BINCANG BUDAYA

Peradaban dalam Secangkir Kopi

25 Juni 2016 - 23.50 WIB > Dibaca 1111 kali | Komentar
 
Peradaban dalam Secangkir Kopi
Dari perbincangan kecil, terungkaplah sebuah fakta: peradaban manusia terletak pada secangkir kopi yang mengisi ruang sunyi dari dinasti ke dinasti.

ORANG di dunia ini diperkirakan mulai minum kopi pada abad pertengahan, ketika hasrat perubahan mulai terkuak dari manusia ketika itu. Sebelumnya orang-orang masih minum teh. Sebuah zaman yang dianggap sudah berlalu dan tentunya dengan kegemilangan-kegemilangan yang diraih pada masa itu. 

Ribuan tahun lalu, minum teh, ditandai sebagai mewakili sebuah sistem borjuasi. Dengan hasil kebudayaan yang luar biasa. Seperti kebudayaan Hyangtse, Sungai Huang Hwo, Mekong, Cionghsa Korea, dan beberapa wilayah lain yang tumbuh dari peradaban teh. Teh diminum ketika itu dengan keadaban masing-masing, dari perbincangan elit politik di istana dan atau wilayah tertentu. Diminum dengan sangat bermartabat sembari membicarakan hal-hal penting. 

Di beberapa tempat, seperti di Korea, Cina, wilayah Timur Indocina dan beberapa negara di Eropa masih mempertahankan tradisi tersebut sampai hari ini. Zaman itu dianggap telah usai oleh seorang pengopi berat yang juga penyair, politisi dan pemilik berbagai jabatan dalam berbagai organisasi, Syaukani Al Karim.

Lalu setelah itu, orang-orang mulai minum kopi sebagai tanda-tanda perubahan zaman, kata Syaukani. Ada perubahan seiring bergulirnya waktu. Orang minum kopi di kedai-kedia kopi dalam pengertian berkumpul. Ini terjadi pada sekitar abad ke-16, seiring terjadinya sebuah perubahan zaman yang ditandai dengan zaman renainsans dan humanism. Ketika itulah modernisasi dimulai, ketika salah seorang tokoh Voltaire, misalnya, mengisyaratkan kebebasan dengan berbagai konsep pemikiran yang dilahirkan di kedai kopi.

‘’Pemikiran-pemikiran cemerlang itu munculnya di kedai kopi. Dengan demikian, kopi mengisyaratkan kebebasan berpikir dan bertindak. Perubahan yang sangat luar biasa terjadi, muncul gerakan yang sangat uar biasa, katakanlah sebuah gerakan pencerahan. Orang-orang abad ke-16 melahirkan konsep-konsep perubahan dunia. Mereka minum kopi di kedai-kedai kopi dan melahirkan ide-ide yang luar bisa di sana,” terang Syaukani.

Sebuah sajak berjudul “Kedai Kopi dan Kedai-kedai Arak” dibacakan oleh Syaukani sebagai narasumber dalam diskusi kecil berjudul "Tun Kopi" yang ditaja Sindikat Kartunis Riau (Sikari) di Bual-bual Kedai Kopi, akhir pekan lalu. Sajak itu menjadi pembuka ucapnya dalam membentangkan berbagai hal yang menarik untuk disimak terutama tentang kopi dan hal ihwal yang melingkupinya yang dimulai dengan selayang pandang tentang sejarah kopi dan disebut Syaukani sebagai perbincangan suka-suka hati malam itu.

Dicontohkan Syaukani, adalah revolusi Mesir yang digerakkan Saad Bin Zaklul, konon dikabarkan membicarakan nasib Mesir itu bermula di kedai kopi. Dari perbincangan itulah melahirkan gerakan-gerakan. Sehingga ketika Mesir menjadi negara yang berdaulat, orang-orang meminta Saad bin Zaklul menjadi perdana mentri yang pertama.

Kopi juga mengisyaratkan beberapa peristiwa besar di dunia lainnya. Bisa dilihat di Amerika misalnya, menurut satu informasi, catatan dari Thomas Jeferson bahwa Piagam Kemeredekaan Amerika, coretan dan rumusan pertama dikonsep di kedai kopi. Lalu rumusan itulah yang dibawa pulang, mereka buat menjadi le bih terencana. Begitu juga di dalam catatan, Issac Newton, teori daya berat pertama sekali di demontrasikan di kedai kopi. Baru kemudian diuji lebih jauh.

Begitu juga pemikir dunia lainnya, muncul di kedai kopi. Salah satu kedai kopi di Mesir, kedai kopi elvisawi, tempat sastrawan berkumpul seperti Naguib Mahfouz. Hasilnya adalah penulis-penulis yang memiliki kelas Nobel.

