaya yang mengandung aspek estetika dan moral, besesombau merupakan seni bertutur yang berfungsi berdasarkan kemampuannya dalam menyebarkan aspek-aspek moral dan etika yang terdapat di dalamnya. Artinya, tradisi lisan ini memiliki muatan nilai-nilai dan kearifan lokal yang dapat berfungsi untuk pengendalian sosial dan pembinaan karakter anggota masyarakat.

Dewasa ini, tradisi lisan ini semakin jarang dipertunjukkan. Besesombau mulai digantikan dengan pidato “modern” yang menggunakan bahasa verbal yang lebih praktis, tetapi tidak mementingkan kecermatan dan keindahan berbahasa.

Kondisi ini disebabkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi seiring perkembangan yang menyentuh hampir seluruh sendi kehidupan. Perubahan sosial, perkembangan ekonomi, heterogenitas penduduk, dan persentuhan dengan budaya lain berpengaruh terhadap eksistensi tradisi lokal. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat diawali dengan perubahan ekologi yang terjadi secara masif di kawasan Tapung.

Budayawan Riau, Al azhar (2010), mengatakan bahwa “keberlangsungan hidup tradisi lisan Melayu tidak hanya berhubungan dengan bentuk-bentuk pewarisannya, tetapi juga berkait-kelindan dengan pemahaman masyarakat pendukungnya atas perubahan-perubahan ekologis yang sudah dan sedang berlangsung”. Semakin terpinggirkannya tradisi lisan ini menunjukkan “bergesernya” pemahaman dan sikap masyarakat terhadap besesombau.

Pada dasarnya, masyarakat menyadari bahwa perubahan yang tanpa arah akan mengancam integritas sosial, sistem normatif, dan keutuhan identitas lokal. Akan tetapi, sikap yang menganggap bahwa perubahan memang harus terjadi menimbulkan sikap apatis yang “memasrahkan nasib” tradisi lokal. Walaupun masyarakat juga menyadari bahwa efektivitas pengendalian sosial bergantung pada perubahan-perubahan sosial dan nilai-nilai dalam masyarakat, mereka tetap merasa tidak harus “melawan” perubahan-perubahan itu.

Fenomena yang menunjukkan semakin melemahnya eksistensi tradisi lisan besesombau dalam kehidupan masyarakat diperkuat dengan pengabaian yang dilakukan generasi muda. Selain itu, pemuka masyarakat dinilai tidak berupaya untuk melakukan transmisi guna mencetak generasi penerus besesombau.

Meskipun besesombau semakin terpinggirkan dalam kehidupan orang Tapung, “nilai lebih” tradisi lisan ini sebagai bentuk simbolik perilaku masyarakat tidak dapat dinafikan. Menyimak keindahan dan “keagungan” besesombau, terbersit “mimpi indah” seandainya tradisi lisan ini senantiasa berjaya dari masa ke masa. Akan tetapi, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Akankah besesombau mampu bertahan di masa-masa mendatang? Entahlah.***

Fatmawati Adnan, Peneliti Muda pada Balai Bahasa Provinsi Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 12 November 2018 - 21:00 wib

Maksimalkan Melalui Produk Unggulan

Senin, 12 November 2018 - 20:30 wib

2019, Tour de Singkarak Lintasi Mandeh dan Jambi

Senin, 12 November 2018 - 20:00 wib

Tausiah UAS Banjir Jamaah

Senin, 12 November 2018 - 19:00 wib

Transaksi Harian Saham Anjlok 1,89 Persen

Senin, 12 November 2018 - 18:30 wib

Lions Club 307 A2 Beri Bantuan Pengecatan Panti Asuhan

Senin, 12 November 2018 - 18:00 wib

Cukai Rokok Batal Naik, Target Pajak Sulit Tercapai

Senin, 12 November 2018 - 17:00 wib

PT Pekanperkasa Promo Spesial Akhir Tahun

Senin, 12 November 2018 - 16:30 wib

KPP Pratama Bangkinang Edukasi Siswa lewat Pajak Bertutur

Follow Us