Di beberapa tempat di Eropa, penulis handal Albert Camus dan beberapa ke lompok Jean Paul Sartre juga melahirkan ide-ide cemerlangnya dari perbualan di kedai kopi. Konsep-konsep dari perdebatan tentang eksistensialisme kemudian dibancuh sepulangnya menjadi teori. Tapi perbicangan awalnya didapat dari kedai kopi. Demikian juga, dengan musisi terkenal sekelas Sebastian Bach yang konon kabarnya punya racikan kopi tersendiri.

“Kedai kopi menjadi tempat para pemikir handal masa lalu. Mereka berkumpul sambil minum kopi sembari merumuskan berbagai hal. Yang terpen ting, mereka bersungguh-sungguh untuk mengopi sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran brilian tentang segala sesuatu hal. Dan hendak saya katakan, bahwa dunia kopi, dunia perubahan. Bangkitnya peradaban besar dari peminum kopi,” ungkap pria yang mengaku minum kopi dalam satu hari hampir sepuluh gelas itu. 

Kedai kopi juga menjadi wilayah moderasi atau jalan tengah bagi dua wilayah yaitu keriuhan pasar dan keheningan mesjid. Dia menjadi tempat mengadopsi keriuhan pasar dan keheningan masjid.  Ketika orang bermain di pasar, lalu singgahnya di kedai kopi, demikian juga, orang keluar dari masjid, singgah di kedai kopi. Menjadi wilayah bertemu di antara dua kutub yang sesungguhnya berlawanan.

‘’Di situlah mereka berbincang tentang berbagai hal. Jadi, perubahan dunia itu mengikuti arah adukan kopi. Jadi ini sengaja saya sampaikan supaya peminum kopi itu terlihat hebat,” canda Syaukani yang langsung disambut tawa oleh peserta diskusi malam itu. 

Kedai Kopi di Alam Melayu

Bagi dunia Melayu, kedai kopi juga dijadikan sebagai tempat menyambut “wahyu”, remah- remah wahyu itu datang dan dirumuskan di kedai kopi. Dan setiap kedai kopi tidak akan pernah kehilangan remah-remah wahyu tersebut. Bagi orang Melayu, kedai kopi juga sebagai tempat penyulut kreativitias.

Yong Dolah misalnya. Konon  dahulu di kedai kopi hailam atau hainam yang sekarang di Bengkalis diganti dengan kedai kopi Gunung Baru, adalah tempat tokoh sasra lisan itu memulai aktivitas berceritanya. Dia terkenal di kedai kopi tersebut, dia datang memesan segalas kopi dan mulai berkisah. Orang-orang yang ingin mendengarkan pun datang ke situ, duduk semeja.
Hari ini, dapat dilihat, kedai kopi menjadi tempat segala macam. Kedai kopi menjadi tempat administrasi pemerintahan diselesaikan. Bahkan urusan semenda-menyemenda pun diselesaikan di kedai kopi.

“Dalam dunia Melayu kedai kopi memang luar biasa. Kita bisa saksikan di kawasan pesisir misalnya, segala runding, administrasi negara, hal ihwal apapun diperbincangkan di kedai kopi. Dan kemudian tak ada solusi, solusinya balik ke rumah masing-masing. Segala hal ihwal itu tadi sudah selesai hari itu saja, besok mengopi lagi dengan hal ihwal baru pula, “ jelas Syaukani.

Fenomena di kedai kopi di kota juga tak jauh berbeda. Kedai kopi menentukan peradaban mahkluk yang ada di dalamnya. Ada kedai kopi khusus politikus, wartawan, tukang pakang, kontraktor, sehingga sudah dapat ditentukan keadaban dan perdaban di sebuah kedai kopi.
Dari kedai kopi datang semua hal, dan kemudian, semuanya selesai. Bersama adukan kopi, semua persoalan dunia dan akhirat akan perbincangkan. Bahkan kematian juga kerap kali singgah di kedai kopi. Di kedai kopi inilah, para pengopi memutar dunia ini sekehendak hati mereka.Bahwa kemudian ada berbagai bentuk tergantung kebudayan peminum kopi masing-masing daerah dan tempat.

Sedangkan antara kedai kopi di pesisir Riau dengan kedai kopi yang banyak terdapat di Kota Pekanbaru terdapat perbedaan meskipun tidak terlalu mendasar. Di Bengkalis atau di Selatpanjang, nuansa silaurahmi lebih kental karena dari sekian meja yang ada, para pengopi saling kenal mengenal dan saling berbagi informasi. Sedangkan di kota, di Pekanbaru terutama hanya terbatas pada meja duduk saja, lebih eklusif.

Perbedaan lainnya, pada tema dan gaya kedai kopi, gaya perkotaan. Di kota, kedai kopinya mewakili spirit perkotaan. Sedangkan di daerah lebih mengutamakan rasa dan racikan kopi mereka. Kemudian juga etika kedai kopi di perkotaan juga berbeda dengan daerah pesisir Riau. Di daerah itu, setiap pengopi yang datang, konsepnya adalah silaturahmi, maka para pengopi tak perlu takut tak bisa membayar segelas kopi jikalau di dalam kedai kopi itu ada kawannya sudah duduk terlebih dahulu. Pastilah akan dibayar. Sedangkan di kota, melesatarikan secara baik hal-hal yang berada di luar budaya, individualitas.

“Inilah yang mengajar generasi kita dari waktu ke waktu, lalu kita berharap semangat gotong royong hidup di hari ini, nonsense,” tegas Syaukani pula.

Perbincangan malam itu sampai membahas bahwa kopi di alam Melayu diminum oleh siapa saja, tak lelaki juga perempuan. Hanya saja, laki-laki minum di luar, sedangkan perempuan minum di rumah. Semua itu hanya persoalan adab. Bahwa perempuan menjadi tidak elok ketika berhimpun dengan lelaki, hanya disebabkan faktor adab dan budaya. Dengan demikian, di dalam tradisi Melayu, kopi itu bukanlah persoalan gender.

Kopi Sebagai Jalan Masuk

Menurut  Onggo IKJ, salah seorang praktisi komunikasi, yang juga menjadi pembicara malam itu, bahwa kopi itu tentang bila minumnya, dengan siapa, dan di mana. Dan itu akan berbeda dampaknya. Disebutkannya, di beberapa kota besar, orang mengopi seringkali dapat ditemukan pada sore atau malam hari ketika fase otak sudah tahap alfa atau rileks. Hal yang berbeda jika dibandingkan dengan Kota Pekanbaru, justru orang-orang mengopi di pagi hari, ketika otak dalam fase aktif.

“Makanya, bila kopi itu diminum menjadi penting. Karena out put-nya jadi berbeda,” jelas Onggo. 

Degan siapa kopi diminum juga menjadi menarik untuk diperbincangkan karena bisa saja kopinya sama, tetapi obrolannya bisa berbeda dan apa saja, tergantung para pengopinya dan lawan bicaranya. Kopi menjadi jalan masuk, bisa bicara apa saja, setelah minum kopi, ngobrol ke sana-kemari. Bahkan di kedai kopi semua dapat diputuskan, atau proses lobi juga bisa lancar di kedai kopi.

“Dan ternyata kopi juga sebagai jalan masuk. Kopi, barangkali kopi juga bukan tentang rasa tapi kapan, di mana dan dengan siapa dimium.  Kadang ada yang tidak mengopi tapi harus masuk ke kedai kopi karena duduk dan berkumpulnya di sana,” ucapnya.

Diskusi malam itu seperti tak ada habisnya. Seperti halnya yang telah disampaikan para pembicara, berbagai hal ih wal dibicarakan di dalam kedai kopi, demikian jugalah diskusi yang digelar. Hadir para anggota Sikari sebagai peserta diskusi yang terus menggali informasi terkait dengan fenomena di kedai kopi. Selain itu beberapa seniman lainnya juga ikut terlibat dalam diskusi yang bertajuk "Tun Kopi" tersebut. Hadir misalnya, Hang Kafrawi, Kunni Masrohanti, Aamesa Aryana, anggota sanggar Matan, Datuk Bandar dan tentunya para pengopi.

 Mereka  saling berbagi dan bertukar informasi, pengalaman tentang kopi. Apa yang diperbincangkan Syaukani dan Onggo yang kemudian direspon dan ditanggapi penuh antusias oleh hadirin , setidaknya kondisi itu membenarkan bahwa bersembang sambil menyeruput kopi, tak akan ada selesainya, ianya tidak berujung, tidak pula selesai, tak ada solusi, tak dapat disimpulkan tetapi biarlah perbincangan itu menjadi endapan kesan, kerodak atau remah-remah ide yang terus bersigau selayaknya kedai kopi, sebagai tempat berlalu lalangnya isu dan informasi dari para pengopisejati. Mengangkat tema kopi karena banyaknya kedai kopi.

 Berkisar jarak 100 meter, ada saja kedai kopi yang dibuka, menawarkan berbagai rasa, nuansa dan fasilitas lainnya. Fenomena itulah yang ditangkap oleh Sikari untuk dijadikan tema dalam rangka pameran kartun pada iven Pekanbaru Bandar Kartun Festival V, Agustus 2016 mendatang.

“Jadi mengapa kami memilih tema kopi, karena fenomenalnya kemunculan kedai kopi di Pekanbaru. Sikari itu punya tradisi, sebelum berpameran selalu mengadakan diskusi, pendalaman terhadap tema pameran. Dari diskusi diharapkan banyak masukan ide-ide kartunal yang nanti akan digarap oleh kartunisnya,” jelas pembina Sikari, Furqon Elwe.(Jefrizal/kun)

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us